Bertahanlah Sampai Esok

image

Dini hari ini (6.12.11), saya nggak sengaja denger sebuah lagu di satu radio. Pernah beberapa kali saya denger lagu yang merupakan soundtrack dari sebuah film Disney ini, tapi sebelumnya saya nggak pernah ngeh itu lagu apa.

Cari punya cari… Ketemulah judulnya. A Day Away (Tomorrow). Tulisannya sih Annie, entah ini nama yang nyanyi atau nama film-nya. Yang jelas, setelah denger liriknya. JLEB! Tertikam gue!

(Belakangan, gue baru tau kalo Annie itu nama sebuah drama Broadway yang pertama kali ditampilin tahun 1977 dengan pemeran Andrea McArdle sebagai Annie. Udah ditampilin puluhan kali di berbagai negara. Pernah juga menang Tony Award. Dan lagu yang gue denger adalah versi Alicia Morton yang dirilis tahun 1999 bareng sama versi filmnya)

Selama ini, saya selalu berpikir, betapa besarnya energi yang saya butuh untuk terus bertahan di jalan panjang ini. Bahwa saya harus sekuat itu. Saya harus sehebat itu untuk menghadapi semua tantangan yang tidak akan pernah berhenti datang.

Sampai…

Saya baca lirik lagu itu…

***

Apa kamu pernah bertanya sama diri sendiri? Kuat nggak, yaaa? Minggu depan gimana? Bulan depan? Bisa nggak, ya, bertahan setahun, dua tahun… Seratus tahun? Seribu tahun lagi? Pernah?

Coba pikir baik-baik. Benarkah kamu butuh energi sebesar itu? Benarkah kamu harus mempersiapkan kekuatan untuk 100 tahun?! Bisa jadi, TIDAK! Kita tidak butuh energi sebesar itu. Kita hanya butuh energi untuk bertahan hari ini dan sedikit lagi energi untuk tetap kuat sampai besok datang! Cuma segitu… No more, no less… Kita cuma butuh energi secukupnya! Tidak berlebihan, karena semua diciptakan pada ukuran dan takarannya masing-masing.

Bayangkan! Berapa jumlah energi yang kamu butuh untuk bertahan setahun, dua tahun, 10 tahun atau 100 tahun lagi? Besar! Sangat Besar!! Kamu perlu jadi Superman untuk punya energi sebesar itu!

Still, we are human. Ordinary person, right? Manusia yang bisa jadi lemah. Bisa sedih. Bisa menyesal. Bisa jatuh. Bisa terluka. Bisa menangis. Bisa takut. Bisa marah. Bisa hancur!

Kita butuh energi untuk bertahan dari semua itu. Kita butuh energi untuk mempertahankan diri. Kita butuh energi untuk terus berjalan. Untuk tetap berlari. Untuk terbang! Bahkan, saat kita melihat kesulitan sebesar gunung atau masalah seluas laut di depan kita. Kita harus tetap bertahan. Tidak ada pilihan lain selain bertahan, karena pilihan lainnya adalah menyerah.

Mengapa menyerah? Karena hari ini terlalu mendung? Terlalu menyedihkan? Terlalu mengecewakan? Terlalu tak berarti? Tak berharga lagi? Atau apapun alasannya, mengapa harus menyerah?

Karena kita lemah? Tidak kuat? Terlalu sedih? Terlalu kecewa? Terlalu tersakiti? Terlalu terluka? Terlalu hancur? Terlalu ingin pergi? Tak mampu berdiri? Apalagi untuk berjalan atau berlari? Itukah alasan mengapa kita menyerah?

Mengapa pula kita harus bertahan? Karena hidup ini masih panjang maka kita harus terus bertahan? Karena sepanjang hidup adalah sejumlah itulah energi yang kita butuhkan? Harus sekuat itukah kita?

***

Benar! Benar sekali bahwa kita membutuhkan energi SANGAT besar untuk bertahan 10 tahun atau bahkan 100 tahun. Tapi, siapa yang bilang bahwa kita harus mendapat energi itu sekaligus?

Bukankah Tuhan menciptakan malam bagi siang? Dingin untuk panas? Hujan untuk kemarau? Pasang naik dan pasang surut? Bumi berputar. Musim berganti-ganti. Mengapa? Karena Tuhan ingin kita beristirahat. Tuhan ingin kita berhenti berlari sejenak. Untuk melihat. Merasakan perubahan. Menarik napas. Tersenyum. Mengambil energi setiap hari.

***

Saya dan anda berbeda. Anda tidak melihat yang saya lihat, sebagaimana saya tidak melihat apa yang anda lihat. Anda tidak menghadapi apa yg saya hadapi, seperti saya yang juga tidak mengalami apa yang anda alami. Mungkin berat. Mungkin sangat berat.

Tapi kita sama sebenarnya. Seperti juga anda, saya bisa takut. Saya bisa ragu. Saya bisa khawatir. Saya gemetar. Saya pernah menangis. Saya pernah merasa tidak kuat. Merasa lemah. Merasa sakit. Terluka. Ingin menyerah. Ingin pergi. Jauh… Sejauh-jauhnya jauh… Sampai tidak ada yang bisa menemui saya lagi! Tidak ada masalah yang bisa mendatangi saya…

Tapi, kemana? Kemana saya bisa lari? Kemana saya bisa kabur? Ujung dunia? Dimana? Dimana ujungnya? Ada? Adakah? Tidak, Sahabatku… Tidak ada… Kita tidak bisa kabur… Cuma alam kubur. Ingat, cuma alam kubur yang bisa memisahkan kita dari masalah! Dan percaya, terlalu cepat kesana adalah SALAH! Terlalu salah!

