Kupu-Kupu Api

Aku kini ditelan bulat-bulat oleh riuhnya pasar malam di desaku. Bukan hanya aku, tapi seluruh warga turut dalam bingarnya. Bahkan, karena keriuhan yang mereka rasakanlah maka aku juga merasakan keriuhan itu.

Suara gemuruh musik dangdut bersorak ke sepenjuru desa dari sebuah lapangan yang kini dipenuhi orang-orang yang mengelilingi beberapa panggung yang gemerlap oleh sorot-sorot lampu warna-warni. Panggung-panggung dan tenda-tenda itu dipenuhi berbagai pertunjukan dan permainan. Bocah-bocah sibuk menarik-narik orangtua mereka dari satu tempat ke tempat lainnya atau ke sudut yang menarik perhatiannya. Penjual aneka makanan, minuman dan mainan berlomba menarik pembeli dengan bunyi-bunyi yang baku tarung. Sesekali teriak riuh terdengar dari kereta luncur yang meliuk cepat, melambat, berkelok, memutar dan mengocok-ngocok lambung para penumpangnya. Suara tawa dan tangis bocah bersahut-sahutan.

Ini perayaan tahunan di desa kami. Perayaan kupu-kupu api.

***

Entah sejak kapan perayaan ini diadakan. Yang kutahu, sejak aku memiliki kesadaran, perayaan ini sudah ada. Disambut gembira oleh seluruh warga desa.

Perayaan ini dilaksanakan di akhir musim panen dalam gegap gempita pasar malam yang digelar 3 malam berturut-turut. Di malam ketiga, ada upacara khusus yang merupakan puncak dari perayaan ini. Seluruh warga desa akan berkumpul di puncak gunung, tak jauh dari desa, untuk memberikan persembahan berupa hewan ternak dan sebagian hasil bumi. Lalu, tak lama akan muncul dari dalam kepundan gunung, rombongan kupu-kupu yang aku tak tahu pasti warnanya. Yang kulihat mereka berwarna serupa jingga seperti bara yang menyala-nyala. Mungkin, itulah sebabnya mereka disebut kupu-kupu api. Ya, kupu-kupu api.

Para tetua mengatakan bahwa itu bukan kupu-kupu biasa. Itu kupu-kupu kiriman para dewa yang katanya bersemayam di dasar bumi. Dewa-dewa yang memberkati tanah kami dengan kesuburan. Munculnya rombongan kupu-kupu itu adalah pertanda bahwa musim tanam akan berjalan lancar dan kami akan mendapat hasil yang melimpah ruah pada musim panen berikutnya.

Wajarlah jika kedatangan kupu-kupu api adalah hal yang istimewa dan perlu disambut dengan pesta pora. Sekalipun sebenarnya pada 2 malam pertama perayaan, kami belum layak untuk benar-benar gembira. Bagaimana jika kupu-kupu itu tidak muncul? Sepanjang yang aku tahu hal itu belum pernah terjadi. Namun, apalah yang tidak mungkin terjadi?

Menurut para tetua pula, itulah gunanya persembahan yang kami berikan. Untuk menyenangkan dewa penguasa bumi hingga dengan senang hati melindungi tanah kami dari bahaya dan memberkahi apapun yang tumbuh di atasnya. Aku diam mendengarnya. Tapi aku jadi berpikir, ternyata dewa pun perlu disogok.

Mungkin para tetua sadar bahwa bisa jadi tidak semua sogokan akan menyenangkan pihak yang disogok. Bagaimana jika para dewa tidak merasa senang dengan sogokan kami? Maka, aku kerap melihat raut tegang sesaat setelah persembahan-persembahan dilempar ke dalam kepundan. Semua akan menunggu kupu-kupu api yang berpijar-pijar. Sorak-sorai baru terdengar setelah rombongan kupu-kupu api muncul seperti menyambut persembahan yang kami berikan. Itu tandanya sogokan kami diterima para dewa.

***

Ini malam ketiga. Puncak gunung telah ramai oleh seluruh warga desa. Mulai dari bayi yang baru lahir hingga orang-orang tua bau tanah berkumpul di sini. Saking pentingnya upacara ini, lansia atau orang sakit yang sedang tergeletak di tempat tidur pun akan memaksa untuk hadir di sini, mengikuti upacara dengan khidmat.

