Canon in D (Ode untuk Serigala Pengelana)

Alkisah. Di suatu negeri antah berantah. Terceritakan seekor serigala yang  berjalan sendirian di awal musim dingin. Daun-daun baru saja gugur diterpa angin utara yang beku. Coklat daun-daun memenuhi tanah dan menutup lumut yang berserakan. Cerpelai dan tikus mondok kini mulai meringkukkan badannya dalam liang untuk sebuah tidur panjang. Rubah berjingkatan mencari serangga-serangga tersesat untuk dijadikan santapan. Tupai terbirit-birit mengumpulkan sisa-sisa buah cemara.

Sementara, salju pertama mulai jatuh. Menempel di hidung seekor rusa. Ditatapnya langit yang mendung putih. Ia melanjutkan makan karena sebentar lagi rumput dan ranting akan terkubur di bawah lapisan salju tebal. Hewan-hewan ramai berkeliaran. Merayakan bulir salju dan mempersiapkan masa-masa dingin berkepanjangan. Untuk terakhir kali, burung-burung memeriksa sarang, berang-berang memperbaiki lagi bendungan, kelinci menggali lubang sedikit lebih dalam, namun ini adalah keramaian yang sepi. Mereka sibuk sendiri. Ini saat-saat terakhir sebelum dunia berhenti sesaat. Semut mulai masuk ke liang. Pohon-pohon kini botak meranggas kecuali cemara-cemara jarum yang akan terus bertahan menemani mereka yang tetap terjaga. Mereka yang tak mau tetap di sini pergi bermigrasi dan yang tak pergi mempersiapkan hibernasi. Pada intinya, mereka takkan lagi di sini.

Mereka sekarang bergegas-gegas pergi berlindung, ke dalam sarang, liang atau lubang. Salju sudah turun. Menempel di pucuk-pucuk pepohonan, sela daun atau bertengger di dahan-dahan. Pohon bertudung putih-putih. Selimut salju aneka rupa menatah tanah. Lapisan-lapisan salju bergerak pelan, makin lama makin tebal. Dalam cuaca yang makin dingin, suasana makin sepi. Putih jadi nuansa. Dominasi koalisi. Putih meruyak hingga ke puncak-puncak. Melekatkan bumi pada langit. Menyatukan tetanahan dan pepohonan. Meski tak mati, hewan-hewan menguburkan diri. Diam tak bersuara. Musim dingin nyata berkuasa.

***

Tak semua diam benar-benar diam. Masih ada sedikit suara dengkur di bawah tanah. Tikus-tikus putih berjingkat-jingkat di atas salju, memunguti yang disisakan musim gugur. Hanya awas mata elang yang sanggup melihatnya. Di bawah tanah beku musim dingin, bayi-bayi tikus mondok meringkuk dalam sisa hangat tubuh induknya. Burung hantu mencari celah dalam mimikri, menyatu dengan putih salju. Ada suara, hangat dan bunyi di tengah diam, beku dan sunyi. Dalam dominasi salju, ada yang bergerak tak bersuara. Dalam kuasa dingin, ada yang berani melawannya.

Inilah serigala pengelana yang melawan dingin cakar musim beku. Tertatih dalam jubah abu-abu. Punggungnya merah terluka. Membuat ia nyata di tengah salju putih yang menyamudera. Ia berjalan menerobos salju tebal yang membuat langkah-langkah tertahan. Sesekali tetes darah dari luka terbuka meninggalkan jejak kelima. Menodai putih dengan merah. Menandai hidupnya pada sebuah arah.

Serigala pengelana berjalan entah kemana. Ia baru saja terusir dari kelompoknya. Pertarungan memaksanya berjalan sendiri kini. Siapa nyana, seekor serigala perkasa menyingkir minggir dalam kekalahan. Sekarang rombongan berjalan berjauhan, memisah langkah dari serigala pengelana.

Untuk serigala berjiwa ksatria, kematian adalah pilihan untuk tidak terbenam dalam kekalahan. Dan musim dingin adalah cara paling menyakitkan untuk mati. Mati pelan dalam naungan cahaya bulan. Kebahagiaan seorang pemenang kini terbungkus kematian. Kematian tidak lagi pilihan, tapi keharusan. Kewajiban untuk bertanggung jawab pada hidup. Cahaya bintang makin redup.

Bukan saatnya lagi melolong pada bulan memohon makna. Makna kini hanya ada di relung kematian. Kematian pada bahagia kemenangan. Bukan kemenangan pertarungan. Serigala pengelana telah kalah adanya. Ini bukan kemenangan dalam perebutan. Melainkan kemenangan karena suksesi kekuasaan.

Kemenangan kebesaran hati melawan tamaknya jiwa yang ingin tetap berkuasa.

“Bulan, aku pernah memohon padamu dulu. Kini aku kembali memohon padamu. Meminta kematian dari tanganmu.”

