Bisnis Adalah Belajar

image

Dulu waktu saya mendirikan bisnis Rumah Sushi bersama sahabat-sahabat saya, saya tidak membayangkan bahwa akhirnya saya harus mempelajari Financial Management (yang sangat erat hubungannya dengan akuntansi). Hal yang dulu membuat saya alergi. Saya tidak bisa membayangkan tabel-tabel yang begitu banyak plus angka-angka yang membingungkan.

Saya cukup panik saat dulu harus memulai mempelajari itu. Ingatan saya tentang akuntansi adalah saya pernah melihat guru akuntansi saya jaman SMA menimpuk penghapus papan tulis ke muka teman saya yang kedapatan menguap. Yah, siapa sih yang gak akan bosan melihat angka-angka aneh yang entah asalnya darimana itu? Hahahahaa… *Siap-siap ditimpukin oleh para akuntan!*

Bahkan, saya sempat berpikir bahwa itulah yang paling rumit dalam bisnis meskipun pada akhirnya dengan sangat terpaksa, saya toh mempelajari juga. Dari awalnya yang saya pusing luar biasa, sampai akhirnya (meskipun belum terlalu ahli dan masih perlu banyak belajar) saya bisa juga berkata “Eh, kok, ternyata menyenangkan juga, yaaaa…”

Setelah sistem keuangan mulai rapih dan saya mulai bernapas lega (karena saya pikir saya telah berhasil melewati titik tersulit), ternyata saya salah. Ada titik lain yang ternyata, menurut saya, lebih sulit. Jauh lebih sulit, bahkan. Walla!!! HRD alias Human Resources Development alias lagi Pengembangan Sumber Daya Manusia.

Saat tulisan ini saya buat, saya masih dalam proses meraba-raba. Saya masih belum menemukan titik temu antara masalah yang terjadi dengan solusi yang seharusnya dibuat. Alhamdulillah, proses-proses ini tidak saya lakukan sendirian. Ada sahabat-sahabat saya yang juga sebegitu getolnya belajar. Alhamdulillah…

***

HRD saat ini tampak begitu sulit di mata saya. Beda mendasarnya dengan Financial Management adalah HRD bukan hal yang gampang untuk diubah menjadi angka-angka yang pasti. Semua serba tidak pasti. Bukan sekadar menghitung absensi, gaji, tunjangan, bonus, dan sebagainya. Lebih dari itu sehingga saya menyimpulkan sementara bahwa mengelola SDM adalah mengelola ketidakpastian tingkat tinggi.

HRD adalah pengelolaan manusia yang punya perasaan dan pemikiran yang berubah-ubah. Apalagi jika jumlah orangnya cukup banyak. Makin banyak kepala, makin banyak pikiran dan perasaan yang berbeda dan harus dikelola agar produktif dan membawa kebaikan untuk perusahaan dan orang-orang yang terkait dengannya. Dalam bahasa visi kami adalah Kesejahteraan Bersama.

Sejahtera adalah kata yang sangat sulit dicari standardisasinya. Padahal saya yakin, kesejahteraan adalah hal yang dicari semua orang (selain bahagia). Gaji tinggi tidak menjamin bahwa karyawan akan memiliki engagement yang tinggi pula. Ada hal-hal lain di luar gaji, insentif uang dan atau yang non-uang. Ada kenyamanan bekerja, kerjasama team, perasaan berkembang, ruang bernapas, rasa aman dan sebagainya yang merupakan ‘bonus’ yang sangat sulit didefinisikan namun punya arti yang sangat penting.

Ditambah, sistem pendataan HRD yang memiliki logika berbeda dengan Financial Manegement yang berbasis angka, logika yang sebelumnya menjadi pola pikir saya.

