Sang Penembak

Kusno masih kecil saat ia menemukan buku itu tergeletak di bawah bufet. Ayah, ibu dan saudara-saudaranya bukan pembaca tetap buku. Ayah dan ibu sibuk bekerja. Kakaknya lebih sering dilihatnya mematut diri di depan cermin atau jalan berlenggak-lenggok. Adiknya masih kecil dan disuapi bubur pisang. Jadi, buku adalah barang langka yang tidak bisa ditemukan sembarangan.

Kusno belum terlalu lancar membaca. Ia masih perlu mengeja untuk tahu apa yang dibacanya. Ia biasanya hanya memperhatikan gambar. Tapi buku yang Kusno temukan tidak ada gambarnya, huruf semua. Gambar hanya ada di sampulnya. Itupun terlihat aneh di mata Kusno. Ada deretan huruf besar-besar.

P… E… PE. N… E… Ne. eM… NEM… B… A… Ba… K… BAK. M… I… Mi… eS… MIS. T… E… TE. eR… I… RI… U… eS… US.

Penembak Misterius!

***

Kusno berbaring di ranjang kayu. Kedua tangan menjadi bantal di belakang kepalanya. Lampu pijar redup membuat seluruh isi kamar jadi kekuningan. Pikiran Kusno berputar mencari tambatan.

Cicak berkejar-kejaran di langit-langit kamar. Kusno diam. Betapa yang tak terlihat seringkali lebih menentukan. Seperti kepastian ditentukan oleh kemungkinan-kemungkinan yang laten. Kepastian hanyalah akhir dari ribuan percabangan. Order dalam genangan chaos. Sepotong bingkai dalam kemungkinan tak terbatas panil komik kehidupan.

Buku itu masih disimpannya. Kusno bukan pembaca tetap buku tapi buku itu masih juga dibawanya. Jadi satu-satunya buku yang benar pernah masuk dalam hidupnya. Sekalipun ia sudah lama sekali tak membacanya, tetapi buku itu selalu ikut kemana saja. Seperti jimat agar selamat.

Kusno membuka koran pagi. Sebuah headline tertulis besar-besar “Pengusaha Ekspor-Impor Mati Ditembak Orang Tak Dikenal”. Kusno membaca berita itu dengan dingin. Dilipatnya koran sebelum selesai membacanya.

Kusno tertidur. Ia baru pulang jam 5 pagi tadi. Mungkin ia akan tidur sampai sore. Sejumput mimpi masuk dalam kepala. Anak peluru masuk dalam senapan laras panjang. Dua mata terbuka mengintip mengikuti sasaran. Pelatuk ditarik memicu pemantik. Anak peluru meluncur meninggalkan ibunya. Sebuah tengkorak berlubang. Otak di dalamnya berantakan. Sebelum siapapun sempat berpikir, ia telah menghilang.

***

Ia datang 3 hari lalu. Kusno cukup mengenalnya. Beberapa kali dia menghubungkan Kusno dengan orang yang membutuhkan jasanya.

“Kau tahu, Aku hanya terima uang tunai,” Kusno berkata sambil memandang sebuah foto. “Ini?”

Ia mengangguk-angguk. “Dia sasarannya,” lanjut orang itu berkata. “Ini permintaan seorang pejabat. Ia tidak ingin diketahui identitasnya.”

“Malaikat maut pun pasti pernah bertemu Tuhan,” ucap Kusno dingin tanpa memandang. “Aku harus tahu siapa yang menyuruhku. Atau, kau silakan mencari orang lain untuk melakukan tugas ini.”

Kusno meletakkan foto itu dan menyalakan sebatang rokok. Matanya menatap entah kemana. Lebih seperti menerawang. Orang itu tampak sedikit kesal.

“Kau kemarin sudah setuju…,” ada nada geram di suaranya.

