Move On, Emang Gampang?

Ini adalah satu hal lagi yang saya dapat akibat suka iseng dengan status orang. Karena saya suka memperhatikan apa yang disampaikan orang lewat statusnya, saya akhirnya menemukan status ini. Nyaris saja saya mengisengi status itu namun urung saya lakukan.

Dalam tulisan saya yang sebelumnya, status itu tergolong status ‘can’t live without you’ alias status curhat patah hati. Saya tidak akan membahas isinya di sini. Yang akan saya bahas adalah 2 comments yang ada di bawahnya.

Kurang lebih, ada seseorang, sebut saja ‘Mawar’ memberikan comment, “Move on lah, Sob”. Lalu, dibalas oleh, sebut saja Melati, “Emang gampang ya move on?”

Membaca keduanya saya jadi tergelitik untuk menulis. Karena, urusan move on atau nggak move on bukanlah perkara gampang. Itu terkait dengan perasaan yang memiliki kerumitan mekanisme dan kadang bukannya disederhanakan justru malah diperumit.

Saya tidak mengatakan bahwa perasaan adalah hal yang sederhana. Namun, menurut saya, justru karena perasaan bukan hal yang sederhana maka jangan diperumit lagi dengan pola-pola pikir yang akhirnya membuat kita terjebak dalam situasi yang macet. Maju kena mundur kena, seperti judul film Warkop DKI.

Berikut adalah pendapat bodoh saya saja.

***

Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi perasaan. Pertama, objek yang dikenai perasaan. Dalam status di atas, objeknya adalah mantan pacarnya (saya kira, karena status itu menunjukkan gejala-gejala seperti itu). Besarnya nilai objek berbanding lurus dengan kuatnya perasaan. Maksudnya, semakin bernilai objeknya, semakin besar efeknya. Misalnya, dibentak oleh pacar akan lebih menimbulkan sakit hati dibanding dibentak oleh dosen. Sakit hati pada dosen akan lebih mudah dilupakan dibanding sakit hati pada pacar.

Kedua, Intensitas kejadiannya. Semakin penting kejadiannya semakin besar sakit hatinya. Misalnya, sakit hati karena pacar lupa menjemput tentu akan lebih ringan dibanding jika ia selingkuh.

Ketiga, karakter subjek. Orang yang berbeda akan merespon kejadian yang sama dengan cara yang berbeda. Orang yang melankolis akan mengatakan, “Kok, dia tega ya melakukan itu?” Orang yang sanguin akan berkata, “Daripada pusing, mendingan seneng-seneng aja, deh”. Orang yang phlegmatis bilang, “Coba aku liat dulu, apa sebabnya, ya?” Dan, orang yang koleris dengan yakin mengatakan, “Kalo dia bisa selingkuh, kenapa aku nggak?” Sikap ini pun tergantung pada alternatif-alternatif pilihan yang dilihat oleh si subjek berdasarkan pengalaman maupun pengamatannya sendiri. Anda bisa mempelajari 4 karakter di atas, namun pada kenyataannya, karakter jauh lebih rumit dibanding itu. Pendidikan dan pengalaman pribadi turut menyumbang banyak pada pembentukan karakter.

Keempat, kondisi subjek ketika mengalami suatu kejadian. Orang yang sedang mengalami musibah akan cenderung merasa lebih sakit hati jika diselingkuhi dibanding mereka yang sedang dalam kondisi normal. Atau kebalikannya, akan sangat menyakitkan jika diselingkuhi pacar di hari ulang tahun.

Jadi, wajar jika setiap orang merespon hal yang sama dengan cara yang berbeda melalui proses yang juga memakan waktu berbeda. Ada yang cepat pulih. Ada pula yang perlu waktu.

Do i miss something? Yes.

Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah perasaan bukanlah kenyataan. Perasaan adalah perasaan dan kenyataan adalah kenyataan. Masalahnya adalah perasaan mempengaruhi cara kita melihat kenyataan.

