Dialog Mata

Ini sangat menyakitiku…
Mengetahui bahwa aku tak akan mampu mencintaimu, karena semua takkan cukup untukmu…
Ini lebih menyakiti lagi, karena semua ini sebenarnya bukan tentangmu
Melainkan tentang aku yang takkan pernah mampu…
Untuk apa lagi berjalan jika takkan pernah sampai tujuan…

Matahari terbit lagi. Cobalah melihat dari sini. Matahari berbeda jika dilihat dari sela-sela besi berkarat. Matahari yang kemerahan serasi dengan karat yang kekuningan. Aku tidak mencoba menipumu, karena matahari jadi berbeda saat kau harus menyelip-nyelipkan pandanganmu agar ia tak terhalang. Inilah rasanya mengais-ngais cahaya. Mengayaknya dari kegelapan dan memisahkannya dari ketiadaan.

Awalnya aku juga tak percaya hingga orang itu memberitahuku. Ia yang mengatakannya. Ia yang mengatakan cerita tentang cinta. Jika orang berkata bahwa cinta itu buta, maka ia akan berkata bahwa cinta terkadang juga bisu.

Aku mengetahui itu dari seorang pengemis yang selalu kulewati setiap hari. Pengemis yang selalu ada di sana, saat matahari baru beranjak hingga matahari pergi lagi di sore hari. Kami tak pernah berbicara sebenarnya, bahkan aku tak mengenalnya. Aku tak pernah mengetahui namanya. Hubungan yang terjalin antara aku dan dia hanya sebatas uang koin yang selalu kulemparkan ke dalam topi usangnya. Setiap kali itu, mata kami bertatapan. Keakraban seperti apa yang bisa yang bisa diciptakan dari momen yang tak lebih dari 2 detik itu? Nyaris tidak ada. Orang tidak menjadi akrab dengan hanya bertatapan selama 2 detik, meskipun itu dilakukan setiap hari. Tapi, dalam 2 detik itu, matanya selalu bercerita. Bukan cuma kesan. Karena dalam arti harfiah, matanya selalu bercerita. Matanya merangkaikan kata-kata seperti lidah dan mataku mendengarkannya seperti telinga. Aku tak perlu menyimpulkan apa-apa, karena cerita yang aku dapat dari matanya itu begitu detail, jelas dan mantap. Seperti mendengar pidato dari seorang retoris. Aku tak pernah bingung dengan apa yang dikatakan oleh matanya, semuanya tertangkap tanpa kesalahan. Mungkin, itulah sebabnya momen 2 detik saat kami berdua bertatapan cukup untuk menyampaikan sesuatu.

Pertama kalinya, ia menyampaikan pesan tentang matahari yang bersinar di sela-sela pagar jembatan penyeberangan tempat ia selalu berada yang juga jembatan penyeberangan yang selalu kulewati setiap pagi untuk berangkat bekerja. Saat itu juga adalah pertama kalinya aku menyadari keberadaannya. Waktu itu masih pagi benar. Langit masih keunguan dengan semburat kemerahan. Aku memang harus berangkat sepagi itu karena kantorku terletak di daerah yang sangat jauh dari rumahku. Aku harus menyeberangi jembatan penyeberangan untuk menunggu bus yang berikutnya akan membawaku menuju daerah di ujung lain Jakarta. Pengemis itu berada tepat di pertengahan jembatan. Dari ujung jembatan sudah kulihat keberadaannya dan sontak aku merasa kasihan padanya.

Sampai di sini cerita masih berjalan biasa saja. Sudah biasa bagi siapa saja untuk merasa kasihan pada seorang pengemis. Sekalipun, mungkin hanya akan menjadi sebatas rasa kasihan. Begitupun aku, tak pernah aku menduga bahwa selanjutnya akan menjadi banyak cerita tentangnya.

