Angkoters Di Malam Lebaran 1431 H

Saya ini angkoters. Kemana-mana naik kendaraan umum. Tapi, saya bukan angkoters sejati karena angkot yang pernah saya tumpangi praktis hanya beberapa. Selain angkot setan C01 jurusan Ciledug-Senen (ini yang paling sering), saya hanya sempat naik mikrolet O1 jurusan Senen-Kampung Melayu, KWK 04 jurusan Goro-Kelapa Gading, salah satu angkot yang saya lupa nomornya dari Kota ke Manggadua (yang ini hanya sempat 2 kali saya tumpangi), dan 1-2 angkot yang saya benar-benar lupa. Semuanya jarang-jarang. Selebihnya, saya hanya naik transjakarta busway, ojek, bajaj atau taksi.

Malam ini saya sangat beruntung. Ada sesuatu yang (terpaksa!) harus saya lakukan di malam lebaran. Saya yang sebelumnya tidak berencana keluar rumah, mau tidak mau harus cabut dari rumah. Padahal sebelumnya hujan turun dengan derasnya bak ketombe berguguran dari kepala yang tidak pernah dikeramas. Setelah reda, saya cabut dari rumah dengan gagahnya (ini bahasa lain untuk agak-agak bego karena tidak tahu situasi).

Oh ya, Ada satu hal yang perlu sedikit saya jelaskan tentang diri saya. Saya ini impulsif. Kalau bahasa manusianya “Nekat”! Saya kadang bertindak dulu dan baru berpikir belakangan. (Ini sebenarnya rahasia, karena banyak orang yang menyangka saya pemikir sejati! Dan supaya kelihatan pintar, saya tetap membiarkan mereka berpikir begitu. Hehehe. *senyum licik mode on)

Kenekatan saya itulah yang mendorong saya untuk tetap memilih angkot di malam lebaran ini dan menjadikan diri saya sebagai angkoters sejati. Meskipun, ternyata setelah sampai di tempat pemberhentian, kendaraan umum yang lewat hanya 1-2 biji saja alias jarang. Saya menunggu cukup lama sebelum akhirnya lewat juga sebiji.

Dari daerah kelapa gading tempat rumah saya berada, untuk pertama kalinya saya naik angkot bernomor dada 53. Jujur, saya tidak tahu kemana tujuan angkot ini. Yang saya tahu, moncong angkot ini mengarah ke daerah senen yang jadi tujuan awal saya. Katanya, dari Senen selalu ada kendaraan umum. Yang saya tidak tahu adalah kemanakah tujuan kendaraan umum yang berangkat dari senen itu? Padahal sekarang sudah lewat pukul 9 malam. Tujuan saya adalah ke daerah menteng.

Dengan gagahnya, saya naik angkot itu. Dengan terbatasnya angkot di malam takbiran, angkot segera penuh. Setelah angkot berangkat, baru saya agak ragu. Benarkah angkot ini akan ke Senen? Jadi, bertanyalah saya pada seorang bapak yang duduk di sebelah saya.

Saya: Pak, ini lewat Senen, kan?

Bapak: Nggak, dek… Ini lewat Gani.

Saya: (Diam, kaget bercampur bahagia. Bahagia karena saya dipanggil ‘Adek’. Semuda itukah saya? Kaget karena ‘Apa? Gani? Tempat apa itu?’)

Bapak: (Melihat tampang ‘muda’ saya yang kebingungan) Kemayoran, Dek.

Saya: Hah? Kemayoran? (sekarang ekspresi saya sudah tidak bisa bahagia lagi. Saya panik!)

Bapak: (melihat tampang panik saya) Tapi, lewat galur kok… Turun di situ saja.

Saya: (bisa bernapas lega karena Senen dari arah Galur tinggal lurus saja) Makasih, Pak… (kembali menikmati kege-eran saya karena dianggap ‘adek’. Padahal sih saya tahu bapak itu hanya mencoba sopan)

Tak berapa lama, turunlah saya di Galur yang ternyata a.k.a. Gani. Galur (mungkin) bersaudara dengan dengan Gani.

