Pengaruh 2 Arah

Saya sangat sering bertemu dengan orang-orang sangat dipengaruhi oleh mood. Salah satu orangnya adalah saya sendiri. Di luar apa yang dilihat orang dari saya, pada dasarnya (karena saya juga masih manusia) saya juga dipengaruhi oleh suasana hati saya. Suasana hati alias mood (bisa) berpengaruh pada bagaimana saya akan merespon orang lain. Dan mungkin, itulah yang terjadi pada sebagian besar orang. Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai mood dan bagaimana mood terbentuk. Namun, saya ingin mengungkap sedikit tentang bagaimana mood mengendalikan hidup keseharian kita. Karena saya sering menemukan orang-orang yang selalu membiarkan mood mengendalikan hidup mereka. Dan mereka sering berkata, “Ya… inilah gue...”

Benarkah?

Benarkah mood adalah bagian dari kepribadian sampai-sampai kita mengatakan bahwa itulah diri kita? Bahwa mood adalah kita?

Entah kenapa, saya tidak yakin bahwa mood adalah sesuatu yang menjadi bagian diri kita. Ya, saya percaya bahwa afeksi alias perasaan adalah bawaan yang ada di setiap manusia, alias kita lahir dengan sebuah kemampuan afeksi. Namun, saya tidak yakin bahwa hal yang sama berlaku untuk apa yang dihasilkan afeksi, yang salah satunya adalah mood. Saya masih lebih percaya bahwa sebenarnya, kita sendirilah yang memilih mood kita. Karena, saya beberapa kali menemukan orang yang tetap bisa “seimbang” pada saat sesuatu yang buruk menimpa mereka.

Seperti salah satu teman saya. Ia adalah seorang wanita, sebut saja namanya Maria. Dia mengalami sesuatu yang buruk, Ibu yang sangat dekat dengannya meninggal dunia karena diabetes.  (Bayangkan, jika Ibu kita meninggal!) Saya dan beberapa teman datang melayat ke rumahnya. Waktu itu sudah malam. Saya datang sekitar jam 8 malam. Saat itu jenazah disemayamkan di dalam rumah di atas sebuah meja panjang yang ditutupi kain putih dan bunga. Jenazah tampak mengenakan sebuah gaun dan ditutupi sebuah kain transparan (teman saya ini penganut kristen yang cukup taat). Teman saya dan saudara-saudaranya tampak duduk di samping jenazah, saya dan para tamu bergiliran menyalami mereka untuk mengucapkan rasa belasungkawa.

Satu hal yang saya ingat, ia selalu tersenyum.

Memang bukan senyum gembira, tapi ia tersenyum. Ia tersenyum kepada siapa saja, termasuk pada saya.

Beberapa hari kemudian, saya bertemu dengannya lagi. Dan seperti biasa, saya menunjukkan rasa simpati saya dan bertanya untuk memenuhi rasa ingin tahu saya, “seperti apa rasanya?”

Ia menjawab, “Gue nggak tahu rasanya, sampai tiba-tiba mengalami ini. Rasanya…. hancur…”

Tapi ia tidak menangis. Ia tersenyum.

Sama seperti senyumnya yang waktu itu. Tiba-tiba saja, saya seperti melihat 2 jenis orang yang berdiri di kutub yang berseberangan.Yaitu : orang-orang yang dikendalikan oleh mood dan orang-orang yang (berusaha) mengendalikan mood.

Saya jadi bertanya-tanya, apa yang membedakan kedua jenis orang ini?

Lebih lanjut, teman saya itu kembali berkata, “Gue nggak bisa mengendalikan apa yang gue rasain. Tapi gue masih bisa sekadar menarik kedua sudut bibir gue dan SENYUM…”

…dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara seseorang dan hatinya. (QS. Al Anfal:24)

Saya bukan seorang ahli tafsir, kemampuan saya masih terlalu dangkal untuk bisa menafsirkan apa-apa yang ditulis oleh Al Quran, tapi saya menarik sebuah kesimpulan untuk diri saya sendiri. Bahwa, “hati” adalah bagian yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan. Hati adalah tempat dimana Tuhan berkomunikasi dengan kita. Kita diberi otoritas penuh untuk mengendalikan tubuh dan pikiran kita, tetapi tidak dengan hati. Itulah alasan dari salah satu doa yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah.

”Ya Muqallibal Qulub Tsabbit Qalbi ‘ala dinika” (Wahai Tuhan yang membolak-balik hati, mantapkan hatiku dalam memeluk/melaksanakan agamaMu)

Jika pernyataan tersebut didekonstruksi, saya menyimpulkan, bahwa memang BENAR bahwa Tuhan yang mengendalikan hati kita, apa yang kita rasakan, namun Tuhan tidak mengendalikan secara harfiah tubuh dan pikiran kita. Apa yang kita lakukan dan apa yang kita pikir sepenuhnya otoritas yang diberikan Tuhan pada kita.

Mengapa?

Saya menemukan sebuah pernyataan dalam Teori Kognisi yang secara singkat menyatakan bahwa “Afeksi mempengaruhi Kognisi dan sebaliknya, Kognisi mempengaruhi Afeksi”.  Artinya, benar, dan tidak salah, bahwa apa yang kita rasakan akan mempengaruhi apa yang kita pikirkan (dan lakukan) dan apa yang kita pikirkan (dan lakukan) akan mempengaruhi apa yang kita rasakan.

Kita sulit (saya tidak mengatakan bahwa hal ini tidak mungkin) mengendalikan apa yang kita rasakan, namun kita selalu bisa mengendalikan apa yang kita pikirkan (dan lakukan) yang akhirnya toh akan mempengaruhi apa yang kita rasakan.

Jadi, inilah yang membedakan kedua jenis orang itu, orang-orang yang (berusaha) mengendalikan mood adalah orang-orang yang berusaha untuk memisahkan apa yang dipikirkan otak dan tubuh mereka dengan apa yang dirasakan oleh hati mereka.

Entahlah, hati ada berada dimana karena yang saya maksudkan bukan hepar (hati, kelenjar terbesar dalam tubuh kita), melainkan hati yang membuat kita menjadi makhluk immateri. Sengaj atau tidak sengaja, orang-orang yang (berusaha) mengendalikan mood mereka adalah orang-orang yang telah memisahkan “hepar” dengan “hati”.

Saya bukan orang yang sempurna, maka saya sendiri masih berusaha untuk mempelajari dan melaksanakan mekanisme 2 arah ini. Karena saya tidak ingin hidup saya semata-mata dikendalikan oleh mood yang sama sekali tidak menggambarkan kenyataan di luar sana.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...