Desain Grafis dan Metamorfosa Logo Garuda Indonesia

Manusia memiliki kebutuhan dan keinginan yang terus berkembang. Dari yang awalnya manusia hanya memenuhi kebutuhan primernya untuk bertahan hidup hingga semakin kompleks dengan tuntutan untuk memenuhi kebutuhan sekunder atau bahkan tersiernya. Hal itulah yang mendorong semakin banyaknya produsen barang dan jasa bermunculan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen yang semakin beragam.

Dalam ketatnya persaingan di era komunikasi dan informasi ini, tiap produsen berusaha untuk muncul sebagai yang paling diingat dalam benak konsumen karena, tentu saja, merek yang paling diingat (secara positif tentunya) adalah merek yang paling memiliki kesempatan untuk dibeli saat konsumen yang membutuhkan atau menginginkannya. Berakar pada hal itulah dunia desain grafis juga semakin marak. Pesan-pesan marketing dikemas semenarik mungkin untuk memudahkan konsumen dalam mengingat pesan tersebut. Dan pesan-pesan tersebut tidak semata-mata verbal melainkan juga harus cukup kuat untuk dapat diingat secara visual. Di sinilah letak desain grafis bermain. Yaitu untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu yang diinginkan oleh pihak-pihak tertentu kepada sasaran yang tertentu pula dengan harapan sasaran tersebut mau memikirkan, merasakan dan melakukan perilaku tertentu yang diinginkan oleh pengirim pesan.

Beberapa pengertian desain grafis antara lain :

Menurut Suyanto desain grafis didefinisikan sebagai ” aplikasi dari keterampilan seni dan komunikasi untuk kebutuhan bisnis dan industri“. Aplikasi-aplikasi ini dapat meliputi periklanan dan penjualan produk, menciptakan identitas visual untuk institusi, produk dan perusahaan, dan lingkungan grafis, desain informasi, dan secara visual menyempurnakan pesan dalam publikasi.

Sedangkan Jessica Helfand dalam situs http://www.aiga.com/ mendefinisikan desain grafis sebagai kombinasi kompleks kata-kata dan gambar, angka-angka dan grafik, foto-foto dan ilustrasi yang membutuhkan pemikiran khusus dari seorang individu yang bisa menggabungkan elemen-eleman ini, sehingga mereka dapat menghasilkan sesuatu yang khusus, sangat berguna, mengejutkan atau subversif atau sesuatu yang mudah diingat.

Menurut Danton Sihombing desain grafis mempekerjakan berbagai elemen seperti marka, simbol, uraian verbal yang divisualisasikan lewat tipografi dan gambar baik dengan teknik fotografi ataupun ilustrasi. Elemen-elemen tersebut diterapkan dalam dua fungsi, sebagai perangkat visual dan perangkat komunikasi.

Menurut Michael Kroeger visual communication (komunikasi visual) adalah latihan teori dan konsep-konsep melalui terma-terma visual dengan menggunakan warna, bentuk, garis dan penjajaran (juxtaposition).

Warren dalam Suyanto memaknai desain grafis sebagai suatu terjemahan dari ide dan tempat ke dalam beberapa jenis urutan yang struktural dan visual.

Sedangkan Blanchard mendefinisikan desain grafis sebagai suatu seni komunikatif yang berhubungan dengan industri, seni dan proses dalam menghasilkan gambaran visual pada segala permukaan

Karena desain grafis memiliki misi pengiriman pesan, maka karya yang dibuat haruslah memiliki sifat reproduktif yaitu bisa diproduksi ulang dalam jumlah tak terbatas yang masing-masing persis sama (poster, kemasan, dsb) atau tayang di suatu media sehingga bisa diakses oleh masyarakat. Artinya, pada saat desainer grafis membuat suatu karya, ia juga harus memikirkan bagaimana karya tersebut dapat berfungsi sebagai penyampai pesan atau bagaimana cara karya tersebut akan direproduksi (cetak offset, sablon, melalui website internet, dsb). Tentu saja dengan mempertimbangkan strategi pesan dan tujuan pengiriman pesan tersebut. Pesan yang dikirimkan melalui poster dengan baliho tentu memiliki tujuan dan sifat yang berbeda. Atau, pembuatan desain spanduk promosi dengan pembuatan logo korporat tentu akan memiliki pertimbangan yang tidak sama.

Poster atau flyer akan lebih mudah diubah dibanding kemasan. Poster memungkinkan diganti lebih sering dibanding desain kemasan, tergantung pada strategi promosi yang dibuat. Bayangkan jika kemasan suatu produk terlalu sering diganti, konsumen akan sulit menemukan produk saat ia datang ke toko retail atau supermarket.

