Jenius atau Gila?

“Mad-Eye Moody?” tanya George merenung, mengoleskan selai pada roti panggangnya. “Orang sinting itu kan…”

“Ayah kalian sangat menghargai Mad-Eye Moody,” kata Mrs Weasley tegas.

“Yeah, Dad mengoleksi steker listrik, kan?” kata Fred pelan ketika Mrs Weasley keluar dari dapur. “Sama antiknya…”

“Moody penyihir hebat pada zamannya,” kata Bill.

“Dia teman lama Dumbledore, kan?” kata Charlie.

“Dumbledore juga tak bisa disebut normal, kan?” kata Fred. “Maksudku, aku tahu dia jenius dan hebat…”

Percakapan di atas adalah kutipan yang saya ambil dari buku Harry Potter And The Goblet of Fire edisi bahasa Indonesia. Percakapan Weasley bersaudara dan ibu mereka itu kurang lebih membicarakan 3 orang yang disebut tidak normal bahkan sinting. 3 orang tersebut adalah Mad-Eye Moody (yang kelak menjadi guru di sekolah sihir Hogwarts), Arthur Weasley (ayah Weasley bersaudara yang juga pegawai kementrian sihir) dan Albus Dumbledore (kepala sekolah sihir Hogwarts).  Dalam berbagai tingkat keparahan, mereka bertiga didefinisikan tidak normal. Dan tiba-tiba saja Fred merasa bahwa sebutan “tak bisa disebut normal” menjadi kurang tepat untuk diberikan pada Dumbledore sehingga ia menggantinya dengan jenius dan hebat. Seakan-akan keduanya hanya dibatasi selembar benang yang dapat dilompati begitu saja. Jika anda sinting, lompati saja benang itu dan anda jenius!

Sekalipun Harry Potter hanyalah sebuah kisah rekaan, namun kita sering menemukan hal-hal seperti itu dalam kehidupan sehari-hari. Kita kerap bertemu dengan orang-orang yang banyak menghasilkan ide (atau mungkin orang itu adalah diri kita sendiri). Sebagian dianggap brilian dan sebagian lagi sampah. Bagaimana kita memisahkan antara ide jenius dengan ide gila (yang sering digolongkan sebagai ide sampah)?

Dengan cara yang mirip, mungkin saya bisa memberikan ilustrasi tentang bagaimana sebuah ide gila berubah menjadi ide jenius. Anda pasti sempat memperhatikan bahwa film-film science-fiction sering menampilkan hal-hal yang dianggap absurd. Salah satu contohnya adalah struktur pesawat dalam film Startrek IV yang dibuat dari logam yang tembus pandang. Mungkin, sebagian kita menganggap hal tersebut hanya sebatas khayalan, namun bertahun-tahun kemudian ternyata hal tersebut terbukti bisa direalisasikan. Baru-baru ini sekelompok peneliti dari departemen fisika Oxford University melakukan serangkaian percobaan yang berhasil membuat logam alumunium berubah menjadi transparan. Caranya dengan menembakkan laser lembut berkekuatan tinggi pada inti-inti elektron logam tersebut tanpa menghancurkan struktur kristalinnya. Hasilnya adalah, alumunium transparan seperti silikon dan masih memiliki kekuatan layaknya logam. Sekalipun percobaan ini belum benar-benar selesai, namun para ilmuwan tersebut telah melangkah lebih jauh dalam revolusi ilmiah yang mungkin kelak akan mempengaruhi kehidupan manusia. (2009, Koran Jakarta). Apakah fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah khayalan berubah menjadi kenyataan, seperti juga kegilaan yang berubah menjadi sebuah kejeniusan?

