Menjadi Ibu – The Series (1) : And The Award Goes To…

Betapa dongeng kerapkali menipu. Perkawinan yang tergambar dalam benak saat masa kanak-kanak seringkali bubar jalan saat kita benar-benar ada dalam sebuah pernikahan. Apalagi jika pernikahan yang dimaksud adalah cerita tentang putri yang diselamatkan pangeran tampan dari kastil naga di atas gunung, lalu mereka hidup bahagia selamanya.

Mata seringkali justru menampilkan hal yang berbeda. Keruwetan masalah yang muncul silih berganti bisa mengubah pendapat kita tentang apakah pernikahan ideal yang sebenarnya. Bahkan aku sempat berpendapat bahwa tidak ada pernikahan yang ideal. Tidak ada suami yang ideal karena ksatria berkuda putih itu hanya ada dalam dongeng.

Awalnya, kupikir suamiku adalah sosok ksatria berkuda putih yang menyelamatkanku dari kastil naga dan membawaku ke istananya. Tapi, bukankah tidak seharusnya seorang ksatria ngorok waktu tidur, menaruh baju kotor sembarangan dan lupa menjemputku dari pasar karena nonton tinju di televisi? Seketika ksatria berkuda putih itu bubar formasi. Perkawinan memang tidak ada yang ideal dan jangan coba-coba mencari suami ideal karena tidak akan pernah ditemukan.

Tapi benarkah kita mencari pernikahan ideal? Haruskah kita menemukan suami ideal untuk mendapatkan pernikahan yang ideal? Apakah benar pernikahan yang ideal akan membahagiakan? Rasanya aku sudah punya terlalu banyak pekerjaan untuk memikirkan hal ini. Tapi tak urung kupikirkan juga.

***

Jangan katakan bahwa kami adalah ibu-ibu kurang kerjaan. Mungkin kami terlihat seperti ibu-ibu arisan. Tapi bukan, kami bukan ibu-ibu arisan. Kami pun tidak berpikir untuk bikin arisan. Kami tidak melihat apa perlunya bikin arisan, sekalipun kami juga tidak melihat apa buruknya. Kami juga tidak menganggap bahwa ibu-ibu arisan adalah ibu-ibu kurang kerjaan. Yang jelas, tidak perlu arisan untuk membuat kami berkumpul.

Pada hari minggu ke-empat setiap bulannya, kami pasti menyempatkan berkumpul yang tempatnya ditentukan dengan kesepakatan. Konsekuensinya adalah kami harus menghapus apapun dari jadwal hari itu. Suami-suami kami sudah cukup mengerti tentang hal ini. Apa pula ruginya memberikan satu  hari pada istri tercinta saat 29 hari lainnya adalah milik suami, anak-anak dan keluarga? Yah, untuk Sarah dan Martha juga harus membaginya dengan kantor mereka. Ujung-ujungnya untuk keluarga, kan?

Intinya, hari ini adalah hari kami berempat. Kami bebas untuk menjadi diri kami sendiri. Sarah yang seksi repot, Martha yang ambisius, Raisya yang selalu cantik dan aku, Tanti yang pasif.

***

Seperti biasa, Martha akan muncul paling belakang. Aku tidak menyebutnya terlambat karena pertemuan ini memang tidak ketat jadwalnya. Ini adalah pertemuan hati, bukan pertemuan bisnis atau gengsi. Uang atau dresscode bukan persyaratan. Selalu ada Raisya dan Martha yang siap membayar semua tagihan kopi. Meskipun tidak berarti aku dan Sarah memanfaatkan itu. Jika tidak sangat terpaksa, aku pasti membayar tagihanku sendiri. Kami berdualah yang kerap menghadapi masalah keuangan. Sarah adalah karyawati yang harus bekerja pontang-panting sementara aku adalah ibu rumah tangga penuh waktu yang tergantung pada isi dompet suami.

Dari segi ekonomi, Martha dan Raisya ada di kelas yang lebih tinggi dari aku dan Sarah. Namun, karena uang bukan alasan kami berkumpul, maka hal itu tidak pernah menjadi masalah.

Alasan kami memilih kafe juga bukan karena kami adalah ibu-ibu gaul. Kafe dipilih semata karena kami ingin satu hari ini bisa bebas dari rumah dan segala urusan tetek bengeknya. Bukan pula di Ancol atau Taman Mini karena kami ingin mengobrol dan bukan berwisata. Entahlah kalau kapan-kapan kami mengobrol di Dufan sambil naik kora-kora. Tapi, kami belum terpikir mengenai hal itu.

