Menjadi Ibu – The Series (2) : My Husband is An Alien

Selalu ada yang menyenangkan jika akhir bulan. Pertama, tanggal gajian suamiku yang memang jatuh di akhir bulan. Artinya, aku bisa bernapas sedikit lega bahwa anggaran bulan ini bisa sesuai dengan perencanaan. Kalaupun agak meleset, bisa ditutupi oleh pemasukan baru. Kedua, karena aku bisa merasa seperti kembali gadis. Setiap minggu ke-empat tiap bulan, aku dan teman-teman perempuanku bisa berkumpul untuk sekadar mengobrol ini-itu. Jangka waktu sebulan tidak bertemu membuat kami seperti tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Ini menyenangkan. Seperti keluar dari lurusnya jalan tol yang membosankan untuk masuk ke jalan pedesaan yang penuh pemandangan.

***

“Martha belum datang?” Sarah bertanya saat ia muncul. Ia yang ketiga datang setelah Raisya dan aku.

“Biasalah… Wanita pengusaha. Sibuk sampai ke hari minggu…,” jawabku singkat.

“Kau darimana, Sar?” tanyaku.

“Dari rumah. Membereskan ini-itu dulu sebelum kemari,” jawabnya singkat. “Kau?” ia bertanya balik.

“Habis dari supermarket. Belanja bulanan,” jawabku.

“Suami baru gajian, nih. Traktir, dong…,” Raisya berkata menggoda.

“Waduh… Kalau traktir ntar dulu, deh,” tolakku sopan. “Tahu sendiri, kan? Sedang menjalankan kebijakan uang ketat. Hahaha….” Aku tertawa.

“Tenang aja… Aku cuma bercanda, kok,” balas Raisya.

“Kenapa yang khawatir tentang masalah-masalah seperti ini cuma kita, ya? Suami-suami kita kayaknya tenang-tenang aja…,” Sarah kembali membuka masalah.

“Masalah apa?” Raisya bertanya balik.

“Masalah apa aja. Ya, masalah keuangan, anak, dapur, rumah…,” Sarah merinci.

“Pertama, karena itu memang tugas kita sebagai istri dan ibu. Kedua, karena mereka jual mahal. Tidak mau kelihatan bingung… Hahaha…,” Raisya menjawab kocak.

Aku tersenyum. Sarah juga. Dan tiba-tiba, “Hi, girls!

Siapa lagi yang datang kalau bukan Martha. Perempuan yang hampir tidak pernah punya waktu kosong. Wanita ambisius yang ceplas-ceplos. Bagi yang tidak terbiasa, mendengar omongannya bisa bikin kuping dan hati jadi panas. Jadi, jangan pernah bawa kata-kata pedasnya ke hati karena sebenarnya ia orang yang sangat baik.

“Kurang ajar!”

Itu kata-kata pertama yang muncul dari bibir Martha. Jika tidak mengenalnya, orang bisa syok mendadak. Belum ada pertanyaan ‘apa kabar?’ dan ia sudah mengumpat.

“Orang paling tidak sensitif yang pernah aku kenal adalah diriku sendiri. Dan, suamiku…,” ia berhenti dengan nada menggantung seperti menahan kesal. Kami menunggu. Memandangi wajahnya yang mendadak seperti sedang menahan sakit perut.

“Suamimu… Kenapa suamimu?” Raisya bertanya tidak sabar.

Bukannya menjawab, Martha malah mengeluarkan kotak rokok peraknya, mengeluarkan sebatang, menyalakannya, menghisap dalam-dalam dan menghembuskan asap begitu saja. Kami bertiga cuma diam melihat raut wajahnya. Dan dia juga terus diam sementara kami sudah tidak sabar menunggu kelanjutan kalimatnya.

“Apa?” Sarah akhirnya mengeluarkan suara.