“Aku hanya setuju bertemu denganmu. Bukan menyetujui ini,” Kusno menusuk mata orang itu dengan pandangannya. “Lagipula, kemungkinan apapun bisa terjadi di bisnis ini, bukan? Mungkin saja kau tidak pernah lagi sampai di rumah setelah ini.”

Orang itu berusaha menyembunyikan ekspresi kagetnya. Ia tahu dengan siapa ia berhadapan. “Baiklah. Dia seorang pejabat tinggi dewan. Ini namanya.” Ia menuliskan sebuah nama pada sehelai kertas seakan suaranya akan terdengar orang lain. Kusno mengangguk.

“Mengapa ia harus dibunuh?”

“Tulisan memiliki kekuatan dahsyat. Tulisan orang ini telah membuat kesadaran yang membahayakan.”

Kusno kembali mengangguk. Ia cukup paham siapa sasarannya kali ini. Merasa terlalu paham. Kusno merasa kenal. Ada yang emosional.

Orang itu akhirnya pergi tanpa diantar. Kusno berbaring lagi dalam kamar yang nyaris kosong ini. Kusno tak punya banyak barang. Ia selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu singkat agar tak terlacak. Hanya satu dua orang yang mengenalnya. Itupun tidak pernah ada yang lebih dari sekadar kenal. Keluarganya menyangka Kusno bekerja di luar negeri. Lebaran pun Kusno jarang pulang untuk bertemu mereka. Kusno layaknya orang hilang. Lebih tepat seperti buih, muncul ke pantai didorong ombak. Ada tapi tak bisa dipegang. Kusno datang dan pergi seperti hujan. Bisa diduga dari mendungnya, namun tak bisa dipastikan datangnya.

“Apa sebenarnya pekerjaanmu, nak?” begitu ibunya bertanya setiap kali Kusno datang menyerahkan uang.

Kusno hanya tersenyum menjawabnya. Lalu berkata singkat, “Yang penting ibu dan adik-adik tak kekurangan.”

Ayahnya sempat menikah lagi. Membuat ibu kandungnya tertekan dan mati batuk-batuk karena TBC. Untunglah, istri muda bapaknya adalah wanita yang baik, memberi Kusno 3 orang adik yang masih kecil-kecil. Wanita itulah yang sekarang dipanggilnya “Ibu”. Kusno pernah tak sengaja mendengar obrolan saudara-saudara ibu tirinya bahwa wanita itu telah ditipu. Bapak mengaku sebagai duda saat menikahinya padahal istri tuanya saat itu masih hidup dan sehat wal afiat. Mereka bilang Bapak bajingan. Bapak sempat main perempuan lagi tapi Ibu tak meninggalkannya. Bahkan ia semakin perhatian pada anak-anak tirinya. Itulah mengapa Kusno sangat mengagumi dan menghormati wanita itu, seperti pada ibunya sendiri.

Bajingan itu kini kena karma. Terlalu banyak alkohol dan rokok membuatnya stroke dan tergeletak di tempat tidur seperti mayat hidup. Badannya kurus tak bersisa. Tak tampak lagi jejak-jejak keperkasaan yang membuatnya bisa main perempuan seenak pusarnya.

Setelah menyerahkan uang pada Ibunya, Kusno selalu menyempatkan diri menengok bapaknya yang teronggok seperti sampah. Kusno merasa, sepanjang hidupnya, laki-laki itu tak pernah benar-benar berguna. Sering pulang dalam keadaan mabuk atau memukuli ibunya. Tapi Kusno sadar, tanpa sperma bajingan itu, dirinya tak akan pernah ada.

Bajingan itu mengangkat kelopak matanya sedikit. Dadanya turun naik terengah-engah seperti habis marathon. Kini ia memang sedang bertanding lari dengan waktu. Tapi, siapa juga yang bisa menang melawan waktu? Pria paling perkasa pun akan habis dilumat, apalagi tubuh ringkih itu.