Ia adalah pengemis tanpa kaki. Ia mengenakan sebuah celana pendek usang yang menunjukkan lutut kirinya yang buntung. Sebelah tangannya juga hilang menyisakan sepotong bahu kanan yang tertutup sebuah kaos butut. Sebuah kruk alumunium usang tergeletak begitu saja di sampingnya. Sebungkus nasi yang dikerumuni lalat tampak ada di ujung lututnya yang buntung itu.

Langkahku terhenti di depannya. Sejenak aku merogoh kantong celanaku, kudapatkan uang logam limaratusan yang segera kuberikan padanya, kuletakkan di depan sebuah topi yang tampak seperti topi pancing. Ia mengangkat kepalanya. Matanya beradu dengan mataku. Tampak matanya yang cuma sebelah, sebelahnya lagi hanya tampak seperti mata aneh dengan titik kecil pupil keabu-abuan dan sejumlah besar warna putih. Ia sebelah buta.

Tiba-tiba aku mendengar suara, “Matahari itu sangat indah jika dilihat dari sini.”

Aku menoleh. Mencari sumber suara itu karena tidak tampak mulutnya bergerak dan mengucapkan sesuatu. Hari masih terlalu pagi untuk ada orang lain. Hanya ada pengemis buntung itu dan aku. Maka kusimpulkan bahwa pengemis buntung itu yang mengatakannya. Namun, ia sama sekali tidak menggerakkan bibirnya. Mungkinkah ia berbicara tanpa membuka mulut? Kutatap pengemis itu yang kini seperti tidak menyadari kehadiranku. Aku urung bertanya padanya, benarkah ia yang mengatakannya. Namun, aku mengikuti suara itu. Aku berjongkok dan berbalik, menatap matahari yang baru saja terbit.

Benar, matahari menyemburat cemerlang di sela langit keunguan. Indah.

Kembali kutengok dia. Ia kini telah kembali hanya menunduk, menatapi topi usangnya. Maka aku berlalu dan melupakan kejadian itu. Mungkin suara itu ada di dalam kepalaku sendiri saja. Aku menuju ujung lain jembatan, turun dan mulai menunggu bus yang mengantarku ke kantor. Di kantor aku masih memikirkan dari manakah sumber suara yang kudengar itu. Lalu, aku lupa. Hingga…

***

Sore itu aku kembali melewati jembatan penyeberangan yang sama. Matahari baru saja tergelincir pergi. Langit yang mulai hitam masih menyisakan warna kebiruan. Aku melihat seorang pengemis dengan satu kaki, satu tangan dan satu mata terduduk di pertengahan jembatan ini. Tidak ada yang istimewa dari pengemis itu, ia hanya pengemis biasa yang meletakkan topi usang di hadapannya untuk diisi uang receh. Aku menunduk dan meletakkan uang koin limaratus rupiah yang telah kusiapkan sejak tadi. Ia mengangkat kepalanya, sebelah matanya beradu dengan kedua mataku.

Tiba-tiba aku mendengar suara, “Kau merasakan kata-kataku…”

Bagaimana merasakan kata-kata? Telingaku juga tak merasa mendengar apapun, namun aku mendapati kata-katanya masuk ke dalam kepalaku begitu saja.

Terus kutatap wajahnya, ia benar-benar tidak menggerakkan mulutnya sedikitpun. Bukan dia yang bicara. Aku berbalik. Hanya kulihat beberapa orang yang berlalu lalang di belakangku. Mereka tidak peduli padaku ataupun pada pengemis itu. Seseorang menghampiri, meletakkan uang receh di topi usang dan bergegas pergi.

Awalnya, aku selalu ingin bertanya pada pengemis itu, namun aku tidak ingin tampak seperti orang gila yang mendengar suara-suara aneh di dalam kepalanya. Maka, aku berlalu dan kembali ke rumahku. Mungkinkah pengemis itu yang berbicara dengan suara perut?

