Memilih dan Tidak Memilih, Sebuah Proses Retrospektif

Saya baru saja membeli sebuah buku di salah satu toko buku dengan jaringan  paling luas di Indonesia. Isinya adalah kumpulan pemikiran para penulis  tentang pengalaman dan pandangan mereka di dunia kepenulisan. Judulnya adalah  Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang. Buku ini adalah bagian  dari sebuah seri buku yang terdiri dari 4 jilid. Setiap buku berisi tuangan  pemikiran dan pengalaman belasan penulis terkemuka di Indonesia yang beberapa di antaranya sudah almarhum. Namun, saya tidak ingin menafikan peran besar sang  editor, Pamusuk Eneste, yang telah bekerja keras mengompilasikan tulisan para penulis tersebut dan menerbitkannya hingga para pembaca termasuk saya bisa mengambil manfaatnya.

Yang ingin saya ceritakan di sini adalah bagaimana saya akhirnya memilih buku tersebut.

Cukup banyak waktu yang saya habiskan di toko buku tersebut sebelum akhirnya saya memasukkan buku itu ke dalam daftar belanja buku saya. Mungkin, karena saya datang ke sana memang tidak membawa keinginan untuk membeli salah satu judul buku secara spesifik. Saya hanya datang begitu saja dan jika ada salah satu buku yang cukup menarik maka saya akan membelinya. Ternyata memilih sesuatu tanpa tujuan bisa sangat menghabiskan waktu. Sekitar 3 jam saya berputar-putar dalam toko buku sebelum saya memilih 3 judul buku, yang salah satunya akan saya berikan pada teman saya.

Jelas, karena saya ada di dalam sebuah toko buku, ribuan judul buku bisa ditemukan di sana. Mulai dari yang terlihat biasa saja, hingga yang diberi judul provokatif dengan desain sampul yang sangat menarik. Tapi, apakah pilihan yang sebegitu banyaknya membawa kemudahan memilih? Ternyata tidak. Terlalu banyak pilihan membuat saya merasa seperti tidak punya pilihan. Apalagi, saya memang datang sekedar iseng. Jadi, setiap kali melihat buku yang menarik, entah judul atau sampulnya, saya membuka dan melihat isinya. Namun tidak kunjung membuat saya rela untuk mengeluarkan isi dompet. Hingga di seksi sastra, mata saya tertumbuk pada buku itu. Desain sampul dan judulnya menurut saya biasa saja, sederhana dan tidak berusaha memprovokasi. Namun, untuk orang yang sekarang mulai bosan dengan dramatisasi, kesahajaan buku ini justru menyamankan mata saya. Lantas, itukah yang membuat saya tertarik? Tentu tidak.

Saya sangat tertarik dengan dunia kepenulisan. Saya meletakkan passion saya di sana. Saya juga sudah membaca banyak buku tentang penulisan. Banyak diantaranya yang berjudul cukup provokatif, seperti: Cara Gampang Menulis dan Menerbitkan buku, atau Jadi Penulis yang Kaya Raya. Dibandingkan judul buku yang saya beli, buku-buku lain menawarkan hal yang sangat provokatif. Penulis mana, sih, yang tidak mau terkenal dan kaya raya? Maaf, jika saya menggeneralisasi. Saya hanya mengambil gampangnya saja.

Lantas, mengapa saya justru lebih memilih buku tadi? Dari 4 buku dalam 1 seri, saya memilih yang keempat. Sederhana, ada nama yang cukup saya kenal, Seno Gumira Ajidarma, tercantum di sampulnya. Seno Gumira adalah salah satu penulis yang sangat saya kagumi, jika mengidolakan rasanya jadi berlebihan. Jujur, tulisan Seno Gumira cukup mempengaruhi saya dalam berbagai sisi pemikiran

Jadi, keputusan saya membeli pada dasarnya didorong oleh 2 hal. Pertama, topik buku tadi yang terkait dengan ketertarikan saya pada dunia penulisan. Kedua, karena saya melihat Seno Gumira. Jika ditarik benang merah dari keduanya, proses pemilihan itu terjadi karena proses retrospeksi ke dalam kehidupan pribadi saya. Yang membuat saya (memilih untuk) melihat dan memutuskan membeli.

Apakah proses yang sama terjadi pada hal lain? Ternyata, iya. Proses yang sama juga terjadi pada hal-hal lain dalam hidup saya. Mulai dari pemilihan makanan, pakaian, musik, warna, hingga hal-hal lain yang lebih krusial seperti pemilihan pekerjaan, jurusan kuliah hingga memilih teman yang akan saya akrabi. Misalnya, saya pernah bekerja di radio, entah apa hubungannya, saya sejak kecil sangat senang mendengarkan radio. Saya senang bertukar pikiran dan saya berteman dekat dengan orang-orang yang juga senang bertukar pikiran. Saya pernah makan ketoprak dan suatu siang saya memilih untuk makan ketoprak.

Intinya,  keterlibatan saya pada sesuatu terjadi karena ada nilai dalam sesuatu itu yang memang sudah terlibat dalam hidup saya sebelumnya. Saya akan cenderung menggunakan waktu lebih lama untuk memutuskan apakah saya akan makan ketoprak atau tidak, jika sebelumnya saya tidak pernah memakannya. Sama seperti mengapa saya menghabiskan waktu lama untuk membeli buku tadi. Yaitu, karena saya tidak membawa nilai apa-apa sebelumnya. Dan setelah melihat satu judul buku yang memiliki hubungan dengan hidup saya, saya langsung bisa memutuskan.