“Aku nggak nyangka kalau suamiku seegois itu,” Sarah membuka percakapan. Wajahnya tampak kesal. Cappucino yang dibelinya diaduk dengan gerakan ala mesin bor, keras dan intens.

“Egois bagaimana?” tanyaku.

“Egois. Mau menang sendiri. Selfish!” ucapnya emosional.

“Kau hanya menyebutkan sinonimnya. Maksudku, apa yang membuatmu bisa bilang begitu?” tanyaku lagi.

“Bayangkan! Dia baru saja menyuruhku untuk menjemput anakku karena ia ingin menonton sepakbola di TV! Padahal ia tahu, hari ini adalah waktuku kumpul sama kalian! Satu-satunya waktu bebasku! Apalagi namanya kalau bukan egois?”

“Terus?” pancingku.

“Ya aku nggak mau! Buktinya aku di sini, kan?” jawabnya ketus. “Atau kalian tidak mau aku ada di sini?”

“Lho? Kok, jadi kami yang diomelin?” protes Raisya.

Sarah tersenyum. Entah pada kami atau karena pada saat yang sama Martha datang dengan sapaannya yang biasa.

“Hai, girls!

Setelah bercium-ciuman pipi sebentar Martha duduk di bangku kosong yang memang disiapkan untuknya, mengeluarkan pemantik, menyalakan sebatang rokok, menghisap dan menghembuskannya. Raisya mengibas-ngibaskan tangan, mengusir asap yang bergerak ke arahnya. Martha segera menjauhkan batang rokoknya, seakan bisa menarik asap itu kembali. Sarah mengaduk-aduk kopinya hingga ada yang sedikit terciprat.

“Kau kenapa?” Martha bertanya heran.

“Biasa… Suaminya bikin dia kesal,” Raisya yang menjawabnya dan segera disambut oleh Sarah.

“Bayangin, Mar… Masak aku disuruhnya membatalkan pertemuan kita ini. Ia ingin aku menjemput anakku karena dia mau nonton bola di TV?” kesalnya belum mereda.

Aku memotong perkataannya, “Lho? Kau tadi tidak mengatakan bahwa suamimu menyuruh membatalkan pertemuan ini.”

“Iya. Sebatas yang aku dengar, suamimu minta tolong untuk menjemput anakmu, kan?” Raisya menambahkan. “Masalah dia ingin kau membatalkan pertemuan ini, itu kan hasil pemikiranmu sendiri.”

“Pemikiranku bagaimana? Dia tahu kalau setiap hari minggu terakhir, aku punya jadwal pertemuan ini. Jadi, menyuruh aku menjemput anakku sama saja dengan memintaku membatalkannya, kan?”

Martha yang sedari tadi diam dan mengutak-atik blackberry justru mengalihkan pembicaraan, “Memangnya anakmu itu ngapain sih? Bukannya ini hari minggu?”

Raisya yang selalu merasa sebagai wanita domestik sejati menjawabnya, “Namanya juga anak jaman sekarang, Mar. Penuh kesibukan. Kita sebagai ibu harus mendukung penuh lah… Ya, mungkin salah satunya dengan… Ehm… mengantar jemput?”

Raisya memperlambat kalimat terakhirnya dan mengubahnya menjadi kalimat tanya. Mungkin, sebenarnya ia tidak sengaja mengucapkannya dan tiba-tiba merasa bahwa kalimat itu akan memojokkan Sarah. Benar saja, sepertinya Sarah menangkap kalimat itu seperti sebuah tuduhan bahwa ia adalah ibu yang tidak mendukung perkembangan anaknya.

“Maksudmu, karena aku tidak mau menjemput anakku jadi aku ibu yang tidak mendukungnya?”

“Bukan itu juga yang aku maksudkan,” Raisya meralat. “Mendukung anak kita kan bukan cuma dengan mengantar jemput saja.”

Martha menambahkah, “Kalau perlu malah suruh mereka pulang sendiri saja supaya mandiri. Itu bentuk dukungan juga, kan?”

“Pokoknya aku tidak mau menjemput anakku. Sekarang giliran suamiku yang harus menjemputnya,” Sarah menegaskan.

