Sang Pembunuh Hujan

Ini tengah malam. Targa sudah terlalu lemah. Tubuh dan otaknya sudah menuntut istirahat. Sepanjang yang ia temukan adalah sebuah gubuk di tengah hutan yang lama ditinggalkan pemiliknya. Ini sudah lebih dari cukup, pikirnya. Dalam sebuah perjalanan menembus hutan perawan, menemukan sebuah gubuk yang dapat ditiduri adalah sebuah kemewahan. Biasanya Targa menidurkan dirinya di mana saja, di atas batu besar, di ketiak pohon tua, di pinggiran sungai, di dalam gua atau bahkan di pinggiran jurang dimana pun ada tempat yang datar. Tempat ia bisa merebahkan tubuhnya yang sudah jadi terlalu lemah saat matahari sudah merangsak pergi.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, dikumpulkannya ranting-ranting kering yang berserakan di sekitar gubuk untuk menyalakan api unggun. Selain untuk menghangatkan badannya yang diserang angin hutan yang tak punya belas kasihan, Targa juga hendak membakar daging musang yang tadi sore berhasil diburunya. Musang sial yang terlalu lambat untuk menghindari sabetan kelewang panjang.

Begitulah. Jika kematian sudah harus menjemput, tak mungkin menghindar. Targa adalah malaikat maut bagi musang malang itu dan musang itu adalah malaikat penyelamatnya. Membuat Targa bisa tidur malam ini dengan perut kenyang.

Disayatnya kulit musang itu hingga bersih. Daging dipotongnya tipis-tipis agar lekas matang. Ditusuk dengan ranting yang cukup kuat dan diputar-putarnya di atas api yang membara. Tidak ada bumbu atau garam, bisa menikmati daging matang saja adalah sebuah anugrah bagi Targa yang sudah kelelahan.

Dimakannya  daging merah yang kini berwarna agak kehitaman karena abu pediangan. Berlawanan dengan sabetan kelewangnya yang secepat halilintar, Targa mengunyah potongan-potongan daging itu begitu perlahan. Ia ingin menikmati setiap titik makanannya. Ia mengunyah bahkan lebih pelan.

Makan adalah saat yang penting bagi Targa. Bukan sekedar mengisi perut. Makan adalah saat dimana Targa bisa duduk diam, membayangkan masa lalunya. Makan adalah saat Targa tak perlu memasang matanya dengan awas, ia bisa menerawang. Makan bisa membuat Targa membiarkan matanya dilamun pikiran.

Dulu, ia tidak makan dengan cara seperti ini. Ia makan dengan cepat dan bersemangat. Ia dulu sangat bahagia dan bukannya sendiri di tengah hutan perawan bersama daging musang yang sedikit demi sedikit pindah ke perutnya. Dulu, ia bisa makan apa saja. Ibunya memasak daging kelinci, ikan sungai, burung besar, keong rawa, daging ular, sayur kangkung, genjer, rebung dan hasil-hasil buruan yang didapatkan oleh ayahnya. Pria yang kini juga telah tiada.

Sambil mengunyah daging musang tanpa bumbu ia membayangkan masakan ibunya lewat melalui tenggorokan. Kenangan, itulah bumbu bagi Targa. Membuat daging musang tak lagi terasa hambar. Dulu, ia biasa makan bertiga dengan mereka, berbagi tawa dan bercanda. Sepulang ayah dari berburu, Targa akan menunggu ibu selesai memasak sambil berlatih menggunakan kelewang. Ayahnya memberi contoh dan Targa kecil menirunya. Menyabetkan kelewang pada potongan-potongan bambu yang dilemparkan ayahnya. Melompat, menyabet dan berkelit. Menebaskan kelewang kesana-kemari. Saat ia tidak berhasil mengenai potongan bambu itu, ayah akan tertawa lebar dan memberinya contoh lagi.

