Burung Walet dan Sungai Teka-Teki

Burung walet terbang menembus hujan meninggalkan sarangnya di tebing terjal yang dijepit bukit-bukit hijau dibelah alur sungai keperakan yang berlari hingga suatu tempat entah dimana. Begitu kiranya. Sungai yang begitu jauhnya hingga tak terlihat ujungnya. Dari atas tebing terlihat kelokan-kelokan yang meliuk hingga habis dimakan cakrawala.

Burung walet sering terbang menuju langit sebatas awan belum menutupi pemandangan di bawahnya. Tetapi, tak juga terlihat ekor dari sungai itu sementara ia bisa yakin bahwa kepalanya adalah sebuah mata air yang menetes di balik gunung. Sungai itu tetap habis dimakan cakrawala. Sungai teka-teki dengan jawaban yang entah ada tidaknya. Yang diketahui burung walet hanyalah senja yang jatuh tepat di titik sungai teka-teki habis ditebas cakrawala hingga tandas. Senja selalu bergantung di ujungnya, seakan mulut raksasa menyedot masuk hingga sungai teka-teki tertelan ke dalamnya. Mungkinkah sebenarnya matahari senja yang menelannya dan bukan cakrawala?

Sering didengarnya dari cerita burung-burung tua bahwa sungai teka-teki hanya akan berakhir di muara. Tiada cakrawala atau matahari senja yang menelannya. Burung-burung tua itu tentu saja burung-burung berpengalaman dengan kisah-kisah luar biasa tentang petualangan menembus cakrawala yang katanya sebegitu jauhnya. Bisakah cakrawala ditembus? Burung walet tidak bisa mempercayainya. Ia ingin benar-benar melihat. Benarkah sungai teka-teki dimakan cakrawala, tertelan matahari yang senja atau hanya berakhir di mulut muara.

Burung walet bertengger di sebuah ranting pohon yang entah bagaimana tumbuh sendiri di dinding tebing yang menjulang. Angin senja yang deras bertiup menepuk-nepuknya hingga dahan-dahan yang kurus bergoyang-goyang. Suara gemuruh sungai yang ramai masih terdengar dari sini. Burung walet termangu sendiri seperti pohon kecil yang menempel di dinding tebing. Dipandanginya lembah yang terhampar hijau di bawahnya. Pohon-pohon besar yang tumbuh di bawah jadi begitu kecil tampaknya. Bahkan pohon kecil yang menempel di dinding tebing jadi terasa lebih besar.

Cakrawala berkejar-kejaran dengan leret-leret cahaya senja di kejauhan. Peri-peri malam berlari di atasnya menuju kegelapan. Sungai teka-teki masih tampak sama baginya. Berkelok-kelok dari pegunungan di balik tebing, menyusup-nyusup di antara riuhnya pepohonan seperti sriti yang meliuk-liuk menghindari awan yang tebal, lalu hilang ditelan matahari senja yang menggantung di cakrawala.

Siapakah yang bertanggung jawab atas hilangnya sungai teka-teki? Cakrawala, matahari senja ataukah hanya muara? Bukankah burung-burung tua itu juga berkata bahwa semua sungai pada akhirnya hanya akan berakhir di muara? Tapi di manakah muara? Burung walet pernah suatu kali bertanya pada para burung tetua. Namun, mereka tak menjawabnya dengan pasti, semua serba katanya. Mereka bercerita seperti sebuah legenda, padahal sungai itu nyata adanya. Kisah sungai habis dipapas. Mungkinkah supaya tak ada lagi yang bertanya? Sepertinya sungai itu jadi hilang begitu saja.

Seperti sebuah lagu yang kemudian berakhir pada ketiadaan, terserap oleh dunia yang membuat bunyi-bunyian hilang entah kemana setelah meninggalkan telinga. Apakah yang tertinggal dari sebuah bunyi jika tidak ada ingatan yang menjadikannya kenangan?

Begitu pulakah dengan benda-benda yang musnah keberadaannya, menuju ketiadaan, tertinggal jadi penglihatan yang hanya terlihat dalam kepala dan hanya bisa dilihat oleh mata ajaib yang ada dalam kepala saja?

