Sastra dan Hegemoni Media

Saya ingin menulis cerpen. Sesederhana itu. Lantas, saya mencoba mencari tahu. Seberapa panjangkah sebuah cerpen seharusnya dibuat? Saya mencoba membandingkan antara satu koran dengan koran lainnya. Saya juga membaca cerpen-cerpen yang dimuat di berbagai majalah. Mencari tahu di berbagai situs. Dan saya menemukan bahwa tidak ada aturan yang pasti tentang seberapa panjang sebuah cerpen seharusnya dibuat. Setiap medium menentukan aturan yang berbeda-beda. Sesuai dengan kebutuhan masing-masing medium. Dan sepertinya, penulis harus mengikuti apa yang media mau jika ingin tulisannya dimuat.

Saya jadi ingat sebuah buku kumpulan cerpen yang pada pengantarnya mengatakan bahwa isi buku itu juga termasuk cerpen-cerpen yang tidak masuk kategori karena entah terlalu pendek, terlalu panjang, terlalu ‘puisi’, atau apapun alasannya hingga ‘tak layak’ tayang. Saya jadi bertanya-tanya. Siapa yang menentukan layak tidaknya sebuah cerpen untuk dianggap sebagai cerpen? Siapa yang membuat ukurannya?

Bisa dikatakan, saat ini sangat sedikit medium yang masih menyisakan ruang untuk sastra dibanding untuk hal lain seperti berita hiburan, politik, kriminal, atau iklan. Cerpen di koran hanya tayang di akhir minggu. Di majalah atau tabloid paling-paling hanya 2 halaman di antara puluhan atau ratusan halaman yang ada. Dan sepertinya cerpen atau karya sastra harus melipir minggir untuk memberi tempat pada produk-produk kapitalis. Kalaupun ada, sastra juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu agar bisa diberi tempat. Sastra harus pintar-pintar menyesuaikan diri agar bisa bertahan. Hanya buku atau blog yang memungkinkan sastra untuk sedikit bernapas lega. Itupun mesti cukup waspada agar tetap bisa laku di tengah serbuan sastra ‘populer’. Penulis jadi harus sangat pandai memilih tema dan gaya tulis agar seperti ‘maunya’ pasar. Atau, tidak ‘laku’ jadi ancamannya. Mana ada penerbit yang mau menerbitkan buku yang berpotensi ‘rugi’?

Hal yang saya perhatikan adalah banyak sekali pergeseran yang terjadi dalam proses bersastra. Dalam buku Pamusuk Eneste-Proses Kreatif, saya berkali-kali menemukan kisah hidup penulis yang berkembang bergandengan tangan dengan media terutama majalah atau koran. Dengan sedikitnya ruang untuk sastra sekarang ini, saya jadi bertanya-tanya, cukupkah ruang yang ada di media massa untuk bisa memunculkan penulis-penulis muda berkualitas? Jumlah penulis akan terus bertambah sementara ruang yang ada sepertinya semakin menyempit. Tidakkah ini akan mengarah pada ‘paceklik sastra’? Situasi dimana penulis menjadi semakin sulit menemukan ruang eksplorasi di luar internet.

Belum lagi dengan serbuan sinetron dan ‘reality’ show di televisi yang membentuk generasi ‘tak mau susah mikir’ membuat sastra harus terus berpikir ulang tentang apa yang seharusnya disampaikan. Masyarakat sepertinya menjadi lebih suka disodori mimpi dibanding realitas. Tidakkah ini menjadi ‘ancaman’ bagi sastra yang katanya berpijak pada realitas? Saya jadi berkhayal. Saya membayangkan apa yang terjadi 50 tahun lagi. Saat ini saya masih bisa membayangkan situasi 50 tahun lalu dengan membaca buku-buku yang terbit di jaman itu. Jika saja saya lahir di masa 50 tahun kedepan, mungkin saya akan membayangkan betapa mewahnya kehidupan di jaman ini karena tema-tema seperti itulah yang banyak diangkat sekarang oleh banyak buku yang terbit. Lihat saja di toko buku.

Bahkan definisi karya sastra agar bisa dianggap sastra juga terus berevolusi yang, anehnya, saya merasa perubahan ini tidak dikomandani oleh komunitas sastra melainkan oleh kapitalisme dan tangan-tangan guritanya yang salah satunya adalah media. Misalnya saja masalah cerpen tadi, koran dan majalah yang menentukan seberapa panjang sebuah cerpen harus dibuat. Atau teve yang semakin menentukan tema apa yang sebaiknya diangkat. Saya jadi ingat perkataan guru bahasa Indonesia saya ketika SMP tahun ’90an yang dengan sederhananya membagi sastra menjadi ‘sastra yang sastra’ dan ‘sastra yang pop’. Masihkah seperti itu?

Saya sekarang jadi merasa bahwa batas keduanya menjadi semakin kabur. Entah karena memang mengabur atau karena ‘sastra yang sastra’ menjadi hilang dan sulit diamati. Media yang benar-benar peduli sastra bisa dihitung dengan jari. Penulis yang ‘nyastra’ semakin sedikit jumlahnya. Mahasiswa fakultas sastra banyak yang tidak ingin jadi sastrawan, mereka ingin jadi penerjemah, copywriter atau sekadar punya ijazah agar bisa melamar kerja. Puisi pun perlahan-lahan jadi langka. Apakah sastra saat ini makin tunduk pada hegemoni media? Jujur, saya tidak tahu. Saya bukan ahli sastra. Saya cuma orang yang suka bertanya. Dan saya berharap ini cuma ekspresi skeptis saya saja karena sebenarnya saya cuma ingin menulis cerpen.

Jakarta, 14/3/10

*gambar diambil dari http://www.interacces.org

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...