Serigala Yang Melolong Pada Bulan

Terkisahlah seekor Serigala Pengembara yang selalu berlari dari padang ke padang, berlari menuju bukit ke bukit, dan mendaki satu gunung ke gunung lainnya. Ia adalah seekor serigala yang melintas dinginnya salju, meratapi musim semi dan berkeliaran kemana pun hatinya membawa. Ia adalah seekor serigala yang selalu melolong ke angkasa, dan menggemakan suaranya menembus gelap cuaca. Ia berbeda, ia bukan serigala yang berkumpul bersama koloni, ia adalah seekor serigala penyendiri. Serigala yang selalu bernyanyi lewat lolongannya. Serigala yang meratapi langit malam dan bintang-bintang.

Melolong. Ia selalu melolong. Tidak ada yang benar-benar mengerti mengapa Serigala Pengembara melakukan hal itu. Mereka hanya tahu bahwa seekor serigala yang berlari dari padang ke padang, berlari menuju bukit ke bukit dan mendaki dari satu gunung ke gunung lainnya adalah serigala yang selalu melolong ke angkasa. Entah apa yang disampaikannya, ia hanya selalu melolong pada langit gelap tak tercela.

Ia berlari seperti angin. Menegakkan kepalanya dan melolong pada bulan di tengah kelam malam. Begitu setiap malam. Hingga semuanya hanya tahu bahwa ia selalu berlari dan melolong ke angkasa.

Mereka semua telah lupa, bahwa ia adalah seekor serigala biasa. Yang membedakannya hanya lolongannya yang tak berhenti sepanjang malam. Mereka tidak mendengar juga tidak memperhatikan bahwa lolongan di setiap malam adalah lolongan dengan nada-nada yang tidak pernah benar-benar sama. Nyanyiannya selalu berbeda. Karena serigala itu selalu melolong sendiri tanpa ada koloni, ia juga tidak peduli apakah mereka semua mengerti. Ia hanya terus melolong, melolong dan melolong sepanjang malam.

Ia adalah serigala yang merindu pada bulan. Bulan yang bersinar tinggi di langit hitam tak berawan, atau bulan yang tertutup sebagian, atau bahkan pada bulan yang tak terlihat mata telanjang. Namun, Serigala Pengembara selalu tahu bahwa bulan itu selalu ada, selalu hadir setiap malam. Entah di belahan langit mana, entah kutub utara atau selatan, tapi bulan selalu ada meskipun tak terlihat. Itulah sebabnya dia selalu melolong ke angkasa setiap malam, dalam dingin musim salju atau dalam musim semi yang bisu. Ia tahu bahwa bulan selalu ada dan ia akan melolong padanya.

Ia adalah serigala yang mendendam pada bulan. Bulan yang bertahta di langit mulus tanpa luka, atau langit bertabur bintang kejora atau bahkan langit badai yang menghancurkan dunia. Ia adalah pemuja bulan yang tak sekalipun meninggalkan jadwal pemujaannya. Melolong adalah satu-satunya cara yang ia tahu, maka ia terus melolong, melolong dan melolong pada bulan yang dipujanya. Bulan indah yang mengembarai setiap malam, di sela jutaan bintang.

Ia adalah Serigala Pengembara yang selalu berlari dari padang ke padang, berlari menuju bukit ke bukit, mendaki dari satu gunung ke gunung lainnya. Mencari puncak-puncak tertinggi di dunia, berdiri tegak dengan kedua kakinya dan melolong membahanakan suara.

Suara lolongan yang berbeda. Lolongan bahagia saat bulan purnama karena tahu bahwa ia ada bertahta, lolongan yang bersyukur pada bulan lebih separuh karena tahu bulan sebentar lagi akan datang dengan sempurna, lolongan yang meratap berharap pada bulan segaris agar tidak pergi meninggalkannya, dan lolongan memohon saat bulan tak hadir, dengan hati yang hancur berharap agar bulan bersedia kembali menghiasi angkasa. Dan lolongan itu selalu berbeda, tapi mereka semua mendengarnya sebagai lolongan yang sama saja, lolongan yang tak terbeda.

Malam itu, Serigala Pengembara yang selalu melolong ke angkasa berlari menuju gunung tertinggi, setelah ia mengarungi padang dan bukit yang selalu kurang ketinggannya. Ia ingin melolong pada bulan, bulan yang terpantul di riak laut. Ia berharap bahwa ia bisa menemukan bulan di bawah arus yang menggeliat. Bahwa riak laut akan mendekatkannya pada bulan.

