Matah Ati – Saya Bawa ke Hati

image

Saya awam. Saya tolol maksimal untuk urusan budaya, apalagi lokal, terlebih masalah Jawa. Saya menduga banyak yang berpikir bahwa ada hubungan antara Matah Ati dengan Patah Hati (saya jadi ingin tertawa mengingat kebodohan saya ini). Apalagi jika dia awam dan hanya membaca sekilas dari baliho yang terpampang di jalan. Mereka adalah orang-orang seperti saya. Karena, itulah yang saya pikir pada awalnya…

image

Sampai… Saya menyaksikan sendiri apa itu Matah Ati.

Saya tidak akan membicarakan masalah teknis tari, lighting, efek, tata panggung atau hal-hal semacam itu. Saya cuma akan menambah ketololan saya dengan mengomentari hal itu. Saya terlalu awam. Jadi saya cuma punya 2 kata untuk menggambarkan hal teknis yang saya lihat: LUAR BIASA!

image

Jika saya berkaki 4 maka saya akan melakukan standing ovation dengan keempat kaki saya. Salut! Salam hormat yang sedalam-dalamnya kepada semua orang yang (saya yakin) telah mencurahkan segala daya dan upaya untuk mewujudkan Matah Ati hingga saya bisa menyaksikannya. Hingga…

Saya yang awam ini bisa ikut ‘merasa’. Ikut menangis, ikut bahagia, ikut tertawa dengan apa yang saya saksikan dalam durasi sekitar 2 jam yang terasa jadi teramat singkat. Ini sebuah mahakarya modern! Bahwa untuk berdiri dengan bangga di atas dunia, kita tetap bisa menjadi diri kita sendiri. Mungkin untuk sebagian orang itu hanya seni tradisi, tapi nilainya adalah karakter kita sebagai bangsa. Jadi layaklah jika Matah Ati disebut sebagai salah satu Milestone untuk Indonesia. Milestone untuk saya. Yang membuat saya bisa berkaca dan mengambil sesuatu yang berharga untuk diri saya sendiri.

image

Saya melihat betapa sebuah karya yang dibuat dengan hati akan menyentuh hati yang lain. Saya merasa hati saya sangat tersentuh bahkan sejak pertunjukan dimulai oleh seorang mbok jawa yang meruapkan wangi dupa ke seluruh ruangan dari sebuah anglo berasap. Dan cerita terus mengalir sementara hati saya mengambang-ambang dalam alirannya hingga adegan terakhir saat layar padam.

image

Saya melihat bahwa sebuah karya, yang dalam pandangan saya monumental, sense of perfection adalah keharusan. Don’t be such ordinary. See the detail, feel the passion and be extraordinary.

image

Saya melihat bahwa menjadi diri sendiri adalah cara untuk menjadi berbeda. Matah Ati berakar pada budaya kita sendiri terutama budaya jawa yang dipadu dengan teknologi. Teknologi justru digunakan sebagai kereta pembawa tradisi. Menunjukkan jati diri kita di atas dunia. Ini satu jejak langkah yang kita semua harus ikuti di bidang kita masing-masing.

image

image

Saya melihat bahwa kesempurnaan adalah sikap. Saat saya menonton, terdapat 1 adegan dimana kalung yang dikenakan oleh karakter Raden Mas Said putus dan jatuh. Saya pikir kalung itu akan diambil saat lighting black-out, ternyata TIDAK! Kalung itu diambil oleh salah seorang penari, entah kapan, di saat panggung terang-benderang! Dan saya tidak menyadari kapan kalung itu diambil padahal saya berusaha memperhatikannya. Tiba-tiba saja kalung yang tergeletak di lantai panggung sudah menghilang. Tidak sedikitpun menganggu pertunjukan. Malah, membuat saya terkagum-kagum. Magic!

image

Magis! Saya merasakan sentuhan magis dan aura yang sangat kuat dari pertunjukan itu. Bahwa, di luar usaha keras dan kekuatan-kekuatan kasat mata, ada kekuatan yang lebih besar. Tuhan dan hati kita sendiri.

Dan tiba-tiba dalam sebuah adegan cinta yang syahdu, layar pun turunlah. Tak terasa pertunjukan selesai.

image

Hati saya tidak patah saat lampu kembali menyala. Saat pertunjukan selesai. Justru saya membawa pulang sebuah hati yang merasa SEDIKIT terutuhkan.

Kenapa sedikit?

Karena apa yang saya saksikan hanyalah sedikit pertunjukan yang seharusnya bisa menyadarkan kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Bahwa kita sering merasa patah hati pada negara ini. Dan bagian besarnya adalah milik kita, saat kita keluar dari gedung pertunjukan, dan ada di tangan kita semua yang menjadi bagian dari inspirasi Matah Ati di dunia nyata. Saatnya kita ikut membuat perubahan karena sesungguhnya kita bisa.

image

Saya jadi berpikir makin dalam. Saya merasa, keluar dari pintu Teater Jakarta, saya harus jadi orang yang berbeda. Tidak ada hati yang harus patah lagi. Kita semua harus yakin dengan sebuah hati yang utuh. Bahwa sekarang… ya SEKARANG, adalah saatnya kita membawa semangat Matah Ati keluar dari panggung!

Salut untuk seluruh pekerja seni Indonesia.

Tiji Tibeh! Mukti Siji, Mukti Kabeh!

Wisnu Sumarwan
25/06/12 – Selesai menonton Matah Ati
Http://wisnusumarwan.wordpress.com
E: wisnu.sumarwan@yahoo.com
Twitter & Streamzoo: @wisnusumarwan

*foto adalah hak cipta dari Matah Ati, diambil dari http://www.matah-ati.com. Saya mohon ijin untuk menggunakannya karena tidak diperkenankan untuk mengambil gambar selama pertunjukan dan saya ingin pembaca dapat merasakan kekaguman saya yang sangat mendalam*

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...