Setelah turun, saya memandang dengan tatapan menerawang ke arah Senen. Terbersit dalam benak saya. Busyet! Jauh juga! Jika tidak membuat betis bengkak, berjalan kesana cukuplah untuk membuat urat kaki agak keriting. Saya tidak mungkin melawan tren mode rebonding. Saat semua orang sibuk meluruskan rambut untuk menyambut lebaran, bagaimana mungkin saya malah mengeritingnya? Urat kaki pula! Okay, ini sebenarnya hanya alasan saya yang malas berjalan.

Jadi, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan saat mikrolet 01 tujuan Kampung Melayu-Senen lewat. Segera saya hentikan dan naik. Lagi-lagi, dengan gagah bercampur sok tahu.

Saya: Senen, Pak?

Sopir: (agak ragu) Ehmm… Iya, Pak.

Saya: (agak tersinggung karena dipanggil ‘Pak’. Tapi, ya sudahlah. Mungkin benar, tadi saya hanya kege-eran saja)

Sopir: Depan macet. Ada takbiran. Lewat dalem ya, Pak?

Saya: (Aaargh! Jangan panggil saya ‘Pak’. Saya masih suka rasa kege-eran tadi) (dalam hati) Dalem mana? Dalem tanah?

Ibu: (Penumpang lain yang saya rasa adalah cenayang karena dia bisa menjawab pertanyaan yang cuma berbunyi dalam kepala saya) Dalem kampung, dek. Kampung elit. (Dek? Ah, saya kege-eran lagi)

Saya: (sambil mengangguk-angguk sok tahu) Ooh…

Saya berpikir lagi saat angkot berbelok ke arah jalan yang lebih sempit padahal Senen tinggal lurus saja. Kampung elit? Seperti apa, ya?

Omong punya omong, masih ingat kan kalau tadi saya mengatakan bahwa saya beruntung bisa naik angkot di malam lebaran? Inilah sebabnya.

Angkot terus berjalan masuk mengikuti jalan yang lebih sempit. Memasuki areal padat penduduk. Jika sopir tadi bilang bahwa ia memilih jalan dalam untuk menghindari macet, maka ia salah besar. Di jalan-jalan sempit ini macet juga terjadi. Di jalan yang lebarnya tak lebih dari 3 meter ini, mobil harus berbaku potong dengan motor dan orang-orang yang ramai berdiri di pinggir jalan. Ternyata inilah yang dimaksud oleh ibu tadi dengan ‘kampung elit’. Ia hanya berironi.

Inilah kampung dimana warganya tumplek-blek di pinggir jalan untuk menikmati malam lebaran bersama kerabat dan teman-teman mereka. Ramai dan padat luar biasa. Mobil, motor, sepeda, pedagang, pejalan kaki dan sebagainya campur baur seperti cendol. Terakhir bahkan saya melihat metro mini lengkap dengan belasan penumpang nangkring di atasnya. Di tengah jalan sesempit ini ruang kosong jadi sulit ditemukan. Semuanya dimanfaatkan untuk beraktifitas menyambut datangnya Idul Fitri.

Becek-becek sisa hujan tadi sama sekali tidak menghalangi niat mereka untuk menikmati malam ini. Semua rela berdesak-desakan. Ditambah dengan suara-suara takbir dari mushalla kecil di sana, lagu Keong Racun dari speaker pedagang CD bajakan dan sesekali suara petasan yang dengan nekat disulut di tempat sesempit ini, membuat suasana makin hingar-bingar.

Ternyata (ya, ternyata!), angkot yang saya tumpangi berikut saya yang ada di dalamnya, sedang merayap di tengah pasar tradisional yang masih juga buka di pukul 1/2 10 malam ini. Mungkin karena sekarang malam lebaran. Pantas saja saya melihat banyak sekali pedagang di sana-sini.

Dari ibu yang saya tuduh cenayang tadi, saya mengetahui bahwa itu adalah Pasar Galur. Ramainya tidak kalah dengan Mall yang sempat saya kunjungi beberapa hari sebelumnya. Lebih ramai, bahkan. Di sini, semuanya campur aduk. Orang, barang dagangan dan berbagai jenis kendaraan bersenyawa dengan asap knalpot yang terjebak kepadatan dan bunyi klakson yang sahut-menyahut.

Dari balik pintu dan kaca angkot yang saya tumpangi, tampak berbagai jenis kegiatan dilakukan.

