Fenomena Baliho Film Indonesia

Saya sekarang suka bingung sendiri jika lewat bilangan Senen, Jakarta Pusat. Bukan cuma karena hampir setiap hari lalu lintasnya cukup padat hingga bisa membuat kepala pening. Bukan pula karena tingkah polah sopir angkutan umum yang sering seenaknya sampai bisa bikin darah tinggi. Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta, saya sudah terlalu terbiasa dengan hal-hal itu. Melainkan, saya terheran-heran dengan baliho film besar-besar yang sengaja dipasang di sana. Berbagai judul film terpampang di atas baliho-baliho itu. Kalau anda lewat wilayah itu, saya hampir bisa memastikan bahwa minimal mata anda akan tersedot beberapa detik menuju gambar-gambar itu. Entah apa respon anda, tapi gambar-gambar itu cukup untuk membuat alis saya mengernyit.

Dari pengamatan saya, ada 2 jenis baliho film yang bisa dilihat di sana. Pertama, baliho kain yang terpasang layaknya di bioskop Indonesia lainnya. Lokasi itu memang sebuah bioskop tua yang sepertinya memutarkan film bergenre ayo-datang-kemari-karena-toh-anda-tidak-berniat-menonton-film-kan?. Biasanya film yang dipromosikan adalah film asing (barat dan asia) yang masuk dalam kategori ‘basi’ alias sudah tidak diputar di jaringan bioskop Indonesia terkemuka. Jadi jangan heran jika kainnya sering tampak agak lusuh atau sobek-sobek yang membuat Tom Cruise jadi mirip Maradona. Tapi, kalau anda ingin bernostalgia dengan menonton film lama, bioskop itu bisa jadi pilihan. Saya rasa, Titanic masih menunggu jadwal premiernya di sana. Maaf, ini bukan saran atau petunjuk yang harus diikuti. Ini cuma untuk menunjukkan bioskop tadi bermain di era tahun berapa.

Saya sendiri tidak tahu benar apakah memang ada pemutaran film di dalam tempat itu karena sungguh tidak meyakinkan jika ada orang yang mau datang ke sana dengan tujuan menonton film. Tempat itu, menurut saya, lebih mirip lokasi perdagangan narkoba dan video porno. Mohon koreksi jika saya salah.

Yang kedua adalah baliho kayu yang biasanya dibuat dengan cara dilukis di atas potongan-potongan triplek dan disusun besar-besar. Ada beberapa yang dilukis dengan bagus, namun sebagian lagi seperti dibuat asal-asalan. Soalnya, sering saya melihat artis cewek ABG cantik luar biasa yang kerap wara-wiri di infotainment mendadak jadi mirip waria jika wajahnya nongol di salah satu baliho itu. Maaf sekali lagi, bukan maksud saya untuk mendiskreditkan kaum waria atau mengatakan bahwa semua artis ABG ada kemiripan dengan waria atau sebaliknya. Bukan juga mengatakan bahwa pembuat baliho itu kurang ahli atau tergila-gila pada waria sehingga semua artis ABG dibuat mirip waria. Saya hanya mencoba mengungkapkan bahwa kekurangtepatan visualisasi bisa menyebabkan pergeseran persepsi.

Mengapa ini menjadi penting? Karena seperti yang diungkapkan oleh Rhenald Kasali dalam buku Manajemen Public Relations, bahwa karya-karya yang dipublikasikan (iklan, dsb) merupakan elemen pembentuk kepribadian perusahaan. Kepribadian itulah yang kemudian dilihat dan dinilai oleh publik. Jika ditarik lebih jauh, terdapat citra industri film Indonesia yang terakumulasi dari kesan-kesan yang diambil dari berbagai sumber, dimana salah satunya adalah baliho-baliho itu. Karena baliho yang ada di sana, biasanya digunakan untuk mempromosikan film-film Indonesia yang baru dan akan dirilis.

