Fear is The New FUN!

image

Suatu saat saya berpikir, tepatnya saya bertanya. Pada diri saya sendiri. Apa yang sedang saya jalani saat ini? Apa yang sebenarnya saya lakukan?

Setiap hari saya melakukan hal yang itu-itu saja. Tidur, bangun, mandi, cekikikan, ngetweet, bekerja sedikit, berpikir banyak, menulis ini-itu, pusing, bingung, berpikir lagi, ngobrol, diskusi, senyum, mendapat solusi, memutuskan sesuatu, lega, makan, capek, lalu tidur lagi. Esoknya terulang lagi pola yang sama. Kadang, saya marah-marah atau iseng menulis (sebagai penyaluran passion). Tapi, yah, seperti itulah yang kurang lebih saya lakukan setiap hari. Kinda boring, huh? Yeah, it’s boring indeed.

BUT, what i wonder about it, is Why am I still willing to keep going on having that kind of life instead? Saya tetap saja melakukan hal itu setiap hari. Day by day everyday. Terulang lagi, lagi dan lagi…

Ok, Maybe what i do everyday are boring things, BUT I’m not bored. Yes, I’m not bored. I’ve been doing all those things for more than a year. Well, almost 2 years, actually. And not a single day i feel bored about it. And d’ya know what makes me willing to have those kind of life? You may not believe me. You have your right not to believe me. What makes my life simply not boring is my fear. Yes! FEAR!

Let me make it clear enough. Tapi, sebelumnya, apa yang akan saya jelaskan ini bukan perbandingan. Saya tidak sedang membanding-bandingkan apa yang saya lakukan dengan apa yang orang lain lakukan. Ini bukan tentang mana pekerjaan yang lebih baik atau lebih buruk. Ini cuma sedikit cerita tentang hidup saya saat ini.

Mulai!

***

Ada yang sedikit berbeda antara kehidupan menjadi entrepreneur dengan menjadi pegawai atau karyawan. Apa? Simply, tanggal gajian! Apa yang saya dan teman2 saya lakukan bersama, membuat kami (dan orang2 yang memilih jalan entrepreneurship) punya cara yang berbeda dalam memandang apa itu ‘tanggal gajian’.

Sederhana saja, kami tidak menunggu tanggal gajian. Menunggu tanggal gajian sama dengan cari mati! Serius, tanggal gajian bukan untuk ditunggu. Tapi, untuk dikejar. Kalau kami tidak mengejar tanggal gajian, bagaimana kami bisa membayar gaji karyawan? Jadi, sejak awal bulan, selalu terjadi kejar2an dengan tanggal gajian yang makin lama semakin dekat.

Jauh sebelumnya, sales adalah ketakutan pertama. Sales naik, kabar gembira. Syukuri. Sales Turun? Yah, syukuri juga, sambil terus berusaha meningkatkannya lagi. Tanpa sales, tidak ada bisnis. Plus, mengelola omset agar tetap bisa memutarkan roda bisnis lebih cepat tanpa mengorbankan karyawan yang berhak atas gaji mereka.

Kalau (mungkin) karyawan merasa lega pada saat tanggal gajian, kami sudah bisa merasa lega (minimal) sehari sebelumnya (atau bisa lebih cepat jika target segera tercapai) dan sehari sesudahnya karena satu kewajiban sudah ditunaikan.

Karyawan (mungkin) merasa tanggal gajian lama sekali datangnya, kami justru sering merasa tanggal gajian rasanya terlalu cepat. Tiba-tiba sudah tengah bulan saja. Sementara, gaji tergantung omset, tergantung hasil penjualan dan bagaimana budgeting keuangan dilakukan (ingat, beban usaha bukan hanya biaya gaji). Akibatnya, ada sedikit rasa takut setiap kali tanggal gajian mendekat, apalagi jika penjualan mengalami penurunan.

Jika tanggal gajian karyawan sudah terjadwal, tanggal terkumpulnya uang yang akan digunakan untuk membayar gaji tidak bisa dipastikan. Gaji adalah faktor yang termasuk biaya operasional tetap alias konstan. As you’ve already knew, berapapun omset, naik atau turun, pengeluaran gaji selalu sekian. Tidak bisa kurang (tapi bisa lebih) dan tidak bisa mundur. Kata orang, bayarlah upah sebelum keringat kering di badan.