Ia berlari ke laut, berenang menuju terumbu karang, melolong pada ikan, bercumbu dengan gurita, tapi ia hanya merasa menderita, karena bulan ternyata hanya ada di atas permukaan, bercanda dengan angin yang tenang. Maka ia menuju riak laut, melolong pada bayangan bulan yang bergoyang perlahan. Tapi bayangan itu pecah tak terkira karena ia hanya bayangan, bayangan yang memantulkan bulan di singgasana langitnya. Tak sedikit pun ia bertambah dekat. Bulan tak di sana dan Serigala Pengembara semakin tersayat.

Maka, ia berlari menuju Himalaya, meninggalkan koloninya. Aconcagua telah didakinya, tapi ia bukan puncak tertinggi. Ia ingin lebih dekat, dan hanya puncak tertinggilah yang akan membawanya lebih dekat. Himalaya, itulah harapannya. Ia melesat bersama angin yang setia, menembus hujan, menerabas badai, meniti batu-batu pegunungan yang cadas, ia berlari seperti panah terlepas. Ia mengendus celah-celah karang, menembus gelap terang, berlari tak berhenti, sebelum waktu tak berdentang. Ia harus datang. Ia terus bergerak, sebelum jantung tak berdetak.

Di tengah badai salju yang ganas, kini Serigala Pengembara melolong pada bulan. Batu-batu padas memantulkan suaranya, melipatgandakan gemanya. Membuat ombak berhenti berayun, angin tak lagi bertiup, membuat telinga-telinga yang tuli dapat mendengar, mulut-mulut yang bisu semakin kelu. Bumi membeku. Semesta bergetar dalam lolongannya.

Langit pun datang dan bertanya pada Serigala Pengembara, ”Bulan adalah kekasihku. Apa yang kau inginkan darinya?”

Ia pun berhenti melolong dan menjawab, “Aku ingin mencinta Bulan yang ada di sana.”

“Kau tidak bisa. Kau tidak boleh melakukannya. Karena mencintanya hanya bisa dilakukan olehku.”

“Mengapa? Mengapa tidak kau ijinkan aku mencintainya. Aku hanya ingin mencintainya,” Serigala Pengembara meratap pada Langit yang kini berdiri di hadapannya

“Lantas, untuk apa kau melolong sepanjang malam hingga dunia bergetar. Aku tidak mungkin membiarkanmu.”

“Aku ingin Bulan tahu bahwa aku mencintainya.”

“Jika benar kau hanya ingin mencintainya, mengapa kau ingin ia tahu?”

“Aku ingin ia tahu bahwa pernah ada seekor Serigala Pengembara yang mencintainya dengan tulus. Hanya itu.”

“Hanya itu? Benarkah? Hanya ingin mencintainya?”

“Ya, aku hanya ingin mencintainya.”

“Jika kau kuberi satu kesempatan untuk memeluknya tanpa menginginkan membalasnya memelukmu. Setelah itu hentikan lolonganmu. Maukah kau?” Langit bertanya lagi.

“Aku mau. Karena aku hanya ingin mencintainya,” Serigala Pengembara menjawab dengan yakin. “Karena inilah sumpahku. Mencintainya dengan tulus.”

“Kau telah berjanji,” lanjutnya. “Waktumu hanya sesaat. Begitu kau menginginkan ia membalas pelukanmu, maka kau akan hancur berantakan di angkasa dan mengembara di sana selamanya. Kau bersedia?”

“Aku bersedia. Karena aku tulus mencintainya.”
Langit tersenyum dan melambaikan tangannya. Seketika, dunia bersinar seluruhnya, menelan Serigala Pengembara menuju pengembaraan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

***

Seekor serigala betina berjalan terseok-seok dengan kaki-kaki yang sudah semakin renta. Ia terpisah dari koloninya, suaminya telah mati dalam sebuah pertempuran. Ia kini sendirian, berjalan menembus badai salju mencari tempat perlindungan. Ia akan melahirkan seekor serigala muda yang akan menggantikan mendiang ayahnya.

Tapi, tubuhnya terlalu lemah. Ia terlalu lemah untuk berjalan lebih jauh, sementara padang salju putih seperti terhampar tiada habisnya. Ia tidak tahu bagaimana menyelamatkan dirinya dalam badai salju yang tak kenal ampun, melumat seluruh makhluk hidup yang berani menantangnya. Darah menetes-netes dari lukanya, memerahi salju, yang langsung membekukannya. Es yang beku setajam belati terus menusuk-nusuk kakinya, membuka luka semakin lebar. Tapi ia tidak punya pilihan, demi cinta yang kini dibawa dalam rahimnya. Demi bayi serigala yang ada di kandungannya, ia berani menantang apapun yang ada di dunia. Kalau perlu neraka ditentangnya. Ia tak peduli lagi pada surga.