Untuk jenis yang pertama saya tidak akan banyak membahas karena saya sendiri tidak pernah masuk ke bioskop itu (saya terlalu takut untuk masuk sekalipun saya sebenarnya penasaran dengan isi di dalamnya) apalagi sampai menonton film di sana. Tapi, baliho-baliho film dari jenis kedua cukup menarik perhatian saya. Pertama, jelas, karena ukurannya yang besar. Kedua, karena gambar-gambarnya yang dibuat sedemikian rupa sehingga menarik perhatian. Ketiga, sebagian besar baliho film Indonesia yang dipampang di sana memberi kesan bahwa filmnya bergenre horror, seks dan kekerasan selain ada juga film komedi (yang biasanya juga berbau seks atau horor).

Lihat saja komponen desain Balihonya. Tidak jauh dari makhluk gaib rekaan, bagian tertentu tubuh wanita (tentunya, anda cukup paham bagian tubuh yang mana) dan ceceran darah. Lengkap dengan judul dan tagline mendukung yang ditulis dengan huruf bombastis. Tema lainnya jarang sekali muncul. Dan seperti anda tahu, seks dan mistik adalah topik yang menarik bagi sebagian besar orang Indonesia. Toh, saya masih orang Indonesia.

Dalam Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, baliho atau yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai billboard didefinisikan sebagai “a very large board on which advertisements are shown, especially at the side of a road”. Kalau di dunia iklan, baliho tergolong media below-the-line (BTL) alias media lini bawah yang daya paparnya sulit diukur, berbeda dengan TV atau majalah yang memiliki parameter ukuran yang jelas yang tergolong media lini atas alias above-the-line (ATL). Ini tidak berarti bahwa media BTL kurang efektif. Efektifitas media bukan hanya tergantung pada metode pengukurannya saja, melainkan juga tergantung pada konteks masyarakat tempat suatu media berada. Misalnya, para petani tentu akan lebih ngeh jika suatu informasi disampaikan secara langsung lewat penyuluhan dibanding diberikan buku-buku pertanian yang hanya membuat bingung. Begitupun dengan baliho-baliho tadi yang masih dianggap sarana efektif untuk memperkenalkan pada publik tentang sebuah film baru. Syukur-syukur jika ada yang tertarik menontonnya atau mengingatkan mereka akan suatu judul yang dipredikati a-must-seen-movie.

Saya tidak akan mengomentari film-nya, karena hanya sedikit sekali dari film-film yang balihonya terpampang di sana yang akhirnya benar-benar saya tonton. Jadi, saya tidak tahu persis isinya. Saya bukan pengamat film yang wajib menonton semua film untuk meluaskan wawasan. Singkatnya, latar belakang saya membuat saya tidak tertarik untuk menonton sebagian besar film-film yang dipromosikan oleh baliho-baliho itu.

Tapi, dengan melihat balihonya saja, sebenarnya kita bisa menduga seperti apa filmnya. Eit, nanti dulu. Jangan terburu-buru menilai. Karena dalam pengamatan saya, paling tidak ada 2 sudut pandang yang mungkin mempengaruhi desain-desain baliho itu. Pertama, memang benar bahwa isi film berusaha dicerminkan melalui baliho-baliho itu. Jadi, harus terbukti benar jika dalam baliho film terpampang gambar wanita berpakaian minim tergolek di tempat tidur, maka dalam filmnya akan ada banyak adegan yang menggunakan tempat tidur sebagai setting dan ada wanita berpakaian minim di atasnya. Wow, kalau benar begini, mungkin semua orang akan rajin ke bioskop.

Atau, bisa jadi sudut pandang kedua yang terjadi. Karena ada kecenderungan orang Indonesia (atau mungkin semua orang?) tertarik pada hal-hal berbau seks, mistis dan kekerasan maka produser menggunakan simbol-simbol yang membuat asosiasi pada 3 topik tadi. Baliho-baliho tadi hanya digunakan sebagai stimulus agar publik menunjukkan respon kognitif (menarik perhatian hingga memikirkannya), afektif (tertarik dan menyukai) dan konatif (benar-benar datang ke bioskop dan menontonnya). Dalam studi psikologi, ketiganya adalah bagian dari tricomponent attitude model. Dalam studi perilaku konsumen disebut sebagai AIDA (Attention, Interest, Desire dan Action). Istilah-istilah ini tentu saja makanan sehari-harinya orang-orang marketing. Karena ujung-ujungnya, para produser ingin uangnya kembali (kalau bisa berlipat ganda) dari penjualan tiket bioskop dengan meraih penonton sebanyak-banyaknya. Inilah sebabnya saya salut pada pembuat film yang cukup ‘berani mati’ dengan tidak menjadikan ‘balik modal’ sebagai satu-satunya parameter kesuksesan.

