Cerita Angkot Tengah Malam

Ada saatnya saya sebal setengah mati pada sopir angkutan umum hingga rasanya ada harapan aduh-kapan-sih-lalu-lintas ini-bisa-bersih-dari-angkot. Namun ternyata ada saatnya juga saya merasa simpati (atau iba?) pada mereka hingga kalau dipikirkan lebih lanjut bisa bikin saya sedih. Kalau anda pengguna kendaraan umum yang beroperasi tengah malam, mungkin anda akan merasakan apa yang saya rasakan.

Saya adalah pengguna angkot tengah malam. Saya cukup sering pulang ke rumah sangat larut atau bahkan lewat jam 12 malam. Hanya cinderella saja yang pulang tepat jam 12 malam. Istilahnya ‘banci aja pulang pagi’. Itulah mengapa cinderella adalah seorang putri cantik. Kalau cinderella pulang pagi, berarti cinderella adalah banci cantik. Iya, kan? Atau banci cantik yang pulang pagi adalah cinderella? Sudahlah…

Untunglah, sejauh ini, saya tidak pernah merasa kalau diri saya banci apalagi sampai merasa jadi cinderella, meskipun saya sering pulang lewat tengah malam bahkan hampir mendekati pagi. Yang jelas tidak semudah itu pulang pagi buta dengan menggunakan angkutan umum. Saya tidak punya Ibu Peri yang bisa menyulap labu jadi kereta kuda dan tikus jadi kudanya. Saya harus menunggu kendaraan umum yang jika sudah lewat tengah malam jumlahnya sangat terbatas. Pilihan saya hanya taksi, ojek (jika keduanya tergolong kendaraan umum) dan mikrolet yang setelah jam 10 malam berubah nama menjadi angkot setan!

Pilihan saya biasanya jatuh pada angkot setan tadi. Pertimbangannya hanya satu dan memang satu-satunya. Murah! Jangan bicara soal nyaman. Mana ada sih kendaraan umum di Indonesia yang nyaman? Kalau sedang mencari nyaman dan dilengkapi dengan faktor pendukung lain (apalagi kalau bukan uang!) taksi bisa jadi pilihan. Dan biasanya, saya memilih taksi kalau saya sedang tidak mood, hal yang cukup sering terjadi. Bus kota yang beroperasi hingga tengah malam sebetulnya ada, namun kebetulan tidak melewati jalur saya pulang.

Sekilas tentang angkot setan tadi. Nama itu hanya sebutan karena angkot setan hanya beroperasi di atas jam 10 malam hingga mendekati pagi. Sama seperti jam operasi kuntilanak, genderuwo, suster ngesot, babi ngepet dan jenis-jenis setan lainnya. Hanya satu setan yang beroperasi siang-siang. Rawon Setan! Itupun setelah diwaralabakan. Saya pernah pulang jam 4 pagi dan angkot tersebut masih beroperasi. Jadi, nama angkot setan itu tidak berhubungan dengan dunia mistis dan saudara-saudaranya. Saya berani jamin kalau tidak ada sedikitpun hubungan persaudaraan antara angkot setan dengan kereta setan manggarai atau setan lainnya, apalagi dengan Setan Kredit. Angkot itu muncul semata-mata karena ada sebagian kecil orang yang menganggap bahwa rejeki Tuhan bisa dicari dimanapun dan kapanpun, meskipun lewat tengah malam. Dan dari orang-orang seperti sayalah (dan yang sering pulang pagi naik kendaraan umum) mereka mencoba mengais sisa-sisa rejeki yang ada. Karena ternyata ada sejumlah permintaan terhadap jasa angkot tengah malam di jalur saya biasa pulang.

