21 Mantanku

the poor will start to laugh
even the rich will start to cry
it can sneak up like a soldier
it can wake you up at night (Kelly Rowland – This is Love)

Hari sudah terlalu panas untuk dipanasi lagi dengan pertanyaan-pertanyaannya.

“Tipe perempuan seperti apa, sih, yang sebenernya elu pengen, Riz?

Itu yang ditanyakan oleh Diandra saat aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Saskia, mantanku yang ke-12, karena sebuah alasan yang sekarang telah jadi terlalu klise untuk terus diulang-ulang setiap kali aku putus dengan seseorang.

Bosan. Dia tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Ia terlalu posesif. Ia terlalu cuek. Ia terlalu senang dugem. Ia terlalu rumahan. Atau, dia ternyata bukan tipeku. Daftar alasan ini bahkan bisa bertambah panjang dengan inti yang sebenarnya sama saja.

Tapi, aku sedikit bangga. Tidak sekalipun, dari mantanku yang 19 orang itu, yang memutuskan hubungan. Selalu aku yang mengakhiri hubungan percintaanku yang sepertinya selalu cepat jadi hambar.

“Gue bingung sama elu… Dari segitu banyak perempuan, nggak satupun yang sesuai sama tipe lu. Mau lu apa, sih, Riz?”

“Sederhana. Gue cuma pengen seorang perempuan yang mau ngertiin gue.”

“Dan nggak satu pun dari 19 orang itu yang bisa ngerti elu? Aneh!”

“Itu kan kenapa gue selalu mutusin mereka? Mereka nggak bisa ngertiin gue.”

Diandra diam. Mungkin ia mencoba untuk menganalisaku. Ia ahli untuk yang satu itu. Ia begitu mengenalku. Seperti saat aku memutuskan untuk berpacaran dengan Arisya, mantan pacarku yang ke-13, yang putus juga pada akhirnya.

“Elu mau ngejadiin dia pacar lu gara-gara dia suka makan sushi? Elu gila?!”

“Kita berdua sama-sama suka makan sushi. Bagus, kan? Dan bukan cuma itu! Gue ama dia banyak kesamaan!”

“Sebut satu!” Diandra menantang.

“Dia… dia… dia….,” aku bingung.

“Kenapa dia?” Diandra semakin tampak sombong. Aku tidak boleh kalah.

“Dia… dia… dia… Dia… IP dia paling tinggi di kelasnya!” Aku sedikit berteriak.

“What?! Denger! Pertama, Itu bukan kesamaan! Kedua, yang bener aja, lu?!” Diandra memasang muka yang aneh. “Ok… I get it..! Elu pengen dia ngebantuin tugas-tugas kuliah lu?”

“Bukan begitu…,” aku meralat. “Dia pinter. Dan gue selalu ingin punya pacar yang pinter. Gak kayak elu!”

“Lho?! Kok jadi gue? Apa hubungannya ama gue?!” Diandra protes.

“Udah deh. Taruhan! Elu jadian ama dia gak bakal lebih dari 1 bulan 3 hari! Deal?!”

“Siapa takut?!” teriakku. “Deal!”

Dan, aku memenangkan taruhan itu. Aku berpacaran dengan Arisya selama 1 bulan 4 hari!

“Damn You!” rutuk Diandra saat tahu bahwa aku telah putus dengan Arisya. “Elu cuma ngejadiin dia bahan taruhan?”

“Tapi, gue menang, kan?!” aku ngotot.

“Ok. Elu menang. Tapi, elu jahat!” Diandra mengomel sambil berlalu menuju lift di kampus. Beberapa mata memandang kami. Kami seperti pasangan yang sedang bertengkar.

“Kenapa jadi gue yang jahat?” Aku protes sambil mengikuti langkahnya. Dan keluarlah alasan kliseku, “Gue ama dia nggak cocok. Dia bukan tipe gue.”

Diandra berhenti melangkah dan menatapku seperti tatapan yang biasa ia gunakan setelah aku memutuskan seseorang. Tatapan menusuk seakan-akan aku baru saja membunuh hamster kesayangannya.

“Kayaknya gue udah denger alasan itu berkali-kali deh… Elu nggak perlu ngomong itu lagi. Gue cukup ngerti, kok.”