Tak berbeda dengan kejadian-kejadian yang terangkai dalam benang waktu. Hilang sebatas jadi ingatan. Kejadian hilang dalam memori sementara waktu terus berjalan. Pun waktu akan musnah pada akhirnya. Seperti seronce kalung mutiara yang putus, hilang sebutir demi sebutir hingga tersisa hanya benang semata. Sungai teka-teki kini hilang mengembara dalam kata-kata para tetua. Menjadi cerita turun-temurun yang tercecer dalam lintasan jaman. Burung walet hanya bisa membayangkan akhir dari sungai teka-teki sebatas kata-kata.

Itukah yang terjadi dengan sungai teka-teki? Terlahir dari setitik mata air tersembunyi di balik riung pepohonan yang lebat, mengalir perlahan melintasi tanah-tanah basah yang berembun, mengikis bebatuan menjadi derasnya riam yang beriak dalam, lalu hilang entah dimana. Itukah nasib tetes-tetes air yang terserap dari hujan, terlahir dan hilang begitu saja?

Lantas, untuk apa sesuatu terlahir dan mengalir sepanjang benang waktu? Hanya untuk melewati jembatan yang menghubungkan dua titik, awal dan akhir? Pun, tidakkah seperti tetes air yang menitik dari balik batu-batu, mengalir menjadi urat-urat air di tanah basah, menyatu dalam aliran tenang sungai kecil, terjatuh deras dari air terjun, lalu kembali menjadi sungai namun tiadalah selain jeram-jeram yang ganas, keberadaan menjadi semakin besar dan dalam, bukan? Dan setelah keberadaan tiba di titik terbesar dan terdalamnya, apalagi yang terjadi? Sesuatu tiada mungkin terus membesar tanpa henti seakan batas adalah titik yang nir-ada. Burung walet yakin bahwa di suatu tempat yang tidak diketahui sungai teka-teki mengakhiri kisahnya. Tiada kisah yang tak berakhir selayaknya sungai teka-teki yang pudar ditelan kejauhan.

***

Burung walet termangu di dahan pohon kecil yang menyempil dan tergantung di dinding tebing yang memberi gaung pada lembah yang gemah merekah. Kini, sungai teka-teki makin hilang terlamun hujan yang rintik-rintik turun. Tampak di tempat yang jauh tempat sungai teka-teki biasa menghilang, hujan telah menderas dan perlahan-lahan mendekat bagai tirai yang berjingkatan, menutup, melengkapi keremangan nasib sebuah akhir. Matahari bahkan menyerah pada bulir-bulir air yang menyaput angkasa senja meskipun ia tetap berkuasa tentu di sebaliknya. Tapi apalah yang bisa mengalahkan kekuasaan pikiran yang terus menerus didera pertanyaan. Seperti sepasang sayap burung walet yang terus dilanda tetes hujan. Kini telah semakin basah. Sudah kuyup. Terlanjur basah. Api telah meletup. Tanya telah ditabur dalam ladang pemikiran menunggu waktu menuai jawab.  Menjadi akibat yang mencari sebab.

Telah bulat dalam benak burung walet untuk mencari akhir dari sungai teka-teki. Benarkan ia tertelan matahari senja, terperosok di cakrawala ataukah hanya muara saja yang mengakhirinya. Maka, dengan dua bilah sayap basah, burung walet terbang meninggalkan pohon kecil yang entah bagaimana tumbuh di dinding tebing. Hujan masih turun dengan deras. Angin meliuk-liuk dengan bunyi-bunyi seperti bersiul. Kilat menyabung langit di udara dalam gelegar bercahaya. Mencelat-celat di tengah hujan gemuruh. Burung walet berkelit-kelit menghindar. Menukik dan melesat ke angkasa di sela-sela mega kehitaman yang makin lama makin pekat. Awan tak lagi berarak, mereka berserikat dalam ikatan-ikatan yang lagi tak kasat oleh mata.

