Dignity

image

(Di sebuah panti asuhan di Jakarta, 12/8/2012, sekitar pukul 3 dini hari. Saatnya Sahur, karena saat ini Bulan Puasa Ramadhan, hari ke-22)

(Setting: sebuah bangunan yang gedung bagian depannya sepertinya dibangun jaman belanda dengan jendela-jendela kayu tinggi berwarna hijau gelap. Dindingnya tampak tua, meskipun bersih dan terawat. Sementara, di belakangnya tampak sebuah lapangan tertutup konblok. Lapangan itu dikelilingi bangunan lain seperti barak. Di ruang-ruang barak itulah, tinggal puluhan anak asuh. Barak sebelah kiri adalah ruang tinggal anak laki-laki, dan sebelah kanan untuk anak perempuan. Ada 2-3 tempat tidur bertingkat dalam masing-masing ruangan yang terlihat selalu dijaga kebersihannya. Tampak rapih dan teratur

Di lapangan konblok itulah tampak meja-meja kelas disusun-susun sedemikian rupa untuk tempat kami sahur bersama malam ini. Gedung panti asuhan ini sekaligus adalah sebuah bangunan sekolah dasar. 2 buah pohon besar menaungi. Tampak bulan sabit dan bintang-bintang di langit yang cerah)

(deskripsi: kami baru saja selesai sahur. Seorang anak asuh laki-laki duduk di antara kami. Jauh dari teman-temannya yang ada di sisi lain meja)

(Saya duduk di sebelah seorang anak laki-laki)

Saya: (senyum) Adek, namanya siapa?

Anak laki-laki: (memandangi bungkusan berisi snack-snack kecil yang biasa dijual di warung, lalu berkata pelan) Faqih…

Saya: (memeluk bahunya, lalu mendekatkan telinga padanya) Siapa?

Anak laki-laki: (lirih, masih memandangi bungkusan) Faqih.

Saya: (masih memeluk bahunya) Kelas berapa, Faqih?

Anak laki-laki: (terus memandangi bungkusan) Kelas 4.

Saya: (melebarkan senyum) Wah, hebat dong udah kelas 4 SD. Paling suka pelajaran apa?

Anak laki-laki: (pelan) Bahasa Indonesia…

Saya: (senang) Sama dong kayak Kakak. Kakak juga paling seneng pelajaran Bahasa Indonesia. Hmmm… Emang Faqih kalo udah gede mau jadi apa?

Anak laki-laki: (diam dan tetap memandangi bungkusannya)

Saya: (mengulang pertanyaan) Faqih, cita-citanya apa?

Anak laki-laki: (masih memandangi bungkusannya, lalu menggeleng)

Saya: (menghela napas, namun berusaha tetap tersenyum) Wah, Faqih harus punya cita-cita. Trus sekolah yang rajin, biar pinter. Biar tercapai cita-citanya. Seneng gak di sekolah?

Anak laki-laki: (mengangguk, matanya masih memandangi bungkusan. Lalu ia menjawab, nyaris tanpa ekspresi) Seneng…

Saya: (senyum) Kok, jawabnya gak liat kakak, sih? (senyum) Faqih, di sini temen deketnya siapa?

Anak laki-laki: (memandang mata saya sebentar lalu memandang jauh entah kemana dan menunduk lagi) Banyak… Temen Faqih banyak…

Saya: Yang paling akrab siapa?

Anak laki-laki: Robi…

Saya: Sekarang, Robi ada dimana?

Anak laki-laki: (memandangi ruangan barak) Ada di kamar…

Saya: Faqih, mau main sama Robi, ya?

Anak laki-laki: (mengangguk pelan)

Saya: (senyum) Ooh… Bilang, dong…

Anak laki-laki: (diam, memandangi bungkusan)

Saya: (senyum) Ya, sudah. Makasih ya Faqih udah mau ngobrol sama Kakak. Silakan cari Robi, yaaa… (menjulurkan tangan, mengajaknya bersalaman)

Anak laki-laki: (berdiri, menjulurkan tangannya lalu mencium tangan saya)

Saya: (ingin menarik tangan, karena saya tidak nyaman dicium tangan. Tapi, saya biarkan karena takut menyakiti perasaannya)

Anak laki-laki: (segera berlalu)

Faqih: seorang bocah kelas 4 SD asal Bandung. Ibunya sudah meninggal. Tiba di panti asuhan ini karena diantar oleh ayahnya.

(berpikir)

***

Apa yang hilang dari bocah itu? Apa yang hilang dari Faqih?