Saya tidak tahu apakah hal ini hanya terjadi pada diri saya, atau juga terjadi pada orang lain. Yang jelas, saya merasa bahwa hal-hal yang terjadi di masa lalu membentuk nilai-nilai yang saya gunakan sebagai dasar keputusan yang saya buat saat ini. Untunglah, hal itu tidak menghalangi saya untuk mencoba hal-hal baru. Ini pun mungkin karena sejak kecil orangtua mendorong saya untuk berani mencoba segala hal.

Jadi, tidak heran jika saya sering bersama dengan seseorang, tapi saya tidak merasa ingin akrab dengan orang itu. Dan mungkin begitu pun orang lain memandang saya. Alasannya, karena saya dan orang itu tidak atau belum menemukan kecocokan nilai yang didapat dari masa lalu kami masing-masing. Memang, kita tidak boleh membeda-bedakan orang, apalagi jika kita tidak terlalu tahu tentang orang itu. Tapi, kita juga harus memilih dengan siapa kita akrab, bukan? Dan prosesnya kurang-lebih sama dengan proses membeli buku tadi, tentu saja dengan tingkat kerumitan pertimbangan yang lebih tinggi.

Jadi, sebenarnya proses memilih tidak semata-mata didorong oleh faktor-faktor luar. Seringkali faktor di dalam diri si pemilih lebih punya peran penting. Sehingga, jika orang terus menerus bimbang dan bingung dalam menentukan pilihan atau keputusan, bisa jadi salah satu faktornya adalah ketidaktahuan orang itu tentang dirinya sendiri. Ketidakpahaman tentang diri sendiri akan membuat kita terombang-ambing, mudah dipengaruhi, plin-plan, jadi korban mode, termakan iklan dan kehilangan keunikan diri.

Lihatlah di sekitar anda. Banyak hal yang rasanya seragam dan tidak punya kepribadian. Kalau ada teman atau orang lain yang melakukan, baru berani melakukan. Berteman bukan karena ingin berteman, tapi karena takut sendirian. Seperti iklan, cari-cari perhatian karena minta diperhatikan. Sama seperti buku-buku yang berjudul provokatif padahal isinya tidak seberapa.

Parahnya, karena tidak mengenal diri sendiri, seseorang tidak tahu apa yang sebenarnya  dilakukan karena ia sekadar ikut-ikutan akibat takut dijauhi dan dikatakan kurang keren. Maka jangan heran jika menemukan banyak pengecut yang kemana-mana minta ditemani dan baru maju setelah didorong-dorong. Berani jika beramai-ramai atau ada teman dekingan. Mengapa? Karena ia tidak mengenali diri sendiri sehingga selalu butuh dukungan orang lain. Ia tidak menyadari kekuatan dan potensinya. Yang akhirnya membuat dia tidak mampu membuat pilihan yang tepat bagi dirinya sendiri.

Diri kita saat ini memang dibentuk oleh masa lalu. Masa lalu memang selalu permanen dan tidak mungkin diubah lagi. Tapi, bukankah kita selalu bisa berbuat di masa kini yang akhirnya bisa mengubah masa depan? Tidak ada batasan tentang apa, bagaimana dan kapan sebuah proses perubahan harus dibuat. Yang jelas, sebuah perubahan diri baru akan terjadi setelah orang yang bersangkutan memilih untuk berubah.

Dan jangan pikir bahwa kita bisa melihat perubahan diri. Perubahan diri tidak akan pernah terlihat. Perubahan diri bersifat metafisis dan hanya orang bersangkutan yang tahu persis. Yang bisa kita lihat adalah hasil dari perubahan itu.

Misalnya, setelah lulus kuliah tiba-tiba si Anu berpakaian lebih rapih karena sekarang ia telah bekerja. Apakah si Anu telah berubah? Belum tentu. Karena kita tidak akan pernah tahu tentang perubahan dirinya. Yang bisa kita lihat adalah perubahan bajunya. Apakah sekarang si Anu sudah lebih dewasa, bertanggung jawab, jujur, dsb, kita tidak akan pernah benar-benar tahu. Ini yang membuat seseorang sering tertipu.

Kembali pada si Anu. Mengapa si anu berubah? 1 hal yang paling jelas, karena sekarang si Anu telah lulus dan bekerja. Apa pengaruhnya? Si Anu melihat hal berbeda dari apa yang biasa dilihatnya dulu saat kuliah. Semua orang di tempat kerjanya berpakaian seperti itu. Dulu, si Anu tidak menyadari hal itu. Sekarang ia melihatnya sendiri. Mengapa? Dia hanya melihat apa yang ada di depan matanya. Apakah kantor itu tidak ada karena si anu tidak melihatnya? Tidak. Kantor itu ada, tidak peduli apakah si anu melihat atau tidak. Artinya, lagi-lagi, kita hanya akan melihat apa yang mau kita lihat.

Parahnya, terkadang kita tidak menyadari apa yang kita lihat dan tidak tahu apa yang seharusnya kita lihat. Karena melihat pun adalah proses pemilihan, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa nilai-nilai yang kita bawa tidak ‘mengijinkan’ kita melihatnya.

Pernahkah anda mempertanyakan nilai-nilai yang kita bawa? Mungkin sekali-sekali kita perlu melakukannya. Karena nilai-nilai itulah yang menjadikan kualitas diri kita sekarang. Apakah kita pemalas, pembohong, suka mengeluh, gampang sedih, atau kebalikannya, rajin, jujur, gembira, hal itu ditentukan oleh nilai-nilai apa saja yang anda bawa saat ini. Jadi, nilai seperti apa yang ada bawa saat ini? Lihatlah sekali lagi. Masih belum jelas? Lihatlah lagi. Karena melihat pun adalah pilihan. Anda yang memilih sendiri.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...