Saya Tidak Fobia, tapi…

Saya beberapa waktu lalu membaca sebuah tulisan di salah satu blog favorit saya. Judulnya adalah “Horror dari Kisah Nyata” dan bisa anda baca di http://www.amelsayang.blogspot.com. Isinya kurang lebih tentang betapa takutnya si penulis pada cacing dan bagaimana si penulis menghindari hal itu. Bahasanya sangat ringan dan mudah dibaca. Saya tertawa-tawa sendiri saat membacanya. Dan saya mengakui bahwa penulisnya cukup hebat karena sekalipun gaya penulisan yang dipakai sangat ringan tapi isinya sangat berbobot. Seperti biasa, setelah membaca sesuatu, saya punya kebiasaan melakukan internalisasi alias mencoba melihat apa hubungannya dengan hidup saya dan mengambil hal-hal yang saya anggap perlu. Alhamdulillah, sejauh yang bisa saya ingat, saya tidak memiliki objek tertentu yang sangat saya takuti apalagi membuat saya fobia. Memang, dulu saya pernah takut ketinggian. Tapi, entah mengapa, seiring waktu ketakutan saya itu hilang. Saya sekarang merasa biasa saja dengan ketinggian.

Cukup banyak orang yang meremehkan masalah fobia. Ada juga, lho, yang malah bangga. Jadi, fobia sekarang ini jadi masalah yang mungkin biasa saja. Ada beberapa teman saya yang juga mengalaminya. Misalnya, ada yang takut pada kucing, kecoa, bulu atau bahkan ada teman baik saya yang takut pada urat nadinya sendiri sehingga selalu menutupinya. Saya tidak ahli masalah fobia dan saya juga tidak tahu sejauh mana ketakutan pada objek tertentu bisa dianggap fobia. Waktu saya kecil, saya takut pada anjing. Tapi, setelah saya perhatikan, hal itu terjadi karena saya tidak terbiasa. Berhubung saya dibesarkan dalam keluarga muslim yang cukup taat, anjing adalah hewan yang cukup jarang berhubungan dengan hidup saya. Namun, saat saya tinggal di Bali dan terpisah dari keluarga di Jakarta, ketakutan saya pada anjing juga hilang. Bali bisa dibilang sebagai surganya anjing dan anjing kerap ditemukan bebas berkeliaran. Artinya mau tidak mau saya juga sering bergaul dengan anjing. Bahkan saya sempat memelihara seekor anjing kintamani yang saya beri nama Bryan. Nama ini didapat dari teman saya, plesetan dari Beringkit, nama pasar tempat anjing ini dibeli. Pasar itu terdapat di perbatasan Mengwi-Denpasar. Bagaimana Beringkit bisa bertransformasi jadi Bryan, sampai sekarang saya juga kurang paham. Tapi, saya cukup suka dengan nama itu. Sayang, Bryan wafat karena saya kurang telaten merawatnya. Pelajaran lain yang saya dapat adalah saya ternyata tidak cocok memiliki hewan peliharaan. Bryan tumbuh menjadi anjing yang galak dan suka mengejar-ngejar orang. Mungkin, karena ia kerap diikat dan kurang bersosialisasi. Lho? Kenapa saya jadi cerita tentang Bryan?

Kembali ke masalah fobia, hilangnya ketakutan saya pada anjing tidak membuat saya jadi gegabah saat berhubungan (yang tidak intim) dengan anjing. Saya tetap berhati-hati terutama jika berhubungan dengan anjing-anjing ras galak seperti doberman, german shepperd, rottweiler, pitbull atau lainnya. Meskipun saya tidak fobia anjing, bukan berarti saya sudi dicabik-cabik oleh hewan itu.

Jadi, saya menganggap bahwa fobia adalah ketakutan tak beralasan pada objek yang sebenarnya tidak berpotensi menyakiti. Kecoa tidak akan menyakiti secara langsung kecuali kecoa mutant di film science-fiction atau kecoanya membuat organisasi yang bertujuan untuk menundukkan dominasi umat manusia di bumi. Jika objeknya memang berpotensi menyakiti, ketakutan muncul tidak lebih sebagai ekspresi kehati-hatian. Lantas, bagaimana mungkin ada orang yang begitu takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak mungkin menyakiti seperti cacing (kecuali cacing pita di perut), bulu atau balon?

Menurut hemat saya, hal itu adalah bagian dari proses yang dalam teori psikoanalisa disebut sebagai proyeksi. Mungkin, ada suatu objek yang merupakan sumber ketakutan yang sebenarnya. Namun objek itu adalah objek yang oleh superego dianggap sebagai hal yang seharusnya tidak boleh ditakuti. Akhirnya mekanisme itu memindahkan ketakutan pada objek lain yang lebih wajar ditakuti (sekalipun saya juga tidak melihat apa wajarnya takut pada balon atau semut).

Misalnya begini. Seorang anak pernah mengalami pengalaman traumatis dengan ayahnya. Mungkin, ia pernah mengalami kekerasan fisik atau mental secara langsung, atau ia melihat ibunya diperlakukan dengan kasar. Ayah bukanlah objek yang secara normatif wajar ditakuti. Ayah adalah sosok yang seharusnya dihormati dan disayangi (ingat, superego memang gudangnya norma). Sayangnya, pengalaman anak itu berkata lain. Ayah muncul sebagai sosok yang ditakuti. Situasi ini menimbulkan perasaan yang ambivalen. Si anak merasa benci namun juga sayang pada saat yang bersamaan. Ini bukan situasi yang nyaman untuk seorang anak. Ini seperti perasaan lapar dan ingin buang air besar di saat yang sama. Terbayang, kan, seperti apa tidak enaknya? Salah satu harus didahulukan.