Bertanyalah sang walet pada awan menggumpal, “Dimanakah sungai teka-teki akan berakhir, wahai awan gemawan yang perkasa?”

Awan gemawan tak menjawabnya, ia justru balik bertanya, “Jika kau adalah matahari, pemikiran adalah api. Maka, apakah cahaya?”

“Apa maksud pertanyaanmu itu?” seru burung walet terheran.

“Jangan menjawab atau bertanya lagi padaku. Seluruh pertanyaan adalah milikmu,” awan gemawan menjawab.

“Pertanyaanku adalah dimanakah gerangan sungai teka-teki ini akan berakhir? Tidakkah kau mendengar?”

“Hanya hati yang tuli yang tak mampu mendengar!” awan gemawan berseru dan tersenyum.

“Mengapa tidak kau jawab saja pertanyaanku?” burung walet kembali bertanya sambil mempertahankan kepakan sayapnya yang makin basah.

Awan hanya berseru, “Ingat! Seluruh pertanyaan adalah milikmu!”

Ingin kiranya burung walet kembali bertanya, namun awan gemawan melesat pergi. Ia berlalu begitu cepat bahkan sebelum burung walet sempat berkata apapun.  Burung walet ingin menahannya, namun awan gemawan telah hilang tertelan gumpalan mega yang kini makin menghitam. Kilat bersahutan dalam hujan yang ramai. Burung walet terus berusaha menembusnya – berputar, menukik, melesat dan berjumpalitan sambil mengibaskan sayap yang basah di sekujurnya. Hujan mengamuk begitu dahsyat dalam batas-batas kegelapan angkasa. Namun, seperti pernah dikata sebelumnya, pertanyaan terlalu berkuasa untuk membiarkan burung walet menyerah begitu saja. Tak berhenti ia terbang dengan sayap yang telah begitu berat. Ia pun terbang rendah. Berharap berlindung di bawah rimbun pepohonan.

Hujan tak juga berhenti saat burung walet hinggap di sebatang pohon untuk bertanya. Pohon itu adalah pohon tua yang begitu besar dengan pokoknya yang menjulang, daun yang memayung dan akar yang menjulur. Ia tumbuh di pinggiran sungai teka-teki yang terlihat semakin menghilang ke dalam rimbun hutan yang gelap.

“Wahai, Pohon tua yang bijak. Ijinkan aku bertanya,” burung walet berkata. “Dimanakah gerangan sungai teka-teki ini hendak berakhir?”

Pohon tua hanya diam. Sesekali dahannya yang renta berderak menggoyangkan daun-daun dan akar-akarnya yang menggantung. Dunia terasa sepi di sini. Hanya gesek daun dan gemericik sungai teka-teki yang terdengar. Tiada kebijakan yang bisa terdengar oleh burung walet yang penuh tanya. Maka, untuk kedua kalinya burung walet bertanya.

“Maafkan jika aku mengganggu ketenanganmu, wahai pohon tua saksi sang jaman,” burung walet berkata pelan. “Sudikah kiranya dikau membagi sedikit pengetahuanmu dan mengatakan dimana sungai teka-teki berakhir kiranya?”

Lagi-lagi hanya sepi yang terdengar. Pohon tua tak sedikitpun mengatakan sebuah jawaban. Bahkan, pohon tua seakan tak mendengarnya. Hanya derak dahan dan gesek daun yang terdengar berulang-ulang. Burung walet tak juga menyerah. Sekali lagi ia bertanya.

“Maafkan kelancanganku, wahai pohon tua. Terangilah kebodohanku. Beritahu dimanakah sungai teka-teki akan berakhir.”

Tak kunjung sebuah jawaban terdengar. Semua masih terdengar sama. Sebuah sepi dengan suara derak dahan, gemericik air dan desir angin yang terdengar lamat-lamat. Burung walet pun terdiam. Mungkin, ia memang takkan pernah mendapat jawaban. Maka, dikibaskan sayapnya untuk mengusir sisa-sisa air yang menempel. Hujan telah mereda dengan sedikit gerimis. Burung walet hendak beranjak pergi saat pohon tua berderak lebih keras. Dahan-dahannya yang menjuntai lemah menegak dengan tenaga. Sulur-sulur akar menyibak hendak membuka. Daun-daun yang telah menguning gugur lalu terbang dihela angin, jatuh dan berlarian di sela akar-akar besar di tanah yang tampak menggeliat-geliat.

