Rujak Kuah Pindang, The Greatest Sensation…

Rujak-Kuah-Pindang

Untuk yang bukan orang Bali, makanan yang satu ini memang tidak terlalu populer. Kalaupun ada yang tahu, biasanya adalah orang yang sudah kerap kali ke Bali.

Makanan ini luar biasa sederhana. Hanya terdiri dari buah-buahan yang biasanya diserut dengan pisau. Buahnya pun biasa saja. Cuma buah-buah yang biasa dibuat rujak, antara lain mangga, bengkoang, pepaya mengkal, kedondong, dan sebagainya. Kuahnya juga tak kalah sederhana. Tidak ada cairan gula yang superkental dan lengket. Kuahnya adalah kuah encer yang merupakan campuran terasi, cabai, garam dan (ini yang saya suka) kuah rebusan ikan pindang. Makanya, orang-orang yang menyukainya adalah orang-orang yang punya selera sidestream, alias bisa memaklumi atau bahkan menikmati aroma yang sedikit amis, yang bagi lidah saya justru jadi nilai tambah karena rasanya mengingatkan saya pada laut yang sangat saya cintai.

Lantas, apa yang luar biasa dari makanan ini?

Kederhanaannya adalah keluarbiasaannya.

Saking sederhananya, rasa rujak kuah pindang jadi begitu jelas. Tidak perlu banyak berpikir untuk merasakan apa rasa makanan ini yang sebenarnya. Lewat makanan ini pula, saya jadi belajar untuk memaklumi selera orang yang aneh-aneh (paling tidak menurut kacamata saya). Karena, menurut sebagian orang, selera makanan saya juga aneh. Jadi, bagaimana mungkin saya tidak memaklumi mereka yang menyukai sesuatu yang aneh di mata orang lain? Saya pun punya kewajiban memahami orang lain, karena saya juga ingin dipahami sebagaimana diri saya, yaitu me as myself.

Be Yourself.

Ini kata-kata yang basi!

Kata-kata ini jadi tidak ada artinya, saat kata-kata ini dijadikan alibi untuk melegitimasi agar sesuatu bisa atau harus dimaklumi oleh orang lain. Dan inilah yang sering terjadi. Saat tidak mampu menutupi kekurangan, kita menggunakan be yourself sebagai tameng. “Ini deh gue!”

Menurut saya ini agak parah. Parahnya adalah : karena perasaan ingin dimaklumi orang lain kita menganggap sebuah kekurangan sebagai bagian permanen dari diri kita. Ini jadi seperti sebuah afirmasi negatif, bahwa kita memang seburuk apa yang dilihat orang lain dan hal itu adalah bagian yang tak terlepaskan dari diri kita, jadi jangan coba-coba protes mengenai hal itu! Saya menyebut karakter ini sebagai : Understanding Begger. Orang-orang yang memohon agar dimaklumi orang laim dengan membujuk atau memaksa orang lain maklum pada kekurangan mereka.

Alasannya sederhana (seperti rujak kuah pindang), Terima gue!

Ada lagi yang kurang lebih sama parahnya. Plagiator Karakter dan Blamer. Dua kata ini cuma istilah saya saja untuk menggambarkan apa yang saya maksudkan dengan 2 personalitas itu.

Plagiator Karakter adalah orang yang segitu mindernya, sampai-sampai dia harus meniru karakter orang yang dia anggap sebagai orang yang dapat diterima dalam pergaulan. Intinya, ia tidak ingin terlihat lemah, punya kekurangan dan minder (orang minder pun tidak mau terlihat minder, kan?). Resikonya adalah : Tengal (bahasa bali) yang kalau di-indonesia-kan bisa berarti janggal alias nggak pantes. Kenapa? Karena, ciri khas dari Plagiator Karakter adalah lebay, sok asik, dan gampang mengakomodasi suatu istilah yang sedang tren.

Alasannya : Dia pikir dengan bertingkah seperti itu ia bisa lebih bisa diterima oleh orang lain. Benarkah?

Sementara, Blamer adalah adalah orang yang menutupi kekurangannya dengan justru menimpakan kesalahan pada orang lain. Bahwa kalau orang lain begitu, maka dia juga berhak untuk dimaklumi begitu. Ciri khasnya : sering bilang, “Lho? dia juga… kok jadi salah gue aja?!” Atau, kalimat-kalimat yang bernada sejenis. Intinya, karena orang lain melanggar lampu lalu lintas, berarti kalau melanggar dia harus dimaklumi juga.

Saya tidak menyalahkan sepenuhnya orang-orang yang seperti ini, karena mereka terbentuk dari masa lalu, keluarga dan lingkungan pergaulan mereka. Yang saya sesalkan adalah Mereka tidak sadar. Sebagian besar orang-orang yang seperti ini tidak menyadari bahwa mereka membawa sifat-sifat yang seperti dalam diri mereka.

Dan hal yang lebih disayangkan adalah mereka tidak menyadari bahwa inti dari be-yourself adalah Kesederhanaan. Dalam sebuah kesederhanaan ada sesuatu yang luar biasa. Lewat kesederhanaan, kita bisa melewati batas-batas yang kita pikir selama ini tidak mampu kita lewati. Lewat kesederhanaan, kita bisa lebih mudah diterima dalam pergaulan. Lewat kesederhanaan pula, kita bisa selalu menang! Minimal, kita bisa menang melawan diri sendiri. Karena diri sendiri adalah musuh terbesar kita.

Jadi, kenapa kita tidak belajar menjadi Sederhana?

Belajar bahwa kepribadian kita tidak pernah tergantung pada orang lain, situasi atau benda-benda. Sederhana yang saya maksudkan BUKAN berarti semua orang harus jadi pendiam dan nrimo. Sederhana adalah berperilaku sesuai dengan karakter asli kita. Kalau memang kita orang yang senang melawak, ya melawaklah… Kalau kita lebih senang mendengar, ya mendengarlah… Syaratnya, tidak ada orang yang terganggu hidupnya karena perilaku kita.

Itulah sebabnya, sekalipun saya sangat suka rujak kuah pindang, tidak berarti saya akan memakannya di sebelah orang yang tidak menyukai baunya. Sama seperti teman-teman saya yang baik (thanks, guys 🙂 ), yang selalu menyingkir jika makan durian berhubung saya tidak menyukai aromanya.

Jadilah sederhana…

Rujak Kuah Pindang, My Greatest Sensation…

4 Comments

  1. semoga….

    • Iya… jadi kangen sama rujak kuah pindang…. di sini nggak ada… heheheheh🙂

  2. JDI PINGINNI RUJAK

    • Sama…🙂


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...