Kentut Spektakuler

Tidak ada yang luar biasa pagi ini. Semua berjalan sebagaimana biasa. Jika saja tidak ada yang kentut, pagi ini akan biasa saja. Ini kentut luar biasa. Karena kentut ini bisa mengubah pagi yang biasanya biasa saja menjadi tidak biasa. Paling tidak, kentut ini menunjukkan bahwa orang Indonesia memang luar biasa. Orang Indonesia? Terlalu menggeneralisasi? Baiklah. Orang-orang dalam busway, yang juga orang Indonesia ini luar biasa.

“Hei!” Seseorang berteriak gusar. “Kau tidak lihat ada bule di sini? Tidak semua orang dalam busway ini orang Indonesia, tauk!”

Jadi aku salah lagi? Ok. Ok… Siapapun yang mendengar kisah ini boleh merasa luar biasa. Atau, merasa tidak luar biasa. Terserah kalian. Jadi, bisa kuteruskan cerita ini? Atau, ada lagi yang mau protes?

“Silakan! Silakan teruskan ceritanya.”

Baiklah. Akan kuteruskan ceritanya.

***

Karena aku yang bercerita, maka perkenankan aku untuk bercerita dari sudut pandangku. Ini bukan hak prerogratif tukang cerita, bisa membuat versi semaunya? Ok, Aku tahu. Aku tahu kalian semua mau protes. Tapi tunggu sebentar. Hakku untuk bicara seenaknya tidak menghilangkan hak kalian untuk berbuat sama, bukan? Jadi, silakan buat versi kalian sendiri setelah ini. Dan kutegaskan sekali lagi. Ini versi ceritaku yang diawali pagi-pagi sekali sebelum aku berangkat pergi.

Begini… Aku bangun tidur. Agak dingin memang karena AC disetel terlalu dingin semalam. Jadi, aku minta disiapkan air hangat. Setelah itu…

***

“Sudahlah!” Seseorang protes lagi. “Langsung saja ke pokok masalah! Jangan bertele-tele!”

Sebentar. Sebentar. Kita harus tahu duduk permasalahan hingga ke akar-akarnya. Walaupun aku hanya tukang cerita, aku juga tidak mau dituduh bahwa akulah penyebab masalah ini. Aku cuma mau bilang bahwa sebelum aku berangkat, seperti biasa, aku sudah mandi, sarapan dan buang hajat. Artinya perutku sudah bersih dari kotoran. Jadi, aku tidak mungkin kentut sebau itu! Dan, ini sangat terkait dengan permasalahan kentut. Relevan!

“Sudah! Teruskan saja ceritamu!” seseorang membentak.

Baik. Aku teruskan. Setelah itu, aku seperti biasanya menuju halte busway. Akhirnya, setelah lama menunggu, datang juga busway yang penuh sesak. Tapi, aku tak punya pilihan selain naik karena takut busway berikutnya malah semakin penuh.

“Aku juga!” seorang gadis berteriak girang. “Aku naik karena takut terlambat sampai sekolah!”

Yang lain menimpali, “Aku takut terlambat sampai di kantor!”

“Aku takut giliranku wawancara kerja terlewat!”

“Jadi, kita semua berkumpul karena sama-sama takut?”

Entahlah. Aku hanya tukang cerita. Bukan pembaca pikiran. Tapi, aku bisa menyimpulkan bahwa kami semua yang ada dalam busway itu adalah orang-orang yang berharap jalan bebas hambatan ini akan mempercepat sampai tujuan. Siapa yang menyangka kentut bisa menghambat semuanya?

***

Pembaca yang terhormat, akhirnya sampai juga kita di inti cerita. Entah datang dari mana, tiba-tiba tercium bau kurang sedap.

“Hahaha!” seorang bapak yang diam sejak tadi tiba-tiba tertawa keras. “Kurang sedap? Kau memang orang Indonesia asli! Menghaluskan semuanya! Hahaha!”

Sebenarnya aku tersinggung. Bukan karena ia mengatakan bahwa aku adalah orang Indonesia asli, melainkan kata-katanya itu menyiratkan bahwa aku kurang objektif. Tukang cerita harus objektif, bukan? Tapi demi kelanjutan cerita, aku tidak memasukkannya ke hati.

Demi objektifitas, aku ulang pernyataanku tadi. Entah datang dari mana, tiba-tiba tercium bau kotoran manusia.

“Ah! Kau terlalu kasar!” seseorang memprotes.

Jadi maunya bagaimana? Diperhalus salah, dikatakan yang sebenarnya juga salah. Sudah! Dengarkan saja ceritaku! Intinya, ada seseorang yang tidak diketahui identitasnya kentut di dalam busway. Awalnya memang tidak terlalu tercium. Namun lama-lama bisa membuat perut mual. Paling tidak, aku nyaris muntah dibuatnya.

“Ya! Aku bahkan sudah muntah!” seseorang menimpali.

Lupakan muntah. Ini masalah kentut, bukan muntah. Kita harus fokus pada masalah.