***

Untuk hal ini saya jadi ingat sebuah quote:

“All things are difficult before they are easy – Thomas Fuller”

Dan sesuatu tidak akan jadi mudah begitu saja dengan sendirinya. Sulit atau mudah bukan terletak pada ‘apa’ objeknya, tapi pada ‘siapa’ yang melakukannya. Itu sebabnya sulit atau mudah adalah hal yang subjektif. Memasak mudah untuk si A, sulit untuk si B. Si B sangat mudah untuk berbicara di depan umum, sementara si A mengucapkan salam saja sudah gemetaran.

Objek pembelajarannya, ya, begitu-begitu saja. Netral, tidak akan mempermudah atau mempersulit. Yang membuat sulit atau mudah adalah subjek yang terus berubah saat melakukannya melalui proses PEMBELAJARAN. Si orang itu berubah ke arah mana? Maju, diam atau malah mundur? Dia yang menentukannya sendiri apakah sesuatu jadi sulit, biasa saja atau malah mudah. Dalam buku Outliers, Malcolm Gladwell melalui risetnya menyebutkan bahwa untuk mendapatkan kualitas kelas dunia, seseorang minimal harus berlatih selama 10.000 jam.

Ok! Mari kita lupakan 10.000 jam itu. Sekarang kita tanyakan pada diri kita sendiri, berapa jam dalam sehari yang sudah kita luangkan untuk mempelajari hal kita anggap sulit itu? 1, 2, 3, 10 Jam? Atau malah kita dengan mudah bosan, mengeluh lalu meninggalkan apa yang seharusnya kita pelajari? Mengutip kata-kata partner saya sendiri, Mas Riswan Helmy: “Bakat adalah apapun yang kita pilih sendiri untuk dilakukan dengan fokus setiap hari“.

Mari kita hitung sekarang. Jika kita meluangkan waktu 2 jam sehari untuk berlatih dan mempelajari hal yang ingin kita kuasai, maka kita akan mendapatkan keahlian kelas dunia dalam waktu 13,69 tahun! Jika kita hanya ingin 1/2 kelas dunia, kita butuh berlatih selama 6,84 tahun! Jika ingin 1/4 kelas dunia, kita butuh 3,42 tahun!

Well, menurut anda, jika yang disebut kelas dunia adalah Bill Gates, maka apakah 1/4 kelas dunia tidak hebat? Wow! Bahkan orang yang ‘hanya’ memiliki kualitas 1/4 kelas dunia pun sudah masuk kategori sangat hebat!

Lantas? Kembali ke pertanyaan sebelumnya, sudahkan kita meluangkan waktu? Berapa lama dalam sehari?

***

Saya tidak bermimpi jadi HRD atau Finance Manager kelas dunia. Saya hanya ingin menyelesaikan masalah yang saya hadapi dengan cara yang manis. Maka, saya hanya perlu meluangkan waktu untuk belajar. Karena, fakta sudah membuktikan bahwa bisnis adalah proses belajar yang mungkin tidak akan kunjung usai apalagi dalam waktu dekat. Setelah ini pasti akan ada hal lain lagi yang harus saya luangkan waktu untuk mempelajarinya, meskipun sebelumnya saya akan menganggapnya sulit. Lagi, saya yang memilih. Kita yang memilih. Kita sendiri yang menentukan, apapun itu nanti, apakah akan jadi sulit, biasa saja atau mudah. Siapa tahuuuuuu, kelak kita akan mendapatkan kualitas kelas dunia. Amin.

BISNIS (atau bidang apapun juga, sebenarnya) adalah selalu dan akan selalu tentang BELAJAR…

Selamat Belajar…

Kelapa Gading, 31/10/2012
Wisnu Sumarwan
http://www.wisnusumarwan.wordpress.com
Twitter & Streamzoo: @wisnusumarwan

image

*gambar saya ambil dari:
1. http://www.bigstockphoto.com/blog/wp-content/uploads/2011/01/bigstock_Woman_Cliff_Climbing_Over_Ocea_3913875.jpg
2. http://studentphotos.asu.edu/sites/default/files/imagecache/lightbox/Sun%20Devil%20Sunset.jpg

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...