Ia berkata sambil terus melihat angka-angka yang bergerak turun di dalam lift. Pintu lift terbuka. Ia segera berjalan dengan kecepatan yang sulit aku ikuti dan ia hilang.Tapi, aku tahu. Setiap kali aku putus dengan seseorang ia akan selalu melakukan hal yang sama. Mendadak menghilang dan menelponku di malam harinya.

“Riz, elu nggak bisa begini terus… Macarin orang, trus dia elu putusin dengan alasan bahwa dia nggak cocok sama elu. Kalo emang nggak cocok, kenapa elu pacarin?”

“Di, gue nggak tahu. Tapi, setiap kali gue memutuskan untuk pacaran dengan seseorang, gue selalu yakin bahwa dia yang terakhir. Kalo ternyata kemudian gue ama dia nggak cocok, bukan salah gue, kan?”

“Coba deh elu belajar. Bahwa sekali-sekali elu yang harus ngerti mereka,” ia melanjutkan. “Pacaran itu bukan cuma masalah elu. Itu masalah dua orang. Kalo, setiap kali ada sesuatu yang nggak cocok dan elu ninggalin mereka, kapan selesainya permainan elu ini? Elu ngerti kan maksud gue?” ia berkata dengan lembut.

“Iya… Gue ngerti. Gue selalu belajar kok dari apa yang gue alami…”

“Apa?” ia bertanya dengan suara yang lebih lembut.

“Jangan pernah pacaran ama cewek yang suka makan sushi. Bayarnya mahal.”

“Setan, Lu!” makinya.

Dan aku mendengar ia membanting telpon.

***

Diandra.

Selain ibuku, mungkin dia adalah satu-satunya perempuan yang masuk ke dalam hidupku dan tidak pernah aku pacari. Lebih tepatnya, aku yang membawa perempuan-perempuan itu masuk ke dalam hidupku. Tapi, tidak dengan Diandra. Ia masuk begitu saja ke dalam hidupku saat aku masih kelas 4 SD.

Jadi, aku tidak pernah berniat sedikit pun untuk memacari Diandra. Ia adalah sahabatku. Sahabatku yang terdekat. Aku membayangkan. Jika aku memacarinya, pasti rasanya akan seperti incest saja. Seperti memacari kakak atau adikku sendiri. Ia sudah terlalu dekat.

Kami bertemu saat kami sekelas di SD dulu. Dia adalah perempuan yang aneh di mataku. Ia selalu masuk kelas 30 menit lebih cepat di saat aku tergopoh-gopoh datang terlambat. Selalu dapat nilai tertinggi walau sekali pun aku tidak pernah melihatnya belajar.

Ia perempuan yang keras. Aku tahu itu sejak pertama aku melihatnya. Hobinya bermain bola dan ia tidak segan-segan untuk memukul, menampar atau bahkan menonjok anak laki-laki yang berani-beraninya menggoda anak perempuan sampai menangis. Itulah yang menyebabkan ia seperti menjadi ketua gank untuk anak-anak perempuan. Ia seperti kepala preman di pasar yang melindungi anak buahnya sendiri. Ia pelindung kaum yang lemah. Sebaliknya, anak laki-laki sering melihatnya dengan aneh. Tapi ia tidak peduli. Ia tetap seperti itu sampai saat ini kecuali hobinya berkelahi.

Seperti suatu kali aku melihatnya berkelahi dengan seorang anak laki-laki di lapangan. Ia bergelut seperti Jacky Chan dengan Robby, seorang anak laki-laki gendut yang cukup ditakuti di SD kami karena ia telah membuat Nisa menangis dengan merobek-robek PR matematikanya. Perkelahian itu diakhiri dengan sebuah jab kiri yang tajam mengenai wajah Robby hingga bibirnya berdarah dan membuatnya menangis. Anak-anak perempuan bersorak-sorai dan anak laki-laki sibuk membawa Robby ke UKS. Bisa ditebak. Orangtua Diandra dipanggil ke sekolah. Aku menguping pembicaraan mereka di Ruang BP.

“Lho?! Kenapa jadi anak saya yang salah?!” suara ayahnya terdengar meninggi. “Bukankah anak laki-laki itu yang telah berani kurang ajar?! Anak saya hanya membela apa yang benar!”

