Isu Publik : Kita Harus Memilih Apa yang Boleh Masuk ke dalam Telinga Kita

Pada dasarnya, saya bukan orang yang tertarik untuk memperhatikan isu publik. Saya sangat memilih isu mana yang perlu saya perhatikan. Kategorinya untuk saya sangat jelas : Apa kaitan isu tersebut terhadap hidup saya? Jika saya tidak melihat kaitan langsungnya, isu tersebut akan cenderung lewat begitu saja atau maksimal hanya saya pernah dengar.

Mengapa saya bersikap begitu? Karena menurut saya, terlalu memperhatikan isu-isu di masyarakat yang cenderung bergerak negatif, akan membuat kita juga bersikap negatif. Kita menjadi ketakutan terhadap kondisi dan situasi yang tengah kita hadapi, membuat kita jadi iri melihat tingkah polah para pejabat (bahkan ada yang iri pada Gayus!), membuat kita terjebak dalam berita-berita yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan hidup kita dan membuat kita terpisah dari realita.

Saya merasa bahwa saya (bahkan kita semua) harus mengkonstruksi realitas kita masing-masing dan memisahkannya dari apa yang dianggap benar atau salah oleh publik (yang hampir selalu diwakili oleh media). Hal ini karena, cara kita memandang realitas tersebut akan mempengaruhi cara kita bersikap terhadap realitas tersebut. Berita adalah berita dan realitas adalah realitas. Benar, Gayus adalah berita. Benar bahwa Gayus telah menyinggung perasaan sebagian besar rakyat kecil. Namun, tidak benar bahwa Gayus ada kaitan langsungnya dengan hidup saya. Pengadilan Gayus memiliki sistematikanya sendiri yang akan terus berjalan entah saya perhatikan atau sebaliknya tidak saya perhatikan, tidak ada peran saya sedikitpun dalam kasus tersebut. Permasalahannya adalah : Media terlalu perkasa hingga mampu membuat semua orang merasa terlibat dengan suatu kasus yang diangkat media.

Media telah membuat semua orang panik saat harga cabai merangkak naik, bahkan pada orang yang tidak suka pedas sekalipun. Yang justru membuat suasana bertambah kacau. Bukan cuma cabai saja yang merangkak naik. Beras, ikan asin, daging, semua ikut merangkak naik. Mengapa? Karena media telah berhasil membentuk sebuah kepanikan massal. Penyebabnya sederhana : CABAI. Tidakkah ini menggelikan?

Contoh lainnya, Kasus Nurdin Halid. Ini adalah kasus yang paling TIDAK saya perhatikan. Untuk apa pula saya memperhatikan kasus yang makin lama menjadi makin mirip lawakan? Bahkan sejak awal saya tidak memperhatikan kasus itu. Pertama, saya bukan penggemar bola. Kedua, saya tidak kenal siapa Nurdin Halid. Ketiga, siapapun ketua PSSI, apa pengaruhnya terhadap hidup saya? Apakah jika Nurdin Halid batal menjadi ketua PSSI, semua rakyat Indonesia bisa makan nasi 3 kali sehari? Apakah Indonesia menjadi lebih sejahtera jika Nurdin Halid berhasil digulingkan? Yang saya heran adalah : Media mengkondisikan seakan-akan SELURUH rakyat Indonesia menginginkan Nurdin Halid turun, atau peduli pada kasus tersebut.

Jujur, saat ini saya ingin menantang. Adakan Sensus (atau riset dengan sampling yang cukup mewakili seluruh rakyat Indonesia). Berapa persen dari rakyat Indonesia yang 236,7 juta jiwa (data BKKBN bulan Februari 2011) itu yang sebenarnya peduli pada kasus itu?

