Rasanya Jadi Pengusaha

image

Banyak orang yang mendamba jadi pengusaha. Mahasiswa meletakkan ‘pengusaha’ sebagai pilihan pertama ‘pekerjaan’ setelah mereka lulus. Karyawan ingin keluar dari pekerjaan mereka dan merintis jejak pengusaha-pengusaha sukses. Bahkan, cukup banyak juga bocah yang sudah mencantumkan ‘pengusaha’ di kolom cita-cita jika mengisi formulir biodata. Sebegitu menariknyakah jadi ‘pengusaha’? Apa yang mereka lihat? Apa yang mereka bayangkan saat mendengar kata ‘pengusaha’?

Alhamdulillah, saat tulisan ini dibuat, usaha kami, Rumah Sushi, sedang dalam proses pembukaan cabang ke-4. Hal ini tidak lepas dari bantuan dan kerja keras banyak pihak. Karyawan, supplier, pelanggan, media, kawan-kawan, orang tua dan orang-orang yang tidak mungkin kami sebut satu persatu.
Tapi, apakah kami (saya) merasa sebagai ‘pengusaha’? TIDAK. Teman-teman dan orang-oranglah yang menyebut kami sebagai ‘pengusaha’.

Komentar yang sering terdengar dari orang-orang yang kami temui adalah, “Enak ya jadi pengusaha…

Enak? Apa enaknya? Kok, tahu kalau jadi pengusaha itu enak?πŸ˜‰
Menurut saya, kita perlu paham terlebih dulu apa yang pantas disebut ‘enak’ dan bagaimana akhirnya sesuatu bisa disebut ‘enak’. Baiklah, supaya sedikit lebih jelas, saya ingin memberikan ilustrasi.

Pernah makan Bebek Kaleyo? Banyak yang akan bilang ‘pernah‘. Bagaimana rasanya? Enak? Jika Bebek Kaleyo bisa selaris itu, berarti rasanya memang enak. Ini asumsi saya berdasarkan cerita teman-teman saya yang sudah pernah atau sering makan di sana.

Untuk yang menjawab ‘enak’, saya ingin bertanya lagi. Kok, bisa bilang Bebek Kaleyo enak? Saya yakin, sebagian besar jawabannya adalah “Karena sudah mencicipi”.

Jika pertanyaan yang sama diajukan pada saya, ‘enak nggak Bebek Kaleyo?’ Jujur, saya akan menjawab ‘TIDAK TAHU’. Kok, bisa tidak tahu? Karena, saya vegetarian. Vegetarian tidak makan daging. Bebek goreng atau bakar termasuk daging. Jelas, saya tidak pernah mencicipi seperti apa rasanya Bebek Kaleyo. Jadi jawaban saya adalah ‘tidak tahu’.

Kesimpulan pertama. Orang mengatakan sesuatu ‘enak’ karena SUDAH mencoba. Sampai di sini, sederhana, bukan?

Kita kembali ke kalimat “Enak ya jadi pengusaha…”

Pertanyaan saya, apakah orang yang mengatakan ‘enak ya jadi pengusaha‘ SUDAH pernah mencicipi apa rasanya jadi pengusaha? Bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa jadi pengusaha itu ‘enak’? Darimana mereka tahu bahwa jadi pengusaha itu memang ‘enak’?

Jika yang mengatakan ‘enak jadi pengusaha’ adalah seorang pengusaha, WAJAR. Karena mereka memang sedang merasakan alias sudah jadi pengusaha. Nah, sekarang bagaimana dengan orang-orang yang belum pernah jadi pengusaha? Bagaimana mereka bisa mengatakan bahwa jadi pengusaha memang enak?

Kemudian saya sering bertanya lagi. Kok, elu bisa bilang jadi pengusaha itu enak? Berikut, saya resume beberapa jawaban yang sering saya dengar.

Jadi pengusaha itu enak, karena:

Banyak duit” (kok, tahu? Pernah ngecek rekening mereka? Catatan keuangan mereka?)

Banyak waktu” (sudah pernah bareng mereka 24 jam penuh selama seminggu dan melihat bagaimana mereka menghabiskan waktunya?)

Punya karyawan banyak. Orang lain yang bekerja untuk kita” (Hah? Karyawan itu nggak gratis, lho… Harus bayar gaji, tunjangan, bonus, THR, dsb.)

