Krisislah, sebelum Engkau Dikrisiskan

image

Gara-gara twit mentor virtual saya Mumud, alias @MudaSukses, saya jadi tergoda untuk menulis. Saya merasa twitnya benar seada-adanya benar. Twitnya begini:

@MudaSUKSES: Bisnis selalu terlihat baik? bisa jadi karena ada “gunung es” yang blom terlihat.. Perhatikan hal2 detil.. (»’⌣’«)”

Jedar!!!

***

Membaca twit tadi, mendadak saya seperti disadarkan. Bagi entrepreneur (apalagi yang mulai dari nol bolong seperti saya dan teman-teman), kondisi yang tenang dan baik-baik saja adalah surga setelah setiap hari rasanya selalu dalam tekanan.

Apalagi, banyak entrepreneur yang meletakkan Financial Freedom alias Bebas Finansial sebagai target usaha. Alias, banyak yang menginginkan untuk bebas dari pekerjaan, bisa jalan-jalan, santai, ketawa-ketawa, tapi tetap bisa kipas-kipas pake duit alias penghasilan tetap mengalir. Bener… Apa bener, hayoooo?🙂

Hati-hati…

Kombinasi antara tekanan yang terjadi setiap hari ditambah mimpi bebas finansial bisa membuat kondisi yang (hanya) AGAK tenang dan (hanya) AGAK baik-baik saja, terasa seperti masuk ke dalam sebuah ruang nyaman di sebuah hotel berbintang-5. Ibaratnya, setelah panas-panasan di bawah cuaca terik jam 12 siang, berteduh di bawah pohon sangat menyenangkan apalagi masuk ke dalam ruangan (yang ber-AC pula!). Di saat krisis terjadi setiap hari, ‘mulai membaik’ kerap terasa seperti ‘sudah sangat baik’. Ada ‘ilusi’ ketenangan.

Alhasil, Sang Entrepreneur terlena untuk memperlakukan bisnisnya seperti bisnis yang sudah bisa memberikan kebebasan finansial. Ia mulai enggan bekerja tepat waktu. Sering melakukan kegiatan-kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan bisnis. Mulai menikmati label ‘Pengusaha Sukses’. Mulai mengendurkan pengawasan. Lamban berubah dan kehilangan ketelitiannya. Mulai memaklumi kesalahan (baik yang dilakukan orang lain atau dirinya sendiri). Mulai ‘merasa’ bahwa bisnisnya bisa berjalan dengan sendirinya alias autopilot.

Secara tidak sengaja ia jadi enggan berinovasi. Kalau ditanya, ia menjawab, “Ah, sudah ada karyawan yang melakukan itu”. Kalau ada yang tidak beres, senang menyalahkan situasi dan orang lain terutama karyawan.

Kalau diringkas, ia sudah mulai SOMBONG dengan keberhasilannya yang sebenarnya belum seberapa.

Ia hanya kena ‘Ilusi Sukses’!

***

Hal yang cukup mengerikan untuk saya adalah: beberapa gejala di atas muncul dalam diri saya. Amit-amit… *ketok-ketok meja*. Alhamdulillah, sih, tidak terjadi lama-lama. Saya segera disadarkan oleh situasi. Dan kebetulan yang menyenangkan adalah saya orang yang senang bertanya pada diri sendiri “apa yang berubah dari saya?”. Pertanyaan ini yang kemudian menjawab dan membuat saya bisa melihat mulai munculnya gejala-gejala tadi dalam diri saya.

Sombong bersahabat dengan Kejatuhan.

Contohnya? Banyaaaaaaaak! Hampir semua pemimpin yang gagal berawal dari kesombongan.

Jangan sampai kita (termasuk saya!) jadi bagian dari mereka. Naudzubillah

***

Seringkali krisis muncul karena perasaan bahwa semua dalam keadaan baik-baik saja. Membuat kita tidak waspada terhadap ‘gunung es bahaya’ yang tersembunyi di bawah permukaan. Padahal…

Krisis kerapkali muncul atau menjadi semakin berbahaya justru karena orang-orang yang ada di dalamnya tidak dalam kondisi siaga. Menganggap bahwa jika tidak ada tanda bahaya, maka tidak perlu bersikap waspada. Menjadi terlena dengan ‘ilusi sukses’ yang sebenarnya adalah proses menumbuhkan ‘duri dalam daging’ menjadi belati tajam yang siap menikam.

Lantas, bagaimana?

Menurut saya, diperlukan sikap rendah hati yang sangat besar dari seorang Entrepreneur sejati. Tidak usah terlalu terobsesi dengan ‘kebebasan finansial’. Membesarkan mimpi, tidak sama dengan membiarkan diri kita ditelan mimpi. Diri kita harus selalu lebih besar dari mimpi kita. Jangan jadi delusional. Jadilah rasional. Mungkinkah kebebasan finansial dicapai dalam waktu sangat singkat yang malah cenderung terlalu singkat?

Jikapun kita merasa sudah bebas finansial, hal itu karena memang bukti-bukti objektifnya sudah menunjukkan. Bukan karena ilusi yang muncul akibat kesuksesan kecil yang dikuatkan dengan kesombongan.

Membangun Sense Of Crisis. Bangun! Terjaga! Lihat! Seperti apa bisnis kita sekarang? Perbaiki, bahkan jika situasinya kita rasa sudah baik. Karena bisa jadi (!), kita hanya MERASA baik. Terus kembangkan. Tidak hanya mengembangkan bisnis, namun juga mengembangkan diri. Latih diri kita untuk bersyukur dan rendah hati. Bahwa tidak ada yang sempurna. Dan tidak ada jalan singkat untuk sempurna. Bahwa selalu ada yang bisa diperbaiki. Selalu ada yang bisa dipelajari.

Krisislah sebelum kita dikrisiskan. Sebelum kita menyesal.

Kelapa Gading, 8/11/2012
Wisnu Sumarwan
http://www.wisnusumarwan.wordpress.com
Twitter & Streamzoo: @wisnusumarwan

image

*Gambar diambil dari:

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...