Contoh lainnya mudah kita temui di dunia seni dan literatur. Cukup banyak tokoh-tokoh yang dianggap sebagai orang-orang yang jenius seni. Misalnya, Mozart, Michaelangelo, Van Gogh, Andy Warhol, Jean-Michel Basquiat, Edgar Allan Poe, hingga Affandi dan masih banyak lagi yang bisa sangat memenuhi tulisan ini. Belum lagi jika kita hendak menyebutkan pemikir-pemikir dunia dan segala alirannya. Dan banyak di antara mereka yang dikatakan ‘gila’ pada awalnya. Socrates akhirnya dihukum mati karena pemikirannya yang dianggap gila di jaman itu, Andy Warhol tampil dengan gaya hidup yang sangat eksentrik begitu pun partnernya Basquiat, Van Gogh memotong sebelah telinganya, Edgar Allan Poe mati tak wajar setelah sebelumnya ditemukan tergeletak di jalan. Affandi tak kalah eksentriknya, pelukis ekspresionisme yang sering terlihat dengan sarungnya ini tak pernah menggunakan kuas untuk melukis, ia hanya menggunakan tangan dan menggoreskan tinta langsung dari tube-nya. Jika anda menonton Beatiful Mind, anda juga bisa melihat tokoh John Nash, seorang jenius matematika yang terkena schizophrenia. Bahkan penulis sekaliber Sidney Sheldon pun terdiagnosa sebagai penderita manic-depressive (salah satu jenis mood-disorder atau gangguan alam perasaan). Jim Morrison (frontman grup band The Doors) melakukan (maaf) masturbasi di atas panggung. Sharon Stone (bintang Basic Instinc) dikabarkan memiliki IQ sekitar 154 (catatan : Einstein memiliki IQ 150) pernah dirawat di sebuah rumah sakit jiwa. Nama-nama di atas hanyalah beberapa orang yang mungkin masih bisa dikenal oleh awam. Daftar ini bisa saja bertambah panjang dengan sangat ekstrem. Jika cerita ‘kegilaan’ mereka hendak ditulis, mungkin anda akan pusing sendiri membacanya. Namun, mereka menyimpan bentuk kejeniusan mereka masing-masing.

Jika hanya sekedar untuk (maaf) bermasturbasi di atas panggung, siapapun bisa melakukannya (jika sudah cukup ‘gila’, tentunya). Lantas, bagaimana membedakan kegilaan yang ‘jenius’ dengan kegilaan yang ‘gila’?

Berbicara mengenai kegilaan, kita perlu mengetahui bagaimana mekanisme kerja jiwa manusia. Dari sudut pandang psikoanalisa, kejiwaan manusia terbagi atas conscius (kesadaran) dan uncunscious (ketidaksadaran) keduanya dibatasi oleh preconscious. Jangan bayangkan bahwa keduanya sebagai 2 kotak yang terpisah. Pada dasarnya, conscious dan unconscious merupakan satu kesatuan yang hadir dalam sebuah spektrum gradasi, sama seperti gradasi warna hitam ke putih. Bayangkan, gradasi dari warna hitam yang paling hitam bertambah terang hingga benar-benar putih. Bagian paling dalam dari unconscious adalah hitam yang paling hitam itu dan bagian paling atas adalah putih yang mewakili puncak conscious. Preconscious juga bukanlah sebuah garis seperti cakrawala yang membatasi laut dengan langit, melainkan sebuah areal dengan berbagai tingkat kesadaran dan ketidaksadaran seperti berbagai spektrum warna abu-abu. Semakin dalam ketaksadaran, semakin sulit untuk menebak apa isinya. Freud mengatakan bahwa hampir menjadi hal yang mustahil untuk mengetahui secara pasti apa yang terdapat dalam ketidaksadaran.

Hal yang patut digarisbawahi adalah ternyata banyak (atau bahkan mungkin sebagian besar) dari tindakan atau situasi yang kita alami dengan kejiwaan kita dipengaruhi oleh apa yang ada dalam ketidaksadaran. Hal yang paling jelas  antara lain tindakan-tindakan yang tidak disengaja dan mimpi. Misalnya, kita secara tidak sengaja memanggil seseorang dengan nama orang lain, kebiasaan seperti menggoyang-goyangkan kaki atau mimpi-mimpi yang menggambarkan berbagai simbol yang kadang tidak bisa kita mengerti. Sigmund Freud berasumsi bahwa ada kesengajaan di dalam hal-hal yang tidak disengaja tersebut. Maksudnya, hal-hal tersebut tidak terjadi karena kebetulan belaka, melainkan didorong oleh sesuatu yang kemudian didefinisikan oleh Freud sebagai ketidaksadaran.

Yang dimaksud dengan kesadaran mungkin bisa sedikit digambarkan sebagai perhatian. Kesadaran kita berpindah dari satu titik ke titik lainnya, dari satu topik ke topik lainnya, seiring dengan berpindahnya perhatian kita. Kita menyadari sepenuhnya, apa dan mengapa anda melakukan sesuatu. Kita tidak perlu membahas banyak mengenai kesadaran, karena anda pasti tahu dan sadar tentang apa yang anda sadari, kan?