Entah hukum ekonomi mana yang berlaku. Yang jelas, di mana ada permintaan, di situ ada penawaran (hukum ekonomi lanjutan yang saya karang-karang sendiri saja adalah jangan menawarkan apa yang tidak diminta, apalagi meminta-minta yang tidak ditawarkan). Jakarta tidak pernah kehabisan kendaran umum. Jadi, sebenarnya anda tidak perlu terlalu takut pulang larut malam jika kendalanya hanya masalah kendaraan umum, kendaraan umum selalu ada. Yang perlu anda takutkan adalah jika ternyata dari sekian kendaraan umum yang ada, tidak satupun melewati jalur anda pulang. Dari sudut pandang teori ekonomi, penjelasannya ya cukup sederhana saja. Artinya, jumlah permintaan yang ada tidak cukup signifikan untuk menimbulkan penawaran. Dari sudut pandang Ilmu Penjaskes, artinya anda harus pulang naik taksi atau jalan kaki saja, hitung-hitung sekalian olahraga.

Dari pengalaman saya, jalur angkot yang berakhir di Terminal Senen hampir pasti masih tersedia untuk trayek tengah malam. Antara lain Ciledug-Blok M-Senen, Pulogadung-Senen dan Kampung Melayu-Senen. Trayek lainnya saya kurang paham meski bukan berarti tidak ada. Hal ini adalah imbas dari aktifitas Pasar Senen yang memang tidak pernah mati. Lewat tengah malam, para pebisnis kue subuh dan sayur-mayur bertemu konsumen mereka dan cukup banyak yang membutuhkan jasa angkot setan. Jadi, angkot setan takkan pernah mati atau hilang selama kue subuh masih ada. Bulan puasa ini setan mungkin saja dikerangkeng di neraka, tapi tidak dengan angkot setan. Angkot setan akan tetap beroperasi.

Apakah aman? Jika ada yang bertanya pada saya, “Elu nggak takut pulang malem buta begitu?”, saya agak bingung menjawabnya. Sebab, saya merasakan apa yang disebut oleh Spiral Of Silence Theory sebagai dual climates of opinion. Richard West dan Lynn H. Turner mengatakan dalam Introducing Communication Theory bahwa dual climates of opinion often exist – that is, a climate that the population perceives directly and the climate the media report. Maksudnya, saya merasakan iklim yang berbeda dengan apa yang diceritakan oleh TV dan media lainnya.

Memang benar, bahwa saya agak sedikit merasa tegang saat berdiri sendirian menunggu angkot di Senen. Namun, di saat yang sama, saya juga belum pernah sekalipun melihat sendiri sebuah kejahatan terjadi di depan muka saya selain melalui layar TV. Bukan maksud saya bahwa kalau saya tidak melihatnya berarti tidak ada kejahatan. Tapi, kondisi di lapangan tidaklah setegang apa yang ditayangkan TV. Justru, kita jadi semakin merasa tegang dengan situasi karena terkena terpaan tayangan TV yang mengabarkan bahwa Jakarta memang serawan itu dan kejahatan terjadi setiap detik.

Saya pernah iseng-iseng bikin survey kecil-kecilan. Saya bertanya pada belasan orang teman-teman saya secara tidak bersamaan. Berhubung ini iseng-iseng, mereka yang saya tanya-tanyai tidak sadar bahwa mereka sedang saya survey. Pertanyaan pertama adalah apakah mereka khawatir terhadap kejahatan di Jakarta. Dan pertanyaan kedua adalah apakah mereka pernah benar-benar melihat atau mengalami kejahatan yang mereka takutkan itu dalam 3 bulan terakhir. Untuk pertanyaan pertama, rata-rata merasa bahwa bahwa kejahatan di Jakarta memang mengkhawatirkan. Namun, hampir 100% tidak pernah melihat atau merasakan sendiri kejahatan yang mereka khawatirkan itu. Mereka sebagian besar mengetahui informasi tentang kejahatan di Jakarta dari tayangan televisi.

Sebagai catatan, survey itu hanya iseng-iseng saya belaka, jadi hasilnya sama sekali tidak valid dan tidak reliabel karena tidak mengikuti kaidah-kaidah penelitian ilmiah yang seharusnya. Untuk membuatnya menjadi valid dan reliabel diperlukan sebuah survey serius yaitu penelitian yang sesuai dengan logika saintifika, memakai konsep-konsep yang jelas, menggunakan metodologi yang tepat dan sampel penelitian yang representatif untuk mewakili populasi penduduk Jakarta sehingga hasilnya dapat digeneralisasi dan memenuhi kaidah-kaidah ilmu.