Faqih yang pendiam. Faqih yang penurut. Faqih yang tidak mengungkapkan cita-citanya, entah karena tidak berani bilang atau karena memang tidak punya cita-cita. Faqih yang tidak berani bergerak dari kursinya sebelum disuruh. Faqih yang tidak nyaman berada di tengah kami, tapi juga tidak berani untuk pergi. Faqih yang tidak tahu cara berbicara dari mata ke mata. Faqih yang tidak tahu harus berbuat apa selain memandangi bungkusan snack sambil memilin-milin plastiknya. Faqih yang selalu menjawab pelan dengan raut datar tak berekspresi. Faqih yang mencium tangan lalu pergi tanpa menengok lagi…

Saya tidak bisa membayangkan apa rasanya menjadi Faqih. Di usia yang begitu muda harus ditinggalkan oleh sang Ibu dan kemudian dititipkan oleh sang Ayah ke panti asuhan. Dari Bandung ia datang ke Jakarta yang keras.

(Saya sempat terpikir. Apakah di Bandung tidak ada Panti Asuhan sehingga Faqih harus dibawa ke Panti Asuhan di Jakarta? Apakah ayahnya bekerja di Jakarta, sehingga Faqih juga harus dibawa Jakarta? Kerja apa ayahnya? Mengapa ayahnya meninggalkan Faqih di sini? Dimana ayahnya saat ini? Apakah Faqih masih sering bertemu dengan ayahnya itu? Tidak adakah keluarga yang bersedia menampungnya hingga ia harus terdampar di sini? Dst… dst… dst…)

Saya masih bisa ingat, saat saya kelas 4 SD saya dengan lantang bisa menjawab, “Saya mau jadi dokter!”. Meskipun kemudian saya batal jadi dokter, tapi sedikit banyak cita-cita masa kecil adalah salah satu hal yang membuat saya ada di sini sekarang.

Kenapa Faqih tidak?

***

Dan teringatlah saya pada sebuah artikel dalam sebuah e-book berjudul “What Matters Now” yang dirilis secara gratis via online tahun 2010. Buku itu berisi artikel dari puluhan blogger internasional mengenai apa yang menurut mereka penting pada tahun 2010 (dan sampai tahun 2012 ini saya ternyata masih menganggapnya penting).

Artikel yang saya maksud berjudul “Dignity” yang ditulis oleh Jacqueline Novogratz pendiri Acumen Fund, sebuah lembaga nirlaba global yang menggunakan pendekatan-pendekatan entrepreneurial dalam mengentaskan kemiskinan di dunia.

“the state or quality of being worthy of honour or respect – oxford dictionaries dot com”

“1 calm and serious manner that deserve respect; 2 The Fact of being given honour and respect by people; 3 A sense of your own importance and Value – Oxford Advance Learning Dictionary”

It’s easy to take dignity away from someone but difficult to give it to them – Jacqueline Novogratz from Dignity in What Matters Now

Faqih, bisa jadi, adalah salah satu anak yang telah terenggut dignity-nya. Dunia meninggalkan dia begitu saja di sebuah panti asuhan. Ibunya meninggal dan ayahnya menitipkan dia di sana. Faqih terlalu kecil dan rapuh untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Bisa jadi, dia hanya mengetahui bahwa dunia tidak lagi menginginkannya. Ia disingkirkan dari dunia, dikucilkan di sebuah panti. Faqih dijauhkan dari keluarganya. Faqih dicerabut dari akarnya. Faqih, bisa jadi, merasa dirinya tidak berharga! (Saya sampai menitikkan air mata saat menulis kalimat ini)

Saya tidak tahu apa rasanya merasa tidak berharga. Saya dididik di sebuah keluarga yang saling menghargai. Bahwa semua orang adalah berharga. Saya berharga. Saya beruntung. Saya beruntung sekali… Saya tidak tahu apa rasanya jadi Faqih… Saya bahkan tidak berani membayangkannya.

Perasaan berharga dan layak berada di atas dunia yang membuat saya mampu bertahan dan memperjuangkan setiap inchi hidup saya. Bahwa tidak ada hal yang bisa membuat saya terluka atau sakit selain diri saya sendiri. Karena sayalah pemimpin untuk  hidup saya. Bukan dunia, bukan orang lain. Hanya saya dan Tuhan yang mampu menentukan bagaimana hidup saya kelak. Saya menentukan cita-cita saya, menentukan keinginan saya, menentukan mimpi saya, menentukan jalan saya, menentukan kemana saya melangkah dan menentukan bahwa saya akan terus melangkah. Karena, saya sadar bahwa saya: BERHARGA.

Faqih?

Faqih saat ini menghuni panti asuhan. Dia juga beruntung. Dia dikelilingi dengan teman-teman yang senasib dengannya. Dia diasuh oleh bapak asuh dan ibu asuh yang berdedikasi. Bapak dan Ibu Asuh yang mengajarkan bagaimana hidup rapih dan teratur. Shalat pada waktunya. Makan pada waktunya. Mandi pada waktunya. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggalnya. Disiplin terhadap dirinya sendiri. Untuk dirinya sendiri.

