Facebook, Blog, HP dan Proses Kreatif Saya

Membaca buku yang digawangi oleh Pamusuk Eneste, “Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang”, sungguh menginspirasi saya. Saya bisa melihat bagaimana kehidupan para penulis dalam buku itu bergerak dalam kerangka kreatifitas sebagai suatu proses atau mungkin jalan hidup. Bagaimana mereka melihat, mengamati dan mengambil hikmah dari apa yang terjadi dalam hidup dan menuangkannya ke dalam bentuk yang mereka pilih yaitu tulisan. Jalan hidup yang berbeda-beda telah membawa mereka ke dalam dunia penulisan lewat segala karya yang menyentuh para pembaca hingga rasanya pantaslah para penulis ini disebut sebagai pendekar-pendekar sastra Indonesia.

Saya memilih istilah ‘pendekar’ karena teringat novel terbaru Seno Gumira, “Nagabumi”. Saya melihat sebentuk perjuangan dalam kemerdekaan berpikir dengan huruf sebagai senjatanya. Seperti Pendekar Tanpa Nama, tokoh dalam Nagabumi, yang menggunakan aksara sebagai jurus-jurus mematikan. Terbayang di benak saya jurus Dua Pedang Menulis Kematian. Saya tidak akan lebih jauh lagi membahas novel ini sekalipun saya sebenarnya sangat ingin.

Sebenarnya bisa dikatakan saya sangat terlambat menyadari bahwa ada dunia yang menyenangkan di balik huruf-huruf lebih dari sekadar susunan kata-kata yang mampu mengonstruksi, merekonstruksi atau bahkan mendekonstruksi makna. Ada sebuah idealisme dan kecintaan pada makna yang berdiri di belakangnya. Pada saat seseorang tergelitik untuk bermain-main di dalamnya, seperti tergariskan sebuah jalan hidup bagi seorang penulis. Sekalipun, menjadi penulis bukanlah hal yang main-main. Makna bukanlah hal yang pantas dipermainkan. Ada sejarah manusia dan perjalanan budaya yang panjang di balik makna yang tersirat di balik kata. Hal itulah yang dicoba untuk ditangkap oleh seorang penulis dan kemudian disampaikan ulang melalui sebuah sudut pandang.

Namun, saya juga bersyukur atas keterlambatan itu. Karena akibat keterlambatan itu saya bisa merasakan internet dan pernak-perniknya sebagai bagian dari perjalanan kreatifitas saya.

Tak bisa dipungkiri bahwa internet beserta konco-konco yang hidup di dalamnya sedikit banyak telah mengubah arus sejarah peradaban umat manusia. Perubahan itu memberi implikasi yang tidak sedikit pada orang-orang yang hidup di jaman ini. Termasuk saya.

Terbayang betapa sederhananya masa sebelum internet ada. Menempelkan tulisan di majalah dinding, membuat kliping koran, atau mengetik dengan mesin ketik adalah hal yang bisa dianggap aneh dan primitif bagi mereka yang lahir di era internet dimana jutaan informasi dengan gampangnya akan datang dengan sekali klik. Tetapi, sederhana bukan berarti kurang bermakna. Lihat saja hasilnya, masa-masa yang mungkin ‘sederhana’ itu telah melahirkan banyak penulis handal yang telah memberikan sumbangsih yang tidak sedikit pada kemajuan sastra dan peradaban umumnya. Perlu diketahui bahwa Umar Kayam konsisten menggunakan mesin ketik untuk berkarya. Siapa yang bisa menafikan peran Umar Kayam dalam memajukan dunia sastra dan budaya Indonesia? Karya-karya monumental lahir dari hasil ketikannya. Ini hanya masalah pemilihan cara dan teknologi yang digunakan tanpa merusak makna karya tersebut. Saya pun tidak menutup kemungkinan menggunakan majalah dinding atau media lain sebagai medium karya.

Tanpa mengecilkan peran media tradisional dan konvensional, untuk sementara ini saya memilih internet sebagai batu asahan untuk menajamkan pisau kata-kata yang saya punya untuk membedah dunia makna dan penulisan. Blog adalah medium paling praktis untuk mempublikasikan karya-karya yang saya buat. Lewat Blog saya merasa memiliki sebuah medium untuk menyalurkan isi pikiran saya kepada publik untuk dinikmati, dinilai atau bahkan dihakimi. Sebagai tambahan saya menggunakan medium jejaring sosial Facebook agar bisa mencapai pembaca secara lebih luas. Saya mengkoneksi Blog dan account Facebook saya sehingga setiap kali saya memposting tulisan via Blog secara otomatis akan terunggah lewat Facebook untuk kemudian saya tag kepada teman-teman saya.

