Menguping dalam Angkot, Ngeri…

Cinta satu malam,

Oh, indahnya…

Cinta satu malam,

Buatku melayang…

Walau satu malam,

akan s’lalu kukenang dalam hidupku…

Saya bukan orang yang senang menguping pembicaraan orang. Apalagi orang yang tidak saya kenal. Seharusnya dengan kerasnya suara speaker yang meledakkan lagu itu, saya tidak akan bisa menguping. Namun, musik hiper keras itu ternyata tidak menghalangi sopir angkot yang saya tumpangi untuk mengobrol dengan temannya yang ternyata sesama sopir angkot. Dengan suara yang tak kalah kerasnya mereka mengobrol, mencoba mengalahkan suara speaker.

Waktu itu 15 menit lewat dari pukul 12 malam. Saya menumpangi angkot bernomor M12 (ditambah 4 lagi berubah jadi senapan) jurusan Senen-Kota yang di atas jam 10 malam berganti trayek menjadi Senen-Pulogadung. Di tengah malam, adalah hal yang biasa bagi para supir angkot untuk mengubah trayeknya, mencari rejeki tambahan di jalur-jalur yang cukup banyak penumpangnya, yaitu orang-orang seperti saya, yang menggunakan jasa angkot tengah malam untuk kembali ke rumah.

Di kawasan Senen yang katanya rawan, jangan menunggu kendaraan di sembarang tempat. Apalagi, di tempat yang terlalu sepi. Ini adalah tindakan antisipasi agar tidak menjadi korban kejahatan. Jika pulang larut malam, saya biasa naik angkot dari pertigaan lampu merah di sebelah timur (atau barat? Ah, saya kurang ahli mengingat arah) pasar senen, di pinggir sebuah taman yang ada tugu pejuangnya. Di pertigaan itu terdapat tempat para tukang ojek mangkal yang sekaligus menjadi lokasi M12 ngetem menunggu penumpang. Jadi, di lokasi itu ada cukup banyak orang.

Saya naik angkot M12 tadi, setelah sebelumnya naik angkot setan dari arah harmoni. Penumpangnya baru 3 orang termasuk saya. Diiringi lagu disko koplo (ini sebutan saya saja. Dulu, waktu masih kerja di radio, bos saya menyebut aliran ini sebagai disko mrenges!), saya duduk. Menunggu penumpang lain masuk.

Tak lama, setelah 5 orang penumpang masuk, naiklah sang sopir dan temannya. Angkot ngetem lagi, tapi tidak kunjung ada yang naik.  Kapasitas penumpang adalah 10 orang duduk di belakang. Namun, baru setengahnya terisi, sopir telah memutuskan berangkat. Mungkin ia bosan menunggu. Lagu pun berganti, meski alirannya masih sama.

Dasar, kau keong racun!

Baru kenal, eh, ngajak tidur…

Volumenya masih sama, keras luar biasa dengan ukuran treble dan bass overdosis yang bisa membuat sakit telinga dan sakit hati. Tanpa berusaha mengecilkannya, obrolan sopir dan temannya itu terus berlanjut. Mereka berbicara dengan agak berteriak-teriak, membuat saya tidak punya pilihan lain kecuali mendengarkan karena saya duduk tepat di belakang mereka.

Teman sopir: Gua sih pura-pura diem aja! (memasang tampang sok jagoan) Dia nggak tau aja kalo gua sopir lama! Dia kira gua baru narik di sini?

Sopir: Trus?

Teman sopir: Gue injek, mampus tuh orang! Kagak tau dia siapa yang megang daerah ‘ni?!

Sopir: Trus?

Teman sopir: Sopir ojek pendatang aja b’lagu! Liat aja siapa yang berkuasa!

Sopir: Trus?

Teman sopir: blablabla… (obrolan berlanjut dengan topik yang belum berubah hingga saya turun)

Ada 2 hal tidak penting yang saya perhatikan. Pertama, jangan-jangan si sopir tidak bisa berbahasa Indonesia. Karena, ia hanya terus mengatakan “trus?” Atau ia memang tidak punya perbendaharaan kata yang lain?

Kedua, Wow! Mikrolet itu menggunakan CD player yang berpengendali jarak jauh alias remote control. Belum lagi dengan speaker yang suaranya bisa membahana kemana-mana. Resikonya, sopir atau keneknya bisa gonta-ganti lagu seenaknya. ‘Keong Racun’ dan ‘Cinta Satu Malam’ diputar terus bergantian tanpa henti, membuat hati deg-degan terutama mereka yang duduk dekat speaker dan merasakan getarannya menggoncang-goncang dada.