Nggak perlu masuk kantor jam 8 pagi, jadi bisa bangun lebih siang” (yeeeee…. Emang nggak shalat Subuh? :p)

Dipuji-puji banyak orang. Semua kagum” (hmmm…. Sudah pernah dengar ungkapan ‘sombong dan berbangga-bangga adalah pangkal kehancuran?’)

Dan macam-macam lagi…

Kami berempat (founder of @RumahSushi) masih mahasiswa dan duluuuu kami juga sempat membayangkan bahwa jadi pengusaha itu : banyak duit, banyak waktu, punya banyak karyawan, bangun siang, dsb. Kalo poin ‘dipuji-puji’ saya (dan saya yakin partner saya juga) tidak pernah membayangkannya. Yah, mungkin karena tidak terbayang saja… (Ada, ya, orang yang ingin jadi pengusaha supaya dipuji-puji? :p)

Darimanakah kami (dan saya yakin, banyak orang juga) membayangkan bahwa jadi pengusaha memang ‘enak’ seperti itu?

Pertama sih, jelas, dari media. Lihat berita, sinetron, dan berbagai tayangan TV. Sering sosok pengusaha digambarkan, seperti:
– Kemana2 pakai Jas dan dasi. Atau, justru sebaliknya. Pakai baju yang super nyantai kayak Pak Bob Sadino.
– Naik mobil berkaca gelap dengan supir. Terus, duduk di bangku belakang sambil terus telpon-telponan atau otak-atik laptop.
– Sibuk meeting dengan klien atau kolega. Ketemuan di lobby gedung terus berjabat tangan erat-erat sambil tepuk-tepuk pundak temannya.
– Punya sekretaris yang kemana-mana bawa notebook. Semua omongan si bos dicatet. Sebentar-sebentar ngecek jadwal. Terus kalau menerima telpon, ngomong, “Pak, ada telpon dari Pak Anu. Mau diterima?”
– Makan siang di restoran mewah atau hotel. Ketawa-ketawa dengan teman-temannya. Dan buntut-buntutnya ngomongin tender.
– Liburan di luar negeri, minimal ke Paris. Naik jet pribadi, yacht atau kapal pesiar. Duduk di kursi malas, berjemur pakai kaca mata hitam.
– Sering pusing. Bukan karena nggak punya duit, melainkan karena ngurus duit M-M-an. Tapi, kalo anak minta duit, dikasih nggak pake mikir.
– Punya istri yang menyambut di rumah dengan senyum bijak dan secangkir kopi lalu bertanya manis, “Papa kenapa? Kok, kelihatan capek sekali? Tadi sibuk ya di kantor?” Terus sang suami menjawab dengan muka manja sambil copot sepatu tentu saja, “Iya, Ma… Tadi Papa meeting dengan klien untuk proyek di… bla… bla… bla…”

Hahaha…. Kebanyakan nonton sinetron!πŸ˜€

Tapi, tidak salah, kok, untuk membayangkan hal-hal di atas jika itu adalah MOTIVASI, ‘kelak saya akan jadi pengusaha seperti.itu’.

Masalahnya adalah TERNYATA (!) banyak yang menyangka gaya hidup pengusaha memang seperti itu SEJAK AWAL! Kalau mau jadi pengusaha berperilakulah seperti itu! Ckckck…😦

Akibatnya, bukan KERJA KERASnya yang ditiru, tapi cuma sebatas gaya hidupnya!

Ingat, sebelum mereka menjalani gaya hidup, yang bisa jadi seperti yang tampak di sinetron itu, mereka telah melampaui suatu jalan yang mungkin tidak bisa kita bayangkan.

Saya tidak akan membicarakan pengusaha yang jadi pengusaha karena warisan bapaknya. Kalau toh dia dapet warisan itu adalah keberuntungan yang dia dapat dan, tetap, dia butuh keahlian untuk mengelola itu. Dia menghadapi kendala juga, meski berbeda dengan kendala orang yang merintis bisnis dari nol. Tapi, kendala tetaplah kendala. Butuh ilmu, keahlian dan mental. Kita, yang merintis bisnis dari nol, tidak boleh memandang ini secara dangkal dan picik. (Dan lucunya, yg sering memandang dangkal dan picik justru orang-orang yang tidak pernah memulai usahanya #nomention).

Well, Apapun yang kita lihat dari TV atau sumber lain, itu hanya sepotong dari perjalanan hidup yang harus dilalui seorang pengusaha. Kalau ibarat toko, itu cuma etalase. Di belakangnya ada gudang stok, kantor, dapur, ruang karyawan, dan sebagainya yang tidak bisa kita lihat hanya dengan sekilas pandang seperti itu.

