Butuhkah Alasan Untuk Mencintai?

Jika saya diajukan pertanyaan di atas, mungkin saya akan diam sesaat, mencoba berpikir dan sepertinya saya akan menjawab singkat, “Saya tidak tahu”. Saya memang tidak tahu. Saya tidak tahu dengan pasti apakah kita butuh suatu alasan untuk tetap mencintai sesuatu atau seseorang. Memang benar bahwa pasti ada sesuatu yang menyebabkan kita mencintai sesuatu atau seseorang. Tapi samakah penyebab dengan alasan tetap mencintai?

Misalnya begini, saya baru saja bertemu dengan seseorang. Orang itu sangat ramah dan mudah diajak berbicara. Saya jadi sering bertemu dengan orang itu. Saya mengobrol ini-itu dengan dia. Berbagi pikiran dengannya. Tertawa untuk lelucon yang dilontarkannya. Ikut sedih mendengar keluhannya. Begitu pun dia. Jika diibaratkan radio HT, frekuensi saya dan dia nyambung. Dengan intensnya keakraban yang terjadi, entah bagaimana mekanismenya tiba-tiba saya mencintai orang itu.

Tiba-tiba? Benarkah cinta bisa terjadi secara tiba-tiba? Apa yang menyebabkannya? Apakah penyebab itu adalah alasan saya mencintai dia?

Ini adalah hal cukup membingungkan. Tidak cukup untuk dijelaskan oleh cinta-datang-karena-terbiasa. Saya pernah berteman dekat dengan berbagai tipe orang dengan tingkat kedekatan yang berbeda-beda. Tidak terlalu dekat sampai sangat dekat. Namun hanya 1-2 orang saja yang kemudian masuk begitu dalam ke pikiran atau perasaan saya. Apa yang membedakan 1-2 orang itu?

Apakah saya menghabiskan waktu lebih banyak bersama orang itu? Tidak juga. Saya juga sering menghabiskan waktu yang bahkan lebih banyak lagi dengan orang lain tanpa pernah jatuh cinta padanya. Apakah karena dia lebih menarik secara fisik? Tidak juga. Banyak orang yang relatif lebih menarik secara fisik dibanding dia. Dia kaya? Kalau begitu saya mencintai uangnya? Saya rasa tidak. Ok, jika sesuatu yang material dan fisik dianggap terlalu dangkal untuk dijadikan alasan, kita berpindah ke faktor non-fisik.

Dia memang pintar. Inikah? Tidak juga. Saya dekat dengan banyak orang yang saya kagumi kecerdasannya tapi tidak sedikitpun membuat saya jatuh cinta. Atau karena dia enak diajak ngobrol? Bisa jadi, tapi itu bukan alasannya. Itu adalah penyebab saya menyukai dia.

Ok. Begini. Sebelumnya perlu dibedakan dulu apa yang saya maksud dengan penyebab dan alasan. Penyebab yang saya maksud adalah suatu atribut, sifat dan atau perilaku tertentu yang mendorong terjadinya ketertarikan. Misalnya, ya, seperti enak diajak ngobrol, ramah, ganteng atau cantik, kaya, dan sebagainya. Penyebab ini, bisa sesuatu yang ada di dalam (sifat baik, cerdas, dsb) atau di luar orang itu (penampilan, harta, pergaulan, dsb). Ini semua adalah penyebab. Jatuh cinta adalah akibat.

Seperti layaknya hubungan sebab-akibat, secara kronologis sebab akan selalu mendahului akibat. (Mengenai pemahaman hubungan sebab-akibat dan apa yang terlihat lebih dulu, adalah hal berbeda. Misalnya, kita melihat asap. Wah, berarti ada api. Dalam cerita ini akibat yaitu asap terlihat lebih dulu dibandingkan sebabnya yaitu api. Asap menimbulkan pemahaman terhadap api.  Karena kita melihat akibat, kita jadi tahu ada yang menyebabkannya. Namun, secara kronologis, akibat selalu diawali oleh sebab. Tetap saja, api yang menimbulkan asap dan bukan asap yang menimbulkan api. Secara hakiki, penyebab mendorong munculnya akibat).

Meskipun sebab dan akibat memiliki hubungan, namun keduanya adalah entitas-entitas tersendiri. Artinya, bisa saja, penyebabnya sudah hilang dan akibatnya masih ada, dan atau sebaliknya. Sebabnya masih ada dan akibatnya sudah tidak lagi bisa diamati.

Mengapa saya menggolongkan sifat dan perilaku di atas sebagai penyebab? Perhatikan dulu ilustrasi berikut yang hanya adaptasi dari suatu obrolan yang pernah saya alami. Saya mengobrol dengan teman perempuan yang mengeluhkan hubungannya dengan pacarnya.

Teman: Dia berubah! Dia nggak kayak dulu lagi!

Saya: Elu keberatan?

Teman: Gue lebih suka dia yang dulu…

Saya: Memangnya alasan elu jatuh cinta sama dia apa?