Daging musang tanpa bumbu kembali melewati tenggorokan yang kini tercekat airmata. Airmata yang perlahan semakin deras seperti hujan yang jatuh malam itu. Malam saat ibu meregang nyawa untuk melahirkan adiknya. Hujan begitu deras hingga menelan suara erangan ibunya menjadi hanya seperti setitik air yang terjatuh darinya. Ayah mencoba membantu, merebuskan air hangat dan membasuh ibu dengan kain untuk meringankan penderitaannya. Tapi, jika kematian sudah harus menjemput, memang tak mungkin menghindar. Adiknya terlahir tanpa nyawa. Tak lama ibu pun menyusulnya. Tinggallah mereka berdua.

Hujan terus mengguyur. Air sungai hampir meluap. Suaranya yang gemuruh, kini seperti sepi saja. Hujan seperti berderik. Hujan adalah ular derik berbisa yang memagut. Karena setelah itu, ia mendengar ayahnya berkata.

“Targa, Ibu pergi dibawa hujan…”

Lalu suara hujan kembali menggemuruh. Bahkan lebih  keras dari sebelumnya. Saat ia sendiri menunggu ayahnya pulang berburu. Malam sudah lebih dari gelap dan hujan mengamuk tak berketentuan. Melengkungkan batang-batang bambu di luar hingga seperti akan patah. Tapi bambu takkan menyerah. Dilawannya hujan dengan berkelit dan berputar, layaknya Targa saat berlatih menggunakan kelewang.

Targa masih sendiri dan ayah belum juga pulang. Targa berdoa pada hujan yang kebetulan datang. Ini hujan yang sama seperti saat ibu meninggal. Mungkin ibu bersama hujan saat ini. Maka Targa berkata pada hujan, jika benar Ibu bersamamu, tolong kembalikan dia pada kami saat ini. Kau boleh pergi tapi tinggalkan ibu di sini. Ayah sudah terlalu sedih. Targa berdoa hingga lelah. Hingga tertidur.

Dan saat ia membuka mata, hujan telah pergi dan ibu tak ada di sini. Hujan tak mengabulkan doanya. Bahkan, ayah belum pulang sejak semalam. Targa berdoa lagi. Hujan, dulu kau pernah membawa ibu dan adikku, tolong, jangan bawa pergi ayahku juga. Tapi, ayah tak juga kembali. Targa pergi mencari ayahnya. Ia berharap hujan cukup punya hati untuk tetap membiarkan ayah ada di sini bersamanya.

Dengan harapan yang besar Targa berjalan menyusuri hutan yang tak pernah dimasukinya. Ayah selalu melarang Targa pergi terlalu jauh sebelum ia cukup dewasa. Banyak hewan buas dan berbahaya, begitu katanya. Targa belum bisa menyabet kelewang secepat halilintar. Tapi kali ini ia tak punya pilihan. Ia harus mencari ayah yang belum juga pulang.

Kaki Targa yang kecil menerabas semak-semak berduri, ia telah melewati rumpun bambu sejak tadi. Melewati sungai, berjalan di sela-sela pohon-pohon besar yang berdiri rapat seperti menelan Targa yang tak berdaya. Ayah tak juga ditemuinya. Matahari tiba di puncak ubun-ubun dan Targa sudah hampir putus asa. Suaranya telah habis untuk berteriak memanggil ayah. Airmata sudah kering saat pandangannya tertumbuk pada pemandangan di depan sana.

Pemandangan yang indah. Gunung hijau berkalungkan alur sungai yang anggun. Di seberang jurang yang jauh, di kaki gunung yang indah dan di sela batu-batu padas, dilihatnya ayahnya terbaring dengan kelewang di pinggangnya dan bangkai seekor kelinci di tangannya. Ayahnya tak bergerak. Ia tertidur di sela batu-batu besar. Bajunya masih basah karena hujan semalam. Pohon-pohon yang tinggi melindunginya dari terik matahari.

Targa menangis dan berkata, “Hujan, mengapa kau bawa pergi ayahku juga?”

Dengan susah payah, dibawa tubuh ayahnya menuju pondok. Kelewang halilintar yang masih terlalu panjang disampirkan di pinggangnya. Dikuburkannya ayah di samping kubur Ibu dan adiknya. Kini mereka telah berkumpul dan Targa bersimpuh sendirian.

Di hadapan ketiga kubur itu Targa bersumpah, “Sampai akhir hidupku, aku akan memburu hujan dan memenggal kepalanya!”