Namun, anda pasti bertanya-tanya, jika benar ketidaksadaran itu ada, untuk apa? Sederhana saja. Bayangkan, anda baru saja kehilangan orang yang anda cintai (pacar anda, misalnya) atau mengalami sesuatu yang sangat menyakitkan. Yang anda ingin lakukan pastilah segera menghilangkan ingatan itu. Anda tidak ingin mengingatnya karena itu akan menjadi sangat menyakitkan. Anda ingin menghapus memori itu dari ingatan anda. Dan akhirnya, anda berhasil! Anda melupakannya! Pertanyaannya adalah kemana hilangnya ingatan tersebut? Apakah hilang begitu saja?

Freud menyatakan bahwa ternyata banyak dari ingatan-ingatan menyakitkan tersebut dilarikan dan dibenamkan dalam ketidaksadaran. Hal itu adalah bagian dari mekanisme pertahanan untuk tetap membuat kesadaran anda dalam keadaan yang seimbang. Bayangkan apa yang akan terjadi jika berbagai kejadian menyakitkan berkumpul dan menjadi satu dalam kesadaran. Anda secara sadar mengingat dengan jelas seluruh rasa sakit yang pernah anda rasakan seperti anda mengingat apa yang terjadi 10 menit lalu. Kesadaran anda dipenuhi dengan berbagai jenis ingatan, baik yang menyenangkan atau menyakitkan. Betapa kacau ingatan anda jadinya, saat berbagai ingatan tersebut berebut menarik perhatian anda. Kesadaran tak akan sanggup menampung semuanya.

Tapi, apakah kemudian ingatan itu begitu saja dilupakan, seperti anda yang membuangnya ke tong sampah? Ternyata, ketidaksadaran bekerja kurang lebih seperti menyusun foto-foto lama anda dalam sebuah bekas kotak sepatu. Seluruhnya disatukan menjadi sebuah rangkaian asosiasi yang tampaknya tidak berkaitan namun sebenarnya memberikan gambaran tentang kondisi mental yang pernah anda alami sebelumnya yang kemudian akan berpengaruh pada kondisi mental anda saat ini dan cara anda memandang hidup anda sendiri.

Proses inilah yang kemudian menjelaskan bagaimana sistem ketaksadaran bekerja. Kesadaran bekerja dengan cara yang berbeda dengan kataksadaran. Ignatio-Matte Blanco, salah satu psikoanalis, mengatakan dalam bukunya The Unconscious as Infinite Sets (1975) bahwa kesadaran bekerja dengan prinsip Asimetris dan kebalikannya ketaksadaran bekerja dengan prinsip Simetris. Prinsip Asimetris kesadaran itulah yang membuat kita bisa menerima sebuah argumen sebagai sesuatu yang “masuk akal” sebagai sebuah hubungan yang saling terkait dan membedakan hubungan antar komponen sebuah pola pikir. Misalnya darah adalah bagian dari tubuh manusia dan tidak sebaliknya. Namun, ketaksadaran bekerja dengan prinsip Simetris, pikiran tak sadar memperlakukan semua elemen tersebut sebagai objek yang ekuivalen, yaitu hal-hal yang memiliki keterkaitan dijadikan satu objek. Artinya dalam pikiran tidak sadar, jika darah adalah bagian tubuh maka tubuh juga bagian dari darah. Bingung? Dan sepertinya memang tidak masuk akal.

Secara sederhana, prinsip simetris bisa dijelaskan dengan menelaah proses kreatif para seniman. Contohnya, seorang pelukis yang menggambarkan sebuah kebebasan dengan simbol burung merpati. Jika kita mengkajinya, sebenarnya tidak ada hubungan yang signifikan antara kebebasan dengan burung merpati. Namun, logikanya bisa dijelaskan seperti ini (yang pasti sudah bisa anda tebak) : burung = terbang = bebas. Maka, burung = bebas.

Anda mungkin bisa memberikan argumen, bahwa sejak jaman purbakala (yang entah kapan) burung sudah dijadikan simbol kebebasan, maka wajar seseorang menirunya.