Guru BP bingung untuk menjawabnya karena memang benar Diandra hanya membela Nisa yang lemah. Namun Diandra tetap dihukum karena berkelahi di sekolah. Begitu pun Robby. Tapi, Ayah Diandra begitu bangga pada anak perempuannya itu.

“Kamu hebat, nak…,” ia berkata sambil mengelus-elus kepala anaknya.

Begitu yang kudengar saat Ayahnya keluar dari ruangan bersama Diandra yang di skors seminggu. Saat itulah persahabatan kami dimulai. Saat aku rajin menelponnya untuk memberitahu tugas-tugas dan PR yang diberikan oleh guru saat ia dihukum untuk tetap tinggal di rumah. Dan aku tahu kenapa Diandra menjadi seperti itu. Diandra, Sang Pembela Kaum Wanita.

***

Mungkin aku tidak akan tersadar seandainya Diandra tidak mengingatkanku akan satu hal. Bahwa sejak pacarku yang ke-15, perempuan-perempuan yang mendapatkan status sebagai pacarku tampak semakin aneh saja.

Mulai dari Bianca. Ia pacarku yang ke-15. Awalnya, ia tampak biasa saja. Hingga perlahan aku mulai mengenalnya, tepatnya setelah hampir satu bulan aku memacarinya.

Ia selalu menangis. Ia bisa menangis untuk apapun. Ia menangis saat Leonardo Di Caprio memeluk Kate Winslet di Titanic, padahal kami menontonnya di DVD dan ia sudah menontonnya 11 kali. Ia sesenggukan melihat seorang anak jalanan peminta-minta menjulurkan tangannya di jendela mobil. Ia menangis saat nilainya jatuh ke angka 8 karena ia selalu mendapat nilai 9.

Ia menangis juga saat gembira. Ia menangis saat mendapat boneka beruang sebagai hadiah valentine dariku, mengharukan katanya. Ia menangis saat tahu bahwa ia mengetahui bahwa kucingnya baru saja beranak 3 ekor yang lucu-lucu. Ia pun menangis saat mendengar bahwa sahabatnya baru saja mendapat pacar baru. Intinya, ia selalu menangis.

Pacarku yang ke-16 lebih aneh lagi. Namanya, Talitha. Ia, bahkan, bisa menangis tanpa sebab. Aku sampai dibuat bingung karenanya. Belakangan aku baru tahu bahwa ada yang salah dengan kelenjar airmatanya, atau mentalnya? Ah, aku sudah lupa.

Selesai dengan pacarku yang ke-16. Aku berniat untuk memacari orang yang selalu gembira. Aku mau jauh-jauh dari air mata. Maka kupacari Sophie, perempuan yang selalu gembira. Selalu tertawa.

“Hahahaaaaaa…. Kamu lucu sekali!”

Ia terbahak-bahak saat aku bercerita tentang sebuah lelucon yang menurutku sangat garing. Kenapa Batman memakai kolor hitam? Karena yang merah sudah dipakai Superman! Pertama, kata siapa Batman menggunakan kolor hitam? Kedua, lelucon itu tidak penting!

Tapi, ia tetap saja tertawa.

“Hahahahahahaaaaaaaaaaaa……..”

Aku selalu tertawa saat bersamanya. Hingga aku merasa bahwa tertawa adalah kewajibanku. Tertawa menjadi beban tersendiri untukku. Aku tertawa, terus tertawa, hingga aku tak tahu lagi mengapa aku harus tertawa. Aku capek tertawa. Tertawa menjadi sesuatu yang membosankan. Aku mau menangis jika aku harus tertawa. Kesimpulanku, aku tidak mau tertawa. Aku mau menyudahi hubunganku. Kami sama sekali tidak cocok!

Seperti biasa Diandra menghilang dan menghubungi malam harinya.

“Elu mau nitip barang apalagi sekarang?” suaranya terdengar malas. “Elu tau? Kamar gue sampe penuh sama barang mantan-mantan lu. Setiap kali elu putus, elu transmigrasi-in barang-barang mereka ke tempat gue. Elu pikir kamar gue gudang? Atau museum tempat nyimpen memorabilia mantan pacar-pacar lu?”