Aku tahu, sebenarnya Raisya hendak memprotes tapi ia lebih memilih diam daripada terjadi salah paham lebih jauh. Dari dulu Raisya selalu menganggap Jakarta adalah kota yang beringas dan kejam. Baginya, bukan hal yang bijak membiarkan seorang anak berkeliaran sendiri di tengah belantara Jakarta.

“Ini sebenarnya bukan masalah antar-jemput anak, kan?” aku menyelidik. “Ini kan masalah apakah harus selalu istri yang mengambil tanggung jawab terhadap anak? Apakah saat hari minggu, istri juga yang harus mengurus mereka sementara suami berhak untuk istirahat penuh? Begitu kan maksudmu, Sar?” Aku memastikan.

“Bisa jadi…,” Sarah menjawab lalu menyeruput capucinno-nya. Kami semua diam. Sepertinya, hal ini membuat kami berpikir masing-masing. Sarah melanjutkan, “Aku dan suamiku sama-sama bekerja. Kami paham kesibukan masing-masing. Jadi, di hari kerja kami melakukan bagi tugas yang menurutku sudah berjalan cukup baik.”

“Lantas…?” Martha memancing.

“Lantas, aku merasa kami berdua telah melakukan manajemen keluarga sebaik yang kami mampu. Masalahnya adalah pada saat seperti ini. Kata ‘kami’ mendadak berubah jadi ‘kamu’ bagi suamiku. Ia bisa istirahat begitu saja setelah pulang kantor dan aku harus mengecek pekerjaan rumah anakku. Ia bisa nonton berita sampai puas sementara aku memastikan anakku mengenakan seragam yang tepat esok hari. Ia makan dan aku menyiapkan makan malam…”

Second shift…,” aku menggumam pelan.

“Apa, Tan?” Sarah bertanya.

Second Shift,” ulangku. “Fenomena pada pekerja perempuan yang menghabiskan waktu 8 jam di tempat kerja dan setelah sampai di rumah ternyata ia kembali bekerja mengurus rumah tangga. Konsep ini salah satu yang mendasari asumsi Cherish Kramarae yang bilang kalau perempuan dan laki-laki memandang dunia dengan cara yang berbeda karena pengalaman yang berbeda akibat pembagian kerja…”

“Ini dia kalo orang kebanyakan baca buku. Ribet!” Martha memotong. “Tan, coba jelasin pake bahasa manusia aja, deh….”

“Gini…,” aku mencoba lagi. “Sadar nggak sih kalian kalo selama ini ada pemisahan antara laki-laki dan perempuan? Luar rumah adalah areanya laki-laki dan perempuan ada di dalam rumah. Laki-laki mencari nafkah dan perempuan mengurus rumah tangga.”

“Lho? Bukannya memang sudah seharusnya begitu?” Raisya bertanya. “Aku nggak membayangkan seandainya suamiku yang memasak dan mengurus cucian. Aku hampir yakin, rumahku akan jadi kapal pecah!”

“Itu, kan, karena selama ini kita dibesarkan di dunia yang konstruksinya seperti itu,” lanjutku. “Sejak kecil, kita ditanamkan nilai-nilai yang membedakan laki-laki dan perempuan dalam sebuah sistem kerja. Perempuan main boneka dan laki-laki main mobil-mobilan. Perempuan masak-masakan, laki-laki perang-perangan. Perempuan berdandan, laki-laki berkubang lumpur. Perempuan menangis jika bertengkar dan laki-laki tidak menangis.”

“Apa salahnya?” Raisya bertanya.

“Aku tidak bilang itu salah,” jawabku. “Untuk kita berdua yang jadi ibu rumah tangga penuh waktu mungkin tidak terlalu merasakannya. Tapi, untuk Sarah dan Martha yang juga bekerja akan sangat terasa karena ternyata bekerja di luar tidak begitu saja menghilangkan tugas-tugas domestiknya. Sementara, bagi suami-suami yang telah diringankan kewajibannya sebagai pencari nafkah, tidak menambah tugas domestik mereka. Peran Sarah yang juga sebagai pencari nafkah tidak membuat suaminya merasa perlu mengganti popok, kan? Kalaupun dia turut mengganti popok, hanya sebagai hiburan buat istri. Bukan terdorong oleh keharusan bayi untuk diganti popoknya karena mengompol. Iya, kan?”

“Ehm… Aku juga tidak ingin suamiku sampai mengganti popok bayi juga, sih,” Sarah menambahkan. “Cuma saja, ada saat-saat tertentu dimana aku ingin bisa menikmati diri sendiri. Seperti sekarang ini….”