Faqih justru memiliki kans besar untuk sukses. Dia dan teman-temannya sejak dini sudah diajari untuk mandiri, untuk bekerja keras. Faqih dan teman-temannya mungkin tidak ‘seberuntung’ kita yang hidup bersama dengan orang tua kandung dan bisa bermanja-manja. Tapi, Faqih dan teman-temannya, dididik untuk kuat, untuk hidup di dunia yang nyata bahkan sejak awal hidupnya.

image

Mereka tidak beruntung? Kita perlu sedikit mengubah cara pandang kita terhadap mereka. Dari sudut pandang yang berbeda, mereka juga beruntung. Mereka dan kita, setara! Jalan kita mungkin berbeda, tapi kita sama-sama manusia. Manusia yang berharga.

Tangan di Atas lebih baik dari tangan Di bawah

Kita beruntung bahwa kita masih bisa memilih untuk meletakkan tangan kita di atas. Bersikap sebagai seorang pemberi. Dengan berbagi berkah berupa materi, makanan berbuka atau makanan untuk Sahur. Berbagi pakaian untuk lebaran. Berbagi kebahagiaan. Tapi, ada yang kita tidak boleh lupa!

Tangan kita yang di atas jangan sampai membuat mereka merasa sebagai tangan di bawah. Jangan membuat mereka merasa sebagai pihak yang harus dikasihani. Jangan sampai, nafsu kita beramal secara materi justru merenggut hal yang paling esensial dalam hidup mereka: DIGNITY!

Perasaan bahwa mereka juga berharga. Bahwa, apa yang kita beri bukan karena kita kasihan pada mereka. Melainkan, karena berbagi adalah kewajiban bagi mereka yang mampu meletakkan tangannya di atas. Dan kelak (!) mereka juga harus menjadi tangan di atas. Berbagi untuk kita adalah contoh bagi mereka agar nanti pada waktunya mereka juga melakukan hal yang sama.

Giving a poor person food or money might help them survive another day… but it doesn’t give them dignity. There’s a better way – Jacqueline Novogratz

Bukan maksud saya mengatakan bahwa pemberian berupa materi tidak baik. Memberi apapun bentuknya adalah kebaikan. Tapi, jangan lupakan. Saat tangan kita memberikan materi, hati kita juga harus memberi. Memberi DIGNITY pada mereka. Mengatakan bahwa mereka juga berharga. Bahwa dalam diri mereka ada seorang pemimpin bagi hidup mereka sendiri. Bahwa mereka adalah penguasa atas hidup yang mampu membuat perubahan atas hidup mereka sendiri dengan cara-cara yang baik. Bahwa mereka mampu membalikkan tangan menjadi tangan di atas. Menjadi pemberi. Menjadi Sang pembuat perubahan.

Dignity is more important than wealth. It’s going to be a long, long time before we can make everyone on earth wealthy, but we can help people find dignity this year (right now if we choose to) – Jacqueline Novogratz

Jangan jadikan mereka objek amal dan merenggut Dignity dari hidup mereka. Kita harus mencoba untuk memberi tanpa menjatuhkan. Menggandeng tangan mereka dengan ikhlas dan mengajak mereka duduk setara.

image

Dignity comes from creating your own destiny and from the respect you get from your family, your peers and society – Jacqueline Novogratz

Kita harus menghormati sosok pemimpin.yang ada dalam jiwa setiap orang. Bukankah sudah dikatakan bahwa kita semua adalah khalifah di atas muka bumi? Ada seorang khalifah di dalam Faqih dan anak-anak lain yang sepertinya. Kita harus menghormati khalifah dalam jiwa mereka. Dengan tidak hanya memberi sebungkus nasi, tapi juga memberi DIGNITY pada mereka. Memberi sebuah perasaan setara. Ada banyak Faqih di luar sana. Dan kewajiban kita semua untuk menumbuhkan DIGNITY dalam diri mereka.

Ini butuh kita semua.

Semoga Allah memberi jalan kebaikan pada kita untuk menjadi jiwa-jiwa yang tangguh dan terbuka. Amin… Amin… Ya Rabbal ‘Alamin… Amin…

Kelapa Gading, 13/8/2012
Wisnu Sumarwan
http://www.wisnusumawan.wordpress.com
wisnu.sumarwan@yahoo.com
twitter & streamzoo: @wisnusumarwan

gambar saya ambil dari:
1. http://joettles.com/wp-content/uploads/2012/03/success.png
2. http://4.bp.blogspot.com/-L3ntL_eyVR4/T13eS8HcRXI/AAAAAAAACgg/feZLQvTTdAQ/s1600/9children.jpg
3. http://flocdayton.org/wp-content/uploads/2010/05/626000sm.jpg

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...