“Apanya yang apa?” Martha justru balik bertanya dengan wajah bingung. Raisya geleng-geleng kepala sambil mengelus-elus rambutnya sendiri.

“Kau tadi belum selesai bicara,” aku mengingatkan. “Suamimu kenapa?”

Seperti habis kena amnesia sesaat, ia berseru, “Oiya… Aku pikir suamiku sudah mulai mati rasa!”

“Maksudmu?” tanyaku.

“Ia sudah tidak hot lagi? Mungkin kau perlu beli lingerie baru,” Sarah berkata kocak.

Martha menjawab, “Bukan itu! Tidak pernah ada masalah di tempat tidur. Untuk urusan tempat tidur, Martha ahlinya! Ini lebih parah!”

“Kenapa? Suamimu loyo?” Sarah berkata makin ngawur.

“Ah! Aku serius, nih….”

“Aku juga…,” Sarah menjawab. “Tapi ceritamu tidak mulai-mulai!”

“Baiklah. Begini ceritanya…”

***

Kami berempat adalah sahabat sejak jaman kuliah. Kami terbiasa mengobrolkan apapun. Mulai dari urusan dapur, sumur sampai-sampai urusan tempat tidur pun terkadang ikut diceritakan.

Kami tidak pernah menggosipkan orang lain. Kalaupun menggosip, topik pembicaraan favorit adalah diri kami sendiri atau orang-orang yang terkait erat dengan hidup kami. Jika dulu kami mengobrolkan pacar kami (biasanya Martha yang mendominasi pembicaraan model ini. Karena dulu ia kerap gonta-ganti pacar), sekarang kami sering membicarakan masalah keluarga, termasuk suami.

“Apakah aku salah memilih suami ya?”

“Hah?” aku terkejut mendengar perkataannya. “Gimana mungkin kau berpikir begitu setelah sejauh ini?”

“Jauh? Apanya yang jauh?” Martha membalas. “Menikah 30 tahun! Itu baru jauh! Aku baru menikah beberapa tahun dan, entah mengapa, aku merasa ada yang salah.”

“Jadi kau merasa ini belum cukup jauh?” aku menegaskan.

“Dibandingkan dengan pernikahan ibuku yang puluhan tahun, ini tidak ada apa-apanya.”

Aku diam saja. Mencoba mencerna kata-katanya. Mencari dimana letak salahnya.

“Menurutku, dengan berani memutuskan untuk menikah dan akhirnya benar-benar menikah, itu sudah cukup jauh. Dan kita tak mungkin mundur lagi, kan? Terlalu banyak hal yang harus dikorbankan dengan memilih untuk mundur,” Raisya menjawab.

“Ah, lemot kau!” ceplos Martha. “Siapa yang bicara tentang mundur atau bercerai, sih? Aku hanya bilang bahwa aku merasa ada yang salah. Itu saja.”

“Tapi, bukankah awal dari semua perceraian adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang salah dengan pernikahan itu?” tanyaku.

“Iya. Lalu merasa tidak saling cocok. Dan saat perasaan tidak cocok semakin melebar, banyak pasangan yang kemudian berpikir bahwa perceraian adalah solusinya. Iya, kan?” timpal Sarah.

“Otakku masih cukup jalanlah untuk tidak berpikir sejauh itu,” balas Martha. “Hanya saja, terkadang aku merasa tidak mengenali suamiku sendiri. Dan itu rasanya sangat salah.”

“Kau kan pacaran bertahun-tahun sebelum menikah. Bagaimana mungkin kau tidak mengenalnya?” Sarah bertanya lagi.

“Dulu, memang aku pikir aku cukup mengenalnya. Tapi, dengan berjalannya pernikahan, terkadang dia seperti orang yang tidak aku kenal.”