Badai terus menggerus pegunungan, melemahkan tubuhnya yang ringkih termakan alam. Tapi jiwanya tak tergoyahkan, bayi ini harus selamat. Didakinya gunung-gunung es yang semakin licin dan curam. Malam tak punya kasihan, angin bertiup suram. Serigala betina terus berjalan, meniti jurang menganga, menanti semua yang lengah untuk diambil nyawanya. Tapi, serigala betina sudah tak peduli lagi pada nyawa. Ia melawan walau hanya dengan setengah hidupnya, karena setengah bagian lainnya telah dijemput kematian. Dalam setengah kematian, ia melawan.

Namun, apalah arti seekor serigala betina lemah di tengah alam yang mengamuk tak tentu arah. Hidupnya telah dijarah. Tubuhnya mungkin lelah, tapi jiwa tak kan terjajah. Angin gunung yang beku menelannya, mendorongnya ke arah jurang yang tanpa ampun menariknya. Ia melawan, tapi ia sudah terlalu lemah. Bayinya hampir lahir. Ia hampir menyerah. Ini mungkin sebuah akhir. Akhir yang getir.

Serigala betina menangis, menangis begitu keras. Ia rela melepaskan nyawanya begitu saja, tapi jangan biarkan bayi ini mati dalam rahimnya. Ia menangis, menangis begitu keras, hingga meruntuhkah bongkah-bongkah es raksasa. Menggelandangnya menuju pinggiran kehidupan, menjadikannya persembahan bagi kematian. Ia menangis, menangis begitu keras. Namun, hanya terdengar sebagai lolongan yang begitu jauh. Bagi nyawa yang telah teregang, tak pernah akan ada sauh. Tidak ada geladak yang bisa menyelamatkan. Tiada jejak yang akan tertinggalkan.

Maka, serigala betina menangis, menangis begitu keras. Melolong pada Langit, karena hanya Langit yang bisa menyelamatkannya.

“Kuberikan nyawaku untuk jiwanya!” teriaknya.

Suaranya menembus dan memantul dari langit. Tidak ada rasa takut. Tidak ada rasa sakit. Tiada gentar tersangkut. Ia marah, ia marah dalam putus asanya. Ada doa di sana. Doa serigala betina yang ingin menghidupkan jiwa dalam rahimnya.

Langit tak tuli, pun tak bisu untuk terus diam membeku. Lewat tetesan asteroid, Langit berkata, “Inilah garis edar yang harus diarungi semua bintang. Hanya satu yang boleh tersisa. Saat yang satu berhak atas kehidupan, berarti lainnya harus merasakan kematian.”

“Berikan kematianku untuk hidupnya. Telankan neraka dalam mulutku untuk surganya!” erangnya.

“Itukah pilihanmu?”

“Adakah yang lain untukku?” Ia menangis

Langit diam dalam bijaknya. Dipeluknya serigala betina dengan kedua tangannya. Direkanya potongan-potongan jiwa pengorbanan dan direkatkannya di langit. Diletakkannya ia dalam konstelasi bintang-bintang sebagai jejak. Bagi mereka yang mampu melihat tiada akan ada jarak.

Sementara, lewat sebuah bintang jatuh lahirlah Serigala Pengembara. Begitu kisah dari para tetua. Sebuah cerita yang disampaikan pada Serigala Pengembara. Demi sebuah cinta yang tulus, sejak itulah Serigala Pengembara melolong pada bulan. Ia ingin mencinta bulan seperti ibunya mencinta dirinya. Bulan yang tulus memberi cahaya dan bertahta dalam gelap maha sempurna.

***

Langit yang sama telah mengabulkan doa Serigala Pengembara. Menembus udara malam yang bergerak perlahan menuju titik batas angkasa. Menuju tempat di mana Bulan bertahta. Bulan yang selama ini telah dipujanya. Bulan yang telah disampaikan cinta lewat lolongannya.

Lewat titian awan ia berkelana, menuju tempat yang lebih tinggi dari puncak-puncak tertinggi. Himalaya bahkan terlalu kecil dari sini.  Menembus atmosfer menuju angkasa hampa udara. Menuju gelap maha sempurna. Tempat hitam abadi bersemayam, dimana matahari tak pernah terbit dan bulan tak pernah tenggelam.

Ia berdebar. Kini ia akan berada begitu dekat pada Bulan. Bulan terang berpendar-pendar. Bulan yang selalu tersenyum, betapapun gelap menelannya tanpa ampun. Bulan yang dipujanya dengan hati, disanjungnya mungkin sampai mati.

“Aku mendengar. Kurasakan lolonganmu,” Bulan berkata pada Serigala Pengembara.

Serigala Pengembara tersenyum nyaris tertawa. Ia bahagia. Pengembaraannya ke seluruh penjuru dunia, ke seluruh sudut bumi, melewati salju dan api, tidak sia-sia. Bulan bisa merasakan cintanya. Dan kini, Serigala Pengembara berada dalam pengembaraan terjauhnya. Melintas batas hidup, melewati garis yang tak pernah dilewati semua makhluk.

