Cermin

Aku kaget.

Aku kaget sendiri saat teringat bahwa aku telah melupakan semuanya. Aku lupa. Aku lupa pada apa yang aku lakukan sore tadi. Aku mencoba mengingatnya. Sulit. Aku hampir tak mengingat apapun saat aku juga teringat bahwa aku juga terlupa dengan apa yang aku lakukan tadi siang. Ini bahkan lebih sulit. Jadi terlalu sulit, karena ternyata aku juga lupa pada apa yang aku lakukan pagi ini.

Ini sangat mengejutkan sekaligus membingungkan. Entah apa yang membuat ingatanku seperti lebur layaknya sebuah sepeda tua yang diceburkan ke dalam cairan besi yang nyala membara. Ingatanku hilang tapi ada, menyatu ke dalam sebuah bejana kegelapan hingga tak bisa dibedakan. Sungguh aneh mengetahui sesuatu yang muncul tidak sebagai ingatan. Berulang-ulang aku mencoba mengingat apa yang terjadi padaku hari ini. Tapi seperti percuma. Tak sedikitpun aku bisa mengingatnya. Kutelusuri jejak-jejak ingatan yang masih tersisa. Lebih parah. Bahkan ingatan-ingatanku sebelum hari ini juga mengalami hal yang sama. Terlupa, sekalipun tidak benar-benar lupa, secara ajaib dan tidak kumengerti. Semakin kucoba mengingatnya, semakin hilang saja rasanya. Aku seperti orang tolol yang mencoba melihat matahari, terus mencoba padahal mengetahui bahwa akan membuatnya semakin buta.

Aku seperti hujan yang ngotot mencoba mengingat tetes-tetes air yang terjatuh darinya. Aku adalah laut yang berusaha mengingat debur ombak di pantainya. Aku lelah. Aku lelah sendiri saat mencoba mengingatnya. Karena ini seperti bukan ingatan. Ini seperti sekumpulan dejavu yang kabur satu-persatu.

Ini memang lebih seperti dejavu. Ini potongan-potongan film lama yang dicoba untuk diingat oleh mesin proyektor tua. Apakah aku memang sudah terlalu tua untuk bisa mengingat kejadian-kejadian yang kualami sendiri hari ini? Tidak. Aku tidak setua itu untuk dementia atau bahkan untuk sekadar lupa. Aku seharusnya ingat. Aku seharusnya ingat semuanya. Tapi mengapa semua jadi hilang dan terlupa? Dan hanya muncul sebagai kelebatan cahaya samar-samar yang nyaris tak bermakna? Aku adalah orang buta yang mencoba mengingat cahaya. Si tuli yang merunut detak suara. Salahkukah? Aku tak sudi dipersalahkan untuk apa yang tak mungkin kumengerti, apalagi jika aku harus memberi arti. Karena aku sendiri kini bingung. Aku seperti menahan letup-letup ingatan yang meronta minta dilepaskan dan aku tak mengetahui apa yang menahannya lagi hingga tak kunjung keluar.

Aku tak mengerti. Sungguh tak mengerti. Apa gunanya mengingat apa yang tak mampu kudefinisi, parahnya untuk diberi arti. Dejavu tak bisa dimaknai atau diberi arti. Bagaimana memberi arti pada sesuatu yang aku tak tahu pasti benarkah itu sungguh-sungguh terjadi? Bukankah untuk itulah ingatan dan kenangan ada? Untuk dimaknai dan diberi arti sebagaimana adanya? Jika aku sendiri bahkan tak mengerti apa yang ada, bagaimana ingatan yang tak kuketahui adanya bisa didefinisi atau diberi arti?

Bukankah hidup jadi bermakna karena ingatan dan kenangan yang berarti? Bahkan kita sudah disiapkan sebuah tempat sampah besar untuk membuang ingatan-ingatan yang menyakitkan dan merusak arti supaya hanya yang benar-benar berharga yang tersisa. Karena pada akhirnya ingatan dan kenangan yang rusak akan juga merusak hidup yang seharusnya bermakna. Ketidaksadaran yang mungkin bahkan lebih luas dari dunia karena apapun bisa dimasukkan ke sana. Apa yang akan lebih luas dari sebuah ruang tak berbatas? Ruang imaji yang seakan sanggup menampung semuanya. Benarkah ketidaksadaran adalah sebuah ruang nirbatas?

Bahkan kata ‘luas’ pun takkan sanggup menggambarkannya. Apa yang akan sanggup kau gambar di atas sebuah bidang tanpa batas? Bisakah sebuah bidang ada tanpa memiliki batasnya yang juga membuatnya bisa dikatakan luas atau sempit? Sesuatu menjadi ‘luas’ atau ‘sempit’ karena garis-garis yang membatasinya, bukan? Maka adakah sebuah ruang jika ia tak berbatas? Ingatan pun bahkan akan hilang jika masuk ke dalamnya. Mengembara tak tentu arah ditelan sesuatu yang nirwaktu. Karena waktu pun adalah batas bukan?