“Kesetaraan gender, nih? Kayaknya, nggak mungkin, deh, mengubah konstruksi sosial begitu aja,” Martha angkat bicara. “Kalo aku sih, ambil jalan tengah aja. Cari pembantu.”

“Iya! Kamu sih enak ngomongnya. Pendapatan kamu besar. Gimana dengan orang-orang seperti aku, yang setelah dijumlahkan pun gajiku dan suamiku masih pas-pasan? Nggak bisa seenaknya cari pembantu, kan?” pungkas Sarah.

“Aku yakin kalau semua hal seharusnya bisa dibicarakan jalan keluarnya dengan suami,” Raisya menjawab diplomatis. “Mereka akan mengerti kalau kita mau mengajak mereka bicara, kok. Heart-talking…

“Aku setuju dengan heart-talking,” Martha menukas. “Tapi, kita juga nggak bisa lupa. Money talks, darling…

“Bukan maksud kamu kalau pemecahan masalah Sarah adalah uang, kan?” tanyaku. “Aku adalah ibu rumah tangga dan aku juga kerap pusing mengatur keuangan.”

“Ok, mungkin uang bukan pemecah segala masalah. Tapi kita nggak bisa tutup mata kalau dengan uang segalanya bisa terasa lebih ringan. Iya, kan?” Martha menjawab singkat.

Aku tidak heran jika Martha menjawab seperti itu. Ia adalah tipe wanita yang pragmatis. Berbeda dengan Raisya yang seakan selalu memandang semua hal dari sudut pandang ideal, yang benar dan seharusnya. Tapi lagi-lagi dalam sebuah pernikahan, adakah hal yang ideal?

***

Aku dan suamiku sudah kehabisan argumen. Kami membutuhkan uang untuk biaya anak pertamaku mendaftar taman kanak-kanak. Hanya 8 juta rupiah. Sebagian orang mungkin akan mengatakan uang sebesar itu sebagai ‘hanya’. Tapi bagi kami itu adalah jumlah uang yang cukup besar.

“Aku nggak mungkin bisa mendapat uang sebesar itu dalam waktu singkat. Pinjam dari kantor bukan solusi. Bunganya cukup besar untuk bikin kita kesulitan dalam jangka panjang. Jadi, nggak salah, dong, kalau aku cerita sama ibuku. Dan kebetulan dia mau membantu,” suamiku berkata.

“Masalahnya bukan karena kau cerita sama ibumu,” aku membalas. “Tapi, mengapa kita tidak berdiskusi dulu? Ini kan keluarga kita.”

Kadang, aku merasa bahwa suamiku ini terlalu cepat mengambil keputusan untuk bercerita pada ibunya yang notabene adalah ibu mertuaku. Memang, idealnya ibunya adalah ibuku juga. Tapi, sama seperti di banyak keluarga lain, terkadang ada persaingan laten antara seorang istri dengan ibu mertua atas anak laki-lakinya. Di satu pihak dia suamiku, namun di lain pihak dia tetap anaknya. Ini seperti tarik-menarik yang sulit untuk mencapai titik kesetimbangan.

“Kenapa, sih, kau selalu anti pada ibuku?” tiba-tiba suamiku berkata. “Setiap kali ibuku menawarkan bantuan, kau selalu berat hati menerimanya. Seakan ibuku adalah rentenir yang akan menagih bunga.”

Aku kaget mendengar pertanyaanya. Benarkah? Benarkah aku anti pada ibunya? Aku menganggap ibunya sebagai rentenir?

Aku diam sesaat. Bisa jadi ia benar. Sayang aku tidak bisa sepenuhnya jujur pada suamiku. Kadang, aku memang menganggap bahwa ibunya seperti rentenir yang selalu siap menagih utang berikut bunga-bunganya. Bukan berupa uang, melainkan bantuan darinya itu akan membuat ia semakin merasa berkuasa untuk mengendalikan anaknya yang statusnya kini juga  sebagai suamiku. Aku kadang khawatir bahwa bantuannya akan membuat aku semakin tidak berkuasa atas keluargaku sendiri. Tapi, salahkah jika aku merasa begitu? Haruskah aku menyampaikan hal itu pada suamiku?

Aku tidak bisa membayangkan jika suamiku mengetahui jalan pikiranku. Mungkin ia akan marah sejadi-jadinya. Anak mana yang tidak akan marah jika ibunya disamakan dengan rentenir? Hanya anak durhaka, mungkin. Dan aku tahu, suamiku bukan anak durhaka. Dia cinta sekali pada ibunya. Dan, haruskah aku bersaing dengan ibunya?