Dalam mimpinya untuk meraih Bulan, tak pernah sedikitpun ia membayangkan bisa sedekat ini. Bulan telah menjadi detak jantungnya, hidup dalam setiap denyutannya. Dan kini ia berdiri bersisian dengannya. Berjalan bersama dalam revolusi. Memeluknya dalam setiap rotasi. Bahagia bukan kata yang tepat, karena ini lebih dari bahagia. Berjuta lembar tiada akan cukup untuk menuliskan perasaannya. Musisi akan kehabisan nada untuk menyanyikannya dan pujangga akan kehabisan kata-kata.

Tiada kata dalam kamus yang bisa menggambarkan perasaan Serigala Pengembara. Ia melolong pada Bulan seperti yang biasa dilakukannya. Suaranya tiba di bumi, entah lewat apa, karena ini ruang hampa udara. Tiada cara untuk menyampaikan suara. Tapi suara lolongannya tiba di bumi, terdengar oleh setiap anggota koloni yang serentak melolong pada Bulan. Mereka tahu, bahwa Serigala Pengembara telah tiba pada apa yang dia cari. Melolong dari jarak sedekat ini. Tiada lagi batas yang memisahkan suara dengan tujuannya. Tiada lagi atmosfer yang memantulkan suara yang dihela oleh cinta. Ia melolong, melolong dan koloni membalasnya. Dunia dipenuhi lolongan.

Tapi ini bukan bumi, ini kawasan tak berpenghuni. Seperti cerita para tetua, ini wilayah di mana serigala betina mengembara sebagai bintang. Bintang hanya pemandu dan bukan penunjuk waktu. Tanpa perlu matahari atau bumi yang berotasi, waktu akan tetap berjalan. Waktu adalah sejati, tak perlu ditakar atau diukur. Tak bisa ditarik atau diulur.

Waktu berjalan singkat saat putaran bumi tak dijadikan perhitungan, saat sinar matahari tak mampu menembus lagi. Saatnya hampir habis. Ia kini harus pergi.

“Ikutlah denganku ke Bumi,” serigala berkata pada Bulan.

Bulan tersenyum dan berkata, “Aku adalah milik Langit malam yang kelam. Tempatku ada di sini. Aku tak mungkin dan tak akan melakukannya.”

Tak mungkin mengubah sang Bulan. Karena ia sejati. Tak mungkin membawanya pergi. Serigala Pengembara menjadi ragu untuk meninggalkannya. Bulan adalah pencapaian tertinggi dalam hidupnya. Tujuan dari setiap lolongannya. Ujung akhir dari pengembaraannya. Dan kini ia begitu dekat, begitu berat untuk meninggalkannya. Ia tak rela, tapi ia harus pergi. Dipandangnya Bulan untuk terakhir kalinya. Serigala Pengembara terlalu mencintainya.

“Pergilah, Serigala Pengembara…,” berbisik Bulan padanya.

Serigala Pengembara bimbang dalam hatinya, ia tak ingin pergi dari sini. Ia terlarut hingga lupa pada janjinya. Ia menangis dan berkata, “Maukah kau memelukku untuk terakhir kalinya…?”

Alam diam. Tiada jawaban. Ini sepi yang hambar. Komet berputar. Sebuah janji telah terlanggar. Sumpah telah teringkar. Serigala Pengembara tak lagi setia pada ikrar. Kini hanya ada konsekuensi, saatnya memetik sangsi. Serigala tersadar, ini akhir pengembaraannya. Kapalnya sudah menepi. Waktu melambat dan sauh telah tertambat.

Seketika, langit bergetar. Komet melesat dari balik kebekuan, membelah langit yang memang selalu malam. Merenggut Serigala Pengembara begitu rupa. Serigala tak bisa menolaknya, ia telah melanggar janjinya. Janji tentang cinta tulus yang katanya takkan pernah meminta. Cinta yang katanya mampu melepaskan. Cinta yang tidak memiliki. Cinta yang membebaskan. Cinta yang takkan pernah memenjarakan. Kini, cinta meledakkan Serigala Pengembara di kegelapan dan mengembarakannya selamanya.

Dengan alasan yang berbeda, ia kini ada di tempat yang sama dengan ibunya.

Berbisik Langit pada alam, “Akulah langit yang mencinta Bulan bertahta, dan membiarkannya mengembara di angkasa.”

Anyer-Gading
15 Juli 2009

2 Comments

  1. gila keren bgt!!
    keep writing yaaa!!!
    makna nya membuat saya dan teman saya tersentuh..
    Terus berkarya!!!

    • Makasih Mira, Salam kenal ya…🙂
      Saya seneng banget….

      Wisnu


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...