Mungkinkah itu yang menyebabkan ingatanku hilang? Ingatanku hilang karena terjerembab ke dalam ketidaksadaran. Ingatanku tersesat dalam nirruang yang nirbatas di dalam dimensi nirwaktu. Itukah yang menyebabkan ingatan-ingatan itu muncul sebagai dejavu? Karena saat waktu memuai dan melengkung kita bisa melompat-lompat di dalamnya, memotong jalan pintas kesana-kemari dan muncul tak berurutan sebagai kesatuan yang menyatu tanpa pola. Seperti masuk ke dalam lubang hitam pengubah materi menjadi energi, dan saat proses pembalikan dilakukan, energi tak bisa kembali menjadi materi yang benar-benar serupa seperti sebelumnya. Bukankan manusia tersusun bukan hanya oleh komponen-komponen semata, melainkan juga oleh hubungan-hubungan antar komponen itu? Jika manusia tercerai berai unsurnya, masihkah ia manusia? Karena darah bukan manusia. Kulit bukan manusia. Tulang bukan manusia. Kentut yang bersarang di perutmu juga bukan manusia. Sekalipun, semua itu adalah komponen yang menyusun manusia hingga layak disebut sebagai manusia.

Maka, layakkah sebuah ingatan yang tercerai-berai dan tersusun ulang sebagai sesuatu yang tak kukenal disebut sebagai ingatan? Cukupkah ‘dejavu’ mewakili kesatuan ingatan yang tak menyatu secara semestinya? Bagaimanapun ingatan tercerai-berai ini bukan lagi ingatan. Dan pada saat ingatan bukanlah ingatan yang sebenarnya, apa lagi yang akan dimaknai? Bagiku yang saat ini hanya memiliki dejavu, bisakah aku memaknai hidupku?

Manusia ada karena maknanya.Tanpa suatu makna, manusia sebenarnya tidak ada. Adakah aku? Atau akulah dejavu? Apakah hilangnya seluruh ingatan ini membuatku bukan lagi manusia karena aku tak lagi memiliki ingatan yang bisa kugunakan untuk memaknai diriku sendiri? Apakah aku manusia tanpa makna? Masihkah aku manusia jika aku tak bermakna?

Bukankah makna seseorang berada pada ingatan-ingatannya sendiri dan orang lain atasnya? Apalah bunyi jika tidak terdengar siapapun? Aku seperti seperangkat gamelan yang tak pernah tahu bunyinya sendiri karena para pendengar terhormatlah yang lantas menempelkan makna padanya.

Tapi bagiku? Bagaimana denganku? Aku bukan seperangkat gamelan, pun bukan bunyi-bunyian yang tergantung pada pendengar terhormatnya untuk makna keberadaanya. Aku butuh mendengar bunyiku sendiri agar bisa kuberi arti. Aku butuh ingatan-ingatan itu. Ingatan yang makin jauh rentang waktunya makin terasa seperti dejavu. Hingga ingatan terjauh yang bisa kuingat hanya terlihat seperti gambar-gambar gerak lambat di sebuah layar tancap dengan aku sebagai penonton bingung yang makin lama makin linglung. Aku seperti sedang menontoni ingatan-ingatan orang lain yang menyusup ke dalam otakku secara rahasia entah dari mana. Aku melihat ingatan-ingatan seperti ingatan orang lain hingga ingatan-ingatan itu kini terasa tak lebih dari sebuah kesan. Imaji-imaji merabun yang kudapat entah darimana. Kesan yang memang takkan pernah jadi nyata, sekalipun mungkin bisa benar adanya. Karena kesan tak lebih dari bayangan dalam cermin yang takkan pernah bisa menggambarkan keseluruhan benda yang dipantulkannya. Memutarkan benda di hadapan cermin hanya membuat bayangan itu tampak dari sisi lainnya dan tak kan pernah jadi seperti apa yang sesungguhnya. Karena bendalah yang berputar bukan bayangannya. Bayangan dalam sebuah cermin akan selamanya menjadi pantulan dua dimensi dari benda yang kemudian akan kehilangan salah satu dimensinya saat ia menjadi pantulan dalam cermin.

Tapi, cermin itulah yang bisa kuingat saat ini. Cermin yang bisa kuyakini sebagai ingatan dan bukan dejavu atau kesan. Aku meyakini bahwa cermin itu benar adanya dan bukan hanya kesan cermin yang kucerabut dari sebuah ingatan yang aku tak tahu milik siapa dan darimana asalnya. Cermin itu nyata adanya karena aku ingat dalam sebuah ingatan yang benar-benar ingatan bahwa tadi pagi aku berkaca di hadapannya.

Aku kini tahu perbedaan yang nyata antara ingatan dan dejavu. Ingatan adalah kumpulan kesan yang memberi manusia kesimpulan tentang apa yang telah dialaminya, dan sebaliknya dejavu mengacaukannya. Saat otak mensintesis kejadian-kejadian dalam sebuah rangkaian ingatan yang runtut dan saling terkait, dejavu adalah sambungan arus pendek yang membuatnya korslet. Dejavu adalah lalat pengganggu bagi kuda perkasa, Socrates bagi Athena. Adalah pertanyaan bagi sebuah susunan kebenaran. Ketidaksadaran bagi sombongnya kesadaran. Antitesis yang meragukan seluruh tesis yang katanya bercerita tentang kebenaran.