Bayangkan, apa rasanya takut tidak bisa membayar gaji, sementara penanggalan kalender rasanya memanggil-manggil! Karyawan ikut dalam sebuah kapal bisnis karena mereka memiliki mimpi yang sama dengan kami. Mimpi Sejahtera. Mereka berjuang untuk itu. Terlambat membayar gaji akan menjatuhkan mental mereka. Jika sampai ini terjadi, paniknya luar biasa!

Kami tahu, apa rasanya tanggal H-1 gajian, belum semua uang terkumpul! Ini olahraga jantung kelas berat! Bisa mencucurkan keringat dingin, panas, sampai dingin lagi! Alhamdulillah, sampai saat ini kami belum pernah terlambat membayar gaji. Ada saja keajaiban Tuhan yang terjadi di saat-saat mendebarkan.

Ada kekuatan besar di balik DOA dan Keyakinan.

Bahkan, setelah tanggal gajian pun, bukan berarti bebas. Ada tanggungan bulan depan yang akan kembali datang. Kekuatan bisnis berubah. Seberapa besarkah kemampuan bisnis bulan berikutnya? Seberapa besar laba ditahan? Bagaimana posisi ekuitas? Naik atau turun? Data keuangan tidak pernah berbohong. Financial statement menyampaikan kabar. Kadang menggembirakan, tapi kadang-kadang juga tidak. Yang jelas, apapun kabarnya, seorang enterpreneur harus mengambil sikap (yang kadang radikal). Tujuannya: Survive and Grow.

So, sampai di sini cukup jelas, bukan? Menjadi enterpreneur berarti harus siap hidup dari satu ketakutan ke ketakutan berikutnya.

How can I be bored with this continous and constant FEAR? There’s no time to get bored. Saya tidak boleh bosan. Justru, ada perjalanan dalam ketakutan-ketakutan ini. Memecahkan satu ketakutan untuk masuk ke ketakutan berikutnya.

Justru, dari setiap ketakutan yang pernah (dan akan) saya hadapi, saya membesar. Saya meluaskan kapasitas saya. Saya harus memecahkan masalah yang makin lama makin besar. Artinya, secara pribadi saya membesar juga. Masalah besar hanya bisa dihadapi oleh orang besar pula.  Setiap ketakutan yang berhasil dipecahkan, membawa saya pada level yang lebih tinggi. Jelas, membayar gaji 10 orang rasanya sangat berbeda dengan membayar gaji 60 atau 600 orang. Mengurus 1 outlet, berbeda dengan mengurus 5, 10, 100, apalagi 300 outlet.

Untuk ini, saya bersyukur bahwa saya bersama dengan partner-partner (sekaligus sahabat) yang hebat. Yang, bisa saya andalkan dan selalu mendorong saya untuk jadi orang yang bisa diandalkan oleh mereka.

Memang, outlet kami belum sebanyak itu. Karyawan kami belum sebanyak itu. Namun, saya yakin, ketahananlah yang akan membuat kami kelak akan memiliki outlet dan karyawan sebanyak itu. Lebih banyak, mungkin. Lebih banyak lagi orang yang akan sejahtera bersama kami. Ini tantangan (sekaligus ketakutan). Ini juga pertanyaan. Pertanyaan yang harus dijawab satu per satu. Sejauh mana kami akan melangkah? Sejauh mana saya akan membesarkan kapasitas diri saya? Sejauh mana saya harus menjawab setiap ketakutan yang datang?

Ada seseorang yang pernah berkata pada saya.Bahwa, hidup adalah serangkaian proses bertanya dan menjawab yang akan terus terjadi hingga tiba sebuah pertanyaan pamungkas. “Apa makna keberadaan kita di dunia?” Tanpa dicari-cari makna ini pasti bisa ditemukan, lewat tindakan!

Jawab setiap ketakutan yang datang, maka tidak ada ketakutan yang cukup besar untuk menakut-nakuti kita!

It’s one never ending journey, my dear friends. Fear is the New FUN!

Kelapa Gading, 19/03/2012
Ditulis sebelum kenaikan harga BBM.
http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

Gambar saya ambil di http://www.peacecalendar.net/wp-content/uploads/2011/11/Calendar1.jpg

1 Comment

  1. Wis, sekarang udah naik belum harga BBMnya?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...