Dialog Monolog

Malam sudah semakin dingin saat debur ombak di pantai itu menghentak-hentak batu karang yang berdiri liar di bibir laut lepas. Kita masih saling diam. Membiarkan burung-burung hitam yang segelap malam berkicau sendiri. Suaranya yang lamat menyayup ke telinga. Tapi telinga kita sudah tuli. Dihempas oleh gejolak yang bahkan lebih beriak dibanding buih-buih yang pecah di pantai.

Kita masih diam. Enggan untuk saling bicara bahkan untuk saling melihat. Dua orang yang berdialog dengan diri sendiri.

Nyamuk-nyamuk pantai sudah terlalu centil menggoda kulit kita yang telanjang dengan pedang-pedang kecil penghisap darah. Tapi kita sudah mati rasa, kan? Entah apa yang bergejolak. Mungkin kebencian tapi mungkin juga cinta. Tapi kau tak mau bilang juga. Kau masih diam.

Kau berharap aku yang bicara? Bukankah sekarang giliranmu untuk bicara? Aku sudah kehabisan kata-kata. Aku sudah bosan mengoceh dari tadi. Bibirku sudah ledes untuk mengucapkan terlalu banyak kata cinta yang hingga detik ini kau tidak juga mau mengerti.

Tapi, akankah ada orang yang bisa mengerti cinta sepenuhnya? Tidakkah ia akan jadi seorang pembohong besar dengan mengatakan bahwa ia telah memahami cinta sepenuhnya? Mungkinkah cinta dipahami? Aku sendiri saat ini tidak cukup mengerti apa yang sebenarnya membuatku jatuh cinta pada orang sepertimu. Aku tidak mengatakan bahwa kau adalah orang yang buruk. Kau terlalu baik, malah. Tapi, apakah kebaikan dan keburukan adalah memang alasan mengapa orang saling jauh cinta? Jika memang kebaikan adalah alasan mengapa seseorang jatuh cinta, berarti kau mungkin mabuk dan hilang kesadaran saat kau dulu mengatakan bahwa kau telah jatuh cinta padaku. Tapi, bukankah cinta memang adalah candu?

Tidakkah kau mencandu? Karena, aku sangat mencandu padamu. Tepatnya, aku mencandu pada cintamu. Lebih tepatnya lagi, aku mencandu pada kepastian bahwa kau memang mencintaiku. Itulah sebabnya saat ini aku duduk di sini dan mengajak kau bicara. Jadi, jelas, bahwa aku ada di sini karena aku berharap kau bicara. Tepatnya, kita bicara. Bicara adalah mengeluarkan kata-kata, bukan cuma diam dan beku sementara aku terus menerus meracau kesana-kemari tak tentu arah dalam otakku.

Jadi, sekalipun kau cuma diam seperti ini, aku yakin, bahwa tidak sepertiku, kau jatuh cinta padaku bukan karena kebaikan-kebaikanku. Terlalu sedikit kebaikan-kebaikan yang kumilki untuk kau jadikan alasan untuk jatuh cinta. Dan jika kebaikan memang ukuranmu untuk memilih orang yang akan kau jatuhi cinta, maka aku yakin kau tidak akan memilihku untuk kau jatuhi cinta, melainkan orang lain yang memang dipenuhi oleh kebaikan-kebaikan. Tapi, aku yakin bahwa keburukan-keburukan juga bukanlah alasan bagimu untuk menjatuhiku cinta, kan? Sebagai manusia normal, kau tidak mungkin membuat keburukan-keburukan sebagai alasan untuk mencintai seseorang. Begitu, kan? Jadi, buat aku mengerti mengapa kau mau menjatuhi aku cinta saat itu, yang juga akan jadi alasan mengapa aku di sini malam ini dan membiarkan angin malam menyerbuku hingga perutku kembung. Aku butuh kata-katamu.

Ah, aku sudah terlalu lama berputar-putar. Dan ini akibat kau juga. Karena kau terus saja diam. Hingga membuat pikiranku terus berdialog dengan dirinya sendiri, mencoba mencari-cari alasan mengapa aku tetap di sini menunggumu berbicara sementara sepertinya kau memang tidak ada niat untuk berbicara. Jika kau memang berniat untuk berbicara, kau pasti sudah berbicara sejak tadi. Tapi, kau masih juga diam. Aku bosan. Bosan.

Tapi, kau jangan tersinggung. Aku bukan bosan padamu, karena kau takkan pernah membosankan. Aku bosan pada kediaman ini. Saat 2 orang berada di tempat yang sama, tapi mereka berdua justru sibuk berbicara sendiri-sendiri. Itu pun hanya pembicaraan yang terjadi dalam benak. Itulah yang kita berdua lakukan sekarang. Diam berdua dengan pikiran yang ramai mengembara.

