Sensasi Penerbangan Pertama, Senang tapi Takut

Waktu itu saya masih kecil. Mungkin sekitar 5 tahun, masih duduk di TK sepertinya. Ayah saya mengajak saya untuk berlibur di Batam. Kebetulan beliau bertugas di sana. ‘Berlibur’ sebenarnya istilah yang kurang tepat. Apa, sih, yang dilakukan seorang anak TK hingga perlu berlibur? Mungkin lebih tepat jalan-jalan atau plesiran saja.

Saya tidak ingat kejadian tepatnya. Yang saya ingat adalah untuk menuju ke Batam, saya harus naik pesawat. Waktu itu, saya belum pernah naik pesawat. Saya hanya suka berteriak-teriak gembira jika ada pesawat lewat di langit, entah karena apa. Atau, hanya melihatnya saja saat saya ikut mengantar ayah saya ke Bandara untuk bertugas di Batam. Dulu, ada tempat khusus bagi pengantar yang ingin melihat pesawat lepas landas. Entahlah, apakah sekarang tempat itu masih ada atau tidak.

Mungkin dulu tempat itu disediakan karena teknologi komunikasi belum semaju sekarang. Bepergian dengan pesawat sama dengan hendak bepergian jauh sekali. Dan tempat itu dibuat untuk memenuhi kebutuhan melankoli orang-orang yang sebentar lagi akan terpisah oleh jarak. Untuk sekadar dadah-dadah atau membayangkan orang yang ada dalam pesawat perlahan-lahan menjauh hingga menghilang ditelan langit.

Sejak teknologi komunikasi bisa digunakan untuk  memapas batas ruang dan waktu, tempat itu sepertinya tidak dibutuhkan lagi. Teknologi komunikasi menghilangkan perasaan-perasaan itu. HP, Internet, webcam dan segala macam teknologi sudah bisa digunakan dengan mudah. Jadi, untuk apa susah-susah kangen kalau dengan alat-alat itu saja semua orang dari belahan dunia manapun bisa didatangkan ke ruangan kita?

Tapi, saat pertama kali harus naik pesawat ternyata rasanya berbeda. Tidak sesedih seperti waktu melihat pesawat yang mengangkut ayah saya mulai menghilang atau segembira saat melihat ada pesawat terbang rendah di langit. Perasaan pertama kali naik pesawat seperti bercampur-aduk. Takut. Berdebar-debar. Gembira. Penasaran. Entah apa lagi.

Mungkin, karena waktu itu saya tidak tahu sama sekali seperti apa rasanya naik pesawat dan tidak tahu apa yang harus dilakukan saat naik pesawat. Samakah dengan naik kereta atau bus? Saya agak deg-degan saat melihat gedung bandara yang besar, lain dengan stasiun kereta (stasiun gambir waktu itu belum sebagus sekarang. Belum bertingkat dan  rel-nya masih dibawah) atau stanplat bus yang sejak dulu memang selalu karut-marut. Masuk bandara rasanya seperti masuk ke suatu tempat yang tidak saya kenali. Apalagi membayangkan bahwa kali itu,  saya yang akan dibawa pergi oleh pesawat. Terbang adalah khayalan banyak anak-anak, termasuk saya. Bisa terbang adalah mimpi saya yang mungkin sudah teracuni oleh film Superman. Jadi, pengalaman pertama kali naik pesawat jadi cukup menegangkan buat saya.

Deg-degan itulah rasa yang paling dominan. Lebih tepatnya deg-degan campur senang. Tegang tapi juga tidak sabar ingin terbang. Takut, tapi juga ingin cepat-cepat.

Perasaan yang masih saya ingat adalah Bingung. Saya bingung apa yang harus saya lakukan untuk bisa masuk ke kabin pesawat dan diterbangkan oleh pilot. Jelas saja bingung. Waktu itu saya masih berusia 5 tahun, dan naik pesawat JELAS tidak seperti naik mikrolet yang tinggal naik, ketok-ketok atap dan bayar belakangan. Naik pesawat perlu check-in, mengambil boarding-pass, mengurus bagasi, membayar pajak, menunggu boarding, pengecekan bawaan dan sebagainya. Memang sih, waktu itu bukan saya yang mengurusnya. Tapi tetap saja deg-degannya terasa karena semua sepertinya harus dilakukan dengan cepat dan terburu-buru.

Then, I began to think in this present time.

Saya merasa bahwa perasaan yang saya rasakan itu terulang seperti template. Alias, saya kerap merasakan perasaan yang sama, berulang-ulang meskipun kejadian yang memicunya berbeda. Kejadian-kejadian itu adalah kejadian-kejadian yang pada dasarnya memiliki kemiripan. Yaitu, merupakan pengalaman baru untuk saya yang memungkinkan untuk mendorong sebuah perubahan dalam hidup saya. Sama seperti kejadian naik pesawat itu, dari “makhluk darat” menjadi “manusia terbang”. Ada ketakutan tersendiri yang muncul meskipun berbarengan dengan perasaan gembira dan penasaran.

Kejadian-kejadian kecil seperti itu kerap terjadi. Banyak juga orang yang mengalaminya yang membuat mereka merasa ‘deg-degan’. Saat kita harus mempresentasikan ide di depan klien, dipanggil bos untuk mendapatkan penugasan yang baru, naik ke panggung untuk tampil bersama band, dan sebagainya.