Kemudian, yang biasanya terjadi adalah ketakutan ditekan untuk masuk ke ketidaksadaran alias unconscious agar rasa takut itu hilang. Mekanisme ini disebut Represi. Dalam teori psikoanalisa, pikiran dibagi menjadi kesadaran (conscious) dan ketidaksadaran (unconscious). Horee!! Ketakutannya hilang!

Benarkah? Tidak sepenuhnya benar. Karena, informasi yang masuk ke dalam ketidaksadaran sebenarnya tidak hilang. Informasi itu hanya tidak disadari keberadaannya. Dan informasi itu memiliki kecenderungan untuk mencari jalan keluar. Analoginya mungkin seperti ini, sehebat-hebatnya anda menahan pipis, pasti ada saatnya bocor juga, kan? Entah keluar sedikit-sedikit atau malah ngompol di celana. Freud (Bapak psikoanalisa) mengatakan bahwa tekanan dari alam bawah sadar ini muncul sebagai mimpi atau perilaku-perilaku tak sadar. Antara lain, kesalahan-kesalahan yang tak disadari (pernah salah menyebut nama orang?), kebiasaan menggigit kuku, berkedip-kedip (sekalipun ini juga bisa disebabkan kelainan syaraf), sakit perut tanpa sebab, hingga fobia atau histeria. Bahkan, ada ahli yang bilang bahwa mekanisme ini bisa membuat orang yang mengalami pecah kepribadian alias memiliki kepribadian ganda. Yaitu saat tekanan bawah sadar bukannya muncul lewat kesadaran yang ada melainkan justru membentuk kesadaran baru. Kasus parahnya pernah diangkat lewat novel 24 Faces of Billy dimana kepribadiannya terpecah menjadi 24 kepribadian berbeda yang muncul seperti memencet tombol steker lampu, berganti-ganti. Dan, parahnya, salah satu dari kepribadian itu adalah tokoh pembunuh. Seperti main mesin jackpot, untuk orang awam akan sangat membingungkan saat kita tidak tahu kepribadian mana yang muncul.  Alhamdulillah, saya tidak pernah bertemu dengan orang seperti itu atau paling tidak saya tidak sadar. Kalau saya sadar, saya tidak tahu harus berbuat apa. (Haloo… Saya ketakutan… Lari… Diam… Senyum… Lari… Diam… Senyum… Waduh! Ya sudahlah…)

Kembali ke masalah tadi. Apakah karena saya tidak merasakan adanya fobia pada diri saya maka saya sudah sepenuhnya bebas? Kenapa saya merasa tidak juga, ya? Karena, saya ternyata juga punya kebiasaan yang sering saya lakukan secara tidak sadar. Yang menyadarinya pertama kali justru teman-teman saya. Mereka bilang bahwa saya suka mengadu gigi geraham bawah dan atas saya hingga pipi saya kelihatan berkedut-kedut. Dan saya jadi sadar bahwa saya memang sering melakukannya kadang bahkan sampai rahang saya terasa pegal. Kalau saya mendadak sadar, biasanya saya mencoba melemaskannya dan santai. Kalau tidak, ya, seringkali rahang saya sampai benar-benar pegal. Jujur, saya tidak tahu apa penyebabnya karena hal itu terus berulang. Lantas saya berbuat apa? Praktis saya tidak berbuat apa-apa karena saya sendiri tidak tahu apa akar permasalahannya. Saya tidak mungkin bisa menyelesaikan masalah yang saya tidak tahu sebabnya, kan? Itu sama saja dengan mencoba mendinginkan suhu ruangan dengan AC yang tidak mau disuruh mendinginkan udara. Kecuali anda adalah tukang AC, anda tidak akan tahu persis penyebab AC anda tidak mau mendinginkan ruangan sampai ada tukang AC yang memeriksanya. Bisa jadi karena freonnya habis, kondensornya rusak atau malah mungkin anda perlu AC baru. Dalam tahap tertentu, jika memang perilaku tak sadar kita sudah terlalu menganggu, ada baiknya kita berkonsultasi dengan pihak yang ahli. Tentu saja bukan ahli pijat atau atau ahli reparasi AC, tapi psikiater yang mampu membimbing kita menemukan ujung pangkal masalah dan membantu kita menyelesaikannya.

Bagaimana dengan saya? Saya kadang-kadang memang merasa rahang saya sangat pegal tapi sejauh ini saya belum punya niat untuk mencari bantuan dari pihak ketiga. Sekalipun tidak berarti juga saya pasrah sama sekali. Saya berusaha untuk berdamai dengan masa lalu saya, apapun itu. Karena, apapun yang masuk ke dalam ketidaksadaran pasti berasal dari masa lalu saya. Lebih jauh, karena masa lalu-lah yang membentuk diri saya sekarang, maka berdamai dengan masa lalu bisa sama artinya dengan berdamai dengan diri sendiri alias menerima diri saya berikut segala kelebihan dan kekurangannya, juga seluruh pengalaman baik dan buruk yang pernah terjadi pada diri saya. Karena hal-hal itulah yang membentuk diri saya sekarang. Konsekuensinya saya juga harus menerima keberadaan orang-orang yang pernah, sedang dan akan masuk ke dalam hidup saya. Entah apa yang mereka lakukan atau perbuat dalam lingkaran hidup saya itu. Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang mencintai saya, menganggap saya biasa saja, atau membenci saya sampai mati. Karena bagaimanapun juga merekalah master-master pendekar yang mengajari saya bersilat. Orang-orang yang mengupas diri saya sampai ke intinya. Saya menghormati mereka semua. Dan bisa jadi itu anda.

14/4/10

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

Jakarta. Lewat tengah malam. Di kantor Bayu Music.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...