Contoh gampangnya begini, manis adalah perasaan dan gula adalah kenyataan. Manis adalah apa yang kita rasakan setelah mencicipi gula. Sekarang, bayangkan anda sedang sakit, rasa gula bisa berubah jadi pahit. Apakah gulanya berubah? Tidak! Gula tetaplah gula seperti biasanya yang tersusun dari ikatan karbohidrat. Mengapa menjadi pahit? Karena kondisi anda yang berubah. Yang berubah adalah perasaan anda terhadap gula dan bukan gula itu sendiri.

Itu juga yang membuat setiap orang berbeda dalam merasakan sesuatu. Ada yang merasa 2 sendok gula dalam secangkir kopi sudah terlalu manis. Namun, ada juga yang sudah menambahkan 5 sendok gula dan masih merasa kurang manis. Sebabnya adalah tiap orang memiliki ambang batas kepekaan yang berbeda-beda. Yang akhirnya akan mempengaruhi bagaimana seseorang moving on.

***

Jika kita memperhatikan faktor-faktor di atas, memang setiap orang berbeda-beda. Membawa karakter dan permasalahan yang berbeda. Sehingga, agak tidak adil jika mereka diperlakukan sama. Benar, kan?

Menurut saya, setengah benar. Karena, diantara sebegitu banyaknya perbedaan, ada hal yang PASTI sama. Kita akan memperlakukan hal yang sama dengan cara yang sama. Ini lebih adil, karena kita akan memperlakukan sesuatu berdasarkan kesamaannya. Dan kesamaan ini sering dilupakan. Apa kesamaan mereka semua?

Kesamaan kita semua (mulai saat ini saya akan mengganti kata ‘mereka’ dengan ‘kita’ karena saya termasuk dalamnnya) adalah kita hidup dalam dunia yang berputar dengan cara yang sama. Bumi yang sama berputar untuk kita semua. Matahari yang sama terbit dan tenggelam untuk kita semua. Detik yang sama berjalan untuk kita semua. Proses itu berlangsung untuk kita semua, apapun perbedaan karakter kita.

Bumi tidak akan berhenti berputar hanya karena kita sedang sedih. Matahari tetap akan terbit meskipun kita tak mau melihatnya lagi. Waktu tetap berjalan meski kita ingin menghentikannya. Proses akan terus berlangsung tidak peduli kita sedang meraung-raung meratapi nasib di pojok kamar.

Sejahat itukah dunia? Dengan tegas saya akan mengatakan, TIDAK. Dunia tidak sejahat itu. Karena dunia adalah sistem. Dunia harus terus berjalan apapun yang terjadi, apapun yang sekarang sedang kita tangisi.

Kita hanyalah partikel kecil dalam sebuah sistem maha raksasa yang tidak mungkin menunggu kita berhenti menangis. Sejumlah tak terbatas partikel tergantung pada perputaran sistem ini. Adilkan bagi partikel-partikel lain jika kita dibiarkan menghentikan sistem hanya karena ‘perasaan’ pribadi? Bolehkah kita disebut sombong karena merasa kitalah yang paling menderita di atas dunia? Tidakkah kita terlalu egois dengan hanya memperhatikan perasaan kita sendiri dan menafikan kenyataan yang jauh lebih luas? Dunia tetaplah dunia apapun perasaan kita terhadapnya. Maka, hanya satu kemungkinannya. Jika kita berhenti, kita akan ditinggalkan.

Kita bisa sakit hati dan menderita. Anda mungkin lebih menderita dari saya. Saya mungkin lebih menderita dari anda. Tapi, itu hanyalah perasaan yang tidak akan pernah mengubah kenyataan. Hanya tindakan yang mampu melakukannya. Jadi, jika kembali pada pertanyaan ‘Emang gampang ya move on‘? Jawabannya adalah : ini bukan masalah gampang atau susah, ini tidak ada pilihan. So, move on lah, sob.

Jakarta, 21/9/10

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

2 Comments

  1. Hebat.. 2 jempol buat mas wis, banyak gabungan kalimat yang saya suka di dalamnya.. yg pasti tulisan ini serasa peting disiang bolong yang membuat pecah khayalan saya.. new spirit to move. thanx :))

    • Thank you, June….🙂 it’s really glad that my works can inspire you… now, it’s our turn to move on…🙂


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...