Mengapa kau tidak seperti dulu yang dengan mudahnya memuntahkah kata-kata dari dua belah bibirmu yang cerewet itu? Dulu aku memang menganggapmu cerewet. Sampai sekarang pun aku masih menganggapmu cerewet. Kau terus berbicara, bahkah untuk hal-hal yang tidak penting. Kau berbicara tentang sungai, tentang arus yang menelan, tentang batu-batu yang ditelan, tentang burung bangau yang memakan ikan, tentang ikan-ikan yang dimakan burung bangau, tentang semua hal. Tentang pohon, tentang angin yang menggoyangkan pohon-pohon, tentang daun yang gugur digoyang pohon, tentang pohon yang digoyang angin dan menggugurkan daun-daun, tentang daun-daun yang gugur dari pohon karena digoyang angin, tentang semua hal.

Kau memang cerewet. Kau menyadari itu, kan? Aku tahu kau sadar. Karena jika kau tak menyadarinya maka kau tidak mungkin mengatakan bahwa kau tidak peduli apakah aku mendengar semua omonganmu atau tidak, karena kau mengatakan bahwa kau akan tetap mengatakannya entah aku mendengarkannya atau tidak. Tapi, kau tahu bahwa aku memang mendengarkannya karena kau tidak akan terus mengatakannya jika kau tahu aku tidak mendengarkannya. Dan aku memang mendengarkannya sekalipun waktu itu aku tidak menyadari bahwa aku mendengarnya. Tapi aku tahu bahwa aku mendengarnya karena kini aku bisa mengingatnya dan aku tidak mungkin tidak mendengarkannya jika ternyata aku bisa mengingatnya sekarang. Atau, mungkin kata-katamu masuk begitu saja ke dalam otakku tanpa perlu aku mendengarkannya hingga aku bisa mengingatnya sekarang.

Jadi, untuk apa kau diam sekarang? Sekalipun, aku mungkin seperti tidak mendengarnya, tapi aku mendengarnya karena aku pasti akan mengingatnya kelak. Aku tidak mungkin mengingat apa yang tidak kudengarkan, kan? Jadi, katakan sekarang. Katakan apa saja. Aku berjanji, aku pasti mengingatnya, sekalipun aku tidak berjanji bahwa aku akan mendengarnya. Tapi, apakah aku mendengarnya atau tidak, itu tidak penting bagimu, kan? Karena kau tahu kalau aku pasti bisa mengingatnya.

Aku ingat bagaimana kau dulu bercerita tentang ombak yang menggelitiki kakimu. Kau bilang bahwa ombak itu gatel dan mencoba menggodamu. Lalu kau tertawa. Kau bercerita tentang burung-burung yang mensiulimu seperti anak kampung yang mensiuli gadis perawan yang lewat. Lalu kau tertawa. Kau bercerita tentang angin nakal yang mencoba mengibaskan rokmu hingga terbuka. Lalu kau tertawa. Kau juga bercerita tentang bulan sabit yang malu-malu mencoba menatapmu dari langit di atas pantai ini. Lalu kau tertawa lagi.

Ini pantai yang sama, kan? Pantai yang sama saat kau menceritakan itu semua. Tapi kau sama sekali tidak pernah bicara tentang cinta. Dan untuk itulah aku ada di sini sekarang, untuk membicarakan cinta.

Ya.. ya… ya…

Aku tahu bahwa cinta memang tidak perlu dibicarakan. Cinta yang dibicarakan sebenarnya bukanlah cinta yang sebenarnya. Cinta yang dibicarakan hanyalah imajinasi romantis para pujangga atau nada-nada puitis para musisi. Mereka semua mencoba untuk mendefinisikan cinta lewat kata-kata atau lagu. Itu hanya kata-kata yang mencoba menangkap sedikit bayangan mereka tentang cinta. Cinta bahkan lebih luas dari samudra yang sekarang bunyi ombaknya mendebur-debur ke telinga. Deburan ombak sama sekali bukan samudra, sama seperti lagu atau kata-kata yang sama sekali bukan cinta. Lagu atau kata-kata itu hanyalah deburan cinta yang bisa sampai ke telinga. Sementara, cinta seharusnya ada di hati dan bukan hanya di telinga. Tapi, bagaimana aku bisa tahu tentang hatimu jika kau tidak mengatakannya? Itulah sebabnya sekarang aku butuh kata-kata. Dan untuk itu kita harus membicarakannya.

Tapi kau cuma diam.

Diam.