Bukan. Ia tidak berbicara dengan suara perut. Suara perut pun pasti akan terdengar oleh telinga, kan? Bahkan ini bukan suara. Ia berbicara tidak dengan suara. Ia menyampaikan kata-kata lewat pandangan matanya. Dan aku mendengarnya tidak dengan telinga, aku menangkap kata-katanya juga dengan pandangan mata. Ini cara yang aneh. Berkata tidak dengan suara melainkan dengan pandangan mata, dan rangkaian kata-kata begitu saja berpindah dari matanya ke mataku. Ini komunikasi mata ke mata. Bukan mulut ke telinga.

Jadi, sebenarnya aku tak mendengar suaranya dengan telinga, aku juga tak melihat urutan huruf-huruf dari sebelah matanya. Kata-kata itu seperti berpindah dari matanya menuju mataku dan tersusun begitu saja di dalam kepalaku. Pandangan matanya seperti gelombang radio yang mengantarkan kata-kata penyiar, dan mataku adalah antena yang menangkap dan menggemakan kata-kata itu di dalam kepalaku.

Singkat cerita, aku menjadi terbiasa mendengar kata-kata dengan mata setiap kali pandangan kami berdua beradu saat aku meletakkan sebentuk uang koin ke topi usangnya. Dengannya, mata bisa menjadi indra pendengaran. Entahlah, apakah ini bisa disebut sebagai mendengar atau tidak. Karena aku bahkan tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk mewakili makna yang aku maksudkan yaitu ia menyampaikan kata-kata literal melalui pandangan mata ke dalam mataku hingga aku mengerti apa yang dikatakannya dan ia tahu bahwa aku mengerti apa yang dikatakannya kata-per-kata. Sekarang aku paham, bahwa ternyata kata-kata tidak hanya bisa disampaikan lewat tulisan atau suara, tapi bisa juga dengan pandangan mata.

***

Bisa dikatakan bahwa komunikasi yang aku lakukan dengannya adalah komunikasi 1 arah. Hanya ia yang berkata-kata padaku dan aku yang tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan kata-kata melalui pandangan mata tidak bisa membalas kata-katanya. Aku adalah penerima pasif dalam arus komunikasi ini. Tapi untunglah ia selalu berkata-kata dalam sebuah kalimat yang singkat, jelas, mudah kumengerti dan kuingat sehingga aku tak pernah bingung dengan apa yang dikatakannya.

“Kau mengingatkanku pada seseorang,” ia berkata dengan matanya.

Sebenarnya aku ingin bertanya balik padanya tentang itu. Siapakah orang yang dia maksudkan. Namun, cara yang aku tahu hanyalah dengan benar-benar mengatakannya dengan mulut. Aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakan dengan mata seperti yang dia lakukan. Mungkinkah dia bisu? Bagaimana jika dia juga tuli? Dia tidak akan mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku karena ia menangkap kata-kata dengan matanya, seperti ia yang menyampaikan kata-kata dengan matanya. Jika pun ternyata dia tidak tuli, aku akan tampak seperti orang gila yang berbicara sendiri, sekalipun sebenarnya aku mendapat kata-kata dari pandangan matanya. Tapi, bagi orang-orang yang melihat kami, aku akan tampak seperti berbicara sendiri. Dia mendengar yang aku katakan, tapi dia sendiri tidak menyampaikan kata-katanya lewat suara, melainkan lewat pandangan mata. Ah, aku akan benar-benar tampak seperti orang gila yang meracau pada suara yang tidak didengar orang lain.

Maka aku diam.

“Ia selalu memberiku uang koin. Sama sepertimu.”

Aku pergi berlalu, karena ia tampak seperti tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Dia kembali merunduk dan menatapi topi usang tempat uang logam yang kulemparkan tadi.

“Sayang, dia tidak bisa menangkap kata-kataku dengan pandangan mata, seperti yang kau lakukan,” suatu ketika ia berkata dengan matanya.

Aku ingin berkata banyak padanya. Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya, lagipula ia seperti tidak pernah memberiku kesempatan. Segera setelah ia menyampaikan beberapa patah kata dengan matanya itu, ia kembali memandangi topi usangnya seperti menunggu surga keluar dari sana.

“Aku jatuh cinta padanya,” ia berkata di lain waktu.