Ia mengomel seperti kutilang.

“Di, masak sih elu nggak mau nolong sahabat lu ini? Elu tau kan… Kalo gue tetep nyimpen barang-barang itu, gue jadi susah ngelupain mereka?” aku menjawabnya dengan suara yang memelas. “Lagian, sayang kan kalo barang-barang mahal itu dibuangin?”

“Supaya bisa ngelupain? Ok… Siapa pacar lu yang ke-9?”

O-oh…

“Icha?” jawabku ragu. “Atau… Rena?”

“Tolol! Tanti!” Ia setengah berteriak. “Itu yang elu bilang susah lupa?!”

“Iya… sori… Gue lupa. Tapi lupa kan memang sifat alami manusia,” kataku memberi alasan. “Bener, kan? Itu kata dosen agama kita!”

“Setan!! Bilang aja, biar kalo calon cewek BARU lu masuk ke kamar lu, mereka nggak nanya-nanya!” ia menekankan pada kata “baru”.

“Iya. Tapi, kan, elu boleh pake barang-barang itu…”

“Riz!! Gimana mungkin gue pake t-shirt pink yang ada tulisannya ‘Tenny Loves Fariz’?!”

“Yang itu jangan elu pake…”

“Atau ini…,” terdengar ia sedang membongkar-bongkar barang. “Bando-bandoan yang ada muka elu sama… siapa nih? Katrin! Yang lagi goyang-goyang kayak dakocan!!”

“Itu jangan lu pake juga… Kan ada barangnya Katrin yang lain.”

“Udah lah, Riz! Gue bosen!” Ia terdengar sangat kesal.

“Ngomong-ngomong elu inget Katrin pacar lu yang ke-berapa?”

Double O-oh…

“Egh… 7?”

Ia terdengar menghela napas dan berkata dengan lemas, “11, Riz….”

“Di…”

“Apa…?” ia terdengar makin malas.

“Gue masih boleh titip barang, kan? Gue mau titip patung-patungan coklat. Boleh elu makan kok… Gue nggak terlalu doyan coklat…”

Ia menutup telpon.

***

Dan sekarang, aku berpacaran dengan orang yang ke-20. Orang yang dari segala sudut pandang cocok denganku. Dia tertawa dengan wajar. Menangis dengan wajar. Makan dengan wajar. Tidur dengan wajar. Pokoknya, segala sesuatu yang dia lakukan adalah hal yang wajar. Dengan catatan perjalanan percintaanku yang, aku sendiri bilang, tidak wajar, aku memang membutuhkan sebuah kewajaran. Dan sejauh ini aku tidak menemukan hal yang tidak wajar dari dia. Rasanya aku sudah mulai menyayangi dia.

“Sebenernya, dia juga nggak wajar. Soalnya elu nggak wajar dan orang yang nggak wajar hanya akan pacaran sama orang yang nggak wajar juga. Makanya dia bisa menerima ke-nggak-wajar-an elu!”

Diandra mengatakannya dengan ringan, ditambah dengan tampangnya yang sok cuek dan ekspresi wajah Ah-sama-sekali-nggak-penting. Itu cukup mengesalkanku.

“Elu kenapa sih, Di?” Aku jadi sedikit emosi. “Elu sebel kalo gue terus-terusan merasa nggak cocok sama mantan-mantan pacar gue. Dan sekarang, gue udah nemuin orang yang cocok. Kenapa elu masih sebel juga? Mau lu apa, sih?”

“Gue mau apa?” Ia berkata sambil melotot. “Gue nggak mau apa-apa!”

Ia berkata dengan nada yang membentakku. Aku bertahan untuk tidak balas membentaknya. Aku masih menganggapnya sahabat terbaikku.

“Trus, kenapa elu masih nggak suka juga? Elu tau kan, kalo apa yang elu bilang tentang mereka penting banget buat gue? Elu sahabat gue, Di… Harusnya elu mendukung gue…”

Aku masih berusaha tenang melihat sikapnya yang begitu sinis. Aku tahu, kali ini ia akan menyalahkan aku lagi. Ia menatapku tajam. Dan ia justru melanjutkan omelan dengan nada-nada tinggi. Jika terus begini, aku pasti meledak.