***

Inilah adegan pengejaran terbesar yang pernah ada. Targa si Kelewang Halilintar melawan Hujan. Seluruh penduduk desa di kaki gunung dan pinggiran hutan telah mengetahuinya. Ini adalah pengejaran yang telah berlangsung selama puluhan atau bahkah ratusan tahun, semenjak mereka kecil bahkan sebelum kakek-nenek mereka dilahirkan. Targa tak berhenti mengejar Hujan dan Hujan tak pernah berhenti menghindarinya. Hanya matahari yang bisa menghentikan mereka sekalipun tak sekalipun bisa mendamaikannya. Itulah sebabnya, jika mendung datang, penduduk desa akan segera menyuruh anak-anak mereka untuk segera masuk. Mendung adalah tanda bahwa pertarungan akan segera dimulai karena Targa mengejar Hujan dengan melihat mendung sebagai penanda.

Sesaat mendung datang, Targa akan segera melesat mencari Hujan. Bergerak mengendarai angin yang berhembus, menuju pusat hujan. Mencari kepalanya untuk dipenggal. Berkelebat cepat untuk memenuhi sumpahnya. Menantang hujan untuk bertarung sampai mati. Ini pertarungan antar ksatria.

Semakin hebat pertarungan mereka berdua, semakin deras air yang turun. Kilat menyambar-nyambar setiap kali kelewang Targa beradu dengan pedang angin yang digunakan oleh Hujan untuk membela dirinya. Benturan-benturan itu menciptakan halilintar menggelegar yang akan menyambar apa saja yang ada di bawahnya. Menghanguskan pohon hingga tumbang, membutakan orang yang melihatnya atau bahkan mengeringkan sungai sekalipun kemudian sungai akan kembali dipenuhi air yang diturunkan oleh Hujan. Tapi, Targa tak pernah menyerah.

Dengan ilmu yang diajarkan ayahnya, Targa berkelebat, menukik, mencelat, menghindar, menyerang dan mencari kepala Hujan untuk dipenggalnya. Tapi Hujan takkan bergeming. Ia menghindar, berkelit dan menangkis serangan-serangan Targa yang membabi buta. Kelewang Halilintar dan Pedang Angin beradu dahsyat menimbulkan kilat yang menyambar-nyambar menyilaukan.

“Takkan kubiarkan kau mengambil apa-apa lagi!” teriak Targa sambil mengayunkan Kelewang Halilintarnya.

“Aku tak mengambil apapun!” Hujan menangkis sambil menjawab. “Lagipula, apalagi yang bisa kuambil, saat yang tertinggal hanya dirimu sendiri!”

“Tutup mulutmu! Rasakan ini!”

Targa melompat dan menebaskan kelewangnya dengan lebih hebat. Hampir mengenai kepalanya, namun dengan sigap Hujan menahan dengan Pedang Angin yang ada di tangannya. Dendam telah membakar, menimbulkan kilat dan halilintar menyambar-nyambar. Pertarungan terus berlangsung. Malam tak bisa menghentikan mereka. Sabetan kelewang dan Pedang Angin bergantian saling menyerang membuat bintang-bintang beringsut ketakutan. Penduduk desa gemetaran di tengah pertarungan yang sepertinya tak kunjung usai. Targa tak juga lelah dan Hujan tak juga menyerah.

“Hentikan seranganmu! Kau takkan bisa membunuhku. Aku abadi…,” Hujan berkata sambil terus menghindar dari sabetan-sabetan kelewang Targa yang menghunus.

“Jikapun kau tak bisa terbunuh, aku tetap akan memenggal kepalamu!” jerit Targa.

“Penggallah kepalaku karena itu percuma! Kau hanya ingin membalas dendam yang takkan terbayar!”

“Kau telah mengambil Ayah, Ibu dan Adikku. Kau harus membayarnya!” Targa meraung.

“Bukan aku yang mengambil mereka!”

“Kau bohong! Kau ada malam itu!”

“Aku tidak mengambil mereka! Aku menangis untuk mereka!”

“Kau pembohong! Terima ini!!”