Aku tak bisa membayangkan seorang pengemis jatuh cinta pada orang yang tak dikenalnya. Orang yang sama sepertiku, mengenalnya sebatas uang koin yang terlempar ke dalam sebuah topi usang. Bisakah pandangan mata yang hanya 2 detik panjangnya dan koin limaratus rupiah membuat seseorang jatuh cinta? Tapi, buktinya hal itu terjadi padanya.

Aku pernah mencoba untuk berkata padanya juga lewat mata, namun sepertinya kata-kata yang kususun dengan penuh konsentrasi itu hanya bergema-gema di kepalaku sendiri. Dia seperti tidak mengerti saat aku mengerjap-ngerjap, mencoba menyalurkan kata-kata lewat pandangan mata. Aku tak pernah mencobanya lagi. Itu hanya membuatku sakit mata dan sakit kepala.

Tapi, aku tak pernah berhenti memberikan uang koin padanya. Aku menyiapkan sejumlah uang koin limaratusan yang kudapat dari warung rokok yang ada di ujung tangga jembatan. Aku selalu penasaran dengan kata-kata yang akan disampaikan padaku berikutnya. Koin limaratusan yang selalu kuberikan padanya seperti uang berlangganan koran untuk membaca sebuah cerita bersambung.

“Aku sangat ingin mengatakan bahwa aku mencintainya.”

Oh, betapa merana orang yang tak bisa menyampaikan rasa cintanya. Bukan karena ia tak menginginkannya, tetapi karena ia tak bisa. Ia tak bisa menyampaikannya. Mungkin karena berkata lewat mata adalah satu-satunya cara yang ia bisa. Aku mulai merasakan rasa kasihan yang berbeda padanya. Aku tak bisa membayangkan bahwa orang yang harus mengemis untuk mengisi perutnya juga bisa jatuh cinta dan tersiksa karenanya. Tapi, bukankah jatuh cinta memang hak siapa saja?

Aku membayangkan seperti apa orang yang dijatuhinya cinta. Pasti ia tinggal tak jauh dari rumahku karena ia juga melewati jembatan penyeberangan ini. Mungkin ia orang kantoran yang selalu berpakaian rapih dan necis. Ia pasti wangi dengan baju yang licin tersetrika. Mungkin rambutnya juga keluaran salon. Jabatan yang didudukinya tentunya tidak terlalu tinggi karena ia masih harus melewati jembatan penyeberangan ini. Jika ia pejabat tinggi di suatu kantor, ia pasti akan menggunakan mobil atau disopiri oleh seorang sopir yang berpakaian rapih juga. Mungkin ia lulusan universitas. Tapi, paling tidak kondisi orang itu pasti lebih baik dari pengemis ini. Itu bayanganku.

Kupandang pengemis itu. Oh, kau hanya berharap hujan emas turun dari langit. Kau berharap terlalu tinggi. Dengan kakimu yang buntung, tanganmu yang cuma satu, mata yang hanya sebelah dan sebungkus nasi dikerumuni lalat, bagaimana mungkin orang itu akan melihatmu? Kau tak lebih dari pengemis lain yang takkan berarti di mata orang itu. Hubunganmu dengannya tak lebih dari hubungan uang koin dan pandangan mata sepanjang 2 detik. Itu saja.

Aku tak bisa mengatakan itu padanya. Kalau aku bisa aku mau. Entahlah, mungkin sebenarnya aku bisa, tapi ada sesuatu yang menghalangiku. Tanganku sendiri. Tangan yang setiap hari memberinya koin limaratusan. Tangan yang membuatku berbatas dengannya, sebagai orang yang mengasihani dan dikasihani. Tidakkah jika aku mengatakannya maka aku menyakiti hatinya? Tiba-tiba kurasakan senyum dari matanya yang hanya sebelah itu.