Serigala pengelana berjalan terseok menerobos rimba salju. Angin dingin dan burung nasar mengikuti langkahnya. Cemara jarum yang sedih memberikan batang-batangnya bagi serigala pengelana untuk berlindung. Tapi badai salju yang ganas tak pernah mau tahu. Menerabas apapun yang ada di depannya. Melibas apapun yang mencoba berdiri menghadangnya. Apalah serigala pengelana yang kini tak punya tenaga. Berlari ke bukit, melolong ke bulan dan berteriak ke langit adalah cerita lama. Cerita yang tak akan terulang lagi. Adalah kisah yang cuma disampaikan oleh mereka yang mau bersaksi. Keperkasaan cuma kenangan. Kegagahan jadi dongeng rekaan.

***

Badai berhenti sejenak. Kini, serigala pengelana bersimpuh di sela-sela batang cemara. Darah tak lagi menetes tapi perihnya makin menjadi. Perih yang dinikmati sendiri oleh serigala penunggu mati. Burung nasar bertengger di dahan-dahan. Menghitung napas yang pergi dan hidup yang sisa. Tikus putih dan rusa berdiri tak jauh darinya.

Jika ini terjadi dulu, keduanya takkan bisa hidup lama. Serigala pengelana akan menerkam dan mencabiknya. Tapi kini, serigala pengelana bukan lagi siapa-siapa. Ia hanya pengelana menunggu kematian. Untuk apalagi membunuh saat mati adalah suatu yang pasti jatuh? Saatnya pencabik tercabik-cabik.

***

Seekor serigala muda perkasa menantangnya dalam sebuah pertarungan. Tiada tantangan boleh ditampik, seperti takdir tak kan mungkin ditolak. Pertarungan dua kuasa tiada mungkin terelak.

Dulu tetua telah berkata bahwa segala sesuatu selalu ada saatnya. Memaksakan kehendak pada waktu bukanlah hal yang bijak. Karena waktu tak bisa dipaksa. Ia terjadi pada apa yang seharusnya terjadi.

Maka para tetua juga berkata bahwa tiada kuasa dunia yang akan bertahan selamanya. Begitupun dengan serigala pengelana. Kisah pengembaraannya ke bulan telah membuatnya duduk di tahta. Kelak, akan ada kisah lain yang lebih perkasa. Lebih luar biasa untuk berkuasa. Saat serigala muda perkasa mengumandangkan tantangannya, serigala pengelana merasa telah tiba waktunya. Telah datang apa kata tetua.

Namun, siapa yang bisa memastikan waktu? Benarkah itu saatnya atau belumkah tiba waktunya, hanya bisa dibuktikan dalam pertarungan dua ksatria. Menang atau kalah adalah hal yang menjadi pasti setelahnya, tapi kehormatan harus tetap dibela.

Kini makna tak perlu lagi dicari. Ia akan datang sendiri. Tanpa titah, tanpa sedikit pun perintah, waktu akan memberi makna pada yang lewat. Menyampaikan cerita pada dunia. Bahwa menerima kekalahan adalah bagian dari kemenangan. Bahwa yang penting adalah mencoba untuk tetap berdiri. Karena pahlawan adalah mereka yang memaksa untuk melawan saat semua berkata untuk diam. Menjemput kematian saat yang lain lari menghindar.

Serigala pengelana kembali berjalan, menuju puncak gunung tertinggi. Sebelum tetes darah terakhir jatuh ke bumi, tiada pernah ada kata berhenti. Inilah dunia yang hidup dalam siklus suksesi. Suatu yang harus diterima dengan hati bahwa musim berganti.

Musim semi memanas, menggugurkan daun-daun untuk membeku dan kembali menyemaikan kecambah menjadi pohon-pohon baru. Tidak ada yang perlu disesali, pun tidak untuk ditangisi. Bahwa musim melewat dan menumbuhkan hal-hal baru.

Begitu pun dengan hujan salju yang turun begitu lebat. Menghentikan dunia dalam gerak laten yang tersembunyi. Menghidupkan jiwa-jiwa pengelana dalam sunyi. Mereka yang tak mau berhenti. Meski kematian pasti menjemput, namun telah tergurat di atas batu sebuah nama besar. Nama dari mayat yang dicabik burung nasar.

“Wahai bulan yang bertahta di puncak langit! Kini aku berjalan menujumu. Katakan pada burung nasar, bahwa tiada lain dari yang mereka makan adalah bagian tubuh seorang pahlawan!”

Apapun yang terjadi, makna harus ada untuk yang mati. Bulan bercerita di balik tahta. Di kejauhan sekelompok serigala melolong pada bulan, menyanyikan ode untuk kematian pahlawan.

*Canon In D : komposisi karya komponis Jerman Johann Pachelbel. Ditulis sebelum abad ke-17

Januari 2010

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

2 Comments

  1. Wah keren…
    bagus ini😉

    • Makasih ya, Zakkazan… Saya masih perlu banyak belajar….🙂


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...