Kami berempat diam. Dan entah mengapa, aku berpikir bahwa sebenarnya kami berempat merasakan hal yang sama. Ada pribadi asing dan tidak diketahui dari orang yang setiap malam berbaring di sebelah kami. Setelah menikah pun, ternyata banyak hal yang masih jadi misteri. Dan bagian menyebalkannya adalah setelah mengetahui apa yang ada di balik tabir misteri itu, ternyata hal itu tidak kita sukai.

“Ada benarnya juga,” akhirnya Sarah membenarkan. “Dulu saat masih berpacaran, aku pikir suamiku pekerja keras sejati. Dan aku cukup sebal saat mengetahui bahwa setelah di rumah suamiku seperti bocah yang baru dapat mainan baru, sukar diajak berkomunikasi. Dia seperti gedebong pisang jika sudah di depan TV. Kondisi rumah yang berantakan tidak membuatnya mau membereskan. Padahal, kami sama-sama bekerja dan sudah lelah saat sampai di rumah. Ia seperti tidak peduli dan membiarkan aku membereskannya sendirian.”

Sarah tampak sedikit kesal dan Martha mengangguk-angguk senang bahwa pendapatnya didukung seseorang.

“Ini sangat menyebalkan. Rasanya proses pacaran bertahun-tahun tidak ada gunanya. Dulu, sebelum menikah aku merasa bahwa aku telah cukup mengerti dia berikut segala tindak-tanduk dan kebiasaannya. Tapi ternyata(!) perasaan cukup memahami saat berpacaran hanya ilusi. Kita sebenarnya tidak pernah benar-benar memahami. Kita memaksa dia menunjukkan hal-hal baik saja atau kita terlalu buta untuk melihat hal buruk darinya. Iya, kan?” Martha bertanya seperti mencari pendukung tambahan.

“Ah, rasanya kalian terlalu melebih-lebihkan,” Raisya menyangkal.

“Melebih-lebihkan bagaimana? Itu kan kenyataanya?” Sarah balik bertanya.

“Aku setuju bahwa memang banyak hal yang belum kita ketahui tentang suami kita. Tapi, tidakkah itu yang membuat perkawinan lebih berwarna? Betapa membosankannya jika kita selalu bisa menebak apa yang hendak dilakukan suami kita,” papar Raisya.

“Kalau itu hal yang kita sukai, sih, tidak ada masalah. Yang menjadi masalah kan jika ternyata hal itu adalah hal yang bikin kita sebal,” sangkal Martha. “Rasanya seperti mendapat kado kejutan yang isinya ternyata hewan yang menjijikkan.”

“Jahat kamu, ah! Masak suami sendiri disamakan dengan hewan?” Raisya memprotes.

“Itu kan cuma analogi,” Martha beralasan. “Masak sih kau tidak kesal jika kado ulang tahunmu ternyata berisi kecoak atau cacing?”

“Kali ini aku setuju dengan Raisya,” aku memotong. “Itu analogi yang pincang. Keburukan atau kekurangan suami kita tidak bisa disamakan dengan kecoak atau cacing. Kelebihan dan kekurangan suami kita kan satu paket yang tidak bisa dipisah-pisah. Berbeda dengan kotak kado yang terpisah dengan isinya. Kau masih bisa menyimpan kotak kado yang indah dan membuang isinya. Kita tidak mungkin membuang kekurangan suami kita dan hanya mengambil kebaikannya saja, kan?”

“Kalau kita bisa mengubahnya supaya lebih baik, mengapa tidak?” Martha agak ngotot.

“Dulu aku pikir juga begitu. Tapi, mengubah kepribadian orang tidak semudah itu. Lagipula, apakah diri kita sudah segitu sempurnanya sehingga berhak mengubah-ubah orang? Sekalipun orang itu adalah suami kita sendiri,” balasku.

Aku menduga, jika perdebatan ini dilanjutkan akan jadi sangat panjang lebar dan memakan waktu lama. Dulu, sebelum menikah perdebatan antara kami mengenai topik ini kerap terjadi dan tidak pernah menemukan titik temu. Martha dan Sarah yang menganggap bahwa kekurangan harus diubah untuk kemajuan serta aku dan Raisya yang berpendapat bahwa kekurangan harus diterima dan hanya pribadi sendirilah yang mampu mengubahnya.