“Kapan gue nggak mendukung elu?! Gue selalu mendukung elu! Elu aja yang nggak pernah dengerin gue!”

“Nggak pernah dengerin elu?! Eh, elu tahu? Sebenernya, gue mutusin semua mantan-mantan gue itu, gara-gara elu!”

Ups! Aku salah omong, ya? Tapi, aku benar-benar meledak.

“Lho? Kenapa elu jadi nyalahin gue?!” Ia juga meledak. “Elu yang pacaran! Elu yang ngerasa nggak cocok! Elu juga yang lupa nama-nama mereka!”

“Gimana gue bisa inget nama-nama mereka, kalo gue nggak pernah pacaran lebih dari 6 bulan! Emangnya gue buku absen?!”

Kami saling membentak dengan nada tinggi. Rasanya kami sudah tidak peduli lagi jika pertengkaran kami ini didengarkan banyak orang. Kalau perlu, dipasangi pengeras suara sekalian.

“Kok elu jadi nyalahin gue untuk ingetan elu yang buruk?! Elu tuh yang perlu minum Gibolan!”

Ia membentak lagi sambil menyebut sebuah merek obat yang katanya bisa meningkatkan ingatan.

“Di, denger ya… Mungkin ingatan gue buruk. Tapi, gue masih inget apa aja yang elu bilang tentang mereka semua!”

Ia diam. Jadi, kulanjutkan omonganku.

“Elu bilang kalo Arisya cuma akan morotin gue! Tanti itu anak manja yang bakal bikin gue jadi tukang anter-jemput! Bianca itu terlalu melankolis! Sophie kelewat gaul! Icha seleranya kampungan. Rena itu kutu buku! Katrin pernah pacaran sama Bimo yang pernah ngerjain elu! Saskia… Saskia rumahnya kejauhan. Tenny kayak miss pinky. Talitha juga elu sebut kelilipan mesin bajak! Apalagi?! Mau gue sebut lagi?!”

Aku menarik napas sejenak. Ternyata mengingat banyak nama bisa melelahkan juga. Dan entah bagaimana, ingatan tentang nama-nama mantanku mendadak bermunculan begitu saja.

Aku melanjutkan, “Sebenernya gue nggak pernah keberatan dengan mereka semua. Tapi, elu yang selalu bikin gue ngeliat buruk-buruknya mereka. Dan elu selalu bisa memberi alasan kenapa gue harus mutusin mereka. Jadi, sekali ini aja… Gue pengen elu bisa nerima orang yang gue pilih. Dan liat sekarang, elu juga bilang kalo Annisa nggak wajar!”

Aku menyebut pacarku yang ke-20.

“Selama ini gue pengen elu bisa nerima pacar gue, karena gue pengen elu juga bisa ngerasain kebahagiaan gue! Karena elu adalah orang yang paling penting buat gue! Karena kata-kata elu adalah pertimbangan pertama buat gue! Ternyata selama ini gue salah!”

Sesaat aku terkejut karena Diandra hanya diam dan memandangku dengan tatapan shock.

Diandra menjawab pelan, “Riz.. Annisa itu…”

Ia kelihatan berkaca-kaca. Tapi aku tidak memberi kesempatan dia untuk bicara lagi.

“Jangan sebut nama Annisa! Gue nggak mau denger omongan lu lagi!” Aku membentaknya. “Denger! Nggak akan pernah ada mantan yang ke-20 karena yang ke-20 ini adalah yang terakhir! Dan gue nggak akan membiarkan omongan lu bikin gue putus sama Annisa! Selama ini gue salah dengerin omongan lu!”

Aku berbalik dan hendak segera pergi tapi aku sempatkan menatapnya sebentar dan kutekankan lagi kata-kataku yang terakhir.

“Gue… salah… besar!”

Lalu kutinggalkan dia. Kulihat Diandra yang tegar itu mulai menangis. Tapi aku tidak peduli, kutinggalkan ia begitu saja. Aku pergi dan tidak menoleh lagi.