(Menghela napas)

Aku bosan. Bosan. Sekali lagi aku bosan. Jangan tersinggung, aku bukannya bosan padamu. Aku sudah mengatakan itu. Aku bosan pada diam ini. Karena ternyata kali ini aku tidak dapat menerjemahkan arti dari diammu. Tapi, benarkah diammu perlu diterjemahkan? Itu pun kau juga perlu mengatakannya. Katakan apakah memang diammu itu perlu kuterjemahkan atau tidak. Jika kau mengatakan bahwa diam itu perlu diterjemahkan, maka aku akan menerjemahkan diammu sekarang, tentu saja sebatas yang aku mampu. Dan jika kau mengatakan bahwa diammu itu tidak perlu diterjemahkan, maka aku tidak akan menerjemahkannya. Lagi-lagi kau perlu mengatakannya, kan? Bahkan, untuk diam pun kau harus mengatakannya.

Kalau kau mau mengatakannya (sekali lagi, jika kau mau mengatakannya), kau bisa mengatakan bahwa aku memaksa. Ya, aku memang memaksamu untuk mengatakannya. Tapi, bagaimana mungkin aku tahu bahwa kau merasa terpaksa atau tidak untuk mengatakannya jika kau tidak mengatakannya? Jadi, pada akhirnya kau tetap harus mengatakannya, kan?

Maka katakan apapun. Apapun yang mau kau katakan.

Ah, bukankah ini seharusnya adalah pembicaraan cinta? Aku tidak seharusnya berputar-putar seperti ini. Tapi kau memaksaku untuk berputar-putar karena kau tidak pernah mengatakannya. Sehingga aku terus berputar-putar.

Nah, kau masih diam, kan?

Atau kau memang mau aku berputar-putar? Katakan saja! Kalau kau memang mau aku berputar-putar, aku akan berputar-putar karena kau mengatakan bahwa kau mau aku berputar-putar. Jadi, aku berputar-putar. Aku mau berputar-putar jika kau memang menginginkan aku berputar-putar karena sekarang aku berputar-putar karena kau terus saja diam. Dan aku hanya mau berputar-putar jika kau menginginkan aku berputar-putar dan bukan karena kau diam. Untuk apa aku berputar-putar sementara kau diam?

Tak sadarkah kau bahwa kau diam?!

Jangan coba-coba bikin alasan bahwa diam pun punya makna. Karena bagiku diam ini (maksudku, benar-benar diam yang ini dan bukan diam yang lain), adalah diam yang tak punya makna. Kau diam hanya karena kau tidak mau mengatakan apa-apa. Kau diam hanya karena kau tidak mau mengeluarkan kata-kata. Kau diam hanya karena kau tidak mau bicara. Sementara aku perlahan-lahan gila.
Yang aku minta sederhana, kan? Aku cuma minta kau untuk mengatakannya, mengeluarkan kata-kata dan jangan cuma diam.

Bicara.

Bicara.

Bicara!

Maaf, aku jadi menanyakan ini. Kau diam karena kau tidak mau bicara atau karena kau tidak mengerti apa yang aku katakan? Kalau kau sudah sampai sejauh ini, seharusnya kau memang mengerti karena jika kau tidak mengerti seharusnya sejak tadi kau sudah mengatakannya atau kau sudah meninggalkan pembicaran ini. Tapi, kau diam! Kau tidak juga mengatakannya dan kau juga tidak meninggalkan pembicaraan ini. Lagipula, jika kau meninggalkan pembicaraan ini, sebenarnya kau tidak meninggalkan apa-apa karena sebenarnya tidak ada pembicaraan, kan? Sedari tadi aku hanya mengoceh sendiri, menonton diammu dan mengharapkan kau bicara. Sementara kau tidak sedikitpun bicara atau mengeluarkan kata-kata.

Sungguh, dulu menurutku kau sangat pintar hingga bisa mengatakan apapun yang mau kau katakan. Kau menceritakan apapun. Kau tidak diam. Kau terus berkata-kata. Kau bahkan tertawa. Bukan cuma diam.

Ah, kau terus saja diam!

Diam!

Aku bosan!

Tak sadarkah kau bahwa aku dari tadi sudah bicara cinta?! Dan dari tadi aku mengajakmu bicara karena sejak dulu kau tidak pernah membicarakannya. Aku cuma mau kau mengatakannya. Bukan cuma diam!

Sadarkah kau bahwa kau selama ini cuma diam? Atau otakmu memang sudah hilang? Otakmu hilang dimakan rayap hingga kepalamu kosong belaka. Itukah sebabnya kau diam? Karena kau tidak bisa berpikir karena otakmu hilang? Kau tolol! Kau adalah makhluk paling tolol karena yang kau lakukan cuma diam dalam arti bahwa kau benar-benar diam!

Diam kau! (paling tidak kau diam karena aku menyuruhmu diam)

Kau tolol!

Dan aku lebih tolol!

Aku bicara dengan hantu!

Aku berbicara dengan nisanmu.

Sudah, mati saja kau.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...