Saya hampir yakin, saya yang benar. Bahwa, sebagian besar orang Indonesia tidak peduli pada kasus itu. Mereka lebih peduli pada bagaimana cara mereka mengisi perut mereka esok harinya, bagaimana membiayai anak sekolah, mencukup-cukupkan uang belanja, dan sebagainya. Hal yang jarang menjadi sorotan media atau pemerintah. Mengapa? Karena publik tidak lain adalah komoditas, sarana media untuk mencari iklan. Semakin banyak yang menonton, semakin tinggi rating dan sharingnya, semakin tinggi pula pendapatan iklannya. Saya juga hampir yakin, bahwa media juga berhasil menempatkan program berita sebagai alat penghasil pendapatan iklan selain sinetron dan acara musik tidak bermutu itu.  Jadi, mohon, karena kasus itu tidak membuat rakyat miskin Indonesia bisa makan, segera selesaikan kasus itu secepatnya.

Bagaimana dengan saya? Kebetulan sekali, saya memiliki usaha rumah makan bersama teman-teman saya. Seperti yang saya telah katakan tadi, saya tidak peduli dengan isu publik selama tidak terkait dengan diri saya sendiri, teman-teman saya dan atau usaha saya. Ada beberapa berita yang akhirnya menjadi pusat perhatian saya :

1.    Bencana Tsunami di Jepang : Selain karena faktor kemanusiaan, bencana Tsunami berpotensi mengganggu pasokan stok bahan kami yang memang banyak diimpor dari jepang.
2.    Bocornya Reaktor Nuklir di Fukushima : Hal ini memungkinkan terjadinya embargo terhadap produk-produk jepang di berbagai negara.
3.    Penyegelan Impor Ikan di Bandara Sukarno Hatta oleh Departemen Perikanan dan Kelautan  pada bulan Februari lalu : Beberapa Importir Nakal melakukan impor terhadap ikan kembung dan ikan asin yang membuat Depertemen Perikanan dan Kelautan menyegel seluruh impor ikan termasuk Salmon yang sebenarnya Legal untuk diimpor.
4.    Kebijakan Pemerintah soal Pajak
5.    dsb

Mengapa saya memilih hanya memperhatikan isu-isu tertentu saja ? Karena saya merasa terlalu banyak hal lain yang perlu menjadi pusat perhatian saya : kesejahteraan karyawan, ketersediaan stok bahan, strategi promosi yang kami gunakan, target-target usaha, dan hal-hal lain yang lebih nyata seperti hubungan sosial saya dengan orang-orang di sekitar saya atau isu-isu pribadi lainnya.

Saat ini, berita yang banyak muncul dan menjadi polemik adalah :
a.    Pembangunan Gedung DPR/MPR yang tidak selesai-selesai didebatkan (karena mungkin hobi orang Indonesia, salah satunya adalah berdebat, yang sering berujung pada kekerasan)
b.    (lagi-lagi) Nurdin Halid dan Revolusi PSSI
c.    Korupsi di tubuh PKS
d.    dsb

Mohon maaf, tidak satu pun dari isu-isu tersebut yang saya perhatikan. Mengapa? Karena saya tidak ingin hidup di dalam Simulakra. Dalam teori Postmodernisme : media dan teknologi telah membuat banyak orang hidup di dalam simulasi-simulasi yang tidak nyata. Dan hidup di jaman posmodernisme ini kita hanya hidup berpindah-pindah dari satu simulasi ke simulasi lainnya atau Simulakrum. Mewakili diri mereka pada media. Merasa sudah ikut terlibat dengan cara “nge-tweet” saja tanpa perlu bertindak nyata. Sementara, perlahan-lahan, otak mereka digerogoti oleh konsumerisme. Menggunakan apapun yang dikatakan oleh media cocok untuk mereka. Merasa berkuasa karena penguasaan (lebih tepatnya kepemilikan alat) teknologi komunikasi, padahal sebenarnya juga adalah korban.

Tapi saya berjanji, jika kelak ada salah satu isu tersebut yang menyinggung, karyawan, teman atau keluarga saya, saya tidak akan tinggal diam. Jadi, salahkah jika pandangan saya tentang isu publik di media tidak lebih dari angin yang lewat begitu saja? Sederhana saja, saya tidak mau jadi korban.

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...