Di era teknologi informasi dengan perkembangan SNM (social network media) yang begitu pesatnya ini, KITA BERUNTUNG! Banyak pengusaha-pengusaha sukses yang dengan ikhlas membagi ilmunya lewat twitter, FB, blog, dan sebagainya, langsung dari tangan pertama. Langsung dari sumbernya. Membuat kita bisa mendapat cipratan ilmu gratis dari mereka.

Well, saya tidak bermaksud meremehkan ilmu-ilmu teknis yang sering mereka bagi-bagi. Saking baiknya, mereka sering berbagi rahasia produk, marketing, SDM, branding, manajemen keuangan, dsb. Itu sangat berharga!

Tapi, ada hal yang jauuuuuuh lebih berharga dari itu. Semua ilmu teknis selalu bisa dicari di Toko Buku atau tanya Mbah Google. Belajar sendiri. Tapi, dimana kita bisa dapat….

ILMU IKHLAS dan PANTANG MENYERAH. Ilmu untuk tidak mengeluh. Ilmu untuk tetap optimis dalam keadaan seburuk apapun. Ilmu Berbagi. Ilmu Kekuatan Mental. Dan sebagainya… Dan sebagainya…

Ada cukup banyak pengusaha yang saya kagumi. Ibu Lita Mucharom adalah salah satunya. Perusahaan Konsultan SDM milik beliau, PT. Langkah Mitra Selaras, terbilang sukses. Tapi tahukah anda bahwa beliau pernah mengalami kebangkrutan? Bisnisnya habis ditipu? Tidak mampu beli buku yang cuma 11 ribu? Tidak bisa bayar tukang hingga harus mengecat sendiri rumahnya? Tahukah anda? Seharusnya anda tahu, karena beliau membagi ini GRATIS lewat twitter. Subhanallah…

Tahukah anda bahwa Rangga Umara, brand-owner Lele Lela pernah mengalami jatuh bangun yang bagi sebagian orang ‘mengerikan’? Bingung saat harus beli susu n popok untuk anak? Tunggakan banyak? Siang-malam ada di outlet?Β  Tahukah anda? Harusnya tahu, karena beliau juga membagi tentang ini di twitter secara GRATIS! Subhanallah…

Saya beruntung pernah bertemu salah satunya, Ibu Lita Mucharom. Jujur, tidak ada tuh saya lihat bekas-bekas bahwa beliau pernah rugi ratusan juta rupiah. (Saya nggak bisa membayangkan apa rasanya rugi ratusan juta!). Bahkan, beliau menyempatkan diri untuk mengevaluasi usaha saya, terutama dari sisi SDM-nya (iri, yaaaa? Hehehe *wink).

Atau Rangga Umara yg sekarang sibuk ‘jalan2’ sebagai motivator ke seluruh Indonesia. Kalo baca twit-twitnya selalu SERUUU!!! Semua orang yang liat Rangga Umara yang sekarang kemungkinan besar akan bilang “Enak ya jadi pengusaha…”.

Nggak bisa dipungkiri, keberhasilan mereka adalah motivasi untuk kita-kita yang masih merintis bisnis dan dorongan bagi yang baru akan memulai bisnisnya. Yang membuat kita berkata “Enak ya jadi pengusaha…”. Tapi, jangan lupa, mereka mencapai titik itu tidak secara instan! Mereka menempuh perjuangan yang panjang. Nggak pake bosen, ngeluh, apalagi galau!

So, Ada pelajaran yang bisa kita ambil. Bahwa pengusaha itu BUKAN gaya hidup. BUKAN pekerjaan. Lebih dari sekadar apa yang bisa kita lihat. Lebih dari mobil yang mereka pakai. Lebih dari sekadar uang mereka. Lebih dari sekadar aktifitas harian mereka.

Pengusaha adalah apa yang ada di dalam pikiran, hati dan mental mereka. Pola pikir mereka memandang dunia. Visi hidup mereka. Kebermaknaan mereka. Apa yang tidak bisa kita lihat begitu saja di TV atau media. Lebih dari itu, Pengusaha adalah KARAKTER.

Jakarta, 16/11/11
Kelapa Gading
http://www.wisnusumarwan.wordpress.com
@wisnusumarwan

2 Comments

  1. walaupun posting lama tapi menggugah…ijin share ya

    • Silakan.πŸ™‚


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...