“Tidakkah senyum ini menjadi sangat pedih. Saat cinta tak menyisakan harapan untukmu. Tidakkah kau pikir aku mengerti? Aku mengerti, orang asing…”

Lantas, jika kau memang mengerti mengapa kau membiarkan dirimu tersakiti oleh cintamu sendiri? Katakan aku kejam, tapi tidakkah kau hanya bersenggama dengan sebuah keputus-asaan? Kau berkubang dengan hal yang takkan mampu kau selesaikan. Jika, sesuatu tak mungkin selesai, untuk apa memulainya? Mengapa kau tidak jauh cinta pada orang lain saja? Orang yang sekelas denganmu. Orang yang juga memiliki satu kaki, satu tangan dan satu mata. Atau orang yang mampu berkata-kata dengan mata. Sama sepertimu.

“Apakah kesamaan adalah penyebab dua orang jatuh cinta? Apakah juga perbedaan? Apa yang sebenarnya mengikatkan dua orang?”

Mungkin kau benar. Bukan persamaan yang membuat dua orang bersama. Bukan pula perbedaan yang memisahkan mereka. Bukan pula keduanya yang membuat mereka saling mencinta atau membenci. Tapi, saat cinta menjadi terlalu menyakitkan, tidakkah seharusnya ia kau hentikan?

“Apalah kuasaku atas cinta yang perlahan merasuki hatiku? Pada saat aku menyadari bahwa aku mencintainya, semakin aku kehilangan kuasa atas apa yang terjadi pada hatiku. Aku kehilangan kendali atas hatiku. Atau, mungkin sebenarnya aku memang tak pernah memiliki kuasa atasnya.”

Jika saja kau bisa menangkap kata-kataku, mungkin kau akan mengerti apa pendapatku. Tidakkah kau berputus-asa? Tidakkah kau hanya tunduk pada kuasa cinta dan berputus-asa padanya? Kau melepaskan kendali atas dirimu sendiri. Kau membiarkan dirimu dipermainkan oleh cinta yang kini menjadi seperti candu untukmu. Kau membiarkan dirimu mencandu pada cinta, hingga kau biarkan dirimu sakaw karenanya. Kau menyiksa dirimu dalam cinta yang takkan mungkin kau raih. Sekali lagi, lupakah kau pada satu kakimu, satu tanganmu dan satu matamu?

“Apakah ketidakutuhanku membuat hatiku juga tidak utuh hingga tak dapat mencintai dengan utuh?”

Apa artinya sebuah keutuhan cinta jika ternyata hanya menyakiti? Untuk apa cinta jika tak ada cinta lain yang mencintai kembali? Bukankah cinta hanya menjadi sebuah senjata layaknya bumerang yang kemudian menyerang dari belakang? Memenggal kepalamu sendiri saat kau tengah menangis dan merasa disakiti karena kau pikir cinta takkan kembali? Padahal ia kembali dalam bentuk yang berbeda, sebuah rasa sakit yang mungkin takkan sanggup kau tanggung.

“Apa itu rasa sakit sebenarnya?”

Lupakah kau pada apa itu rasa sakit? Kau telah kebas rupanya. Cintamu telah menjadi obat penghilang rasa sakit dari kosongnya sebuah harapan.

“Saat cinta kehilangan harapannya, mungkin di sanalah kau temukan ketulusannya…”

Tentu saja kau tulus mencintainya. Dia juga tulus saat memberimu uang koin limaratusannya. Tapi tak lebih dari itu. Tak akan pernah lebih.

“Hingga suatu saat aku lebih berharap untuk melihatnya, dibanding koin limaratusan yang selalu dilemparkannya ke dalam topi usang ini… Aku tulus mencintainya.”

Kupandangi pengemis dengan satu kaki, satu tangan dan satu mata ini. Aku berdiri dan tersenyum sendiri. Kutarik napasku dalam dan kuhembuskan. Aku tersenyum padanya dan kurasakan ia tersenyum dengan matanya. Aku terus berjalan menuju ujung lain jembatan dan aku menyadari ini akan menjadi sebuah dialog yang sangat panjang. Ini harus dihentikan.

Jakarta, 2009.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...