“Aku jadi ingat sesuatu,” aku mencoba mereka-reka masa lalu. “Sar, bukannya dulu sebelum menikah kau selalu melarang suamimu merokok? Suamimu berhenti?”

“Dulu, memang dia berhenti. Paling tidak di depanku. Tapi, setelah menikah aku baru tahu bahwa sebenarnya tidak pernah berhenti. Sampai sekarang!” Sarah menjelaskan. “Malah aku yang sekarang ikut merokok sekali-sekali!”

Kami berempat terbahak-bahak.

“Rasanya seperti menelan ludah sendiri, ya?” lanjut Sarah.

Kami berempat diam.

***

Aku baru saja melompat lewat pintu kemana saja. Rasanya aku ada di dunia yang berbeda. Orang yang dulu sering bersamaku kini seperti makhluk asing yang entah datang darimana. Rasanya campur aduk. Sedih sekaligus gembira. Takut tapi juga bahagia.

Tiba-tiba seseorang berteriak. Mataku masih berkaca-kaca. Belakangan baru aku sadari kalau itu adalah suara sepupuku. “Pengantin baru! Foto dulu, dong! Tunjukin cincinnya.”

Aku segera berpose berdampingan dengan seorang pria yang belum 3 menit menjadi suamiku. Punggung tangan kami berdua dihadapkan ke lensa kamera untuk menunjukkan cincin yang baru saja kami pertukarkan. Rasanya kaku. Aku tersenyum sebisanya sampai-sampai aku takut jika senyum itu tampak seperti seringai.

“Peluk, dong!” ada orang lain yang berteriak dan tangan pria di sampingku segera melingkari pinggangku. Rasanya aneh dan janggal.

Dulu, saat berpacaran, kami kerap berjalan sambil berpelukan. Tapi, setelah baru saja kami disahkan sebagai pasangan suami-istri, mengapa ini jadi terasa tidak wajar? Orang-orang masih berteriak-teriak.

“Buku nikahnya diangkat!”

“Yang mesra, dong!”

“Senyumnya mana?”

Rasanya aku ingin berteriak, “Tutup mulut kalian semua! Aku sedang berpikir! Jangan bikin aku bingung! Aku belum tahu siapa pria di sampingku ini!” Untunglah, teriakanku itu cuma ada di dalam kepalaku saja dan aku tersadar bahwa aku sedang berada di tengah upacara pernikahanku sendiri. Lagi-lagi, ada perasaan aneh menyusup ke hatiku. Atau jantung? Karena setelahnya dadaku berdebar-debar kencang seperti baru saja lari marathon.

Aku merasa ditipu. Sebelum kami berdua mengucapkan ikrar sehidup-semati itu, salah seorang bibiku berkata saat melihat aku yang gelisah, “Tenang saja… Semua orang yang menunggu detik-detik pernikahan akan merasakan hal yang sama. Begitu selesai akad nikah, semua akan terasa lebih lega.”

Mengapa aku tidak merasa lega? Mengapa aku justru merasakan perasaan aneh ini? Tiba-tiba berbagai pertanyaan berebut keluar-masuk dari dan ke dalam otakku. Dan pertanyaan-pertanyaan itu berputar di satu titik: Siapakah orang yang ada di sampingku ini sehingga aku rela menghabiskan sisa umurku bersamanya?

Apakah aku telah melakukan hal yang benar? Mengapa keyakinan yang kumiliki sebelumnya terbang entah kemana? Aku ingin pulang! Aku tidak ingin jadi ibu! Aku mau ibuku!

Mendadak aku panik! Aku kangen pada ibuku. Kangen yang sangat luar biasa. Belum pernah aku sekangen ini padanya. Aku merasa akan kehilangannya.