Baiklah, kalau begitu saya ganti contohnya. Seorang pelukis menggambarkan kebebasan sebagai buah pepaya. Bisakah anda menjelaskan hubungannya? Bagi pelukis itu, kebebasan sangat berhubungan dengan buah pepaya. Begini penjelasannya, masa kecil pelukis itu hidup dalam kemiskinan yang membuat dirinya tidak bisa sebebas teman-temannya untuk membeli alat-alat sekolahnya. Untuk meminta uang pada orangtuanya pun ia takut. Bertahun-tahun ia hidup dalam keadaan seperti ini. Kebetulan, di rumahnya ia memiliki sebatang pohon pepaya. Yang ia lakukan adalah menunggu pohon pepaya itu berbuah, karena dengan menjual buah pepaya itu ia bisa mendapatkan uang untuk membeli alat-alat tulis seperti teman-temannya. Setelah ia dewasa, jika ia mengingat kata “bebas”  yang terbersit di benaknya adalah buah pepaya. Benarkah : bebas = pepaya = bebas? Hal seperti inilah yang memungkinkan seseorang yang ketakutan pada ayahnya bermimpi dikejar-kejar monster. Ayah = takut = monster = Ayah. Monster = Ayah? Fenomena seperti ini juga bisa ditelaah dalam kasus Fobia.

Dengan cara yang sama, ketaksadaran membangun asosiasi-asosiasi yang kelihatannya tidak terkait namun bagi orang yang mengalaminya simbol dalam asosiasi itu sangat terkait dengan apa yang terjadi di dalam dirinya. Hal itu melalui proses primer pemikiran yang diterjemahkan melalui proses sekunder. Proses primer adalah proses pemikiran abstrak dimana konsep-konsep dibentuk tidak dalam bentuk bahasa atau simbol. Dan proses sekunder adalah proses penerjemahan konsep tersebut ke dalam bentuk-bentuk linguistik dan simbol-simbol lain yang terstruktur dan dapat dimengerti dan dikaji maknanya. Terdapat kasus-kasus dimana proses primer-sekunder ini mengalami gangguan. Hal ini sering ditemui pasien gangguan mental. Sebagai gambaran : Seorang anak selalui ditekan secara fisik dan mental oleh orangtuanya di rumah. Akhirnya, ia menjadi tidak betah di rumah dan merasa rumahnya bagai penjara.

Sekilas kasus di atas sepertinya menggambarkan bahwa anak itu menganalogikan rumah dengan penjara. Namun, hal yang patut diperhatikan adalah “seperti penjara” tidak sama dengan “benar-benar penjara”. Proses primer dalam pikirannya memang membuat ia merasa dipenjara, namun proses sekundernya mengatakan bahwa ia memang ada di dalam penjara (ia bisa melihat terali, sipir, sel dan sebagainya). Untuk mengatahui kasus seperti ini, dibutuhkan penanganan seorang ahli (psikiater atau psikoanalis) yang tepat. Jadi, jika ia menggambarkan ketakutannya dengan melukis ‘penjara’ dengan tehnik lukis tertentu, ia bisa dikatakan telah mengungkapkan ketakutannya melalui proses sekunder yang mewujud dalam bentuk lukisan. Namun, jika yang terjadi adalah ia benar-benar melihat ‘penjara’, bisa dikatakan ada sebuah ketidaknormalan dalam proses sekunder yang dialaminya.

Phil Mollon dalam The Unconscious (2000) mengatakan : “Sejumlah individu yang secara intuitif atau artistik berbakat, mungkin memiliki akses yang tidak lazim terhadap proses primer dari kognisi tidak sadar mereka. Jika mampu ditahan dan dimanfaatkan dengan baik, proses primer seperti ini akan dapat menjadi sumber kreatifitas, namun jika tidak terkendali, ia akan menguasai dan menghancurkan kemampuan berpikir rasional. Inilah perbedaan kecil antara genius dan gila.

Orang-orang jenius seperti disebut di atas adalah orang-orang yang mampu untuk mengungkapkan apa yang terjadi dalam ketidaksadaran, sama seperti mimpi yang muncul di saat tidur. Mereka mencoba untuk membahasakan ketidaksadaran ke dalam kesadaran. Karya-karya mereka dianggap sebagai representasi ekspresi jiwa manusia.

Jadi, jika anda berpikir bahwa anda gila, jangan keburu minder karena mungkin anda sebenarnya seorang jenius. Namun, jangan juga keburu merasa jenius, karena bisa jadi anda tak lebih dari sekadar ‘gila’ dalam arti yang sebenarnya.

(Tulisan ini hanya sekadar gambaran, ketaksadaran bekerja dalam proses yang lebih rumit dibanding tulisan di atas. Dan lebih rumit lagi untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya. Silakan mempelajari literatur-literatur psikoanalisa untuk menghindari kesalahan interpretasi.)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...