Kusno tersenyum miris memandangnya. Sebongkah nyawa begitu lama tergantung-gantung di seutas benang tipis bernama takdir. Benang yang tak kunjung putus. Mungkin ini balasannya. Kusno tak ingin menambahkan penderitaan dengan sekadar membencinya. Biarlah ada yang membalasnya.

Kusno tertidur dalam potongan-potongan mimpi yang melompat-lompat tak karuan. Mimpi-mimpi yang membuatnya mati rasa. Kusno tidur begitu saja.

***

4 hari sudah Kusno duduk di dekat sebuah rumah di kawasan Pondok Aren. Melihat-lihat. Kawasan ini cukup sepi. Kusno jadi merasa, benarlah penulis itu memilih tinggal di sini. Bukankah penulis butuh inspirasi? Dan inspirasi seringkali datang dalam sepi, saat sendiri.

Kusno ingat bahwa ia juga lebih sering sendiri. Dan saat sendiri, berbagai pikiran memang kerap keluar masuk ke benaknya. Namun, tak sedikit pun Kusno terpikir untuk menuliskannya. Jika kelak terjadi, mungkin Kusno akan berhenti dari pekerjaan yang berbau darah ini dan jadi penulis. Tapi tidak sekarang. Entah kapan. Entah benar akan terjadi atau tidak. Siapa yang tahu?

Waktu sendiri seperti ini lebih sering digunakannya untuk mengawasi situasi. Menunggu saat yang tepat untuk melesakkan peluru dalam kepala. Kusno pernah mendengar bahwa kematian tidak lagi dideteksi dari denyut jantung melainkan dari matinya batang otak. Kusno tak ingin korbannya terlalu lama menderita meregang nyawa, jadi ia memilih untuk menembak korbannya di kepala. Kusno tidak benar-benar tahu apakah benar hancurnya otak membuat korbannya mati lebih cepat, ia hanya menduga-duga.

Dipandangnya sebuah mobil yang baru saja terparkir. Seorang pria gondrong keluar dari dalamnya, menengok-nengok sebentar lalu melangkah masuk.

Sudah beberapa kali Kusno melihat orang itu. Pria yang tidak pernah benar-benar dikenalnya, namun cukup akrab di matanya. Kusno membayangkan apa isi kepala orang itu. Pasti banyak dan macam-macam. Buktinya ia bisa menulis apapun. Dibalik tengkorak itu pasti tersimpan jutaan ide laten yang menunggu dituliskan. Jika Kusno bisa, ia ingin bisa menyimpan isi kepala orang itu ke dalam flashdisk sebelum sebuah peluru tajam membuatnya berantakan. Sehingga ia bisa menulis tanpa perlu repot-repot menunggu ide. Tinggal buka file-nya lalu diketik. Jutaan kata-kata pasti juga sudah tersusun di sana. Kusno tersenyum sendiri membayangkan betapa aneh pikirannya. Senyum yang membuatnya sadar bahwa dalam dirinya masih ada jiwa kanak-kanak yang bebas tak terikat. Penuh dengan ide yang berjalan-jalan entah kemana tanpa batas.

Mobil itu pergi lagi. Kusno tak menyadarinya dan mobil itu sudah hilang dari pandangan.

***

Ini hari ke-14. Orang itu sudah sangat tidak sabar menunggu hasilnya. Ingin penulis itu cepat-cepat dibereskan. Kusno tidak mau ambil pusing. Ini menyangkut nyawa orang. Seperti ia menghargai kehidupan, kematian perlu dirancang matang-matang. Perlu saat yang benar-benar tepat. Ini adalah pencocokan jadwal. Jadwal pelaksanaan dengan jadwal milik malaikat maut. Jika meleset, takkan terjadi apa-apa dan rencana akan buyar seperti jentik nyamuk terkena goyangan.

Ada yang disebut insting. Dan Kusno percaya pada insting bahwa jadwalnya telah cocok dengan jadwal malaikat maut. Itulah mengapa ia hanya mengikuti insting saat menentukan waktu untuk melepaskan peluru dari rumahnya. Satu peluru berarti satu nyawa melayang. Tidak boleh meleset karena tak pernah ada kesempatan kedua.