“Tidak bisa!” seorang ibu berteriak. “Gara-gara kentut itu, anakku berak di celana! Itu adalah barang bukti! Bahwa kentut itu telah menyebabkan kita semua kena masalah!”

Baiklah! Muntah dan berak juga perlu diceritakan. Kentut yang membuat muntah dan berak itu telah berakibat buruk pada semua penumpang busway.

Sebuah suara kebingungan terdengar, “Egh… Maaf, saya ketiduran. Ada apa, ya?”

Oke! Tidak semua penumpang busway terkena akibat, tapi setidaknya insiden kentut itu telah menimbulkan keresahan. Sehingga perlu diselidiki secara mendalam.

“Penyelidikan atau penyidikan?” seseorang bertanya.

“Kau pengacara?” orang lain bertanya balik.

“Bukan.”

“Jaksa?”

“Bukan.”

“Hakim?”

“Bukan.”

“Atau, mahasiswa fakultas hukum?”

“Bukan.”

“Sudah! Tutup mulutmu!” ia membentak. “Lanjutkan ceritanya!”

***

Pembaca yang terhormat, ini masalah yang sangat pelik. Tapi, bukan orang Indonesia kalau tidak berhasil menemukan solusi. Lupakan bule yang cuma satu orang itu. Pemecahan dari masalah itu adalah…

“Bentuk pansus! Panitia khusus!”

“Benar! Bentuk pansus untuk menyelidiki kasus kentut ini!”

Atas dasar musyawarah untuk mufakat, kami para penumpang busway mendeklarasikan pembentukan pansus penyelidikan kasus kentut dengan nama Pansusdikdiktutlah, Panitia Khusus Penyelidikan dan Penyidikan Kentut Bermasalah. Tok… Tok… Tok… Palu diketok. Maaf, saya salah. Sepatu diketok. Ada seorang bapak-bapak yang merelakan sepatunya untuk jadi palu demi hukum, legitimasi pembentukan pansus ini.

“Kita panggil saksi pertama!”

Seorang bapak usia paruh baya maju ke tengah-tengah forum.

“Begini, tadi pagi saya berangkat untuk mengambil uang pensiun saya. Dulu, saya adalah pegawai negeri berdedikasi. Tapi saya kecewa. Uang pensiun itu tidak kunjung keluar. Satu bulan lebih saya menunggu. Sudah 3 kali saya datang ke kantor itu. Ini yang keempat kalinya saya mencoba datang. Mungkin saya akan disuruh menunggu lagi. Padahal, utang saya di warung sudah menumpuk. Anak-istri saya juga masih perlu diberi makan.”

Tiba-tiba seseorang berteriak, “Hei! Apa hubungan kasus ini dengan anak-istrimu! Kita disini untuk membicarakan insiden kentut!”

“Lho? Kalian ini bagaimana, sih? Gara-gara insiden kentut itu saya bahkan tidak sempat sampai ke kantor itu dan mengambil uang pensiun saya. Saya kena akibatnya!” bapak itu menjawab gusar.

Seorang anggota pansus menengahi, “Ya, sudah. Dengarkan saja ceritanya. Toh, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Iya, kan?”

Seperti membenarkan, semuanya mengangguk-angguk dan kembali mendengarkan cerita itu. Cerita itu berjalan lama sekali. Beberapa orang bahkan nyaris tertidur. Untung saja ada yang tersadar dan mengingatkan.

“Sepertinya kita sudah cukup paham. Cerita ini tidak perlu diperpanjang. Kita beralih saja ke saksi lain.”

“Setujuuu!” beberapa orang berteriak.

Kini seorang ibu dan bayinya maju ke depan dan mulai bercerita, “Awalnya saya tidak sadar bahwa ada bau kentut yang begitu santer. Sampai tiba-tiba bayi saya muntah. Bayangkan! Bayi saya sampai muntah!”

“Jika bayi ibu yang muntah, bagaimana ibu tahu bahwa penyebabnya adalah bau kentut itu? Bayi itu tidak mungkin bercerita, kan?”

“Yaaa…,” ibu itu kelihatan ragu. “Ya, saya tahu saja. Apalagi yang bisa menyebabkannya muntah?”

“Ok. Kita selidiki dulu penyebab muntahnya. Saat itu, ibu duduk dimana?”

“Di pojok itu,” ibu itu menunjuk.

“Siapa saja yang ada di sana? Ayo, mengaku!”

Beberapa orang menunjuk tangan dan ketua pansus menyuruh anak buahnya untuk menggeledah mereka. Dan ternyata(!) salah seorang dari mereka telah menyelundupkan ikan busuk ke dalam busway. Penumpang terheran-heran. Bagaimana mungkin?

“Sudah! Lempar saja dia keluar!” seseorang berteriak berang.

“Sebentar! Jadi bisa saja kan yang menyebabkan bayi itu muntah adalah ikan busuk ini dan bukan bau kentut?”

Entah mengerti atau tidak, para penumpang mengangguk-angguk lagi. Penyelundup ikan busuk itu dilempar keluar. Orang-orang bersorak-sorai.