Dan kini, terlalu banyak lalat di bangunan kudaku. Sambungan arus pendek ramai berkelejatan di sepanjang rangkaian ingatanku. Ribuan Socrates berkeliaran di taman-taman Athena. Antitesis bagi seluruh tesis tentang hidupku. Memaksaku melihat seluruh rangkaian ingatan yang selama ini memberiku definisi tentang kebenaran. Mencari celah diantara rapatnya susunan bebatuan. Mengacaukan ingatanku. Ingatan memberi rasa dan dejavu mengaburkannya

Tapi aku tahu, aku begitu tahu, bahwa cermin itu nyata. Cermin itu ada. Aku begitu menyadari bayanganku ada di sana. Diantara kumpulan-kumpulan dejavu yang absurd, cermin itu begitu absolut. Seperti batu besar yang diam di dasar sungai berarus deras. Gerak lambat di tengah kilat yang berkelebat. Tuhan di antara nabi-nabi yang sesat. Ia benar. Tanpa perlu alasan panjang, ia benar. Ia begitu benar.

(Tapi apakah kebenaran saat telah begitu dikacaukan?)

Paling tidak aku punya sesuatu yang kuanggap benar meskipun itu hanyalah sebilah cermin usang di sudut kamar. Benda itu memang tak lebih dari sebuah cermin usang. Tidak ada keindahan yang bisa diceritakan darinya. Sama sekali bukan cermin kuno dengan bingkai kayu berukir. Atau cermin yang secara turun-temurun diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hanya sebilah cermin persegi yang menempel seadanya di dinding. Debu tipis agak menutupinya, membuat agak sedikit buram. Cermin itu sepertinya memang sudah ada di sana sejak aku pertamakali tinggal di kamar ini. Ia seperti terpatri di sana dan jadi bagian dari kamar ini selamanya. Cermin yang sebenarnya biasa saja, kini jadi tampak istimewa. Karena mungkin dari sanalah bisa kurunut peristiwa aneh yang terjadi pada diriku. Ia bisa kuyakini sebagai ingatan sementara lainnya tersisa sebagai dejavu. Sisa-sisa ingatan seperti kayu yang terbakar jadi abu.

Aku tidak tahu. Mengapa hanya cermin itu yang tersisa dari ingatanku. Aku ingat cermin itu begitu jelas. Seperti hanya itulah yang bisa kuingat. Aku ingat bahwa selama bertahun-tahun ini aku selalu menyempatkan untuk berdiri di depannya selama beberapa menit, mematut diri dan memandangi bayanganku sendiri. Mencocokkan pakaianku sendiri. Tersenyum pada diriku sendiri. Memuaskan mataku dengan apa yang kulakukan sendiri.  Lalu… Lalu aku tidak ingat lagi. Sisanya kembali jadi dejavu.

Kupandangi cermin usang yang tergantung di dinding. Apa gerangan yang tertulis di balik bayangan hingga hilang seluruh ingatan? Luruh tak bersisa kedalam ketaksadaran dan menyisakan sedikit ingatan tentang cermin yang memantulkan bayangan. Hingga hanya bayangannya yang tersisa dan aku kehilangan maknaku karena kini yang ada hanya dejavu. Padahal dejavu tak bisa dimaknai, karena ia telah terkoyak-koyak dari badan ingatan. Dan aku tak mampu mengembalikan segala dejavu itu untuk jadi ingatan utuh yang kemudian merangkaikan hidupku ke dalam sebuah alur yang punya arti. Tentu saja hal itu membuatku jadi merasa kehilangan arti. Inilah rasanya menjadi bayang-bayang yang ada namun sekaligus tiada. Berdiri di tempat yang tidak gelap dan tidak terang sekaligus. Merasa tahu namun juga tidak tahu di saat yang sama. Ada tapi tak bermakna.

Lagi-lagi kupandangi cermin yang memantulkan bayang-bayangku sendiri. Berharap ada makna yang tersisa dari apa yang kutahu bukanlah hal yang sesungguhnya. Inikah efek cahaya yang memberi terang tapi sekaligus memberikan bayang-bayang. Saat tidak ada lagi aku yang tersisa, apalagi yang hendak diberi makna?

Aku ingat tadi pagi, saat aku menatapi bayang-bayangku untuk terakhir kalinya, adalah saat terakhir aku memberi arti pada diriku. Bayang-bayang itu bukan aku, tapi telah menjadi aku. Karena saat aku bergeser dari hadapan sebilah cermin usang yang tergantung di dinding, cermin itu kembali kosong. Bayang-bayang yang ada jadi tiada. Dan tiadalah aku, karena akulah bayang-bayang itu. Aku adalah dejavu.

Kupandang seluruh bidang di luar cermin. Ah, ternyata mereka juga cuma bayang-bayang.

(Jakarta, Desember 2009. Naskah ini seluruhnya diketik di HP)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...