Kembali ke pertanyaan apakah saya takut untuk pulang lewat tengah malam. Jawaban saya adalah tidak, tapi itu bukan berarti bahwa saya bersikap lengah dan kurang hati-hati. Sekalipun saya tidak merasa khawatir, tetap saya menjaga diri agar tidak lewat di tempat-tempat gelap dan terlalu sepi saat malam hari. Seperti kata pepatah “trust in God but lock your car”. Katanya, Jakarta adalah kota yang rawan dan kawasan Senen adalah salah satu wilayah yang, katanya lagi, paling rawan. Tapi, alhamdulillah, berkat lindungan Tuhan YME, sejauh ini saya selalu sampai di rumah dengan kondisi sehat walafiat. Pada siapa lagi kita bisa berdoa selain pada Tuhan. Iya, kan?

Karena ternyata, terkadang, aparat yang seharusnya bersikap melindungi, justru menjadi teroris kecil untuk sebagian orang. Semboyan To Serve and Protect kadang cuma jadi retorika belaka. Sebagai orang yang sangat sering pulang malam, saya kerap melihat hal-hal seperti itu di depan muka saya. Inilah yang membuat saya jadi bersikap apatis terhadap pemberitaan, kampanye PR dan Iklan di TV tentang peningkatan kinerja lembaga yang pastinya anda sudah tahu itu.

Bayangkan, malam yang sepi sehabis hujan. Sopir-sopir angkot setan mencoba keluar untuk mengais rejeki dari orang-orang yang terpaksa harus pulang lebih malam karena menunggu hujan berhenti. Sekalipun ada, namun ada pasti tahu bahwa penumpang angkot di malam hari buta tidak akan pernah seramai penumpang di siang hari. Jika situasi benar-benar sedang sepi, saya pernah berada dalam angkot sendirian sejak naik hingga saya sampai tujuan. Jika saya membayar 5000 rupiah, artinya sopir angkot itu hanya mendapat sejumlah itu. Menurut siaran pers dari Kementrian ESDM (No:15/HUMAS KESDM/2010, Tanggal: 12  Maret 2010), harga bensin premium untuk Transportasi dan Pelayanan Umum adalah Rp.4.500/liter. Apakah cukup bensin 1 liter untuk menempuh jarak dari Ciledug – Blok M – Senen? Jadi, anda bisa memahami bahwa jumlah uang yang mereka dapat tidak akan sebanyak itu.

Memahami hal seperti itu saja cukup membuat saya sedih. Belum lagi melihat apa yang terjadi setiap malam. Di titik-titik tertentu, sopir-sopir angkot setan itu dihentikan oleh sejumlah oknum (saya benci penggunaan kata ‘oknum’ dalam konteks kalimat ini! Di bagian akhir tulisan ini anda akan tahu alasannya) berseragam lengkap dengan mobil patroli dan perlengkapan lainnya. Sopir-sopir itu dimintai sejumlah uang dengan cara yang kadang-kadang tidak mengenakkan. Pernah suatu ketika terjadi seorang sopir angkot setan memohon agar tidak dimintai uang karena saya adalah satu-satunya orang yang naik angkot itu sejak awal hingga tujuan saya di terminal Senen. Jadi, uangnya tidak akan cukup untuk menutupi biaya bensin apalagi untuk dimintai pungli seperti itu (apakah ini benar pungli atau merupakan retribusi yang legal perlu dicari tahu lebih lanjut). Apa yang terjadi selanjutnya? Petugas itu menggebrak setir mobil tanpa berkata apapun dan sopir angkot itu terpaksa memberikan sejumlah uang sekalipun saya tahu dia tidak rela.