Kembali pada cerita tentang baliho. Saya akan menggunakan logika anak berumur 3 tahun yang berpikir bahwa orang yang menunjukkan permen lolly dan menggoyang-goyangkannya di depan muka saya memang berniat memberikannya sehingga saya bersedia mengikutinya. Alias, jika baliho itu menunjukkan seorang perempuan berpakaian minim tergolek di tempat tidur, maka sepanjang film saya akan melihat banyak adegan sejenis itu.

Masalahnya adalah anggota Lembaga Sensor Film, kan, bukan anak berumur 3 tahun. Menurut anda, akankah LSF membiarkan ada adegan seperti itu berseliweran di depan muka anda sepanjang 2 jam durasi film? Saya rasa tidak. Lha wong, pria yang kelihatan pusarnya saja bisa kena gunting sensor. Apalagi ada perempuan tergolek di tempat tidur dengan paha kemana-mana! Berharap adegan yang lebih panas? Sebaiknya anda bermimpi saja.

Saya jadi ingat suatu kejadian dimana seorang teman mengajak saya untuk menonton film yang ada hubungannya dengan tali pocong. Ini kedua kalinya saya menonton film sejenis itu. Yang pertama adalah film yang bercerita tentang skandal percintaan babi ngepet. (Hahahaha! Saya sering tertawa jika mengingat bahwa ada babi ngepet yang bisa membuat skandal percintaan. Dan tertawa lebih keras lagi jika mengingat betapa bodohnya saya sampai mau menonton film itu! Hahahaha!).

Kedua film itu memasang baliho yang cukup menarik mata (anda tahulah apa sebabnya) plus publisitas gila-gilaan tentang adegan panas yang bersedia dilakukan oleh bintang-bintang yang ada di dalamnya. Tapi setelah saya pikir-pikir, durasi adegan yang ‘cukup’ panas tidak sampai 10% dari total durasi film itu. Alias, balihonya hanya mencerminkan kurang dari sepersepuluh bagian film, itu pun tidak se’panas’ yang saya duga. Apa yang saya lihat di 90% sisanya? Saya melihat adegan-adegan canggung yang kerap tidak konsisten plus efek-efek suara yang menyala keras sekali dan sering tidak cocok dengan adegannya. Dibanding menjadi ‘panas’ dan ketakutan, saya lebih merasa pengang (alias budeg aka tuli) setelah keluar gedung bioskop. Pada saat menonton film pertama, saya lebih sering cekikikan sambil mengkritik film yang saya tonton dengan teman saya. Di film yang kedua, malah saya tidak sempat menyelesaikan menonton dan keluar sebelum film selesai daripada mati budeg di dalam bioskop sambil membawa sakit hati karena kehilangan uang 15 ribu Rupiah. Maaf, saya tidak bermaksud menghina siapa-siapa. Saya hanya curhat tentang perasaan saya saat menonton 2 film tadi.