Aku jadi berkhayal. Seandainya saja dulu aku menolak untuk jadi ibu rumah tangga penuh waktu dan ikut bekerja, mungkin sekarang kami tidak akan sesulit ini. Kami bisa mengeluarkan uang tanpa perlu terlalu lama berpusing-pusing. Ah, tapi bukankah ini sudah kesepakatan sejak awal agar kami bisa memantau perkembangan anak kami?

“Sekarang begini saja,” suamiku melanjutkan. “Aku pikir, menerima bantuan ibuku adalah solusi terbaik saat ini dibanding solusi lain yang resikonya lebih besar. Tapi, kalau kita punya pertimbangan lain, kita masih punya waktu untuk memikirkan hal ini matang-matang. Lebih baik sekarang kita tidur daripada kita berdebat lebih panjang yang tidak ada hasilnya. Bagaimana?”

Aku menghela napas. Sebenarnya aku ingin segera menyelesaikan masalah ini. Aku pernah membaca di sebuah artikel bahwa tidak baik sebuah masalah dalam pernikahan dibiarkan mengambang di tempat tidur. Sebelum tidur harus disepakati solusinya. Ah, lagi-lagi itu, kan, idealnya. Tidak setiap saat kita akan bertemu situasi yang ideal. Jadi, aku mengangguk setuju untuk mengendapkan masalah ini sesaat.

Suamiku segera merebahkan tubuhnya dan memeluk guling. Aku bangkit untuk mematikan lampu kamar saat pintu kamar kami tiba-tiba terbuka. Sebuah kepala kecil melongok ke dalam.

“Kakak? Belum tidur?” tanyaku kaget ketika wajah anakku muncul di pintu.

“Kakak nggak bisa tidur, Ma…,” ia merajuk manja.

“Ya sudah… Ayo, sini…,” suamiku mengajaknya naik ke tempat tidur sambil menepuk-nepuk bantal.

Wajah anakku segera berubah riang. Ia segera berlari dan melompat ke atas tempat tidur kami, langsung menyusup ke bawah selimut. Aku menyusulnya.

Malam sudah semakin larut, jangkrik dan hewan malam bernyanyi-nyanyi di luar. Suamiku bersenandung pelan agar anakku tertidur.

“Ambilkan bulan, bu… Ambilkan bulan, bu… Yang sedang bersinar di langit…”

Anakku berkata dengan terkantuk-kantuk, “Ma, nanti kakak di sekolah nyanyi itu juga ya?”

“Iya…,” jawabku.

“Sama temen-temen?” ia bertanya lagi.

“Iya, sayang…,” jawabku lagi. “Sekarang kakak tidur dulu… Udah malem….”

Tak lama anakku pun jatuh tertidur. Wajahnya tampak tersenyum. Hewan-hewan malam terdengar jelas. Masih kusimak suamiku bersenandung dengan nada yang semakin kacau. Seiring dengan itu, sebuah pikiran masuk ke dalam benakku. Ini sebenarnya bukan masalah uang 8 juta itu. Bukan juga masalah ibu mertuaku. Ini masalah anakku yang sebentar lagi akan bertemu teman-teman barunya di dunia barunya. Makin lama, nada senandung suamiku yang tidak beraturan itu justru terdengar makin merdu. Aku tersenyum. Kutarik tangannya hingga memeluk aku dan juga anakku sekaligus. Lantas aku berbisik.

“Aku setuju denganmu.”

Ia tersenyum. Dan kami bertiga tidur hingga pagi.

***

Kami berempat diam sampai Raisya mengeluarkan kata-kata.

“Kok, rasanya jadi absurd ya jika keharmonisan dan keutuhan keluarga kita akhirnya ada di tangan uang?” Raisya bertanya retorik. “Bukankah seharusnya, keharmonisan keluarga terjadi karena komitmen, saling pengertian, toleransi, team-work dan komunikasi?”

Kami berempat saling berpandang-pandangan. Aku sendiri entah mau merasakan apa. Bingung. Rasanya ingin tertawa karena Raisya seperti sedang membawa dunia dongeng ke dalam kenyataan, namun di saat yang sama juga ingin menangis karena ia benar. Mengapa uang jadi memainkan peran besar di sini? Seperti latar belakang panggung, tanpanya para pemeran seperti bermain drama di awang-awang. Sepertinya hanya uang yang nyata. Lalu, dimana nilai-nilai keluarga? Kami berempat diam lagi. Seperti berdiri di ujung jalan buntu meski rasanya aku sudah tahu apa jawabannya.