Karena Tuhan ingin kita jadi khalifah. Jadi pengembara di atas bumi. Jadi pemimpin minimal untuk diri sendiri. Membawa perubahan pada manusia di balik cermin yang kita pandang setiap pagi. Pada orang-orang yang kita cinta. Pada mereka yang kita berikan hidup kita. Pada masyarakat dimana kita terikat. Bahagia dengan apa yang kita punya. Berusaha sukses semampunya. Amin… Amin… Amin…

Lantas, punyakah kita energi? Punyakah kita kekuatan untuk memperjuangkan semua itu? Seberapa besar kemampuan kita untuk mengumpulkan energi? Seberapa hebatkah kita?

***

Then, saya dengar lagu itu. Dan saya tersadar. Bukan karena saya tidak tahu. Anda juga pasti sudah tahu. Kita hanya lupa saja. Kita bisa khilaf, layaknya manusia biasa. Layaknya manusia lemah adanya.

Bukankah itulah sebab Tuhan menciptakan malam bagi siang? Agar kita bisa merebah sejenak. Berpikir. Agar kita bisa menangis, tanpa ada yang tahu bahwa kita juga bisa bersedih. Bahwa kita berhak merasa lemah. Membutuhkan pegangan. Butuh bahu untuk meletakkan kepala kita yang sudah terlalu lelah untuk tetap berdiri tegak. Menginginkan sepasang mata yang menatap tajam dan belah tangan yang erat memegang kedua tangan kita, lalu berkata, “Ayo! Kamu bisa!”

Lalu menangislah sejadi-jadinya, seakan setelah hujan takkan pernah ada pelangi. Bahwa setelah matahari melewati batas senja hanya akan ada gelap semata karena takkan ada cahaya yang terbit esok pagi. Hingga….

Hingga kita tersadar, bahwa kita sudah terlalu letih menangis. Tenggorokan sudah perih dan dada sudah sesak. Dan… Kita masih di sini… Sendiri… Sama seperti sebelumnya… Tiada yang berubah. Tiada yang berganti. Dan matahari sudah terbit lagi. Malam sudah berlalu. Bisa kita dengar kicau burung dan kokok ayam di kejauhan. Embun sudah datang.

Astaga! Mengapa saya baru tersadar? Saya selalu punya matahari yang bisa saya tunggu. Matahari yang tetap terbit meski saya tak menginginkannya. Meski hari ini mendung semendung-mendungnya hingga siang terasa seperti malam, tetap, matahari tak pernah lelah untuk datang esok pagi. Matahari tak peduli. Matahari tak peduli apakah kita melupakannya atau menginginkannya tak pernah terbit lagi. Ia tetap terbit. Janji tak teringkar hingga saatnya hari kehancuran abadi nanti.

Hingga saat itu… Kita selalu berhak terjatuh, seperti kita juga berhak bangkit lagi. Kita berhak menangis, sebagaimana kita juga berhak untuk menghapus air mata. Kita berhak merasa menderita, pun kita berhak untuk bahagia. Kita berhak untuk gagal, tapi kita juga punya hak untuk berhasil!

Hak mana yang akan kita pakai?

Hak untuk jatuh? Atau hak untuk bangkit dan terus bangkit saat kita terjatuh? Hak untuk menangis? Atau hak untuk terus menegakkan dagu tinggi-tinggi meski airmata rasanya tak terbendung lagi? Hak merasa menderita? Atau hak untuk berbahagia? Hak untuk Gagal? Atau hak untuk Sukses?

Kita punya hak!

Kita punya hak untuk sembunyi di ruang gelap, atau berdiri dengan berani untuk menyambut matahari!

Karena… Segelap-gelapnya malam ini, dalam hitungan jam, matahari PASTI terbit lagi! Dan yang kita perlukan hanyalah energi untuk bertahan dan menunggu 1 hari lagi! 1 hari! Can you believe it?! We only have to survive 1 day!🙂 No more, no less!!

Jika saat ini kita terjatuh, terluka, hancur dan menangis. Ingatlah, bahwa kita selalu punya malam ini untuk mengingat bahwa esok pagi matahari pasti terbit lagi. Berbahagialah. Karena esok pasti berbeda, tergantung bagaimana kita menggunakan hak kita.

Ada energi luar biasa yang selalu dibawa oleh matahari yang terbit esok pagi. Energi yang selalu tersedia dan baru. Energi yang selalu bisa kita ambil kapan saja… Selama… Kita sadar bahwa ada harapan di sana. Ada mimpi-mimpi terangkai pada setiap terbitnya matahari esok, esoknya, esoknya lagi dan lagi… lagi… lagi… lagi…

Selama kita punya mimpi, selama itulah matahari akan terbit lagi. Maka, jangan takut kehabisan energi. Jangan takut untuk bangun, membuka jendela dan merasakan betapa Tuhan menyebarkan berkahnya lewat matahari yang terbit setiap hari. Kita hanya perlu punya mimpi dan niat untuk mewujudkannya.

Maka, betapapun hancurnya kita saat ini. Bertahanlah Sampai Esok! Bangun! Tunggu terbitnya matahari. Lalu… melangkahlah dengan senyum dan dagu yang terangkat tinggi.

Salam…

Your Bestfriend

24/12/2011

Kelapa Gading

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...