Kita kembali ke masalah baliho. Saya sekarang mencoba berprasangka baik bahwa produser-produser film sejenis itu sesungguhnya tidak berniat merusak moral dengan menyuguhi kita adegan seks, mistik dan kekerasan, sehingga porsi adegan-adegan seperti itu sangat kecil dibanding keseluruhan durasi tayangan film. Nah, pertanyaannya adalah mengapa baliho yang dibuat masih mencoba untuk membuat asosiasi ke arah itu? Alasan yang jelas adalah supaya laku. Namun, bukan itu maksud pertanyaan saya yang sebenarnya. Maksud saya adalah apakah para produser tidak berpikir bahwa fenomena film yang terjadi saat ini sedikit banyak ada kemiripan dengan era ’80an? Sekalipun porsi adegan vulgar seks, mistik dan kekerasan tidak sebesar itu, namun bukankah baliho-baliho itu menunjukkan hal yang sebaliknya? Baliho-baliho itu menunjukkan bahwa ada niat sebagian produser untuk tetap mengasosiasikan filmnya dengan seks, mistik dan kekerasan. Tema-tema yang telah membuat industri perfilman Indonesia sempat mati suri.

Saya tidak mendukung masuknya seks, mistik dan kekerasan ke dalam film terutama film Indonesia. Namun, jika baliho yang dipampang tidak mencerminkan isi filmnya, ini seperti mengakumulasi racun yang kelak akan mengulang kembali kejadian yang sama. Sekali lagi saya tegaskan bahwa saya tidak membahas isi film. Saya hanya membahas Baliho yang digunakan sebagai media promosi film. Untuk apakah para produser menggunakan media promosi? Sederhananya, lagi-lagi supaya laku. Namun, dari apa yang saya pernah baca, saya menyimpulkan sendiri bahwa media promosi pada dasarnya adalah sarana untuk menyampaikan nilai-nilai dan atau fitur-fitur suatu produk atau jasa yang sekiranya akan diberikan pada konsumen untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan mereka sehingga timbul harapan pada konsumen akan terpenuhinya kebutuhan atau keinginan tersebut. Harapan inilah yang mendorong seseorang membeli atau mengkonsumsi sesuatu. Dalam kasus perfilman, harapan yang timbul setelah melihat tampilan baliho (dan faktor-faktor lain seperti publisitas media elektronik) adalah hal yang mendorong seseorang untuk datang ke bioskop dan menukarkan uang mereka demi terpenuhinya harapan itu.

Sekarang bayangkan adegan saya dan teman saya sedang menonton film yang balihonya ‘membakar’. Ini hanya reka adegan tanpa model dan bukan adegan sesungguhnya.

(Dalam bioskop setelah setengah jam film berjalan)
Saya : Kok, adegan panasnya nggak ada, ya?

Teman: Tenang aja. Pasti ada. Lu kagak liat balihonya? Buta ya, elu? Ntar kuntilanaknya diperkosa jenglot!

Saya: (diam sambil membayangkan seperti apa rupa kuntilanak jika diperkosa jenglot).
(15 menit berlalu. Belum ada adegan yang cukup signifikan. Sudah mulai tidak sabar)

Saya: Mana?

Teman: (membentak tapi berbisik) Cerewet lu! Kalo elu ngomong mulu adegannya gak keluar-keluar!

Saya: (diam lagi sambil berpikir. Kenapa kalau gue ngomong adegannya jadi nggak keluar? Apa hubungannya?)
(tiba-tiba HP saya berbunyi karena lupa disilent
)

Penonton lain: (dengan kesal) Sssssst!

Saya: (berbisik-bisik menjawab telpon sambil menunduk-nunduk. Tidak sempat meliat layar HP karena terburu-buru mengangkat) Allo… Siapa niih? Hah? Apa? Mira? Oh, kamu, sayang… Hah? Apa? Suara kamu gak jelas… Apa? Bisik-bisik? Aku lagi nonton… Gimana? Sama siapa? Sama temenlah… Apa? Temen… Laki! Suwer! Laki, kok… Beneran… Aku gak selingkuh… Masak selingkuh ama laki! Emang aku homo! Ntar… Iya… Ntar telpon lagi ya… Bentar lagi selesai, kok… Iya… Jangan di sini… Masak ngomong di sini… Kalo kedengeran orang kan maluu… Iya, iya… I love yu… Hah? Pake muach? Iya, iya… Muaaach… (telpon ditutup dan saya kembali berkonsentrasi pada layar)

(Film berjalan terus. Saya tidak lagi berkonsentrasi pada jalan cerita karena sibuk menunggu adegan cukup panas yang tidak kunjung keluar. Dan tiba-tiba, muncul tulisan di layar: PERIKSA KEMBALI BARANG BAWAAN ANDA. Hah?!)
(Lampu menyala dan teman saya berdiri menatap saya)

Teman: Ngapain lu bengong? Ayo, cabut!

