Memutuskan Untuk Memilih

Kata-kata yang berasal dari kata dasar “PILIH” cukup jadi trend beberapa waktu lalu. Gara-gara Pemilu, frase-frase seperti : PILIH SAYA, PILIHAN TEPAT, SAATNYA MEMILIH, dsb, mendadak ramai bermunculan di mana-mana. Mulai dari yang berukuran kecil seperti flyer yang disebarkan oleh pesawat terbang, pin, slayer, hingga yang seukuran baliho atau lebih besar lagi. Mulai dari iklan radio, TV, hingga  internet, kita bisa menemukan kata-kata sejenis atau yang berbau-bau sama. Intinya : PILIH.

Mudahkah?

Ternyata tidak. Memilih wakil rakyat atau pemimpin bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika  kita hanya memiliki sedikit informasi mengenai alternatif-alternatif yang kita pilih.  Tau sendirilah… selain ternyata banyak banget caleg yang berkumis baplang, saya hampir tidak punya informasi lain. Boro-boro mau tahu visi dan misinya, lha wong mukanya saja saya baru sekali lihat… Jadi, ya… wajar

Salah siapa?

Rumit kalau harus menjelaskan siapa yang salah. Karena dalam kondisi seperti ini, semua bisa saja punya andil kesalahan di sana. Tapi, mengapa bisa jadi seperti ini? Asumsi saya adalah karena orang-orang pada dasarnya tidak terlalu peduli pada permasalahan ini. Kenapa? Karena banyak orang yang tidak melihat apa hubungan pemilu dengan kehidupan mereka. Kalaupun kampanye anti golput  dilancarkan dengan sangat gencar  nyaris di semua media, tapi  masih banyak orang yang  tidak peduli.  Kenapa?  Mungkin karena  banyak orang yang menilai pemilu ini tidak ada gunanya, atau lebih tepatnya caleg-caleg itu tidak berguna, karena mereka tidak membawa  perubahan apa-apa.  Jadi, untuk apa mencari tahu tentang caleg-caleg itu? Itu yang banyak orang pikir.  Skeptis, istilahnya. Atau, Males, ah… Nggak penting…

Tapi, bisakah kita menganggap bahwa hidup kita sendiri tidak penting?

Kita adalah manusia yang akan selalu (tidak pernah tidak) terlibat dengan proses-proses pengambilan keputusan. Mulai dari hal kecil “mau pakai baju apa?” sampai hal-hal besar seperti “memilih pasangan hidup”.

Dalam skalanya masing-masing, setiap keputusan atas pilihan yang kita ambil pasti akan membawa implikasi alias ada sesuatu yang berubah atau terpengaruh oleh keputusan tersebut. Sederhananya, keputusan untuk memakai baju biru, akan membuat kita harus mencari, mengambil, menggunakan dan membiarkan orang lain melihat bahwa kita menggunakan baju itu.  Itu yang sederhana…

Bagaimana dengan keputusan-keputusan yang rumit. Seperti, memilih sekolah, memilih cita-cita, memilih istri atau suami, memilih pacar,  memilih putus dari pacar, memutuskan perceraian, dan banyak lagi keputusan-keputusan penting yang kita buat sepanjang hidup kita. Keputusan-keputusan itu jelas akan membawa kita untuk berbelok, berbalik, memutar, atau bahkan sementara diam di tempat. Artinya, membuat kita harus berubah dari kondisi stabil kita. Misalnya, jika kita mengambil keputusan untuk putus dari pacar kita, artinya kita harus siap akan perubahan yang terjadi setelahnya. Yaitu : kita harus siap jalan sendiri ke kampus, lebih banyak bersama teman-teman, mungkin bengong, atau pusing. Dan, yang paling ditakuti adalah SAKIT HATI.

Sudah kodrat manusia untuk menghindari rasa sakit.

Bagaimana jika kita mengetahui bahwa implikasi dari keputusan kita adalah rasa sakit?

Mampukah kita mengambil sebuah alternatif yang benar atau kita justru mengambil keputusan yang salah sekedar untuk menghindari rasa sakit itu? Bagaimana meminimalisasi faktor resiko akibat keputusan tersebut? Apa efek terhadap hidup kita selanjutnya? Apa efek terhadap orang-orang yang kita sayang? Siapa yang untung atau siapa yang rugi?

Banyak sekali yang akhirnya dipertimbangkan saat kita berada dalam keputusan yang sulit. Hal pertama yang biasanya menjadi dasar keputusan kita adalah kita menghindari rasa sakit (fisik maupun psikis) dan kita akan memilih alternatif dengan resiko terendah.

Akibatnya, banyak dari kita yang akhirnya justru memutuskan sesuatu karena rasa TAKUT akan sakit hati yang mungkin kita terima dari keputusan tersebut, bukan karena “sakit hati”nya, tetapi karena “rasa takutnya”. Padahal sih… belum tentu juga hal itu akan terjadi… Alias, kita ketakutan pada sesuatu yang belum ada.

Misalnya, saya memutuskan untuk tidak pulang gara-gara saya baru saja merusakkan sesuatu milik ayah saya. Saya takut dimarahi. Karena dimarahi akan membuat saya sakit hati…  Padahal,  pada saat saya memutuskan untuk tidak pulang, ayah saya  BELUM (atau bahkan mungkin tidak) memarahi saya. Akhirnya, yang menyebabkan saya memutuskan untuk tidak pulang adalah karena saya TAKUT.

Apa itu rasa takut? Takut hanyalah ekspresi dari ketidaktahuan kita karena manusia, dengan akalnya, selalu menuntut sebuah kejelasan. Rasa takut muncul jika ada ketidakjelasan yang mungkin memberikan implikasi negatif pada hidup kita. Ekspresi hanyalah manisfestasi dari afeksi.

“RASA TAKUT” sama sekali bukan gambaran tentang masa depan.

Masa depan tertulis bukan OLEH rasa takut. Takut hanyalah sebuah pertanda bahwa kita harus mencari kejelasan tentang apa yang akan kita hadapi. Takut adalah sebuah gejala yang memberi tahu kita untuk segera mencari tahu dan membuka hal-hal yang belum terjelaskan…

Ini adalah sebuah pernyataan yang klise : Orang yang berani bukanlah orang yang tidak pernah takut. Orang yang berani adalah orang yang bisa mengalahkan rasa takut.

Mengalahkan rasa takut bisa membuat kita melihat dunia dengan lebih indah. Membuat kita bisa merasakan anugrah yang bertebaran di sekitar kita. Dan membuat kita menghargai sebuah karunia dalam hidup, yaitu : HIDUP itu sendiri.

Tanpa terjebak oleh rasa takut, hidup akan lebih indah…

Mengambil kata-kata penulis favorit saya, Seno Gumira Ajidarma : Kita harus memecahkan ketakutan. Alangkah Tak Terberkahi orang yang hidup dalam ketakutan.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...