Tentu saja, ada konsekuensinya. Pertama, untuk sementara saya harus merelakan tulisan saya disalin-tempel oleh siapa saja karena tidak ada sistem yang cukup aman jika saya memilih cara itu. Kedua, artinya saya dituntut untuk tulus berkarya tanpa memikirkan royalti atas penggunaan karya saya meski tanpa ijin. Ironis memang. Namun untuk sementara, itulah yang harus saya terima sebelum karya-karya saya dipublikasikan secara komersial. Tentunya saya membatasi karya-karya saya yang mana saja yang bisa saya publikasikan lewat internet.

Pertimbangan bodoh saya saat ini adalah saya membutuhkan media untuk mendapatkan respon dari pembaca. Menurut saya, kritik dan saran pembaca adalah hal yang penting agar saya tidak menjadi katak dalam tempurung. Penajaman kemampuan menulis adalah prioritas saya saat ini melebihi  keinginan untuk jadi komersil. Lagi-lagi, ini juga untuk sementara.

Namun terbersit dalam benak saya untuk tetap mempublikasikan sebagian karya saya secara gratisan di internet sekalipun kelak saya berkarya secara komersil. Karena, saya ingin menjangkau pembaca jauh lebih luas dibanding apa yang sanggup dicapai oleh buku dan media komersil lain. Perubahan sosial untuk menjadi lebih baik perlu dilakukan oleh siapa saja. Saya ingin bisa memberikan pengetahuan saya yang sedikit ini seluas mungkin dan tidak dibatasi hanya kepada orang-orang yang mampu dan mau membeli buku. Semoga cita-cita saya yang mungkin terlalu muluk ini bisa tercapai.

Ada satu hal lagi yang saya dapat dengan membaca buku Pamusuk Eneste itu. Bahwa, saya memiliki kesamaan dengan beberapa penulis yang ada dalam buku itu. Saya tidak suka kemerdekaan saya baik secara fisik maupun pemikiran dipasung. Di sinilah letak HP berperan penting bagi saya. Saya memanfaatkan teknologi HP untuk membantu proses kreatif saya dalam menuangkan makna melalui kata. Kebetulan saya beruntung memiliki HP yang terdapat fasilitas notepad di dalamnya. Saya bisa mengetik sesuka hati tanpa dibatasi jumlah karakter. Paling tidak, sejauh yang saya alami, saya belum pernah bertemu situasi yang membuat notepad di HP saya kehabisan ruang tulis. Terakhir saya menulis sepanjang 12 halaman kertas A4. Hal ini membuat saya tidak dibatasi ruang dan waktu untuk mengeksplorasi kata-kata. Saya bisa menulis dalam bis, di warung, saat menunggu teman atau bahkan sambil tiduran di ranjang tanpa harus ‘ngejogrog’ berjam-jam di depan layar yang bisa membuat mata saya sepat. Enaknya lagi, saya tetap bisa menulis sambil cekikikan bersama teman-teman saya. Menuliskan apapun yang saya mau. Tulisan ini pun saya buat di HP sambil makan nasi goreng gerobak di depan tempat tinggal saya. Tentu saja, setelah selesai saya masih perlu mengeditnya sedikit-sedikit di laptop atau komputer. Notepad di HP adalah salah satu teknologi yang sangat saya syukuri keberadaanya.

Maaf jika saya menyelipkan sedikit kritik di sini. Sangat sayang, jika teknologi secanggih ini hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak produktif sementara tersimpan kekuatan besar di dalamnya.

Facebook, Blog dan HP adalah sarana saya untuk berlatih dan mengembangkan diri. Karena, menurut saya, satu-satunya cara untuk jadi kreatif dalam menulis adalah mulailah menulis dan selesaikan.
Ayo, tulis kata pertama anda.

Jakarta, Januari 2010
http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

2 Comments

  1. Like this! Notepad di hp saya juga berperan besar untuk blog saya. Salam kenal!

    • Thank you ya, Nofal…. Salam kenal….🙂 Nice to be appreciated by you….


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...