“Ibuuu!” teriakku.

Aku merasa teriakan itu ada dalam kepalaku saja. Tapi, ketika ruangan mendadak sepi dan semua orang memandangku, aku baru sadar bahwa aku benar-benar berteriak. Rasanya tubuhku ringan dengan letupan-letupan sensasi aneh di dalamnya. Oh, my god! Aku ada dimana sekarang? Aku semakin panik!

Hingga, sebuah tangan menggenggam tanganku. Hangat. Hangat sekali. Dan kudengar suaranya, “Kamu kenapa?”

Segera aku tersadar. Aku kembali ke dunia nyata setelah sebelumnya nyawaku mengembara entah kemana. Itu suara suamiku. Pria yang akan di sampingku seumur hidupku.

“Jangan takut. Kita hadapi semuanya bersama,” ia kembali berkata.

Aku menengok. Dan kutemukan ibuku di sana. Tak bisa kutahan, aku menghambur padanya. Kupeluk ia dalam-dalam. Aku menangis entah karena apa. Mungkin karena kini aku tersadar bahwa aku tak bisa lagi berlindung di bawah ketiaknya saat aku ketakutan. Kini saatnya aku menghadapinya sendiri dan ia hanya akan mengawasinya dari kejauhan.

Ibuku tersenyum dan menghapus airmata di wajahku, “Ikhlas, nak. Ini adalah jalan yang harus kau lewati. Tapi, sejak kecil Ibu telah berusaha keras untuk mengajarkan apa yang ibu tahu. Sekarang saatnya kau menghadapinya. Bersama suamimu….”

Kulihat ibuku masih tersenyum. Aku juga berusaha untuk tersenyum. Ibuku memberi kode. Aku menengok dan kulihat suamiku tersenyum. Aku tak bisa menahannya juga. Aku menghambur padanya dan kupeluk ia dalam-dalam. Semua orang bertepuk tangan. Bukan karena ini akhir pertunjukan, melainkan karena ini adalah sebuah awal yang bagi fase baru dalam hidupku.

Itulah yang kulihat saat semua upacara itu sudah selesai. Saat aku melihat seorang pria asing berbaring di tempat tidurku, aku melihat diriku yang baru. Diriku yang akan mencoba perlahan-lahan mengenali pria asing itu dan memperkenalkan diriku padanya.

Kutarik napasku dalam-dalam. Mencoba untuk tidur. Malam melarutkan pikiran kemana-mana. Kudengar pria di sampingku ini begitu pulas hingga mengorok. Ternyata, ia mengorok saat tidur. Aku belum mengenal pria itu sepenuhnya, sebagaimana ia belum mengenalku sepenuhnya. Tiba-tiba terpikir, pernikahan adalah proses saling mengenali dan mengerti dalam jangka panjang. Benarkah?

***

“Omong-omong, pembicaraan kita belum tuntas sebenarnya,” Sarah hendak mengembalikan pembicaraan kami yang sudah ngalor-ngidul. “Apa yang sebenarnya membuatmu merasa nggak mengenali suamimu, Mar?”

Martha menghela napas, “Rasanya, suamiku yang kukenali adalah pria yang penyabar. Bahkan cenderung penurut. Ia hampir tidak pernah menolak apa pun yang kukatakan. Tapi, tadi pagi ia membentakku…”

Mendadak, aku melihat sosok Martha yang jarang sekali muncul. Martha yang aku tahu adalah pribadi yang keras dan cenderung ngotot. Ia pantang disalahkan. Dan kini, ia tampak begitu melankolis.

“Dan kau tahu?” Martha melanjutkan. “Saat kulihat matanya, aku baru menyadari bahwa ada sisi lain dari suamiku yang tidak pernah aku lihat selama bertahun-tahun ini. Bahkan, sejak pertama aku mengenalnya.”