Kelewang Halilintar terus menyambar. Menunggu Hujan lengah dan tak bisa menghindar. Namun, Hujan terlalu hebat bagi Targa, tak sedikitpun kelewang Targa menyentuh kulitnya. Targa terus menyerang dan Hujan terus saja menghindar.

Pertarungan ini akan panjang seandainya Matahari tidak memisahkan. Matahari baru saja terbangun dari peraduannya. Menyinarkan sinarnya ke seluruh penjuru dunia. Dan sekali lagi Hujan berhasil lolos. Ia berkelebat menjauh. Sebelum Targa sempat mengejarnya, Hujan telah menghilang meninggalkan Targa yang terbakar dendam. Sumpahnya semakin dalam.

“Sampai ujung neraka pun akan kukejar kau!”

Untuk terakhir kalinya hari ini, halilintar menggelegar.

***

Bagi Targa, hari baru adalah petualangan baru. Awal perjalanannya mencari Hujan untuk memenggal kepalanya. Bagi Hujan, hari baru adalah hari untuk kembali bertarung melawan Targa yang dipenuhi kesumat. Kemanapun Hujan pergi Targa selalu mengikutinya. Selama Hujan masih ada di kolong langit, Targa takkan membiarkannya hidup selama napas masih bisa dihirup.

Daging musang telah memenuhi perutnya semalam. Memberikan tenaga bagi Targa untuk memulai pertarungan barunya. Petualangan baru untuk memenggal Hujan tepat di lehernya. Sumpah harus ditunaikan. Dendam harus terbayarkan.

Dengan tenaganya yang telah pulih, ia menguatkan niatnya kembali untuk membantai Hujan dan memenggal kepalanya hingga tandas. Targa menunggu di bawah sebuah pohon besar yang bijak. Pohon besar yang dahannya bergoyang-goyang ditiup angin utara. Mengingatkannya pada sebuah lara. Lara yang kini terus menguatkan dayanya untuk mengalir dalam petualangan pembalasan dendam tak berkesudahan hingga ia terbalaskan.

Targa diam, mengasah kelewang halilintarnya pada sebongkah batu besar yang teronggok di bawahnya. Batu besar yang dulu pernah menyangga jasad ayahnya sendirian di tengah hutan perawan. Targa diam namun memasang telinganya tajam-tajam. Mendengarkan setiap hela angin yang bersenandung digesek pohon-pohon bambu dan semak-semak duri di kejauhan. Angin menyanyikan hujan setiap kali ia akan datang. Angin yang membisikkan dimana hujan kelak berada.

Secara tak sengaja Targa pernah mendengar bangsa angin berbicara dalam bahasanya. Mereka membicarakan hujan yang sebentar lagi berguguran. Dari bisikan mereka, Targa mengetahui bahwa Hujan sedang bekemas untuk menuju suatu tempat, hujan yang juga membuat ayahnya teronggok jadi mayat. Semenjak itulah, Targa selalu memasang telinganya pada bisik-bisik angin yang sepi, nyanyian-nyanyian para pemanggil hujan.

Angin terus bertiup-tiup, bernyanyi-nyanyi, berbisik-bisik, saling bercerita tentang hujan. Wasweswoswaswessswos. Angin tertawa-tawa, terbahak-bahak, tergelak-gelak, saling berkisah tentang seorang teman. Wasweswuswasweswus. Angin berteriak-teriak, berseru-seru, menderu-deru, saling bercerita tentang dendam dan kematian. Wuswoswuswos. Lalu sepi.

ssssshhhhhhhhhh

Targa diam, menghentikan gosokan pedangnya pada batu, karena ia tahu sebentar lagi angin akan berhembus menuju dimana Hujan berada. Benar saja…

ssssshhhhhhsssss

Targa melompat, bergerak secepat kilat. Mengikuti angin yang pergi ke selatan tempat dilihatnya awan mendung berarak datang. Targa sudah tidak sabar. Ini harus menjadi pertarungan terakhirnya, ia berpikir, dia atau aku yang harus mati.

Targa terus melesat, berkelebat penuh kesumat. Dilihatnya mendung semakin tebal. Ia tahu hujan ada di sana. Targa tak peduli, akan dikerahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya. Jika memang Hujan akan terpenggal kepalanya, inilah saatnya. Kalaupun ia sendiri yang harus mati, ia tak peduli. Ini saatnya mengakhiri petualangan ini.