Dari pengamatan saya, fenomena seperti ini sudah berlangsung lama. Sepanjang saya pernah naik angkot setan, hampir selalu saya melihat kejadian seperti ini. Dan sepertinya, sudah terbangun pengertian antara sopir angkot setan dengan aparat semodel itu. Obrolan antara keduanya saat kejadian berlangsung jarang saya temukan. Umumnya, tidak pernah ada pembicaraan. Aparat pura-pura menyeberang jalan, angkot setan berhenti, aparat mendekat ke bilik sopir lalu sopir menyerahkan sejumlah uang yang sampai saat ini saya tidak tahu jumlahnya dengan gaya seperti bersalaman.

Ini juga yang terkadang bikin saya sebal. Mereka pikir saya akan percaya bahwa mereka benar-benar bersalaman? Saya tahu itu bukan malam lebaran yang memang perlu bersalam-salaman. Kok, rasanya jadi benar, ya, pendapat Mochtar Lubis dalam buku Manusia Indonesia sebuah Pertanggung Jawaban? Beliau mengatakan bahwa salah satu ciri utama orang Indonesia adalah hipokrit alias munafik. Ya, seperti aparat tadi, ingin duit mudah dengan cara melakukan pemerasan tapi tidak mau kelihatan buruk. Memangnya, dia pikir dia tidak terlihat buruk dengan bersikap seperti itu? Hal-hal seperti inilah yang kemudian menjadi rahasia umum. Bahkan sepertinya semua orang sudah maklum dengan kondisi-kondisi seperti ini dan bahkan mewajarkannya. Salah siapa? Perlukah mencari siapa yang salah? Bukankah saya juga salah karena membiarkan hal tu terjadi di depan hidung saya sendiri?

Jujur, kadang saya jadi bingung sendiri karena hal-hal seperti ini sudah sangat mengakar bahkan ke dalam kehidupan rakyat kecil seperti sopir-sopir angkot setan itu. Tidak jelas lagi ujung pangkalnya dan mau dibereskan darimana. Saya pun meragukan bahwa memang ada niat untuk membereskannya.

Di luar semuanya, banyak hal yang saya dapat dari perjalanan di malam hari seperti itu. Selalu ada yang bisa dipelajari. Selalu ada sesuatu yang baru untuk jadi teman saya bermimpi kala tidur setelahnya. Bermimpi bahwa semuanya akan lebih baik lagi. Amin.

Jakarta, 5/8/10

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

*gambar saya ambil dari http://niscayasegera.blogspot.com

* Setan Kredit adalah Film yang dibintangi oleh Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro). Diproduksi tahun 1981 dan disutradarai oleh Iksan Lahardi
** Spiral Of Silence Theory adalah teori yang diajukan oleh Elisabeth Noelle-Neumann pada tahun 1991. Merupakan teori kritis terhadap media. Bahwa media menekan pendapat-pendapat minoritas dengan membentuk opini mayoritas sehingga opini-opini minoritas menjadi silent (diam).
*** Oknum adalah kata yang pada awalnya digunakan oleh gereja Katolik untuk menunjuk Tuhan dalam diri Bapa, Putra dan Roh Kudus sebagai pribadi-pribadi. Jadi, sebenarnya, kata ini bisa dikatakan suci dan hanya digunakan dalam lingkup gereja. Jadi, menurut saya, terjadi pergeseran yang cukup signifikan dalam pemaknaan dan penggunaannya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ‘oknum’ adalah nomina (kata benda) yang memiliki 3 definisi yaitu :1. penyebut diri Tuhan dalam agama Katolik; pribadi: kesatuan antara Bapak, Anak, dan Roh Kudus sbg tiga — keesaan Tuhan; 2. orang seorang; perseorangan; 3. orang atau anasir (dengan arti yang kurang baik). Tidak dijelaskan darimana kata ini berakar, yang jelas bukan bahasa Arab atau Inggris. Sangat disayangkan kata ini tertempeli oleh makna negatif padahal berakar dari sebuah pemaknaan yang suci.
**** Buku Manusia Indonesia, Sebuah Pertanggungjawaban adalah sebuah pidato kebudayaan yang ditulis dan disampaikan oleh Mochtar Lubis pada tanggal 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Sempat menimbulkan kontroversi sebelum kemudian dibukukan.

1 Comment

  1. […] Cerita Angkot Tengah Malam […]


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...