“Dan kau menyesali itu?”

“Menyesal?” Martha lalu diam seperti merenung. “Ya, aku menyesal.”

“Kau menyesali pernikahanmu?” tanyaku kaget.

Ia menggeleng, “Bukan. Bukan itu…”

“Lalu?” Sarah bertanya.

“Aku tidak menyesali pernikahan ini. Karena…,” Martha diam lagi. Berpikir. “Karena… Ehm… Karena ternyata aku masih mencintai dia. Bentakan dia tadi pagi, ternyata tidak mengurangi itu. Dan memang tidak seharusnya begitu.”

“Lalu apa yang membuatmu menyesal?” Raisya bertanya.

“Aku menyesal karena ternyata aku tidak cukup mengenalnya setelah sejauh ini…,” jawabnya pelan. “Aku belum berusaha mengenalinya. Padahal, aku merasa bahwa dia adalah orang yang paling mengenaliku.”

Raisya menghela napas lega. Sepertinya, ia memang berharap jawaban itulah yang akan keluar dari mulut Martha dan itulah yang ia dapatkan.

“Akupun selama ini tidak pernah berharap akan cukup baik mengenali suamiku,” Raisya menambahkan. “Karena, bagaimanapun dekatnya kita dengan dia, ia tetaplah orang lain. Dan aku menemukan bahwa menuntut kesempurnaannya sama saja dengan memaksanya untuk meleburkan dirinya padaku. Itu hal yang tidak mungkin terjadi.”

“Lho? Bukankah perkawinan adalah peleburan 2 orang menjadi satu?” Sarah seperti tidak setuju.

“Itu adalah kata novel-novel percintaan saja supaya kita membelinya,” sanggah Raisya. “Padahal, selamanya kita dan suami-suami kita tetaplah orang yang berbeda. Dia ya dia, kita ya kita.”

“Lalu, apa gunanya menikah jika tetap individual seperti itu?” Sarah bertanya.

“Aku lebih percaya bahwa pernikahan adalah membentuk kerjasama untuk mencapai tujuan bersama,” lanjut Raisya. “Bukan melebur. Memaksa satu pihak untuk menjadi seperti yang pihak lain inginkan. Pernikahan bukan ajang untuk saling mengubah.”

Sarah terdiam, memikirkan jawaban Raisya lebih dalam. Lalu seperti berbicara pada dirinya sendiri, “Mungkin itu sebabnya aku kerap berdebat dengannya dan berujung pada pertengkaran. Aku sering terburu-buru mengkritiknya tanpa berusaha mengerti dan mengenalnya terlebih dulu.”

“Lantas, bagaimana jika suami kita yang tidak berusaha mengenali kita. Bukankah pernikahan adalah hubungan timbal balik?” Martha bertanya.

“Memangnya kau mau pernikahanmu terus-menerus dalam kekusutan karena suami-istri yang tidak saling kenal?”

“Ya, tidak lah… ” sergah Martha.

“Berarti sebenarnya kau sudah tahu apa jawabannya,” kata Raisya. “Kita tidak akan pernah bisa sepenuhnya mengendalikan suami kita karena pernikahan memang tidak ditujukan sebagai tempat kendali-mengendalikan. Tapi, aku meyakini, bahwa dengan tetap berpegang pada tujuan pernikahan, kita pasti menemukan solusinya. Yang jelas, pernikahan bukanlah pengadilan untuk menentukan siapa yang salah atau benar. Siapapun yang salah, pasti akan berakibat pada pernikahan itu.”

“Iya. Kau benar,” ucapku. “Pernikahan adalah kontrak interdependensi. Perjanjian untuk saling tergantung. Jadi, solusi masalah seperti ini sebenarnya tergantung pada masing-masing pernikahan. Solusi untukku, bisa jadi bukan solusi untuk kalian. Dan begitu pula sebaliknya.”