Teman: Dia itu baik banget. Itu alasannya gue jatuh cinta sama dia.

Saya: Sekarang dia nggak baik?

Teman: Dia udah nggak kayak dulu.

Saya: Berarti elu udah nggak cinta lagi dong ama dia…

Teman: Gue masih cinta sama dia.

Saya: Lho? Elu gimana sih? Alasan elu jatuh cinta sama dia, kan, karena dia baik. Sekarang dia udah nggak baik kayak dulu. Jadi, elu udah nggak punya alasan untuk cinta sama dia, dong… Iya, kan?

Teman: ???

Saya rasa ilustrasi di atas cukup menggambarkan kerancuan antara penyebab dan alasan seseorang mencintai sesuatu, bahkan pada orang yang sedang mengalami pengalaman mencintai. Hal yang juga bisa menjelaskan mengapa seorang yang kerap merasa disakiti tetap mencintai orang yang menyakitinya. Sederhana tapi rumit. Penyebab seseorang mencintai sesuatu atau orang lain memang berbeda dengan alasan mengapa ia mencintai sesuatu atau orang lain itu.

Berhubung sebab dan akibat adalah entitas-entitas yang mandiri maka bisa saja akibatnya ada meskipun penyebabnya sudah hilang. Sekalipun berhubungan, api bukanlah asap dan begitu pula sebaliknya. Dalam tulisan ini, orang tetap mengalami akibat (mencintai sesuatu) sekalipun penyebabnya (atribut-atribut seperti dia orangnya baik, ramah, kaya, dsb) sudah hilang. Seperti seorang istri yang tetap mencintai suaminya yang sudah meninggal. Seperti api yang sudah mati namun tetap meninggalkan asap.

Saya setuju bahwa atribut, sifat atau perilaku tertentulah yang menyebabkan kita tertarik atau menyukai sesuatu. Tapi, mencintai adalah proses yang berbeda. Mencintai adalah proses-proses bawah sadar yang dialami seseorang untuk menyusun alasan-alasan yang kerapkali tidak disadari sehingga kita mengikatkan emosi dan perasaan pada sesuatu yang menjadi objek cinta. Karena emosi mempengaruhi kognisi, bisa disimpulkan juga bahwa cinta memberikan orientasi pada perilaku.

Dari ketiga komponen sikap ( kognisi, afeksi dan konasi), Konasi atau perilaku tampak adalah hal yang paling mudah dikendalikan. Sama seperti anak SD yang tetap mengerjakan PR meskipun ia tidak menyukainya dan tidak mengerti tentang apa yang dikerjakannya.

Maka, pada saat seseorang memilih untuk tetap disakiti oleh orang yang dicintainya, permasalahannya bukan terletak pada perasaan cinta itu sendiri. Melainkan, karena orang itu memilih tetap membiarkan orang yang ia cintai untuk menyakiti dirinya. Mengapa? Karena ia masih punya alasan untuk membiarkan hal itu tetap terjadi. Padahal, banyak jenis perilaku lain yang bisa dilakukan. Misalnya, membicarakannya, mengubah sikap sendiri untuk mengubah sikap orang lain, meminta bantuan pihak ketiga, mengadukannya pada pihak berwajib (untuk kasus kekerasan), atau tinggalkan saja.

Sejauh ini, saya jadi menyimpulkan bahwa tidak butuh alasan untuk mencintai karena sebenarnya cintalah yang akan memberikan alasan.

Mencintai butuh alasan. Begitu pula hidup. Apa alasan dari hidup anda sekarang? Apakah alasan anda untuk mencintai bisa mengalahkan alasan anda untuk hidup?

Menurut saya, mekanisme mencintai identik dengan mekanisme hidup. Menjalani hidup adalah serangkaian konstruksi alasan untuk tetap mengisi kehidupan. Saya hampir yakin 100%, jika kita memiliki alasan yang cukup kuat untuk menjawab tantangan hidup, maka kita juga akan memiliki energi yang kuat untuk bertahan. Seperti orang yang menjadi kuat karena mencintai. Cinta pada hidup dan diri sendiri. Siapa lagi yang bisa mencintai anda setulus diri anda sendiri, orangtua dan Tuhan? Karena, bisa jadi, orang lain hanya mencintai atribut-atribut yang melekat pada diri anda. Semoga saja tidak… Jadi, beruntunglah orang-orang mencintai dan dicintai secara tulus. Bersyukurlah, karena bisa jadi anda adalah orangnya.

Jakarta, 7/8/10
http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

* gambar saya ambil dari http://enpez.wordpress.com

2 Comments

  1. […] Atau ada juga yang beranggapan cinta tidak butuh alasan. Lihat disini. […]

    • Makasih…😀 Tapi, yang saya maksud adalah kita tidak perlu pusing2 membuat2 alasan kenapa kita mencintai sesuatu. Tanpa perlu membuat2, alasannya akan muncul sendiri.

      Tulisan ini hanya untuk membedakan antara SEBAB mencintai dengan ALASAN mencintai….

      Anyway… Makasih banget ya…😀


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...