Peri Cahaya

Jika kau pernah mendengar tentang peri cahaya, kau bisa melihatnya di pantai ini. Sungguh, aku tidak berbohong atau mengarang-ngarang cerita. Peri cahaya sungguh ada dan kau bisa melihatnya melayang-layang di atas ombak.

Rasanya aku juga tidak percaya saat pertama kali melihatnya. Kulihat sosoknya yang mungil di kejauhan bermain selancar bersama gelombang yang menggulung-gulung. Entah karena ia memang kecil seperti tinkerbell di cerita peterpan, ataukah karena begitu jauhnya hingga jadi tampak kecil. Namun, di tengah laut yang menghitam kala senja, tubuhnya yang berkilau-kilau jadi begitu jelas tertangkap oleh mata.

Ayo, duduklah di sini dan saksikan ia meluncur-luncur anggun di muka samudra. Aku bisa bilang bahwa inilah keajaiban dunia berikutnya karena aku tak pernah melihatnya. Dan aku tak yakin jika memang pernah ada yang melihatnya. Jika benar ada yang pernah melihat sosok itu sebelumnya, keberadaannya pasti telah jadi mitos yang diceritakan turun-temurun dari mulut ke mulut. Tapi, hanya cerita itu-itu saja yang pernah kudengar. Cerita kancil mencuri timun atau pangeran tampan bertemu putri. Tidak dengan cerita peri cahaya. Aku tak pernah mendengar sedikit pun cerita tentangnya.

Aku sendiri yang menamainya peri cahaya karena tubuhnya yang berkilau-kilau. Aku tidak tahu apakah kilaunya adalah pantulan sinar senja ataukah benar kilau itu bersumber dari dirinya. Jika samudra adalah tiara, maka ia adalah berlian yang berkilau bersama cahaya senja.

Kutanyakan pada seorang pedagang jagung bakar di sisi pasir pantai yang masih menyimpan hangat matahari. “Apakah peri cahaya selalu ada setiap hari, Pak? Jika memang begitu, saya akan kemari setiap hari.”

“Peri cahaya? Peri cahaya apa?” pedagang itu memandang heran sambil terus membolak-balik jagung bakar yang kupesan.

“Masak Bapak tak pernah melihatnya?” tanyaku balik. “Saya sering melihatnya berselancar di atas ombak setiap senja.”

“Sudah lebih dari 20 tahun saya berdagang di tempat ini. Belum sekalipun saya melihatnya. Mendengarnya pun saya belum pernah.”

Kuambil jagung bakarku dan kutinggalkan pedagang tua itu. Mungkin ia terlalu sibuk berdagang hingga tak pernah memperhatikan bahwa ada peri cahaya yang menari-nari di atas geliat buih-buih lautan. Kumakan jagung bakarku sambil terus menerus memandangi peri cahaya yang meliuk-liuk indah dilatarbelakangi matahari separuh terbakar hingga tenggelam seluruhnya dan peri cahaya hilang bersamanya.

***

Aku sering sekali menyambangi pantai ini sebelumnya, namun baru kali ini aku menyaksikan peri cahaya bermain ombak di pantainya. Kau ingat pada pedagang jagung bakar tadi, bukan? Kita sering membeli jagung bakar darinya lalu duduk berdua di atas pasir pantai yang berbulir-bulir. Sering yang kita lakukan hanya diam memandangi matahari yang perlahan melesak masuk ke cakrawala. Kita tidak berkata apa-apa selain pandangan mata yang secara bersahaja mengatakan, “Bagus, ya?” Lalu aku akan menjawab juga dengan pandangan mata yang jika diterjemahkan takkan bisa jadi lebih sederhana dari, “Iya…”.

Lalu kita diam lagi begitu lama. Lama sekali hingga angin laut berubah menjadi angin daratan. Menyampaikan cerita-cerita yang tak pernah terceritakan sebelumnya. Cerita tentang 2 orang yang duduk bercerita tanpa kata-kata selain pandangan mata dan desah napas yang penuh dengan rasa.

Pasir pantai yang hangat lembab bercampur uap garam dan angin laut membasuh kaki kita hingga sensasinya bisa menembus begitu saja ke hati dan mengubah apa yang sebelumnya tertelan oleh pandangan mata dan deru-deru di telinga menjadi potongan-potongan kenangan yang pada akhirnya menyusun gambar puzzle hidup kita. Bahwa kita pernah bersama sebelumnya dalam kenangan yang seakan-akan bakal hidup selamanya. Kenangan yang dulu kukira akan berlalu begitu saja seperti ombak menghela jukung-jukung nelayan ke samudra namun ternyata menjadi garis tipis imajiner bernama cakrawala yang mengubah seluruh pandanganku tentang dunia.

