Ana Menggambar Barbie

Ana berjalan sendirian menuju sekolah pagi itu. Memegang sebatang pensil yang semalam ditemukannya di bawah tempat tidur. Untuk ukuran seorang bocah, wajahnya terlalu muram. Ia tidak tersenyum. Wajahnya menunduk menatap aspal. Sesekali ia menerawang jauh dan menendang kerikil hingga terlontar.

Jalanan sepi. Rumahnya memang terpisah dari rumah-rumah lainnya. Di seberang lapangan nanti barulah Ana biasanya akan bertemu teman-temannya yang juga berangkat sekolah. Ana hanya punya sedikit teman. Yang paling dekat namanya Imah, gadis kecil kurus yang setiap selesai pelajaran selalu cepat-cepat pulang karena harus membantu ibunya berjualan kue. Sisanya tidak akrab. Sebagian lagi kerap mengganggunya, tapi Ana lebih sering mendiamkannya.

Ana berjalan menyeberangi lapangan. Banyak belalang kecil berloncatan. Sebenarnya tanah luas ini tidak pas disebut lapangan karena banyak semak-semak dan ilalang yang tumbuh di atasnya. Ilalang terasa tajam kalau menusuk, membuat kaki gatal-gatal. Pohon pisang tumbuh sembarangan. Jika semalam hujan turun, tanahnya menjadi sangat becek dan Ana harus berjalan hati-hati agar sepatunya tidak kemasukan air.

“Ana!” suara Imah terdengar memanggil beberapa saat setelah Ana melewati lapangan. Ana menengok. Tampak Imah berlari-lari menuju Ana yang berhenti menunggunya. Kaos kaki tinggi sebelah dengan sepatu hitamnya yang butut. Kemeja lusuh kebesaran, lungsuran dari kakaknya.

Ana diam saja hingga Imah berdiri terengah-engah di sampingnya. Senyum Imah mengembang sambil terus menarik-narik napasnya. Tas kain hitam yang juga lusuh tersampir di pundaknya. Ana diam saja.

“Ayo…,” Ana mengajak.

“Sebentar. Istirahat dulu,” Imah menjawab sambil berjalan ke pinggiran dan duduk di sana.

“Jangan lama-lama. Nanti kita terlambat,” Ana berkata lalu duduk di sampingnya.

“Kamu kenapa? Kok, kelihatan murung? Bapakmu memukulmu lagi?” Imah bertanya.

Ana menggeleng sambil memutar-mutar pensil di tangannya.

“Lalu, kenapa?”

Ana menggeleng lagi. Pensil masih berputar di tangannya.

“Ya sudah. Kalau kamu tidak mau cerita. Yuk…,” Imah berdiri dan langsung berlari. “Kejar aku!” teriaknya girang sambil meninggalkan Ana yang dengan malas ikut berlari dan mengejar.

***

Ana tiba di sekolah sesaat sebelum bel masuk berbunyi. Pak Tua memukul-mukul pipa besi dengan tongkat hingga menimbulkan bunyi “teng teng teng” ke sepenjuru sekolah. Ana berjalan menuju kelas. Lalu serombongan anak laki-laki berpapasan dengannya.

Salah seorang berteriak,”Anak pelacur! Untuk apa kau kemari?! Bikin kotor saja! Hahahaha!”

Mereka pergi sambil terus tertawa. Ana tak berkata apa-apa.

“Biarkan saja…,” Imah berkata menghibur. Ana mengangguk pelan. Hal ini sudah jadi terlalu biasa. Namun tetap saja hati Ana terasa sakit tiap kali mereka melontarkan olok-olok. Ana sudah tidak bisa lagi menangis. Mendengar ibunya menangis setiap malam membuat Ana merasa tidak boleh menangis. Ana sudah pintar untuk bisa berhenti menangis. Ana kecil tidak mau menangis.

Dengan lambaian tangan, Ana berpisah dengan Imah. Mereka kini berbeda kelas. Ana ingin sekelas lagi dengan Imah.  Mungkin Imah tidak bisa menolongnya dari gangguan anak-anak itu, tapi Imah bisa membuatnya tidak merasa sendirian. Ana bisa bercerita apa saja pada Imah. Imah selalu mendengarnya.

Gontai Ana berjalan masuk kelas. Beberapa pasang mata memandangi. Ana merasa mata-mata itu tak menyukai kehadirannya. Ana berjalan menuju satu-satunya meja yang kosong. Jika Imah masih sekelas, ia pasti akan duduk di sampingnya. Tapi tidak begitu nyatanya. Tidak ada seorang pun mau duduk di sana. Ana duduk sendirian.

Guru belum datang. Ana mengeluarkan buku tulisnya. Buku tulis kosong bersampul Barbie. Barbie yang hebat dan tak pernah bersedih. Ana ingin jadi barbie.