***

Dunia rasanya jadi lebih sepi sekarang. Sudah 1 bulan aku tidak bertemu, mengobrol, curhat di telepon, makan di kantin, mengolok-olok orang-orang yang cacat-fashion, tertawa terbahak-bahak atau diomel-omeli oleh Diandra. Rasanya memang ada yang hilang. Dia sudah belasan tahun bersahabat denganku. Hampir tidak pernah ada hari-hariku, semenjak SD dulu, yang tidak ada dia di dalamnya. Aku sangat menyesali itu. Sebenarnya aku tidak ingin persahabatanku yang cukup lama itu berakhir dengan cara seperti ini. Tapi, ini sudah telanjur. Nanti, kalau aku sudah berbaikan dengan Diandra, aku pasti akan mengenalkan mereka berdua. Diandra baru melihat Annisa lewat foto-fotonya.

Untunglah ada Annisa yang bisa menghiburku saat ini. Jadi kutelepon Annisa. Kucoba berkali-kali menghubunginya, tapi tidak diangkatnya juga. Dan berikutnya, ternyata Hp-nya diangkat oleh pembantunya.

“Mbak Annisa nggak di rumah dari tadi pagi. HP-nya ketinggalan.”

“Lho? Kok, dia nggak bilang sama saya, ya? Ehm… dia pergi sama siapa?”

“Egh.. Saya nggak tau, Mas…”

“Ok deh… Makasih ya, mbok…”

Kututup telepon dengan perasaan tidak puas. Aku jadi tidak punya tujuan sekarang. Sudahlah, aku ke toko buku saja. Mencari majalah gamers yang selalu kubeli, pasti sudah terbit sekarang.
Kukeluarkan mobilku dan kupacu menuju sebuah mall. Macet sempat menahanku sesaat. Seandainya Annisa di sini, pasti perjalanan ini tidak terlalu membosankan. Ya, sudahlah… Apalagi yang bisa kulakukan sekarang selain pasrah?

Akhirnya aku tiba di mall itu. Kuparkir mobilku dan berjalan menuju toko buku yang ada di lantai 4. Sesekali aku melihat gaya pakaian orang-orang yang kadang aneh. Seandainya Diandra ada di sini, pakaian orang itu pasti sudah jadi bahan olok-olok kami. Aku tersenyum sendiri. Berjalan di sebelah restoran-restoran yang berderet-deret dipenuhi pengunjung. Dalam hati aku berharap bertemu dengan seseorang yang kukenal. Harapanku terkabul. Benar saja, akhirnya kulihat seseorang yang sangat kukenal. Hah? Annisa?!
Di sebuah restoran, kulihat Annisa bersama seorang pria. Kelihatan begitu mesra. Kupandang sekali lagi. Benarkah itu dia? Benar! Annisa berpegangan tangan dengan pria itu sambil sesekali menyentuh bibirnya. Darahku segera naik ke kepala. Hatiku panas dengan pemandangan ini. Kudekati mereka dengan jantung yang terasa akan meledak.

“Annisa, kamu disini? Dari tadi aku nyoba telpon kamu…,” tanyaku berusaha tenang.

Annisa tampak terkejut. Menarik tangannya dari pria itu, ia tidak menduga akan kehadiranku. Ia berkata dengan terbata-bata.

“Fariz? Eegh… ngapain kamu di sini?”

“Kamu yang ngapain di sini? Sama…. selingkuhan kamu?” tanyaku ketus sambil melirik orang yang duduk di sebelahnya.

Pria itu tampak marah dan bangkit dari kursinya.

“Selingkuhan? Mas, jangan sembarangan ngomong, ya…,” pria itu menjawab dengan emosi. “Saya pacar Annisa sejak 2 tahun lalu. Dan kami akan menikah bulan depan.”

Aku terkejut. Benar-benar terkejut! Wajahku memucat dan kehabisan kata-kata. Kupandang Annisa untuk mendapatkan kepastian, tapi ia malah menunduk dan tidak berkata apa-apa.

“Annisa?” aku bertanya bingung.

“Maafin aku, Riz…,” ia menjawab tanpa memandang mataku.

Entah apa yang berikutnya terjadi pada mereka karena detik berikutnya aku pergi secepat kilat. Aku tidak sanggup lagi berdiri di situ. Mataku berkunang-kunang. Aku… shock!

Annisa? Annisa yang wajar? Annisa yang sekarang kusayang? Bagaimana mungkin?