Namun, ada beberapa hal yang saya simpulkan dari obrolan singkat mereka. Pertama, untuk urusan musik memang ada kecenderungan ‘ogah mikir‘. Lagu-lagu yang ringan, lirik yang menggelitik dan bisa didengar seketika dengan cepat akan menjadi tren. Menjamur karena orang indonesia begitu mudahnya dimakan tren. Mungkin, hal itu karena budaya ‘ogah mikir‘ sudah begitu mengakar.

Yang membuat saya prihatin adalah ternyata budaya ‘ogah mikir‘ juga digunakan untuk menyelesaikan masalah. Akibatnya seringkali masalah yang besar dianggap remeh dan masalah remeh berubah jadi besar.

Saya tidak terbayang seandainya masalah sikap yang kurang mengenakkan 1 orang berubah jadi perkelahian masal antara tukang ojek dan sopir angkot. Apa jadinya jika hanya karena ‘ogah mikir‘ permasalahan yang sebenarnya cukup dibicarakan berdua diselesaikan dengan cara main ‘injek‘? Belum lagi dengan budaya komunal yang sangat kental di Indonesia yang kadang menyeberang ke areal pribadi. Menyinggung perasaan 1 orang sama dengan menyinggung komunitasnya. Jika begini, betapa mudahnya bara api kecil berubah jadi kebakaran besar.

Saya tidak menyarankan agar kita jadi individualis. Tapi, kita juga harus meletakkan suatu masalah pada tempatnya. Tidak perlu menyelesaikan masalah pribadi di areal publik. Jangan menggunakan kebersamaan sebagai alasan keributan massal yang sangat rentan berubah menjadi isu kelompok, golongan, suku, ras atau agama.

Bayangkan jika sopir angkot tadi benar-benar meng’injek‘ si tukang ojek. Akankah keributan mereka berdua akan tetap jadi milik mereka berdua? Belum lagi si sopir angkot yang belum apa-apa sudah mengangkat isu ‘pendatang’ dan ‘bukan pendatang’. Saya tidak berani membayangkannya. Bisa-bisa hukum rimbalah yang terjadi. Yang kuat menghancurkan yang lemah. Dan, itulah yang sering saya lihat dari tayangan-tayangan TV. Sebuah kelompok berkelahi dengan kelompok lain untuk membuktikan siapa yang lebih kuat, berusaha saling menghancurkan. Berusaha untuk jadi pemenang dengan mengalahkan kelompok lain. Apakah satu-satunya cara untuk menang adalah dengan mengalahkan? Atau yang lebih parah, menghancurkan?

Pertanyaannya adalah apakah kerusuhan-kerusuhan yang terjadi akhir-akhir ini hanya sekadar tren ataukan memang bagian dari budaya kita? Inikah yang diajarkan budaya kita tentang cara menyelesaikan masalah ataukah ini hanya respon dari tekanan hidup yang semakin besar? Butuh penelitian sosiologi yang mendalam mengenai hal ini.

Ataukah karakter bangsa kita memang se-feodal itu hingga masalah siapa yang berkuasa menjadi sangat penting? Sama seperti sopir angkot tadi yang merasa kekuasaannya terusik oleh tukang ojek.

Kedua, kebaikan bersama yang sering didengung-dengungkan di masyarakat komunal kadang berubah jadi kebaikan kelompok atau bahkan pribadi. Dan kebaikan bersama sering dikaitkan dengan kekuasaan dan penguasaan terhadap apa-apa yang menjadi sumber kebaikan tadi. Akibatnya, sering terjadi keributan untuk memperebutkan sumber-sumber ‘kebaikan’ itu. Walhasil, sesuatu yang seharusnya jadi sumber kebaikan bersama berubah jadi sumber malapetaka bersama. Kerap terjadi perebutan daerah kekuasaan sehingga daerah yang seharusnya aman dan menguntungkan berubah menjadi daerah rawan dan mencekam.

Jakarta dan kota-kota sentra bisnis rawan dengan premanisme. Istilah ‘preman berdasi’ menggambarkan bagaimana permasalahan premanisme sudah meresap merata ke semua lini. Premanisme tidak hanya terjadi di daerah gurem, tapi juga duduk nyaman di sofa dalam ruang-ruang ber-AC.

Politik jadi kerap didampingkan dengan premanisme. Beking membeking adalah hal yang biasa terdengar. Yang berkuasa adalah yang punya bekingan atau mereka yang menjadi beking.

Apakah budaya feodal memang sudah semengakar ini? Kekuasaan sudah tidak lagi bertujuan untuk kebaikan bersama, melainkan sebagai sarana menguasai pihak lain, semata-mata untuk kepentingan dan ego kelompok atau golongan tertentu.