Bunyi gamelan menggema-gema ke seluruh penjuru lembah.

Biasanya, hanya para pendaki gunung dari kota dan pemandu mereka yang mau ke tempat ini. Pemandangan dari puncak gunung ini memang sangat indah. Puncak pasir berkilauan dan batu cadas dikelilingi padang edelweiss dengan bibir sumur alam yang jika dilihat dasarnya terdapat cairan panas sewarna senja dengan sesekali lidah api menjilat-jilat. Warga desa jarang datang ke tempat ini. Tapi sekarang, puncak gunung ini jadi begitu ramai.

Musik gamelan yang awalnya bertiup syahdu makin lama bergerak makin cepat dan keras seiring munculnya wanita-wanita desa yang berbaris-baris menari. Tidak cukup 1, 2 atau belasan penari. Seluruh wanita di desa kami yang bisa berdiri akan ikut menari. Bahkan yang tidak bisa berdiripun memaksa diri. Tidak ada aturan tentang siapa yang boleh atau tidak boleh menari, bahkan bayi pun boleh ikut menari dalam gendongan ibunya. Wanita renta menari dalam papahan cucu-cicitnya. Mungkin, tujuannya untuk menyenangkan suasana hati para dewa. Makin banyak wanita yang menari, dewa-dewa makin senang, mungkin begitu. Bukankah suasana hati yang baik akan membuat pemberian makin terasa menyenangkan? Jadi, senangkan dulu hati para dewa, maka persembahan akan diterima. Jika persembahan diterima maka panen akan berjalan lancar. Begitu logikanya.

Hewan-hewan ternak yang akan dipersembahkam terbaring dengan kaki terikat. Mereka meronta-ronta. Bisa jadi mereka tahu bahwa sebentar lagi mereka akan dipersembahkan hidup-hidup pada para dewa yang kini mulutnya menganga dengan lidah-lidah magma yang menggelegak. Bunyi gamelan mengembara menuju lapis-lapis langit yang tertutup mendung. Beberapa tetua meniupkan asap ke udara menahan mendung agar tak jadi hujan. Beberapa lainnya menahan napas sambil menunggu saat yang tepat untuk melemparkan sesajen dalam kepundan. Sementara, wanita-wanita, gadis-gadis dan bocah-bocah perempuan terus bergerak dalam konfigurasi tarian yang berulang-ulang monoton. Telapak tangan mereka berputar-putar lembut seiring gerakan tubuh mereka yang gemulai. Langit berkonspirasi dengan musik menimbulkan suasana mistis yang menekan. Langit tak berbintang membuat hanya gelap semata yang ada. Barisan obor bambu melambai-lambai apinya, seperti tangan-tangan bayi dari neraka. Obor-obor itu hanya jadi penunjuk jalan karena suasana tak sedikit pun bertambah terang. Jikapun ada iblis di sini, tak satu pun kami akan menyadari. Gelap bersimaharaja bersama aroma dupa dan bunga-bunga.

Tiba-tiba seorang tetua berteriak garang. Suaranya membelah segala suara yang ada. Teriakan itu disambut teriakan-teriakan tetua lainnya lalu para wanita ikut meneriakkan kata yang sama. Suara gamelan semakin keras, terdengar menggebrak-gebrak. Konfigurasi tari juga bergerak, makin mendekat pada kepundan, melingkarinya sambil terus bergerak makin keras. Seperti kesurupan. Lalu, beberapa pria bertelanjang dada menembus barisan. Mengangkat persembahan-persembahan yang akan segera jadi korban.

Dari jauh tampak para tetua berkomat-kamit. Kemudian doa diteriakkan diikuti oleh gumaman seluruh warga desa. Suasana tegang yang entah darimana datangnya menyelimuti puncak gunung. Suara gamelan yang makin mencekam bercampur dengan deru gelegak dari dalam kepundan. Pria-pria mengangkat tinggi-tinggi korban persembahan, hewan ternak dan hasil bumi. Seperti ada mata menatap tajam dari dalam kepundan, mulut raksasa para dewa menunggu mangsa. Mereka ramai. Ramai tenggelam dalam doa. Lalu, seorang tetua berteriak-teriak lantang dalam kata-kata yang seperti meracau. Kedua tangannya menengadah, memohon pada langit gelap yang cekam.