Kusno diam. Benar-benar diam. Kusno tenang. Terlalu tenang hingga detak jantungnya nyaris tak terdengar. Ini saat meditasi. Yoga dalam posisi siap siaga. Kepasrahan tingkat tinggi untuk mengundang Btari Durga sang Dewi Kematian. Membangkitkan amarah Kala, Sang Dewa Waktu, agar menghentikan jalan bagi orang yang diinginkannya.

Kusno sadar dirinya bukanlah malaikat maut. Ia bisa saja mengirimkan peluru berkecepatan tinggi ke arah kepala siapapun, namun bukan pelatuknya yang menentukan kematian. Bukan tangannya yang melayangkan nyawa ke akhirat. Ia hanya membukakan jalan. Jadi, adakah kepastian dalam tiap timah panas yang meluncur bagai dikirimkan dari neraka? Maka, Kusno menarik pelatuk tanpa rasa apapun. Karena ia tahu, bahwa ia tidak bekerja sendirian. Ada tangan lain yang lebih menentukan.

Jika ada kesempatan waktu untuk membeku, mungkin inilah saatnya. Saat bunyi detik berdetak hingga terdengar bagai peluit panjang. Pertanda bagi anak peluru untuk berlari meninggalkan garisnya.

Kusno berhitung seperti jaman SD dulu. Angka yang sama dengan aroma yang berbeda. Tidak ada lagi pembelajaran dari angka-angka. Siapapun akan berhenti belajar dari sang hidup setelah angka-angka selesai dihitung. Tiada pelajaran yang dapat diambil dari kematian kecuali untuk mereka yang sisa hidupnya. Kemungkinan kecil yang bisa terjadi setelah peluru lari menembus tulang kepala.

Inilah waktu sepersekian detik saat Kusno terpikir tentang hidupnya sendiri. Tangannya telah cukup berdarah-darah untuk membuka gerbang barzakh bagi orang-orang yang bahkan tak dikenalnya. Memancing isak tangis bagi anak, istri, keluarga dan orang-orang yang mencintai mereka.

Akankah dirinya mati dengan cara yang sama? Menghembus napas terakhir di ujung sebutir peluru. Ataukah ia mati begitu saja? Akankah ada yang akan menangisi kematiannya? Ia hidup dalam dunia yang sendiri, akankah ia mati bagai hilang ditelan bumi? Hidup tanpa sanak dan mati tanpa jejak. Pikiran yang segera hilang. Segera setelah sebutir peluru melesat mencari sasarannya, seperti konta membunuh sang gatotkaca. Sesosok tubuh rebah begitu saja. Darah mengalir dari lubang di kepala. Kusno menghilang sambil memasang peluru kedua. Airmatanya jatuh. Inilah saatnya.

***

Seorang penulis gondrong membaca sebuah koran pagi. Ada tulisan besar di depannya, “Seorang Anggota Dewan Tewas Tertembak di Kepala”. Penulis itu menggeleng-geleng ketika di halaman dalam ada tulisan kecil, “Orang tak dikenal mati bunuh diri membawa buku Penembak Misterius”. Penulis itu mengernyit. Semakin banyak orang mati di kota ini.

Jakarta, 25/4/10

* Penembak Misterius adalah Buku yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma.  Diterbitkan pertama kali tahun 1993. Tulisan ini bentuk penghormatan saya pada beliau.

** Gambar diambil dari http://www.drawingsofleonardo.org/

2 Comments

  1. wohooo keren mas nu, u sud give this to mas seno :))
    gue jd inget wanted pas baca ini hihi
    great; membukakan jalan untuk durga hehe i like this one!

    • Thank you, Ken…🙂 Masih nggak pede nih gue…. gue kan nggak ada apa2nya kalo dibandingin sama Mas Seno….


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...