Terdengarlah suara pohon tua yang berat dan bergema, “Jika kata adalah pengetahuan. Suara adalah perbuatan. Maka apakah hati?”

“Tunggu!” burung walet berteriak saat melihat pohon tua beringsut hendak menutup. Namun, teriakan burung walet tak berarti apa-apa. Pohon tua tetap menggeliat pelan dan kembali ke posisinya semula. Lalu semua kembali sediakala. Pohon tua yang begitu besar dengan pokoknya yang menjulang, daun yang memayung dan akar yang menjulur. Diam. Diam begitu rupa.

Burung walet tahu jika sekarang sudah percuma berkata apa-apa. Pohon tua akan diam seakan untuk selamanya. Pohon tua kembali menjadi layaknya pohon mati yang diam dalam bijaknya. Saksi bagi para pelintas jaman yang entah kapan akan kembali melintasinya.

Maka, di tengah hujan yang kini gerimis, burung walet kembali mengepakkan sayapnya mengikuti alur sungai teka-teki yang tak jua terlihat ujungnya. Sungai berkelok kesana-kemari mengikuti alur tanah dan bebatuan yang memandunya menuju suatu tempat entah di mana. Tak terbayangkan olehnya. Tetes-tetes air dari hulu dapat menjadi sederas ini. Mengalir penuh kekuatan dan menghantam bebatuan di sepanjang alirannya. Arus berkelok pelan hanya untuk jadi deras berikutnya. Berputar-putar dalam pusaran hanya untuk terlontar kembali setelahnya. Mengambil jalan menghindar dari batu besar untuk melesat lurus kemudian. Bergemericik perlahan untuk melompati jurang yang dalam.

Burung walet terbang jatuh bebas mengikuti air terjun yang mencipratkan air serupa kabut di bawahnya. Itulah yang dilakukan oleh burung walet. Mengikuti kemana pun hingga kini arus menjadi tenang di sebuah kolam yang cukup dalam. Terlihat di dalamnya ikan-ikan besar dan kecil berenang-renang gembira. Mereka seakan menari-nari dalam riak air yang luar biasa jernihnya. Dasar kolam yang tersusun dari batu-batu hitam membuat ikan-ikan semakin cerah tampaknya. Warna-warni sisik mereka yang berkilauan memantulkan cahaya langit, serasi dengan pelangi yang timbul akibat percik-percik kabut yang terjadi di kaki air terjun.

Bertanyalah burung walet, “Wahai ikan penghias kolam, dimanakah sungai ini akan berakhir kiranya?”

Ikan-ikan terdiam dan memandang burung walet yang berdiri di batu. Lalu mereka semua berebutan bicara. Puluhan ikan meracau bersama. Suara mereka bersahut-sahutan begitu ramainya hingga tidak ada yang bisa didengar.

“Maafkan aku. Aku tak bisa mendengar jika kalian terus bicara bersama-sama. Bisakah kalian bicara satu-persatu hingga aku bisa mendengarnya?” burung walet memohon pada ikan-ikan yang kini bergerombol di dekat kakinya.

Tak satupun ikan yang bicara. Mereka semua diam, menunggu kata-kata burung walet.

Lalu burung walet mengulang pertanyaanya, “Wahai ikan-ikan yang indah, aku telah mengikuti alur sungai teka-teki hingga tiba kemari. Dimanakah sungai teka-teki akan berakhir?”

Lalu sama saja. Ikan-ikan ramai berebutan berbicara. Masing-masing dengan jawaban yang berbeda. Namun, bagi burung walet, apa yang membedakan atau mempersamakan jika tidak ada yang bisa didengarkan? Ikan-ikan terus saja berbicara seakan burung walet memiliki seribu telinga yang mampu mendengar semuanya satu per satu. Hingga, burung walet terpancing kemarahannya.

