Bisnisku, Danau Kecilku…

Diantara kebahagiaan saya bertemu dengan 3 Rockstars saya minggu ini, terjadi proses reconcepting sebuah nilai yang mungkin akan mengubah paradigma pribadi saya terhadap bisnis yang saya jalani selama ini.

Mengenai siapa saja Rockstars yang berhasil saya temui, insyaAllah akan saya tulis lewat tulisan yang berbeda. Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang salah satunya. Saya tidak akan bercerita tentang sosoknya. Saya akan jadi terlalu sok tahu jika mencoba melakukan itu mengingat kedalaman ilmu dan pemikirannya. Justru, saya ingin sedikit bercerita, apa yang saya pikirkan setelah bertemu dengan beliau.

Saya beruntung. Saya sangat beruntung. Saya sempat bertemu dengan sosok Rockstar yang selama ini hanya saya lihat di TV dan saya perhatikan dari twit-twitnya di akun @alexsriewijono. Yup. Beliau adalah Alexander Sriewijono.

Dan ingatan saya langsung terbang ke saat pertama kali me-mention beliau dengan komentar : ‘Baca twit Mas Alex berasa duduk di pinggir sebuah danau yang tenang’. Dan jawabannya? ‘Maksute opo toh, Mas?‘ LOL. :))

Dan sekarang, saya tahu apa maksudnya.

Seperti biasa, sebagai orang yang pikirannya senang terbang kesana-kemari, saya langsung berpikir bahwa hidup seperti itulah yang ingin saya jalani. Not exactly literal. I want some kind of life that FEELS LIKE sitting next to one serene lake with trees, birds, grass, water-splashing and swimming-fish beneath my feet. Not to forget, one small wood cabin with porch. Where time goes slowly and is fulfilled by sincere smile… *sigh and smile, now*

Setelah hampir setahun saya mem-posting twit itu, akhirnya saya benar-benar bertemu dengan sosoknya. Menjadi bagian dari program pelatihan karyawan sebuah bank swasta terkemuka di Indonesia. Saya merasa sangat terhormat bisa menjadi bagian program itu bersama Mas Alex dan @dailymeaning miliknya.

Lagi, pikiran itu datang. Melihat bagaimana beliau berinteraksi, memberikan pelatihan dan arahan. Dan, yang paling utama, melihat bagaimana beliau membagi ilmu dan menginsprirasi orang-orang. Oh, God. ITU yang saya inginkan juga! :’)

Pikiran saya terbang. Kali ini menuju masa depan. Saya ingin KELAK bisa melakukan hal yang sama. Menginspirasi dan Berbagi. Apakah harus menunggu nanti? Mengapa tidak sekarang? Dan saya terpikir, JIKA saya ingin hidup terasa seperti duduk damai di pinggir sebuah danau, maka bisnis saya haruslah menjadi bagian dari danau itu karena itulah yang saya jalani sekarang dan insyaallah begitu pun di masa depan.

Danau itu TIDAK BOLEH menjadi tempat pelarian. Bukan tempat saya bersembunyi dari tekanan dan kesibukan. Bukan pula tempat liburan. Justru, sayalah yang harus menjadi danau itu! Seperti saya memandang Mas Alex sebagai sebuah danau besar yang tenang, seperti itulah juga saya harus memandang dan memperlakukan diri saya sendiri.

Menjadikan saya, bisnis saya, dan apapun yang saya lakukan sebagai sebuah danau yang bisa dikunjungi mereka yang membutuhkannya. Dan merintis langkah-langkah kecil untuk mulai menggali, menyusun, memperbaiki dan menata danau itu dari saat ini.

