Penyihir dan Sapu Petir

Aku terbang di sela-sela hujan. Menukik. Berkelebat. Menjurus. Melawan arus. Mengawang. Di atas awan. Menembus. Menyela deras hujan.

***

Aku tak menyangka. Saat aku masih sebatang kayu dan ranting-ranting yang bertebaran bahwa aku akan ada di sini sekarang.

Seorang penyihir tua meniupkan hidup untukku. Ia membakar kayu dan menguapkan asap hijau dari sebuah belanga. Melayangkan tubuhku dengan sihirnya. Meresapkan kekuatan dengan mantra-mantra. Seketika aku merasa bahwa aku ada.

Bagaimana aku tahu kisah itu? Karena penyihir tua selalu bersenandung ketika melakukan semuanya.

“Wahai kau bongkah kayu. Kuserut. Kuserut. Kuukir. Kuukir. Hingga kudapat inti sekuat petir. Kususun. Kususun. Kuikat. Kuikat. Hingga ranting ‘kan membantumu terbang cepat. Kuayun. Kuayun. Kuasap. Kuasap. Hingga hidup masuk mengendap.”

Tiga tahun lamanya ia terus melakukan hal yang sama. Menyanyikan senandung yang tak berbeda. Menyerut dan mengikir kayu hingga halus seperti yang diinginkannya. Menatah dan menghilangkan titik-titik yang tidak seharusnya ada.

Melayangkanku di atas belanga beberapa lama. Mencelupkanku dalam cairannya. Mengeringkannya. Membaca mantra-mantra. Tiga tahun ia terus mengulang-ulangnya.

Ia penyihir tua yang sabar. Semua dilakukannya perlahan-lahan. Hati-hati menggerakkan jemari tangannya. Tak pernah terburu-buru. Tak terbersit tentang waktu. Dengan sebuah pelita diperiksa setiap potong hasil kerjanya. Tersenyum puas saat tahu ia telah melakukannya dengan benar. Mengernyit dan berpikir saat ada sesuatu yang salah dan memperbaikinya.

Terus terdengar senandung-senandung yang sama.

“Wahai kau bongkah kayu. Kuserut. Kuserut. Kuukir. Kuukir. Hingga kudapat inti sekuat petir. Kususun. Kususun. Kuikat. Kuikat. Hingga ranting ‘kan membantumu terbang cepat. Kuayun. Kuayun. Kuasap. Kuasap. Hingga hidup masuk mengendap.”

Kurasakan perubahan dalam tubuhku. Dalam serat-serat kayu yang menyusunku. Dalam ranting-ranting yang terikat di ujungku. Aku kini berpikir. Aku kini bernapas. Aku kini merasa. Aku kini hidup sebagai diri. Aku kini punya hati.

Penyihir tua menimangku bagai bayi. Mengelusku seperti aku anaknya. Mendongengiku seperti aku bertelinga. Dan aku nyata mendengar. Karena aku kini ada. Bisa kudengar ia berkata, “Kunamakanmu sapu petir. Kuperkenankanmu membelah awan. Kupersilakan menembus hujan. Dan kini kubiarkan kau terbang ke angkasa. Menembus jagat raya.”

Ia tak lagi bersenandung tapi ia berkata, “Terbanglah sebatas langit masih menjadi batas. Tapi mendaratlah saat kau memang harus mendarat. Kau akan bertemu pemilik sejatimu. Pergilah. Temukan dia.”

Aku ingin menangis saat ia menyuruhku pergi darinya. Tapi ternyata aku takpernah punya airmata. Aku terlalu mencintainya untuk menolak perintahnya. Terlalu banyak kasih untuk bisa melawannya. Maka, aku terbang meninggalkannya. Melesat secepat kilat. Berputar-putar sebelum pergi darinya.

“Wahai, sapu petir. Kubuka langit untukmu. Dan bumi adalah milikmu!”

***

Kini, aku terbang menembus hujan. Melesat. Menghujam. Menukik. Menghindar. Berkelit di sela kilat. Menderu di tengah guruh gemuruh. Terbang membelah awan. Memotong angin. Menerpa badai.

Halilintar menyambar-nyambar. Membalik cahaya dan kegelapan. Aku menyisip-nyisip dan terus menghindar. Halilintar terus menikam. Hujan terasa penuh dan padat. Titik-titik air bergerak makin lama makin rapat.

Malam makin gelap. Tiada yang terlihat kecuali pisau-pisau halilintar yang terus menebas. Seperti jutaan anak panah terlepas. Dewa-dewa menggenggam busur. Bunga-bunga yang gugur. Memercik dalam gelap. Pendar-pendar halilintar.

Penyihir tua tak pernah mengatakan kapan, bagaimana dan mengapa aku harus turun dari benaman langit. Aku tak tahu pada siapa aku menuju. Siapa pemilik sejati tak pernah ia kisahkan. Mengapa ia membuatku ada juga tak pernah diceritakan.

Jadi aku terbang dan terus terbang karena penyihir tua hanya berkata bahwa aku harus terbang. Aku ada untuk terbang maka aku terbang.

***

Tiada cerita tentang hujan. Pun tiada kisah tentang badai. Aku sapu petir ditelan awan. Bercerita padamu tentang perjalanan. Bukan tentang bagaimana sebuah kisah selesai, tapi bagaimana ia dimulai.

Sabetan-sabetan halilintar yang tak kunjung berhenti mengagetkan pada awalnya, namun aku telah terbiasa. Aku terus meliuk kian kemari. Berputar dan menukik. Bukan sekadar menghindar atau lari, tapi aku telah menjadi bagiannya. Hujan, badai, kilat, guruh dan halilintar membuatku makin ada untuk jadi sebuah cerita.