Ada satu teman saya yang juga mengalaminya. Dia senang dan bahagia saat draft skripsinya disetujui oleh pembimbing untuk maju ke ujian. Ia merasa bahwa ia telah melewati satu tahap sulit dalam hidupnya dan maju ke langkah berikutnya. Namun, ia juga takut dan khawatir. Ia ragu, apakah nanti ia bisa menjawab pertanyaan para dosen penguji dan lolos dari lubang jarum ujian skripsi. Jadi, sebelum ujian, ia menjadi sangat gugup hingga wajahnya pucat pasi.

Salahkah? Tidak.

Semua orang akan merasa deg-degan saat harus melakukan perubahan dalam hidupnya. Apalagi jika, perubahan itu menuntut perubahan karakter. Dari karakter yang penakut menjadi berani. Berani untuk melangkah menuju sesuatu yang tidak dia ketahui secara pasti akan membawa ia kemana. Namun, apa sih yang pasti dalam hidup ini? Satu-satunya kepastian adalah adanya ketidakpastian. Hidup bukan rumus matematika. Jadi, terus menerus memastikan sesuatu dalam hidup tanpa pernah melangkah adalah sesuatu yang absurd. Terus mematangkan rencana hanya akan menghasilkan sebuah rencana yang matang. Rencana memang penting, tapi bukan segalanya. Tujuan anda membuat rencana bukan untuk membuat sebuah draft perencanaan, kan? Kita membuat rencana untuk berhasil.

Dan yang lebih parah, kerapkali secara tidak sadar seseorang justru merencanakan kegagalan dengan membuat berbagai back-up plan. Kalau Plan A gagal, gunakan Plan B. Kalau Plan B gagal gunakan Plan C, dan seterusnya. Wow! kegagalan pun direncanakan. Mengapa kegagalan harus direncanakan? Mengapa tidak merencanakan keberhasilan?

Ini bukan berarti saya menafikan sikap antisipatif. Yang saya maksud adalah rencana akan tetap jadi rencana selama tidak dilaksanakan. Dan karena judulnya saja sudah ‘rencana’, artinya itu bukan sesuatu yang pasti. Jadi, mengapa harus saklek dengan suatu rencana? Mengapa Plan A harus jadi Plan B jika gagal, jika sebenarnya bisa jadi solusinya adalah Plan A Plus? Bukankah kita juga harus fleksibel terhadap kondisi-kondisi di lapangan? Kadang-kadang, justru rencana-rencana itulah yang membuat kita tidak fleksibel terhadap perubahan dan kondisi yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ini membutuhkan sikap mental yang responsif dan fleksibel. Jadi, mulai saja karena perbaikan-perbaikan akan terus dilaksanakan selama proses berlangsung.

Ada satu hal yang saya yakini, selama sesuatu adalah buatan manusia maka sesuatu itu selalu bisa diubah. Tuhan pun mau mengubah takdir jika kita berdoa dan berusaha. Jadi, mengapa rencana kita tidak bisa diubah? Rencana yang tidak bisa diubah adalah sebuah keanehan.

Kembali ke masalah naik pesawat. Kali ini terjadi bertahun-tahun setelah penerbangan pertama saya dengan pesawat. Saya akan pergi ke Bali waktu itu. Sendirian karena memang selama 10 tahun saya tinggal di sana. Rencana saya adalah menggunakan flight yang (kalau tidak salah) boarding pukul 16.10 wib. Saya pun berangkat. Ternyata kondisi berubah. Saya terhambat dalam perjalanan karena menunggu teman dan kemacetan yang luar biasa. Alhasil, saya tiba di bandara pukul 16:45 dan pesawat sudah meninggalkan saya. Pesawat tidak mungkin menunggu saya saja, kan? Saya cukup panik karena waktu itu uang saya sangat terbatas. Harusnya, rencana saya gagal. Tapi tidak. Rencana boleh gagal, tapi tujuan harus berhasil.

Saya segera memikirkan segala kemungkinan yang ada. Dan yang saya lakukan bukan membeli tiket lagi atau mengganti dengan naik bis atau kereta yang harga tiketnya sesuai dengan uang yang saya punya. Saya menghadap ke manajer maskapai itu. Saya berbicara padanya dengan sopan (plus tampang yang sedikit memelas). Setelah berdiskusi cukup panjang dengannya, hasilnya saya dipersilakan untuk menggunakan flight berikutnya tanpa dikenakan biaya apapun. Kurang dari 5 jam (karena saya harus menunggu flight berikutnya) saya sudah ada di Bali. Bayangkan, jika saya terburu-buru menganggap bahwa rencana saya gagal dan menggantinya dengan Plan Bis atau Plan Kereta, saya akan berada dalam perjalanan lebih dari 28 jam!

Waktu itu, saya sangat deg-degan karena saya tidak tahu apakah saya akan berhasil membujuk manajer itu atau tidak. Itu adalah pertama kalinya saya melakukan hal itu. Saya memang merencanakan apa yang akan saya bicarakan padanya tapi saya diperkenankan untuk mendapatkan penggantian tiket bukan semata karena rencana itu, melainkan karena saya maju dan berbicara padanya. Biasanya, penggantian tiket karena kesalahan penumpang (yaitu saya) tidak dilakukan. Sekali lagi, saya berkeyakinan, bahwa selama masih buatan manusia, segala sesuatu bisa diubah. And it works!🙂

Jadi, untuk apa takut lama-lama? Lewati rasa takut dan terbanglah…

(tulisan ini saya buat untuk meyakinkan diri saya yang sedang merasa ‘takut’ terbang)

Jakarta, 13/10/10

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

*gambar saya ambil di http://ironzilla.com

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...