“Jadi? Kenapa aku jadi bingung kemana arah pembicaraan kita sebenarnya?” Sarah mencoba menyimpulkan pembicaraan kami tapi tak menemukannya.

“Pernikahan adalah sesuatu yang enigmatik. Bisa sangat membingungkan. Kita mengenali suami kita, tapi di saat yang sama kita juga kerap tidak mengenalinya,” kataku. “Aku yakin, suami kita juga merasakan hal yang sama tentang kita. Bingung.”

“Jadi kita semua bingung?” Sarah terlihat makin bingung.

Adjustment. Penyesuaian itu kuncinya untuk kita,” aku menyimpulkan.

“Dan ikhlas,” Raisya menambahkan.

“Dan marriage consultant, kalau kita sudah putus asa,” Martha menceplos seenaknya.

“Dan obrolan akhir bulan!” Sarah berkata sambil tertawa. Dan kami berempat ikut tertawa terbahak-bahak hingga seluruh pengunjung kafe menengok pada kami. Tapi aku tidak peduli, aku mendapatkan sesuatu dari obrolan kami.

Aku jadi menyimpulkan. Terkadang suami-istri adalah orang asing bagi satu sama lainnya. Hal itu kadang membuat suatu pernikahan tampak rumit dan membingungkan. Tapi, tidak ada yang salah dengan itu. Karena, yang terpenting adalah pernikahan harus berjalan terus, tidak ada pilihan lain. Apa jadinya jika kita melihat pilihan selain itu? Mungkin pernikahan ini sudah bubar sejak awal.

Jakarta, 6/9/10

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

*gambar saya ambil dari http://themonetizer.blogspot.com

6 Comments

  1. grrrrrrrr,,,, comment ya mass,,
    “kalo (ntar) jadi suami, jangan ber evolusi jadi alien yaa..” karena gw rasa semua suami jadi begitu deh,, hhahaaa WELL DONE

    • Hiahiahiahiahiaia…. alien will marry an alien… Makanya, istri yang merasa suaminya adalah “alien” justru kadang2 secara tidak sengaja menjadikan dirinya alien juga… Akibatnya… masalah nggak pernah selesai…. (*sotoy mode on) hiahiahiahiai

  2. klo sudah memutuskan utk menikah, berarti ya mesti siap sama smua hal yg terjadi di dalam pernikahan itu nanti.. pacaran lama ga jamin klo bsa kenal lebih dalam satru sama lain. hiiii..makannya gw ga mw nikah buru2.hehe🙂
    trs, itu tu resikonya klo perempuan hari gini ga kerja.hehehehe, cma bisa nunggu suaminya gajian, klo suaminya bos lah klo pegawai biasa, gmna ???marah2 deh sama suaminya, padahal sii istri blm tentu tau gmna banting tulangnya si suami di luar bwt nyari pundi2 rupiah bwt org2 rumah !

    • Salah juga kalo beranggapan bahwa dengan “tidak terburu2” menikah akan jadi lebih kenal… Pada dasarnya, tidak akan ada orang yang akan “cukup” mengenali orang lain seberapa lamapun mereka pacaran. Soalnya, pacaran beda konsep sama menikah… Dan menurut gue lagi adalah pemikiran yang menganggap bahwa pacaran adalah simulasi pernikahan… Pacaran tidak akan pernah bisa jadi simulasi pernikahan… menganggap pacaran sebagai bayangan pernikahan adalah hal yang bisa jadi fatal terhadap pernikahan…

  3. kau sudah mengada Wisnu Sumarwan, tinggal bagaimana kau bisa mengaplikasikan kepekaanmu dalam keseharian masyarakat. hehehee.. salam.

    Faliq Augmented, S.Fils. (sengaja pake gelar karena masih baru).. hehehee…
    http://faliqaugmented.blogspot.com/

    • Makasih banyak, Felix….
      Selamat buat gelarnya…. Daku menyusul… hehehehe


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...