“Diamlah! Diam kalian semua!”

Umpatan itu tak memperbaiki apa-apa. Justru, umpatan itu membuat ikan-ikan pergi serabutan karena dilanda ketakutan. Ikan-ikan berenang panik kesana-kemari mencari tempat persembunyian, di sela batu-batu, di balik ganggang, di dalam lumpur di dasar kolam, di manapun sejarak pandangan burung walet tak mampu menjangkau. Namun, sebelum mereka semua menghilang, seekor ikan seputih perak mencelat ke udara, berkecipak di atas permukaan kolam.

Dan ia berkata, “Jika mata tak melihat, telinga tak mendengar. Maka, apa yang dilakukan oleh nurani?”

“Jangan pergi!” seru burung walet mencoba menahan.

Namun terlambat, ikan perak telah hilang ditelan batu-batu hitam, ganggang dan lumpur di dasar kolam. Burung walet sangat menyesal. Tapi, apalagi yang bisa dilakukannya selain kembali menempuh perjalanan. Dengan helaan napas, dibasuh kedua sayapnya yang ditempeli debu dan kotoran. Kolam kini senyap seperti tanpa penghuni. Tinggal gemuruh air terjun yang jadi terdengar jelas dan batu-batu diam sunyi sepi dilamun rimba gelap dimana sungai teka-teki kembali masuk ke dalamnya. Hutan yang kini dirambah oleh burung walet untuk menemukan jawabannya.

***

Burung walet kembali terbang di sela-sela hutan yang rapat. Mengikuti alur air yang menyungai di sisinya. Suara-suara burung lain terdengar di kejauhan. Ramai berkicau dan berceloteh merayakan alam dunia. Tapi, seperti yang dikata sebelumnya, tanya terlalu kuat untuk ditolaknya. Kebersamaan dengan sebangsanya tak lagi menggoda. Ia punya tanya yang harus ditemukan jawabannya.

Burung walet terus terbang menyisir sungai di tengah rimba. Ia mulai putus asa. Mungkin, sungai teka-teki takkan berakhir kiranya. Pikirnya, mengapa setelah perjalanan sejauh ini tak juga ditemukan ujungnya, sungai teka-teki seperti tak berujung. Burung walet kini lelah. Ia berhenti terbang. Merasa bahwa apa yang dilakukannya sia-sia belaka. Ia pun hinggap dan terdiam.

“Banyak yang telah melewati jalan ini sebelumnya,” sebuah suara terdengar.

Burung walet menoleh mencari sumber suara. Ternyata, serumpun bambu ada di belakangnya bergesek-gesek tertiup angin menimbulkan suara gemerisik.

“Jalan? Jalan mana gerangan, wahai rumpun bambu?” burung walet bertanya pelan.

“Inilah jalan yang selalu dilewati manusia beserta peradabannya.”

Ternyata, bersisian dengan sungai teka-teki tampak jalan setapak tanah yang kelihatannya sering dilewati. Namun, itu sama sekali tak menunjukkan bahwa sungai teka-teki akan berakhir. Burung walet tak bersemangat melihatnya. Rasanya ingin kembali saja. Burung walet teringat rumahnya di dinding tebing menjulang, tempat sebatang pohon kecil entah bagaimana tumbuh di sana. Tempat burung walet biasa duduk dan menyaksikan hijau lembah di bawahnya.

“Manusia sering melewati jalan ini. Entahlah, mereka berjalan kemana. Mungkin karena ada desa di dekat sini. Tempat mereka berkumpul dan berniaga.”

Burung walet hanya mendengar. Ia tak ingin lagi bertanya. Untuk apa bertanya jika tiada jawaban yang bisa ditemukannya? Ia merasa, mungkin hanya di sinilah akhir perjalanannya. Akhir adalah sebatas kedua sayap lemahnya sanggup membawa.