Teriakan tetua terdengar lagi. Membahana di puncak langit disambut pria-pria telanjang dada yang menggeram keras layaknya serigala kelaparan. Lalu, tangan-tangan perkasa itu melemparkan korban satu per satu dalam kepundan. Hewan-hewan tak berdaya itu mati dimakan magma para dewa. Hasil bumi tenggelam dalam batuan cair yang merah membara. Inilah bukti kesetiaan kami pada mereka.

Aku diam sebagai saksi. Semoga dewa juga setia pada kami.

***

Seluruh korban dan persembahan telah terlontar. Doa dan musik gamelan perlahan hambar. Sepi merasuk perlahan. Tak ada tanda munculnya kupu-kupu api. Seluruh mata terpasung pada kepundan. Magma hanya menggelegak pelan. Aku tak mengerti, bukankah seharusnya aku tahu apa yang terjadi setelah ini? Bukankah seharusnya dewa-dewa segera mengirim kupu-kupu api? Balasan untuk kesetiaan kami pada mereka. Mengapa tiada yang terjadi? Apa dewa-dewa juga bisa lupa?

Para tetua mulai gelisah. Warga tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Seperti kubilang tadi, ini belum pernah terjadi. Dewa tak mungkin ingkar janji. Benar, kan?

Para tetua mulai tampak panik. Berewok mereka yang putih tebal tak sanggup menutup ketakutan mereka. Jika benar kupu-kupu api urung muncul dari kepundan, maka desa kami terancam paceklik berkepanjangan. Hal yang tak pernah terjadi bahkan sejak 100 tahun terakhir. Mungkinkah kali ini terjadi?

Mungkinkah persembahan kami gagal menyenangkan para dewa? Kurang baguskah sogokan yang kami berikan? Atau kurang banyak? Kurang berharga?

Selama ini persembahan kami selalu diterima para dewa dengan senang hati. Begitu pikirku karena biasanya kupu-kupu api muncul tak lama setelah persembahan dilempar ke dalam kepundan. Ini sudah terlalu lama. Para dewa mungkin berubah selera. Tak lagi suka dengan kambing, babi dan ayam. Sekarang mereka ingin makan daging sapi.

“Bawakan sapi yang paling gemuk!” teriak salah satu tetua.

Beberapa pria desa segera turun dengan tergesa dan setelah beberapa lama muncul sambil menarik-narik sapi calon korban berikutnya. Saking takutnya datang paceklik, ada salah satu warga yang merelakan sapi kesayangannya. Sapi itu besar sekali. Terbayang sulitnya membawa sapi itu kemari, melipir di punggungan gunung yang curam. Tapi karena niat dan ketakutan, berhasil juga mereka menggiring sapi sebesar itu ke tempat ini.

Sapi besar itu tak berdaya melawan. Tak juga meronta saat puluhan tangan perkasa mendorongnya masuk dalam kepundan. Lenguhannya masih terdengar saat bobotnya meluncur tak kuasa melawan gravitasi. Magma menciprat dan tubuh itu menghilang menuju dasar bumi.

Tetua-tetua kembali meneriakkan mantra-mantra yang lebih terdengar seperti ratapan. Warga kembali menjawab juga dalam teriakan. Semuanya memohon agar para dewa sudi menerima persembahan dan mengirim kupu-kupu api sebagai tanda pemberkahan pada tanah kami.

Gamelan dan doa-doa kembali mengeras untuk kemudian melemah. Kupu-kupu api tak kunjung datang. Udara sudah mulai terlalu dingin. Obor-obor mulai redup satu persatu. Suasana makin temaram. Keraguan makin menekan. Kupu-kupu api seperti enggan untuk terbang. Para tetua makin tak sabar. Bocah-bocah mulai menangis. Ibu-ibu tua kehilangan tenaga untuk tetap bertahan. Udara dingin telah terlalu menusuk. Hati kami telah sakit. Mungkinkah dewa-dewa menipu kami? Meminta kami untuk memenuhi perut mereka untuk janji-janji yang palsu. Jika kami telah setia pada mereka bukankah seharusnya mereka setia pada kami? Untuk apa kami berbakti jika tidak untuk pemenuhan janji-janji? Ataukah dewa-dewa telah bosan pada kami? Apa salah kami? Jangan salahkan jika kini aku menganggap dewa juga bisa ingkar janji.