Seseorang berteriak, “Hei! Jadi bagaimana ini? Apa yang menyebabkan bayi itu muntah? Bau kentutnya atau ikan busuk itu?”

Orang-orang terbingung-bingung. Tidak tahu harus menjawab apa. Mereka malah berbicara satu sama lain. Suaranya mendengung-dengung seperti sarang tawon.

“Sudah! Begini saja! Anggap saja keduanya jadi penyebab. Toh, bayi itu tidak mungkin bercerita, kan?”

Lagi-lagi para penumpang busway mengangguk-angguk. Belum terlihat titik terang dari kasus ini. Dan belum terlihat penyelidikan ini akan berhenti. Belasan saksi dipanggil satu persatu. Ditanyai ini itu. Tak juga jelas kasus akan bergerak ke mana.

Ketua Pansus bersuara lembut itu kembali memanggil saksi berikutnya. Majulah seorang pemuda dengan celana jeans lusuh robek-robek. Kalung berbagai jenis bergelantungan di lehernya. Begitu pun dengan tangannya, penuh dengan gelang. Sepatu bot butut tampak seperti baru keluar dari sawah. Belum lagi rambutnya, jigrak-jigrak seperti landak.

Suasana mendadak sepi. Orang-orang memandang heran dengan mulut agak menganga. Untunglah, ketua pansus tersadar lebih dulu. Ia terbatuk-batuk kecil nyaris tertawa. Belum sempat ketua pansus berkata apa-apa, seseorang memotongnya dengan suara batuk yang dibuat-buat. Semua orang menengok.

“Ehm… Pak ketua… Interupsi… Ehm… Bukankah kita seharusnya mencari saksi yang lebih… Ehm… Kredibel?”

Anggota pansus saling tengok. Seluruh penumpang menatapi mereka. Tapi belum ada yang berkata apa-apa.

Tiba-tiba pemuda berambut jigrak itu berkata, “Gue nggak ngerti gimana kalian ngukur kredibilitas. Yang jelas, apakah karena kalian semua pake baju bagus terus gue bisa bilang kalo kalian semua kredibel?”

Penumpang dan anggota Pansus diam dan pemuda itu melanjutkan berbicara, “Jangan pikir karena gue pake baju robek-robek artinya gue nggak bisa berpikir. Gue yang berbaju jelek ini juga sedang ngukur kredibilitas kalian. Dan menurut gue kasus kentut ini nggak akan pernah terungkap! Karena kita semua sebenarnya nggak kredibel!”

“Bocah ingusan! Jangan sembarangan bicara! Kami adalah orang-orang terpilih!”

“Kalian tahu siapa yang memilih kalian? Gue bahkan nggak kenal kalian siapa! Kita baru ketemu di busway ini. Gue tau elu semua, karena dari tadi elu semua ngomong!” Bocah itu meradang.

“Tutup mulutmu, bocah bodoh!” seorang anggota pansus membentak.

“Hei! Mungkin dia bodoh, tapi dia punya hak bicara! Kau yang seharusnya tutup mulut!”

“Kau membela dia?!”

“Ini bukan masalah siapa membela siapa! Ini masalah kita semua!”

“Sok tahu kau! Kau juga sama bodohnya dengan bocah itu!”

“Kau yang bodoh!”

“Kau mengajak berkelahi? Ayo! Kita selesaikan masalah ini secara jantan!”

Tanpa memberi kesempatan, orang itu memukul orang yang kini berdiri di depannya. Tidak terima, ia balas memukul. Salah sasaran, pukulan itu mengenai orang lain. Orang itu memukul balik. Terjadi saling dorong. Busway jadi ramai tak karuan. Semua baku hantam. Bayi menangis dan muntah lagi. Semua orang memukul atau terpukul. Bocah jigrak itu menggeleng-gelengkan kepalanya lalu melompat keluar. Perkelahian masal terus berlangsung seru dalam busway.

Tiba-tiba sopir busway berteriak, “Sudah! Berhenti semua! Aku yang kentut! Aku yang menyebarkan bau itu! Dan aku akan bertanggung jawab!”

Semua orang diam dalam posisinya masing-masing, menatap sang sopir yang kini berdiri. Suasana hening sesaat. Lalu seseorang berteriak, “Kalau begitu kau harus menanggung akibatnya!”

“Aku memang akan menanggung akibatnya. Aku akan keluar dari busway ini, karena aku tak layak berada di tengah-tengah kalian. Aku keluar!” lalu sopir itu pergi meninggalkan busway. Semua orang menatapi. Lalu suasana kembali ramai. Semua orang bersorak-sorai dengan gembira.

“Selesai juga kasus ini!” seseorang berteriak dengan girang.

Busway tanpa sopir kini merosot di jalan menurun, hendak melompat dari jalan layang. Sopir busway dan bocah jigrak melihatnya dari jauh. Ada bule yang sedang memasang plang “Terima Jasa Mobil Derek. Tarif Bersaing.” Orang-orang dalam busway berteriak-teriak.

Jakarta, Maret 2010

*ilustrasi diambil dari http://www.adliterate.com

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...