“Kau diam begitu rupa,” rumpun bambu berkata. “Jikalau aku diberkahi sayap sepertimu, maka aku sudah terbang dan tidak hanya diam di sini. Maukah kau menolongku, wahai burung walet yang kini diam bernestapa?”

“Menolong? Aku bahkan tak mampu menolong diriku sendiri,” tapi tak urung ditanyanya juga. “Bagaimana aku bisa menolongmu?”

“Temukan jawaban dari pertanyaanku ini,” rumpun bambu berkata. “Jika kehidupan adalah roda pedati. Waktu adalah lembu. Maka apakah kematian?”

Burung walet sudah terlalu lelah dengan pertanyaan. Ia ingin jawaban. Ia tak ingin menjawab apapun sementara jawaban dari pertanyaannya sendiri tak kunjung ditemukan.

“Sudikah kau?” rumpun bambu kembali bertanya.

“Baiklah,” burung walet mengangguk enggan. “Aku tak berjanji akan sanggup menemukan jawaban untukmu.”

“Tapi kau akan mencarinya?”

Burung walet mengangguk lalu mengepakkan sayapnya dan kembali mengikuti alur sungai yang kini makin lebar. Warnanya tak lagi jernih tapi keruh membawa tanah dan lumpur. Bebatuan tampak dipinggirnya, tempat ikan-ikan berlindung dari arus yang kuat. Kijang, pelanduk, dan hewan-hewan lain sesekali tampak di pinggir sungai meminum airnya sambil tetap waspada terhadap buaya yang bersembunyi layaknya batang pohon yang mengapung.

Buaya menyerang mangsanya, menyeretnya ke dasar sungai, membuatnya tak berkutik dan mengoyaknya. Burung walet menyaksikan semuanya. Burung walet terus terbang tanpa henti. Hingga ia tiba di sebuah dataran. Dataran dimana sungai teka-teka membuka dirinya. Dataran berhiaskan semak-semak berduri onak yang menjepit celah sempit. Celah tempat arus air berputar sebelum terlepas dari aliran sungai teka-teki yang menandai akhir perjalanan dari hulu di balik gunung. Inikah? Hanya inikah?

Benarlah para tetua bahwa sungai teka-teki hanya berakhir di muara. Bahkan cakrawala tampak begitu jauhnya memisahkan samudra dengan sepotong matahari menggantung di atasnya. Hanya inikah yang akan ditemui setelah perjalanan yang begitu jauhnya?

Betapa kecewa hati burung walet menemukan bahwa sungai teka-teki hanya berakhir di muara. Ingin rasanya ia meneruskan terbang menuju cakrawala. Tapi, tak mungkin rasanya. Ia dibatasi samudra yang begitu luasnya tanpa secuil daratan pun tersisa.

Untuk menutupi rasa kecewa, burung walet terbang menuju angkasa. Terbang setinggi-tingginya. Setinggi kepakan sayapnya sanggup membawa. Yang ternyata membawanya bertemu awan gemawan yang pernah ditemuinya.

“Hanya inikah akhir sungai teka-teki, wahai awan yang perkasa?” burung walet berkata. “Untuk apa aku mencari sejauh ini jika yang kudapatkan hanya muara?”

Awan gemawan tersenyum dan balik bertanya, “Hanya? Hanya kau bilang? Bagaimana mungkin kau bilang ini semua hanya? Bukankah ini dunia?”

“Dunia?” burung walet menyahut heran.

“Bukankah kau baru saja menjadi saksi atas perjalanan dunia? Bukankah kau baru saja ditunjukkan bahwa kematian selalu jadi tujuan?”

“Kematian adalah tujuan?”

“Apa yang bisa dipastikan datangnya melebihi kematian, wahai sang pencari? Bukankah semua perjalanan akan diakhiri dengan kemusnahan? Seperti sungai teka-teki yang musnah oleh kematiannya di muara.”

“Untuk apa ia terus mengalir jika hanya untuk dimusnahkan?”