Dibukanya halaman pertama yang kosong. Diguratkan pensilnya di sana. Ana menggambar Barbie dengan pensil seperti yang dilihatnya kemarin di teve. Barbie cantik berambut indah. Satu persatu garis terangkai menjadi bentuk. Mengutuh menjadi gambaran hitam putih. Tapi, guru keburu datang. Gambar Barbie belum selesai. Ditutup bukunya. Disimpan pula pensilnya.

Seorang guru tua kini berdiri di depan kelas, mengajar sejarah. Ana mendengar dengan saksama. Guru bercerita seperti dongeng dan Ana merangkainya menjadi gambar dalam benaknya. Ana merasa menonton film, bahkan seperti menjadi bagian dari tiap adegan. Terbayang kehebatan para pahlawan yang melawan penjajah hingga titik darah penghabisan. Pikiran Ana terus mengawang, mengikuti alur kata sang guru bijaksana. Hingga bel berdentang keras. Waktunya istirahat dan Ana ingat kata-kata gurunya.

“Apapun bentuknya, penjajahan harus dilawan!”

***

Hari ini Ana tidak ingin keluar kelas. Ana ingin meneruskan gambarannya. Biarlah Imah bersama teman-teman lainnya. Tidak seperti dirinya, Imah yang selalu gembira punya banyak teman. Pun, Imah biasa menghampiri untuk membawakan kue buatan ibunya.

Dikeluarkannya lagi buku tulis bersampul Barbie dan pensil dari laci mejanya. Gambar Barbie setengah jadi ada di halaman pertama dan Ana akan meneruskannya.

Dipandangnya gambar Barbie setengah jadi, mungkin tidak terlalu indah tapi itu yang ada di benaknya. Dibayangkan film yang ditontonnya kemarin. Gambar yang begitu jelas hingga bisa dituangkan ke kertas kosong halaman pertama. Garis bertambah satu-satu melengkapi gambarnya. Ana berusaha mengutuhkan gambar itu sebisanya. Ana ingin jadi Barbie dan kini ia membuat gambarnya. Begitu semangat Ana menggambar. Bentuk Barbie kini semakin jelas. Ana tersenyum sendiri, membayangkan dirinya menjadi Barbie cantik serupa peri di negeri dongeng. Pensil terus menari-nari di kertas bersama seluruh khayalannya. Barbie kini jadilah. Memang tak terlalu indah, tapi Ana menyukainya seperti mimpi jadi nyata. Apa yang sebelumnya hanya ada dalam kepala sekarang bisa dilihatnya.

Ana tersenyum lagi. Tak terasa waktu istirahat hampir habis. Imah tak juga datang padahal Ana ingin menunjukkan gambarnya. Jika Imah menyukainya, Ana senang memberikannya. Ana pun berdiri membawa gambarnya. Ana hendak mencari Imah yang entah ada dimana.

Setengah berlari Ana keluar dari kelas. Ana begitu gembira. Tapi, belum selangkah Ana pergi dari kelas, ia bertabrakan dengan rombongan anak-anak penganggu. Ana takut. Buku tulis bersampul Barbie jatuh dan gambar Barbie di halaman pertama terlihat oleh mereka. Ana sempat memungut bukunya saat tangan anak itu berhasil merebut gambar itu darinya. Ia terkekeh-kekeh lalu tertawa.

“Ini gambar apa?” ejeknya.

“Barbie…,” bisik Ana pelan.

“Apa?” anak itu kembali bertanya.

“Barbie,” Ana mengulangnya.

Ia tertawa keras. “Barbie? Hahaha! Ini bukan Barbie. Ini ibumu yang pelacur itu!”

“Itu Barbie,” jawab Ana takut.

“Anak pelacur! Kalau aku bilang ini gambar pelacur berarti ini gambar pelacur!”

“Itu gambar Barbie!” Ana berkeras hampir menangis.

“Pelacur!”

Ana diam. Ia ingin menangis tapi ia tidak bisa menangis. Ana tidak mau menangis. Tidak boleh menangis. Terngiang-ngiang kata gurunya. Apapun bentuknya, penjajahan harus dilawan!

“Pelacur! Ibumu pelacur!”

Ia tertawa keras hingga Ana tak bisa mendengar apapun kecuali tawa itu. Seperti gerak lambat, tawa itu berhenti. Anak itu jatuh ke tanah sambil mengerang keras. Tangannya memegang sebelah wajah bersimbah darah. Sebatang pensil menancap di matanya. Lalu Ana berkata lantang, “Lihat! Ini gambar Barbie!”

Ana berlari mencari Imah. Ia ingin bercerita. Tadi malam ibu mati ditikam Bapak dan Bapak menyuruhnya pergi sekolah.

*ilustrasi diambil dari http://www.jacketflap.com

Jakarta, Maret 2010.
http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...