Aku tak menduga bahwa kemudian sekelebatan halilintar datang menyambar. Tak cukup cepat untuk tepat menghajar. Namun, sempat pula aku terlempar jauh. Terkena sengatan begitu rupa rasanya. Membuat aku terbang tak tentu arah. Aku oleng tak berketentuan. Aku menukik. Bukan terbang, tapi jatuh dan rebah.

Tak sanggup aku mencoba terus melayang. Aku tak mampu lagi terbang. Di atas bumi aku menghujam. Merebah di muka bumi, aku bertanya dalam hati, “Mana sang pemilik sejati?”

***

Aku mendarat tanpa pilihan. Halilintar perkasa memberiku paksaan. Menghentikan perjalanan dan membuatku diam sekarang.

Aku terus mencoba bangkit. Mencoba lagi terbang. Tapi aku jatuh dan jatuh lagi. Bukankah penyihir tua berkata bahwa aku ada untuk terbang? Jika tiada lagi kekuatan untuk kembali terbang, apalagi yang bisa kulakukan?

Hujan terus menderu. Halilintar sambar menyambar di hitamnya langit malam. Aku harus kesana. Aku harus menembusnya.

Aku nyaris putus asa saat tak kunjung bisa terbang. Maka aku diam. Aku ingin menangis saja, tapi aku takpernah punya airmata. Inikah akhir perjalanan? Sapu petir yang lumpuh takkan pernah jadi cerita. Mati tanpa pernah bertemu pemilik sejati.

***

Kulihat sebuah rumah kecil di kejauhan. Lampunya berkelip-kelip. Jika aku takpernah akan sampai lagi di awan, maka aku harus tiba di rumah kecil itu. Mungkin itulah nasib sapu petir perkasa, teronggok diam di balik pintu.

Aku melayang sedikit-sedikit ke arahnya. Tubuhku yang tersusun dari mantra dan kekuatan, kini tak ubahnya sapu rumah yang takkan bergerak tanpa tangan yang menyentuhnya.

Mungkin aku tak lagi terbang, tapi aku masih bisa bergerak. Tak mungkin aku mengecewakan penyihir tua. Sekalipun serat kayu terakhirku telah jadi abu, aku harus bertemu pemilik sejatiku. Ini bukan cuma perintah, ini janji yang harus ditepati. Ini sumpah tak terlanggar yang harus dibawa sampai mati.

Terseok-seok aku mencoba bergerak. Rasanya sangat jauh, tapi aku tahu aku mendekat. Sejengkal-sejengkal jadi sangat berharga. Aku bukan lagi sapu petir perkasa. Tapi mantra yang ada dalam jiwa takkan hilang begitu saja. Halilintar bisa menyambar atau membakar tapi tiada yang akan sanggup membuatku ingkar dari janji terikrar. Aku mungkin terseok tak berdaya, namun jiwaku tetaplah sapu petir perkasa.

Inilah kekuatan terakhirku. Aku terus merangkak dan merayap menuju rumah kecil itu. Malam makin gelap dan menghitam. Aku tak melihat apa-apa lagi. Aku buta. Tapi aku masih bisa terseok ke sana. Aku bergerak ke arah yang hanya bisa kulihat dalam ingatanku. Jikapun aku hancur setelahnya, biar sajalah. Yang aku tahu, aku harus bergerak! Hanya itu.

Aku merayap dalam buta. Rasanya tiada kekuatan yang tersisa. Seluruh seratku sudah mati. Ranting-ranting yang menyusunku rasanya hancur jadi debu. Jangankan terbang, merayap pun sudah tak bisa kulakukan. Kini aku tahu, karena aku merasa, aku bisa sakit karenanya. Aku akan menyerah! Aku hampir menyerah!

Saat sebuah tangan kecil menyentuhku. Aku tiba di ujung anak tangga dan ia mengangkatku. Membawaku ke dalam rumah kecilnya. Aku buta, tapi aku mampu merasa.

***

Bocah kecil itu bocah biasa tapi duniaku jadi berbeda setelahnya. Ia bermain-main denganku. Membuatku kembali melihat. Dan kali pertama, aku tahu bahwa hati juga bisa merasa gembira. Ia terbang denganku ke pinggir desa. Menuju sungai di sana. Menyentuh rerumputan. Bermain-main di sela pohon hutan. Dengannya kurasakan petualangan. Menuju tempat-tempat yang tak pernah kubayangkan. Menundukkan naga di puncak gunung. Mencari sekuntum bunga di pelosok dunia. Membantu para ksatria menemukan jalan mereka. Mengalahkan penyihir-penyihir jahat yang menggangu. Atau sekadar pergi ke puncak air terjun dan mendengarkan gemuruh bunyinya.

Ribuan tempat sudah didatangi. Ribuan orang ditemui. Aku tak pernah jemu mendampinginya. Kuletakkan kesetiaanku padanya. Menemani di saat tersulit. Ikut merasa sakit. Berbagi gembira. Merasa bahagia dengannya.

Dan tak terasa seratus tahun sudah kubersamanya. Tiada lagi petualangan. Tiada naga atau ksatria. Tapi aku masih bersamanya.

Di sebuah pondok tua yang sangat kukenali ia bersenandung.

“Wahai kau bongkah kayu. Kuserut. Kuserut. Kuukir. Kuukir. Hingga kudapat inti sekuat petir. Kususun. Kususun. Kuikat. Kuikat. Hingga ranting ‘kan membantumu terbang cepat. Kuayun. Kuayun. Kuasap. Kuasap. Hingga hidup masuk mengendap.”

Aku berdiri di sampingnya.

Jakarta, Februari 2010

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...