Targa berlari menembus angin. Semak beterbangan dan pohon bergoyang-goyang terserempet Targa yang lepas dari busur dendamnya. Pohon-pohon rotan menyisih, daun bergemerisik sedih. Mereka tahu, ini adalah pertarungan terakhir. Pertarungan antar ksatria. Hujan atau Targa akan mati hari ini.

Targa mencelat dengan kekuatan penuh, menembus mendung yang gemuruh. Hujan ada di sana untuk dipenggal kepalanya. Hujan melihat Targa begerak ke arahnya. Ia berbalik dan melompat. Wajah Targa merah terbakar dendam. Hujan tahu kali ini pertarungan takkan selesai secepat itu.

Angin menyadarinya, mereka tak menyesal karena jika takdir telah tertulis takkan ada yang bisa lari. Dengan tarian yang gemulai, angin menyanyikan obituari, hymne para pahlawan yang gugur dalam perang. Hari ini seorang pahlawan akan menentukan nasibnya, kalah atau menang, hidup atau mati. Akan tiba saatnya.

Hujan bahkan tak sempat berkata-kata saat kelewang halilintar mencoba menebas kepalanya. Halilintar pertama sudah menggelegar. Kelewang Targa mengiblat ke kepala sang Hujan yang segera menangkisnya. Pertarungan terbesar sepanjang sejarah telah dimulai. Tiada makhluk hidup yang berani mendekat. Kali ini, tikus tanah pun segera bersembunyi di liangnya. Mereka tahu halilintar yang mencelat dari tengah pertarungan akan menyambar apa saja hingga binasa.

Targa menusuk lalu memutarkan kelewangnya dengan dahsyat, anginnya melontarkan sebuah gunung hingga bumi bergetar. Hujan berkelit. Ia cukup gesit untuk menyelamatkan kepalanya sendiri dengan melintangkan pedang angin di depan wajahnya untuk menahan sabetan kelewang yang terlontar dengan tenaga penuh. Halilintar kedua segera menggelegar, kilatnya menyambar sebuah bukit hingga hangus terbakar. Makhluk-makhluk yang ada di sana berlari serabutan, mencoba menghindar.

Hujan menghindar, tapi ia tak pernah lari. Ia terus menghadapi sabetan-sabetan kelewang dengan tangkisan-tangkisan pedang angin. Tapi, tak sekalipun Hujan pernah membalasnya. Ia hanya menangkis, menghindar, berkelit, hingga kilat berpendar-pendar, menyambar sebuah pohon besar hingga terlontar jauh. Tapi, Hujan tak pernah lari, ia selalu ada. Menahan setiap serangan Targa dengan sigap.

Targa hilang kesabaran. Ia terus menyerang dan tak satupun dari serangannya mampu melukai Hujan sedikit saja. Hujan seperti mempermainkannya. Hujan hanya menangkis, menghindar, berkelit, hingga kilat berpendar-pendar, menghanguskan rumpun bambu hingga hangus jadi abu. Targa benar-benar terbakar. Lidah api menjilat-jilat dari tubuhnya. Ia bagai obor yang menyala di tengah malam buta, meliuk, berputar, melata, Targa menyerang dengan dendam membara.

“Serang aku!” Targa meradang. “Jangan diam! Balas seranganku!”

Tapi, Hujan sama sekali tak terpancing. Ia tetap tak membalas serangan Targa, ia hanya menangkis, menghindar, berkelit, membuat Targa menangis. Targa menangis putus asa, ini usaha yang sia-sia. Hujan bukan tandingannya. Hujan hanya mempermainkannya. Ini perjalanan ilusi, pengejaran yang cuma terjadi dalam mimpi.

Mimpi buruk yang menghantui setiap jiwa yang hidup dalam pengembaraan. Pengembaraan dendam penuntutan balas atas rasa sakit yang sebenarnya hanya diam bersemayam dalam hati yang sunyi.