Desain logo korporat atau organisasi bahkan bisa bertahan lebih lama hingga puluhan dan ratusan tahun atau mungkin saja tidak pernah berubah. Perubahan logo korporat atau organisasi perlu dipertimbangkan dengan sangat matang. Hal ini karena pesan yang disampaikan lewat logo adalah pesan-pesan korporat seperti visi dan budaya korporat yang bersangkutan. Perubahan logo bisa menggambarkan sebuah perubahan besar yang terjadi dalam perusahaan. Misalnya, sekalipun masih memiliki ciri asalnya, perubahan logo SCTV terjadi saat terjadi perubahan manajemen. Atau logo Pertamina yang berubah sangat drastis, dari kuda laut menjadi bentuk yang lebih sederhana, mencerminkan perubahan paradigma perusahaan. Perubahan logo mencerminkan perubahan dalam tubuh organisasi atau korporat.

Bagaimana dengan Garuda Indonesia? Garuda Indonesia beberapa kali melakukan perubahan Logo Korporatnya. Hal yang perlu dipandang adalah logo korporat Garuda Indonesia juga sekaligus menjadi logo bagi jasa layanannya. Dengan melihat logonya, kita bisa membayangkan layanannya. Hal ini sangat berbeda dibanding logotype jasa layanan internet Speedy yang terpisah dari logo korporatnya, Telkom. Atau, bisakah anda membayangkan rasa Mie Sedaap dengan melihat logo Wings Food? Perubahan logo korporat Garuda Indonesia akan secara langsung terkena kepada konsumennya. Konsumen merasakan perubahan yang terjadi, mulai dari pengecatan logo di badan pesawat, pencetakannya di tiket, logo di kursi kabin dan sebagainya. Dan konsumen akan berpikir mengenai perubahan ini. Apa yang sebenarnya berubah?

Kita perhatikan terlebih dahulu sedikit sejarah awal nama Garuda Indonesia. Pada 25 Desember 1949, wakil dari KLM yang juga teman Presiden Soekarno, Dr. Konijnenburg, menghadap dan melapor kepada Presiden di Yogyakarta bahwa KLM Interinsulair akan diserahkan kepada pemerintah sesuai dengan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) dan meminta kepada beliau memberi nama bagi perusahaan tersebut karena pesawat yang akan membawanya dari Yogyakarta ke Jakarta nanti akan dicat sesuai nama itu.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Soekarno menjawab dengan mengutip satu baris dari sebuah sajak bahasa Belanda gubahan pujangga terkenal, Noto Soeroto di zaman kolonial, Ik ben Garuda, Vishnoe’s vogel, die zijn vleugels uitslaat hoog boven uw eilanden (“Aku adalah Garuda, burung milik Wisnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi diatas kepulauanmu”)

Maka pada 28 Desember 1949, terjadi penerbangan yang bersejarah yaitu pesawat DC-3 dengan registrasi PK-DPD milik KLM Interinsulair terbang membawa Presiden Soekarno dari Yogyakarta ke Kemayoran – Jakarta untuk pelantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan logo baru, Garuda Indonesian Airways, nama yang diberikan Presiden Soekarno kepada perusahaan penerbangan pertama ini

Awalnya, Garuda Indonesia lebih terfokus pada pelayanan jalur penerbangan domestik. Hingga tahun 1986, garuda ingin mengembangkan visinya untuk bersaing dengan maskapai penerbangan internasional yang telah lebih dulu aktif seperti KLM milik Belanda atau British Airways milik kerajaan Inggris. Hal ini karena keberadaan maskapai penerbangan suatu negara bisa dikatakan sebagai statement keberadaan suatu negara. Bayangkan singapura dengan Singapore Airlines-nya.

Logo Garuda ini mencerminkan visinya untuk menginternasional. Konsekuensinya, terjadi perubahan armada, jalur penerbangan dan manajemen. Perubahan logo adalah salah satu konsekuensi yang mungkin muncul saat terjadi perubahan besar dalam manajemen. Logo ini bertahan cukup lama hingga tahun 2009.

Perubahan kembali terjadi saat Garuda terkena larangan terbang dari Uni Eropa dan terkena isu dilarang mendarat di Arab Saudi. Hal ini mendorong Garuda untuk kembali meningkatkan standar pelayanan dan manajemennya. Untuk mencerminkan perubahan tersebut Garuda Indonesia kembali mengubah logonya. Harapannya tentu saja agar konsumen mengubah persepsi buruk yang sempat melekat sebagai maskapai yang menafikan standar keamanan. Logo ini mencerminkan perbaikan besar dalam tubuh korporasi Garuda Indonesia. Bagaimana menurut anda?

3 Comments

  1. Just want to say what a great blog you got here!
    I’ve been around for quite a lot of time, but finally decided to show my appreciation of your work!

    Thumbs up, and keep it going!

    Cheers
    Christian, iwspo.net

    • Thank you…😀 you are so very welcome… Glad to know that you appreciate my work…

  2. Just want to say what a great blog you got here!
    I’ve been around for quite a lot of time, but finally decided to show my appreciation of your work!

    Thumbs up, and keep it going!

    Cheers
    Christian,Earn Free Vouchers / Cash


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...