Bukan semata danau yang terhampar begitu saja. Bukan danau tersembunyi yang sulit untuk dicari. Tapi, sebuah danau yang bisa memberikan manfaat untuk siapapun yang datang dan pergi. Menciptakan danau dimana manusia, burung, ikan dan hewan-hewan berkumpul untuk mendapatkan manfaat darinya dan kemudian danau itu hidup, besar dan terpelihara karenanya. Danau yang makmur dan memakmurkan. Danau yang sejahtera dan mensejahterakan. Danau yang damai dan mendamaikan. Danau yang bahagia dan membahagiakan.

Saat ini Rumah Sushi adalah danau kecil milik saya dan sahabat-sahabat saya. Masih belum seberapa, walau kami tahu hendak kemana. Danau besar saat ini masih menggantung-gantung dalam angan, masih hidup di alam mimpi. Maka, saya harus bangun. Saya harus mulai. Karena danau itu bukan objek. Danau itu adalah diri saya sendiri beserta bisnis yang sedang saya jalani bersama sahabat-sahabat tercinta. Kami harus mulai dari diri kami sendiri.

Kami sadar, Danau kami tidak akan jadi besar begitu saja. Perlu waktu dimana proses berjalan di atasnya. Dan jika saya menginginkan Rumah Sushi menjadi danau yang besar, maka sejak saat ini saya perlu membuatnya menjadi danau, meskipun kecil. Danau. Cuma Danau. Bukan gedung yang sombong. Bukan monumen yang perlu dihormati. Bukan istana yang berpenjaga. Tapi danau yang ramah dan terbuka. Bukan yang lain. Danau tempat saya, sahabat saya, keluarga, karyawan dan orang-orang di dalamnya saling berbagi mimpi dan menjalinnya bersama. Membesarkannya dalam sebuah jaring kerjasama yang mutual.

Menjadikan bisnis saya bersama sahabat-sahabat hebat saya itu sebagai suatu padepokan hidup dimana semua orang yang terlibat di dalamnya adalah pemenang. Pemenang dalam hidup kami masing-masing tanpa perlu mengalahkan siapapun. Danau kecil tempat kami belajar berbagi dan belajar memberi. Belajar tertawa dan belajar bahagia.

Bukan masalah jika saat ini Danau kami masih kecil, masih bocah. Menurut saya, danau kecil berbagi hal yang sama seperti sebuah danau besar. Yang berbeda hanya kapasitasnya.

Seperti itulah bayangan tentang apa yang saya harapkan kelak untuk bisnis saya dan sahabat-sahabat saya. Saya telah menyampaikan hal ini pada mereka. Mereka menyambutnya karena, saya yakin, itu pula yang sudah mereka inginkan meski kami tidak pernah menyebutnya. Dan kini kami berbagi. Bahagianya saya saat ini. Dan saya bersyukur.

Angin bertiup pelan…

Terbayang, sebuah danau besar beriak tenang. Pohon-pohon pinus dan bunga-bunga mengelilingi. Ikan-ikan berenang di dalamnya. Burung-burung berloncatan dari dahan ke dahan, berkicau riang. Anak-anak bermain berlarian. Sepasang kekasih duduk tamasya di dekat sebuah ayunan yang bergoyang. Ada bau rumput dan tanah basah. Ada semilir angin dan kecipak air. Ada senyum dan tawa bahagia. Orang saling berbagi dan memberi. Ada pondok di pinggirnya. Saya duduk bersama sahabat-sahabat saya. Bercerita masa lalu… Bahwa dulu… Dulu sekali… Waktu kami belum apa-apa, kami bukan siapa-siapa. Danau ini kecil adanya… Lalu, kami tersenyum…

Ah, mimpi saya. Mimpi Danau…

Kelapa Gading, 26/4/12
http://www.wisnusumarwan.wordpress.com
wisnu.sumarwan@yahoo.com
@wisnusumarwan

Gambar saya ambil dari: http://www.phototravelpages.com/wallpapers/canoe_lake_1024.jpghttp://www.tc.umn.edu/~hagen050/deck1.jpghttp://dl6.iq7download.com/icnmedia/609e389b-6d73-4559-81eb-043a37bc0042.jpg

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...