Tiba-tiba HP Sarah berbunyi memecah kebuntuan.

“Hah?! Anakku…,” Sarah berkata panik saat memandang layar. Ia segera mengangkatnya. “Halo?! Lho? Kamu belum dijemput Papa? Ya udah, tunggu sebentar. Mama kesana sekarang…,” Sarah menutup telpon. “Aku jemput anakku dulu. Papanya lupa, kayaknya.” Sarah hendak meletakkan uang tagihan kopinya namun ditahan oleh Raisya.

My treat…,” Raisya berkata.

“Nggak usah, darl…,” Sarah berkata sambil tersenyum. “Kamu benar. Keharmonisan keluarga bukan terletak di tangan uang. Tapi, pada toleransi dan saling pengertian. Karena tujuan dari semua ini adalah anak-anak kita. Iya, kan?”

Kami berempat berdiri. Saling berpelukan. Sarah pergi terburu-buru. Rasanya ada suara gemuruh tepuk tangan di telingaku.

“Katanya dia nggak mau jemput anaknya? Bukannya ia ingin suaminya yang menjemput? Kok, dia mendadak berubah pikiran?” Martha bertanya heran.

“Ah, kau terlalu pragmatis,” ucapku singkat sambil tersenyum karena aku tahu apa yang mendadak masuk ke dalam benak Sarah.

Entah siapapun pemeran di atas panggung ini, jika kami, para ibu adalah juri, maka pemenangnya hanya satu. Anak-anak kami. Itu yang aku bawa pulang hari ini untuk kutulis di blog-ku nanti malam. And the award goes to… the children! Sekali lagi terdengar tepuk tangan gemuruh di telingaku.

Jakarta, 23/8/10
http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

*gambar diambil dari http://www.frankfordonline.com

** Ide tentang Second-shift sebelumnyanya dibicarakan oleh Arlie Hochschild pada tahun 1989, menjadi salah satu konsep yang memperkuat Muted Group Theory yang diajukan oleh Cherish Kramarae. Cherish Kramarae adalah Profesor untuk bidang sosiolinguistik di University of Illinois, Urbana-Champaign. Dipandang sebagai salah satu tokoh feminis paling terkemuka. Melalui teori tersebut, Kramarae menyampaikan bahwa kalangan minoritas, termasuk wanita, terjebak dalam dunia dimana bahasa menjadi dominasi kaum laki-laki dan mayoritas. Hal itu seringkali membuat kalangan minoritas tidak terbahasakan. Untuk itu Kramarae sangat aktif membahasakan dunia kaum wanita, salah satunya melalui Routledge International Encyclopedia of Women: Global Women’s Issues and Knowledge.

6 Comments

  1. saya nggak suka didomonasi laki-laki, apapun alasannya! jadi istri atau ibu bukan alasan pembenaran “second shift”. ampun deh Mas, tingkat kepercayaan sama laki-laki hampir di ujung kuku. mulai ragu sama konsep pernikahan-suami-keluarga.

    • hehehehe…. gue nggak bisa komentar, itu kan pilihan setiap orang… pada dasarnya, sesuatu jadi baik atau buruk karena orang2 yang jalanin itu…. Seperti kata George Berkeley (filsuf) Esse ist Percipi alias Kebenaran adalah Persepsi. Positif atau negatif tergantung bagaimana cara ngeliatnya…. hehehe…

      • yupie setuju..

      • Thank you…. Salam kenal….🙂

  2. nyatanya mau sehebat apapun perempuan tiu di luar rumah, sesibuk apaun dia dengan kegiatannya tp namanya sudah punya suami apalagi punya anak, itu adalah yg terpenting, semuanya pasti balik lagi kekeluarga. itu cuma masalah apakah sii perempuan bisa membagi waktunya, suaminya juga msti di ajak untuk mengurus anak & rumah, kebanyakan laki2 gengsi sih. klo di suruh ikut campur di kegiatan rumah.

    ada beberapa hal laki2 jadi terlihat lebih egois klo bersangkutan dengan kesukaannya, kaya nonton bola.
    maaf para laki2🙂

    • Setuju, Endah…🙂


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...