Hujan turun semakin deras. Sejuta titik air berjatuhan bersama airmata Targa yang kini semakin putus asa. Putus asa dalam usaha pembunuhan yang mungkin takkan pernah terwujud karena ini adalah pembunuhan atas kenangan. Kenangan pedih yang hidup dalam tiap jiwa yang sakit.

Targa kini merasa seperti menari dengan hujan sebagai pasangannya. Tarian pedang dan kelewang yang mencelatkan kilat dan halilintar ke sepenjuru bumi yang damai. Kelewang terus menyabet-nyabet dengan anggun. Targa menyadari bahwa sabetan kelewangnya takkan pernah menyentuh leher Hujan sedikitpun. Hujan seperti mengetahui setiap gerakannya. Ini hanyalah perulangan-perulangan yang takkan berakhir. Ini semua hanyalah rekaan dari kejadian-kejadian lama yang muncul dari kenangan.

“Sadarkah kau siapa aku?!” Hujan berteriak padanya.

“Siapapun kau! Kau akan kubunuh!” Dengan hati yang kini kosong melompong Targa menyahut keras.

“Aku adalah Kau! Kau adalah Aku!”

Targa seperti tuli. Ia terus melesatkan sabetan-sabetan kelewangnya ke arah ruang-ruang kosong di sekitar sang Hujan. Hujan terus saja bergerak kesana-kemari, bermain-main dengan gerakan-gerakan Targa yang lembut mengalun.

Hujan kembali berkata, “Kau tak kan pernah bisa membunuhku! Aku abadi dalam dirimu! Aku hanya mencerminkan dirimu! Aku adalah bayanganmu!”

“Kelewang ini lebih cepat dari bayangan manapun juga. Maka, jikapun kau hanya bayangan, pedang ini akan sanggup memenggal kepalamu!”

“Lihat aku! Lihat aku baik-baik!” Hujan berteriak. “Maafkan dendammu!”

Targa kini merasa semua bergerak makin lambat. Hujan yang selama ini berkelebat hingga nyaris tak terlihat, jadi seperti menari-nari lembut dilatari kelambu putih titik air.

Benar! Benar saja! Ia melihat dirinya sendiri. Targa tak pernah bercermin, namun dari bayangannya di permukaan sungai Targa tahu bahwa sosok yang ada di depannya itu adalah dirinya sendiri. Diperhatikannya sekali lagi sambil terus berkelebat.

Benar! Ia benar juga! Sosok itu hanya menjadi bayangan bagi dirinya. Yang menyebabkan setiap sabetan kelewang halilintar tak pernah bisa mengenainya. Bahkan  bisa tertangkis dengan sempurna. Karena ia bayangan! Bagaimana mungkin membunuh bayangan? Bisakah bayangan dibunuh? Bukankah bayangan hanya mencerminkan apa yang dibayangkannya? Targa terdiam. Dadanya bergemuruh. Jantungnya berdetak memburu-buru. Targa tersadar. Targa begitu sadar. Semua ini akan kembali pada dirinya sendiri. Apapun yang ia lakukan pada dirinya sendiri, akan mengenai bayangannya.

Maka, satu-satunya cara memenggal bayangan adalah memenggal pembayangnya!

Tak terasa, api yang menyelimuti tubuh Targa berubah perlahan, menjadi api biru yang lembut. Begitupun dengan hujan yang kini turun dalam sebuah adegan lambat. Setiap tetes air seperti hidup dan menari, menyiprat dan berkecipak, meratap dan menggelegak.

Hujan telah terpenggal kepalanya dan Targa merasakan nyawanya meninggalkan tubuhnya. Ia bisa melihat ayah dan ibu yang menggendong adiknya. Targa tersenyum sementara Hujan terus mengembara mencari jiwa-jiwa pengelana. Targa bergandengan tangan dengannya.

(Jakarta, Januari 2009)

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

4 Comments

  1. Seneng banget bacanya…serasa berada disana…I Like This!!

    • Thank you, Kris…. Seneng elu suka…🙂
      Pakabar?

  2. Love the pictures, very powerful Mas Wisnu!

    • Which picture nih? hehehe…. Anyway, thank you…. O,iya…. seneng tadi bisa kumpul-kumpul….🙂


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...