Hierarki feodal bahkan seperti hendak didirikan di lapisan akar rumput. Sekelompok masyarakat yang termarjinalkan secara ekonomi berusaha menguasai kelompok lain. Memperebutkan remah-remah pendapatan yang disisakan oleh sekelompok kecil masyarakat menengah atas yang punya akses lebih luas ke sumber-sumber pendapatan. Jujur, ini mengerikan. Ini seperti konspirasi yang mengorbankan rakyat kecil. Sekelompok pemegang kekuasaan politik dan ekonomi terus saja mengambil posisi aman sambil menyaksikan kaum marjinal bertarung dan baku bantai. Mengapa hal-hal seperti ini sering tidak ditangani serius? Masalah sepenting ini dibiarkan selesai sendiri tanpa pernah mengobati asal penyakit yang sebenarnya? Sementara, rakyat kecil terus dibiarkan bertengkar meributkan hal-hal remeh, dan penyebab besarnya tak pernah ditemukan solusinya secara tuntas atau bahkan ditutup-tutupi seakan tidak terjadi apa-apa.

Saya tidak suka menyalahkan siapa-siapa. Tapi siapa lagi yang punya kuasa, akses dan sumberdaya untuk mengurai kekusutan ini selain pemerintah? Rakyat pasti mendukung upaya itu asal ada yang menjamin bahwa proses itu akan berjalan damai dan tertib. Siapa lagi yang bisa memberikan jaminan selain pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang? Rakyat harus menahan diri, tapi pemerintah juga harus bertindak signifikan. Jujur, saya sendiri tidak tahu pasti seperti apa solusi dari kekusutan masalah bangsa ini. Tapi, bukankah itulah gunanya rakyat memberikan legitimasi pada pemerintah? Agar mereka memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan dan solusi terbaik secara terus-menerus. Jangan sampai rakyat saling bantai sambil dijejali lagu Keong Racun.

Dasar, kau keong racun!

Baru kenal, eh, ngajak tidur…

Jakarta, 5/10/1

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

*gambar diambil di http://www.toonpool.com

** Omong-omong, saya tidak tahu, lagu-lagu yang saya dengar di angkot tersebut adalah versi mana dari artis siapa. Yang jelas, alirannya disko remix seperti itu.

4 Comments

  1. Besok2 bawa kapas mas, buat nyumpel telinga. Kadang2 buat tuli sejenak ada bagusnya, apalagi gw, tuli sejenak membantu bgt pas ada mas2 bahkan om2 yg suka pura2 nanya jalan tp ngajak kenalan ujung2nya.

    Ohiya. Gw juga sering banget ketemu orang yang mengaku2 megang jakarta. Aduh, itu istilah dari mana ya awalnya. Gimana bisa jakarta dipegang?!!! Gw megang jalanan juga megang jakarta dong ya. Hahahahaa semua orang kok ngaku2 ‘pemegang’ jakarta. Ga ada khayalan yg lain apa ya.

    • Kayaknya, orang-orang yang ngaku ‘megang jakarta’ sebenrnya adalah orang-orang yang penakut. Mereka merasa terancam dengan kehadiran orang lain yang mereka pikir akan mengancam keberadaan mereka. Akhirnya mereka pengen mengintimidasi balik dengan istilah ‘Gue megang jakarta, nih. Elu jangan macem-macem…’. Dan yang lebih parah, saking pengecutnya, begitu ribut atau ada masalah, mereka bawa temen2nya karena nggak berani sendirian… Itu juga yang bikin banyak tawuran/ kerusuhan masal di Indonesia, mulai dari kelas anak SD, keributan kampung, preman, dsb… Jadi, seharusnya, membangun sikap berani dan sportif adalah solusinya, mereka harus diajari (dan diberi contoh) untuk berani memecahkan masalahnya sendiri. Sayangnya, di sekolah, anak2 justru diajari untuk takut.

  2. Hahaha, Mas Wis bisa ngelucu juga nih, gua ketawa-ketawa lho bacanya, Mas! Sebenernya, budaya saling menghormati dan saling menghargai di Indonesia juga mulai hilang. Ada dua asumsi yang gua tangkep, Mas. Yang pertama, mungkin tukang ojek pendatang itu nggak menghormati “penduduk lama”, sehingga mereka marah. Nah, disitu dibutuhkan menghormati. Yang kedua, seharusnya penduduk lama juga menghargai pendatang baru, karena mereka juga datang untuk mencari sesuap nasi. Sayangnya, budaya menghormati dan menghargai di Indonesia sudah mulai luntur.

    • Setuju ama elu, Ben… Gue juga nggak tau, kenapa ada ‘budaya amuk’ n ‘budaya beringas’ di Jakarta (atau di Indonesia?). Apa-apa main pukul aja… menurut gue, karena : 1. suara orang kecil dicuekin aja, jadi mereka bersuara dengan caranya sendiri. 2. Kita nggak punya sosok pemimpin bijak yang bisa didengerin. Semua orang saling curiga bahwa orang lain selalu punya kepentingan, akhirnya semua pengen membela kepentingannya sendiri.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...