Sadarkah kau pada apa yang terjadi sebenarnya? Saat mataku masih buta untuk bisa melihat sang peri cahaya bermain-main di sela leret-leret cahaya senja yang makin lama makin jelas tampak sebagai sosok cantik dalam bayang-bayang awan yang membagi sisa-sisa sinar surya menjadi garis-garis yang melesat-lesat di atas pandangan mata bagai panah-panah Arjuna menghujani tubuh ksatria tua bernama Bisma, seperti itulah kejadian-kejadian yang menimpa kita berdua bagai panah-panah terkutuk Dewi Amba membawa sumpah teratasnamakan cinta. Terus menghujam bagai hujan deras di musim basah yang turun tak kenal waktu membuat hidupku terus basah oleh airmata yang kukira akan jatuh selamanya. Seperti itulah yang kurasakan saat kau pergi dari bidang datar hidupku menuju lahan di sebaliknya yang tak pernah kulihat ada apa di sana.

Tapi, aku tahu kau ada di sana. Mungkin kau tengah menyusun cerita baru untuk kau ceritakan dengan kata-kata dan tidak hanya dengan pandangan mata. Atau, mungkin kau juga tengah melakukan hal sama, memandangi matahari senja di pantai berpasir hangat dengan orang yang tak kutahu siapa. Kau pergi begitu saja seakan tidak pernah ada aku yang kau tinggalkan sendirian dalam kenangan yang kupikir akan berlangsung selamanya. Pun aku tidak tahu apakah benar kenangan ini akan berlangsung selamanya, namun kenangan ini masih berjalan dengan aku hidup di dalamnya yang tiada diketahui kapankah akan berakhir atau memang akan berlangsung selamanya. Maka, apalagi yang bisa kulakukan di sini setelah kau pergi begitu saja selain duduk diam di pantai kenangan kita sambil memandangi peri cahaya yang menari-nari seakan menghindar dari letupan-letupan magma yang meluncur dari kepundan matahari.

Inikah akhir hari? Tiada pernah kubayangkan bahwa hari ini akan berakhir. Tapi, siapakah yang tidak akan membayangkan tentang akhir sebuah hari saat tenggelam dalam sebuah senja singkat yang perlahan meratapi cahaya yang makin lama makin redup seperti mengatakan bahwa berhentilah berharap akan cahaya karena ia akan segera pergi seperti layang-layang tanpa tali yang diusir oleh angin bertiup? Senja ini terlalu singkat untuk dijadikan bagian dari hari namun terlalu panjang untuk dikatakan bahwa ia tidak berarti. Karena nyatanya siapapun tak akan bisa mengingat keseluruhan masa saat matahari nyalang di angkasa dan saat gelap meraja namun ia bisa mengingat tiap leret cahaya yang terjadi kala senja seperti Karna yang menyimpan dendamnya sampai mati untuk sedikit kata-kata Arjuna yang membuat hatinya kaku dan beku termakan waktu.

Aku tidak dendam padamu karena aku tahu aku masih mencintaimu seperti aku yang masih saja mencintai senja meskipun aku tahu bahwa sebentar lagi senja ini akan meninggalkanku bersama pantai yang sedikit demi sedikit kehilangan hangatnya. Seperti itulah aku padamu, seperti cakrawala dengan matahari kala senja. Merasa masih bersama padahal terbentang ribuan tahun cahaya di antaranya. Itulah aku padamu. Merasa kau masih di sini padahal kau telah pergi begitu saja seakan takkan lagi kembali.

Apakah kau akan kembali? Seperti janji senja pada cakrawala bahwa ia akan kembali esok hari saat matahari tergelincir dari ujung tanduk yang tajam meski mungkin hanya untuk melukai karena cakrawala akan menangis saat ia ditinggalkan lagi. Kulihat jejak-jejak tetes air mata jingga meleleh dari bola-bola mata saat ia ditinggalkan bagai bintang-bintang berjatuhan di kelam langit malam yang hendak menelan seluruh kisah siang dunia.

Sebentar lagi malam akan jatuh lagi, seperti bocah belajar berlari dan tersandung untuk bangkit kembali layaknya matahari yang akan terbit esok pagi. Aku mencoba mengatakan pada diriku sendiri bahwa benarlah matahari akan terbit lagi esok hari dan di hari-hari berikutnya. Namun ketika matahari harus pergi tanpa meninggalkan sedikitpun janji bahwa ia benar akan kembali, kata-kata apapun yang muncul dari 2 belah bibirku tidak akan sanggup meyakinkan diriku bahwa benar matahari bersedia terbit lagi. Dan aku menjadi tahu bahwa aku hanya percaya pada 2 belah bibirmu semata sehingga jika kau mengatakan bahwa matahari tidak akan terbit lagi esok pagi pasti aku akan percaya.
Aku akan percaya.
Aku akan percaya.
Aku akan percaya…

***

Inilah obituari terakhir untuk kenanganku tentangmu. Masih kulihat Peri Cahaya bergelayutan pada benang senja matahari. Menari-nari di atas ombak berkejar berbentuk kurva lengkung melengkung. Bergantung-gantung pada kubah langit yang bersemu jingga ke ungu. Termangu dalam kesahajaan hingga kurasa ini takkan berakhir. Butir-butir uap perlahan turun membentuk kabut. Semaput dalam pesona. Disana, kau disana. Merana, aku berlari ke seberang sana. Sama, kita sama. Terlena dalam genggaman peri cahaya yang hilang dalam gelap maha sempurna.

Selesai di Busway.
4/5/10

Gambar dari http://www.gods-heros-myth.com

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...