“Kau terlalu terpesona pada keindahan dan kebesaran sungai itu. Hingga kau lupa untuk melihat airnya,” awan gemawan berkata sambil membawa burung walet terbang lebih tinggi. “Sungai teka-teki memang musnah di muara. Tapi tidak, dengan airnya. Airnya tetap ada. Bersatu dengan samudra. Airlah yang mengalir. Ia akan terus mengalir.”

“Tahukah air bahwa ia akan sampai ke muara?”

“Sejak saat kelahirannya di hulu yang tersembunyi, ia tahu bahwa ia harus mengalir. Tapi saat keberadaan sebuah muara adalah kepastian, maka ia berbuat sebaik yang ia bisa dimanapun ia berada. Ia merembes ke tanah-tanah basah untuk kesuburannya. Ia menjadi air terjun dengan pelangi di kakinya. Ia menjadi kolam yang tenang bagi ikan-ikan. Ia sediakan dirinya untuk diminum oleh makhluk hidup dan hewan-hewan. Hingga saat tiba di muara, ia telah begitu luasnya dan bermakna.”

“Tidakkah pengetahuannya akan muara, tak membuatnya takut dan menyesal pada datangnya kematian?”

“Tidak seharusnya pengetahuan menimbulkan ketakutan atau penyesalan. Ia justru memberi arah dan keyakinan. Layaknya matahari yang panas apinya membakar. Api yang sama telah menerbitkan cahaya. Cahaya yang memberi terang. Seperti cahaya, itulah pengetahuan. Memberi terang pada kegelapan.”

“Untuk apa pengetahuan tentang muara jika ia hanya sepotong tempat yang seperti tak ada artinya dibandingkan liku sungai teka-teki atau bahkan samudra?”

“Berhentilah melihat sesuatu sebagai potongan-potongan. Lihatlah keseluruhan dan kesatuan. Bukankah muara yang menyatukan sungai teka-teki dengan samudra? Seperti cakrawala yang mampu mempertemukan samudra dan matahari. Dan kini kau telah menyatukan hulu dan hilirnya. Seperti niat baik yang menyatukan pengetahuan dan perbuatan. Dan niat jahat yang memisahkan keduanya.”

“Bagaimana aku mengetahui bahwa hatiku memang berisi niat baik?”

“Saat matamu tak sanggup melihat dan telingamu tak mampu mendengar, maka nurani yang menunjukkan. Tapi, sempatkah kau, aku atau siapapun yang tahu memberi kesempatan pada hati untuk tertunjukkan oleh apa yang ditunjukkan nurani? Aku, kau, kita terlalu sering terlalu percaya pada mata dan telinga hingga lupa bahwa hati juga bicara. Lupa bahwa kita adalah titik air di hulu yang mengalir mencari muara yang membuka pintu pada samudra. Maka, apakah muara adalah hanya?”

Tanpa disadarinya burung walet telah terbang begitu tinggi hingga samudra yang begitu luasnya tampak begitu kecilnya. Hingga cakrawala tak lagi menyatukan matahari dengannya. Menunjukkan kesatuan dalam keterpisahan. Membuat cakrawala tampak sebagai sesuatu yang terus bergerak, tergantung pada bagaimana burung walet ingin melihatnya.

“Wahai, awan gemawan yang perkasa. Aku kini merasa begitu kecilnya.”

“Untuk apa kau merasa kecil padahal kau adalah bagian dari sesuatu yang begitu besarnya? Itulah cakrawala yang memberi batas pandang, memberimu pengertian. Karena saat kita terlepas darinya, kita akan menyadari bahwa tak ada yang lebih semu dibanding cakrawala, garis pandang yang sebenarnya tak pernah ada. Maka apakah yang membatasimu dari dunia selain caramu memandangnya. Kau tak memiliki sebuah batas perluasan kecuali kesempitan cakrawalamu sendiri.”

“Inikah jawabanku?”

“Pertanyaan adalah milikmu, maka begitupun jawabannya.”

Burung walet kini terbang ke hulu, membagikan jawaban pada mereka yang bertanya. Karena apa artinya cahaya jika tiada terang darinya.

(Jakarta, Januari 2009. Diketik di HP)
http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...