“Tidak! Dewa tak mungkin ingkar janji,” seorang tetua berteriak. “Dewa-dewa tak lagi sudi menerima pengorbanan berupa hewan atau hasil bumi. Mereka ingin korban manusia!”

Suasana mendadak sepi. Kami terkesiap. Mata-mata memandang nanar. Korban manusia? Haruskah salah satu dari kami masuk ke dalam kepundan sana? Benarkah? Benarkah para dewa menyuruh kami mati? Ataukah ini hanya akal-akalan para tetua yang putus asa?

Selama ini, hanya para tetua yang bisa berhubungan langsung dengan para dewa. Katanya mereka bisa berbicara dengan penguasa bumi dan tanah kami. Bisakah? Benarkah mereka bisa? Siapa yang bilang? Siapa yang kini menipu sebenarnya? Dewa-dewa atau para tetua?

Rasanya aku ingin berteriak, ‘Buktikan! Buktikan jika memang itu keinginan para dewa!’, tapi urung kulakukan saat seorang nenek renta menangis keras.

“Korbankan aku! Biarkan aku mati untuk desa ini!”

Semua warga menengok pada nenek renta yang kini menangis meraung-raung. Tubuh rentanya kini jadi begitu perkasa. Ia berdiri tegak, menatap angkasa gelap semata. Airmata bercucuran. Ratapannya seperti memohon dewa langit agar membujuk dewa bumi untuk mengirimkan kupu-kupu api pada kami. Tak tampak lagi kelemahan tubuhnya yang tadi sempat menari dalam papahan cucu gadisnya. Kini ia berdiri bagai pahlawan yang siap mati. Melolong bagai serigala terluka. Memaki para dewa agar memenuhi janji mereka. Dan untuk itu, ia rela memberikan hidupnya.

Ini tak adil, pikirku. Bukankah tugas para dewa untuk memberi kebahagiaan pada kami? Mengapa mereka meminta korban nyawa untuk itu? Untuk apa nyawa kami yang tak berharga ini bagi mereka? Tidakkan ini hanya dibuat-dibuat oleh para tetua?

“Tubuh rentaku ini sudah tak ada gunanya lagi! Sekali ini biarkan aku bermakna! Aku korbankan tubuh ini!”

Kami semua diam. Tidak ada yang berani bersuara saat tubuh renta itu berjalan terseok mendekati lubang kepundan. Cucu yang tadi memapahnya seperti kaget dan tak mampu bergerak. Begitu pun para tetua yang tadi berkata bahwa dewa meminta korban nyawa manusia.

Nenek tua terus merayap mendekat pada kepundan. Matanya berkilat sendu seperti melihat mendiang suaminya berdiri di depannya. Suara gelegak magma yang sayup-sayup terdengar seperti kidung yang memanggil-manggil. Sepi. Hanya desir angin yang masih bersilat di telinga.

Kupu-kupu api tak juga muncul. Nenek itu berjalan selangkah demi selangkah dengan yakin. Cepatlah keluar kupu-kupu api, aku berdoa dalam hati. Jika, kupu-kupu api keluar saat ini, nenek itu tak akan mati.

Ratusan pasang mata menyaksikan adegan ini. Seperti tak rela membiarkan nenek tua senasib dengan sapi pengorbanan, tetapi tak juga berani menghalanginya. Bisa jadi nasib desa kami ada di tangannya.

Kupu-kupu api tak kunjung datang. Nenek renta masih berjalan saat terdengar bunyi deruman di kejauhan. Itu suara mesin truk dan alat-alat berat. Kemarin, kepala desa mengijinkan puluhan villa dibangun di tanah kami. Sekarang ia tidak hadir di sini.

Jakarta, 11/9/10

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

*gambar diambil dari http://www.myspace.com/the1theycallmother

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...