Saya: (bertanya lugu) Adegan panasnya mana?

Teman: Ya udah lewat lah…

Saya: (Heran karena tidak merasa melihat) Kapan?

Teman: Tadi. Pas elu nerima telpon…

Saya: Hah? Arrrrgh!
(Meninggalkan ruang bioskop dengan kesal)

Adegan di atas hanya dramatisasi namun kurang lebih menggambarkan seperti apa kejadiannya jika promosi yang dibuat tidak mencerminkan isi film, atau lebih jauh lagi tidak memenuhi ekspektasi penonton yang terkena efek promosi. Karena, pada dasarnya promosi tidak hanya membuat orang semata-mata datang ke bioskop. Mereka datang membawa ekspektasi tertentu yang dibangun oleh media promosi film itu sendiri. Promosi yang tidak seiring dengan kemampuan untuk memenuhi ekspektasinya hanya akan menimbulkan kekecewaan. Dan yang perlu diperhatikan adalah kematian industri film Indonesia yang pernah terjadi bukan karena efek 1 atau 2 film saja, melainkan akumulasi kekecewaan publik.

Jadi, jika tidak sanggup memenuhi ekspektasi, entah karena kendala teknis, aturan sensor, norma susila atau lainnya, lebih baik jangan coba-coba bermain api dengan berpromosi dengan metode yang aneh-aneh. Lebih baik berkonsentrasi pada bagaimana membuat dan menyajikan film yang bermutu baik dari segi teknis, alur, penokohan dan komponen lain yang lebih krusial. Yang jelas, yang sesuai dengan nilai-nilai dan standar yang berlaku di masyarakat kita. Jangan hanya bermodalkan kontroversi untuk menarik perhatian karena takut tidak laku.

Karena, saya mulai melihat gejala baru. Beberapa baliho film mulai mencantumkan “menampilkan artis…” Jepang, korea dan entah darimana lagi. Bukannya skeptis, tapi menyitir ucapan teman saya, “mendingan nonton bo***, deh!” Latah Miyabi? Fenomena apalagi ini?

Jakarta, 1/8/10

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

* Gambar diambil dari http://http://mobilepict.blogspot.com

*Tulisan ini bukan generalisasi bahwa semua film Indonesia bermutu jelek. Saya masih melihat adanya film-film yang layak tonton, meskipun jarang. Bahkan ada beberapa yang menurut saya luar biasa. Kategori ‘layak’ yang saya gunakan adalah layak dalam penilaian subjektif saya sendiri.
** Semua angka, ukuran dan prosentase yang saya gunakan dalam tulisan ini hanyalah perkiraan saya sendiri dan bukan berdasarkan perhitungan yang akurat. Hal itu saya lakukan untuk mempermudah logika pembacaan, tanpa bermaksud untuk menyesatkan siapapun.
*** Jika ingin mempelajari lebih lanjut mengenai harapan publik terhadap penggunaan media, anda dapat mempelajari Uses and Gratification Theory. Teori ini membahas mengenai media massa. Saya setuju dengan pandangan yang menganggap film bukan media massa melainkan media seni rekam. Namun, teori ini cukup relevan untuk dipelajari guna membuka wawasan.
**** Tulisan ini dibuat semata-mata untuk menggugah kepedulian kita dan bukan untuk menyindir, apalagi menghina pihak manapun juga. Hidup film Indonesia!
***** Oiya, berhubung sebentar lagi ramadhan, saya hampir yakin jika fenomena di atas akan sedikit berubah. Ada fenomena ‘mendadak jilbab’ yang muncul setiap kali ramadhan dan hilang di bulan-bulan lainnya. Kita lihat saja apa yang akan terjadi kali ini. Selamat Ramadhan…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...