Saya bisa lihat beberapa salon kecantikan. Semuanya dipenuhi pelanggan. Beberapa sedang ditangani oleh kapster-kapster di sana. Beberapa tampak menunggu kelanjutan nasib rambut mereka yang masih setengah jadi, tampak krim berwarna putih melumuri kepala atau alumunium foil yang bergelantungan. Persiapan lebaran dengan tatanan rambut baru. Saya menduga, jika sudah hampir jam 10 malam begini salon-salon itu masih dipenuhi pelanggan, artinya bisa jadi memang sudah penuh sejak pagi. Salon-salon itu adalah salon rumahan, tidak akan ditemukan hairdresser jebolan luar negeri seperti yang kerap ditemukan di salon-salon kelas atas Jakarta. Tapi, hal itu tidak menghalangi antusiasme para pelanggan yang ingin tampil cantik untuk esok harinya. Besok Lebaran!

Toko-toko pakaian tampak mendominasi pasar ini. Hilangkan bayangan tentang butik-butik internasional atau department store yang menjual pakaian-pakaian bermerek. Di sini hanya ada toko-toko kecil yang menyusun barang dagangannya secara super rapat dan empet-empetan. Ramai juga. Shalat Idul Fitri yang hanya beberapa jam lagi bukan alasan untuk tidak mempersiapkan baju terbaik. Pelanggan yang sebagian adalah ibu-ibu dan gadis-gadis muda sibuk memilih di sela-sela deretan pakaian yang disusun padat begitu rupa. Bunyi klakson dari pengendara mobil dan motor yang tidak sabar bukan gangguan yang berarti. Pokoknya, besok pakai baju baru. Mungkin begitu pikiran mereka.

Toko-toko yang menjual alas kaki seperti sandal dan sepatu tak kurang jadi sasaran. Sandal dan sepatu dijajakan dengan cara ditumpuk-tumpuk seperti ikan asin. Tetap, semua toko dipenuhi oleh pengunjung.

Ramai bukan buatan. Semua ditelan oleh euforia malam Idul Fitri. Dan entah mengapa, saya juga jadi senang berada di tengah kemacetan ini. Banyak kegembiraan yang tidak tersapu oleh hujan deras sebelumnya. Tampak mereka semua kelihatan saling mengenal, saling sapa dan berbagi kebahagiaan. Sebentar-sebentar saya mendengar seseorang menyapa temannya. Pengendara motor menyapa pejalan kaki. Pejalan kaki menyapa pedagang. Pedagang menyapa pengendara motor. Mereka adalah sebuah komunitas yang jarang saya lihat karena saya tidak mengenal mereka. Inilah budaya komunal masyarakat menengah bawah Jakarta. Budaya yang mensyaratkan perasaan saling berbagi untuk bisa tergabung di dalamnya. Akar dari budaya Indonesia yang mengutamakan kebersamaan.

Di tengah hingar-bingarnya pembangunan di Jakarta yang membentuk generasi Mall dan Department Store, ternyata tidak sepenuhnya bisa menggerus budaya asli yang hidup jauh di bawah relung-relung Jakarta. Di jepit oleh gedung-gedung tinggi Jakarta yang menegaskan tajamnya cakar-cakar westernisasi, masyarakat Jakarta masih menyimpan kekuatan budaya pasar tradisional yang saling mengenal dan mengedepankan keakraban.

Jika budaya mall adalah mahkota gemerlap penghias rambut, maka budaya menengah bawah adalah nadi yang tetap berdenyut di bawah kulit Jakarta yang kini seperti makin renta untuk menanggung bebannya. Seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam Kepribadian Sandal Jepit (dalam Affair, Obrolan Tentang Jakarta, 2004), saya pikir dalam gedung-gedung pencakar langit masih terselip ribuan atau bahkan jutaan pasang sandal jepit yang tersembunyi di bawah meja.

Mungkin sebagian penduduk Jakarta menolaknya dan menganggap bahwa mereka adalah ‘pantofel’ dan ‘high-heels‘, namun tidak ada yang bisa menolak bahwa sandal jepit masih ada. Dan tidak ada yang salah dengan jadi ‘sandal jepit’. Apalagi jika itu adalah ‘sandal jepit’ yang berpikiran maju dan progresif. Tidak hanya ‘sandal jepit’ berkubang lumpur.

Saya beruntung jadi angkoters di malam lebaran ini.

Jakarta, 9/9/10

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

*gambar saya ambil di http://satriategar.blogspot.com

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...