Aku berlari menuju tempat parkir. Mengeluarkan mobil dengan sembarangan setelah sebelumnya sempat dimaki-maki petugas. Aku tidak peduli. Pokoknya aku harus segera keluar dari tempat ini.

Macet Jakarta membuatku semakin kesal. Kunyalakan radio dengan volume nyaris maksimal. Terdengar suara seorang pria menyanyi ‘O-oh… kamu ketaahuuan…’

Aaaaargh!!!

Kumatikan radio dengan kasar. Kubuka kaca lebar-lebar dan kunyalakan sebatang rokok, saat tiba-tiba sebuah metro mini memotong jalanku. Kumaki-maki supir gila yang seperti pura-pura tuli itu. Aku jadi semakin kesal! Klakson kutekan keras-keras.

Aku harus kemana saat ini? Aku harus ke sesuatu tempat untuk menenangkan diri atau aku membahayakan jiwaku sendiri.

Mendadak aku teringat Diandra. Tanpa pikir panjang kukebut mobilku ke rumahnya. Aku tidak tahu apakah Diandra ada di rumahnya atau tidak. Tapi, aku tahu, aku selalu diterima di sana. Jalanan yang macet ini rasanya sepi. Telingaku tidak bisa mendengar apa-apa. Untunglah mataku masih bisa melihat jalan.

Perjalanan sudah terasa terlalu lama saat aku tiba di rumah Diandra. Kutarik napasku dalam-dalam. Kulihat ia sedang membaca buku di teras rumahnya. Seorang pembantunya tampak sedang menyirami tanaman. Ingin rasanya aku segera berlari dan memeluknya. Tapi, aku sudah merasa tak layak berhadapan dengannya. Aku pernah menyakitinya. Aku pernah sangat menyakitinya.

Aku kesal! Sebal! Dan tidak tahu harus berbuat apa. Jadi, kubenturkan tanganku ke stir mobil.

Seperti bisa mendengarnya, Diandra mendongakkan kepala, berpaling dari buku yang sedang dibacanya. Pandangannya terbentur ke mobilku yang tentu sangat dikenalinya. Ia berdiri, menatap menyelidik. Lalu ia keluar pagar dan mendekati mobilku. Berdiri di samping mobil dan melihatku membenamkan kepalaku ke gagang stir. Ia mengetuk kaca mobilku.

Kubuka kaca mobil di sampingku. Kupandang matanya. Wajahnya seperti begitu dekat. Mataku pasti sudah merah sekarang, menahan marah. Sedari tadi bertahan agar tidak menangis.

“Elu… kenapa, Riz?” ia bertanya dengan nada bimbang dan bingung.

“Di… Gue bener… Bukan omongan lu yang bikin gue putus sama Annisa. Ternyata gue cuma selingannya.”

Mendadak aku menangis. Refleks, bahkan tanpa membuka pintu mobil, Diandra memelukku.

“Riz… Maafin gue… Sebenernya, itu yang mau gue omongin waktu itu. Tapi, keadaan nggak memungkinkan gue untuk ngomong,” Diandra terlihat begitu menyesal. “Pacar Annisa itu adik kelas kakak gue. Gue sempet ngeliat Annisa bareng pacarnya waktu gue nganter kakak gue ke kampusnya. Maafin gue… Gue nggak sempet ngasih tau elu…”

Aku sudah tidak peduli lagi. Sekarang aku jadi punya alasan untuk tidak mengenalkan Annisa pada Diandra. Diandra terlalu berharga untuk diperkenalkan pada orang itu.

***

5 tahun kemudian.
Di sebuah taman.
Seorang pria baru saja datang. Seorang wanita mengejar-ngejar seorang bocah yang tak juga kunjung tertangkap.

Kulihat dia di kejauhan. Dia kelihatan sibuk mengurusi seorang bocah laki-laki kecil yang terus menerus berlari kesana kemari. Tapi, rautnya begitu bahagia. Begitupun bocah kecil itu. Sesekali kulihat bocah kecil itu terjatuh. Bocah itu seperti akan menangis saat Diandra dengan raut khawatir berusaha menangkapnya. Dan sedetik kemudian, bocah itu sudah kembali berlari meninggalkan Diandra yang kesal karena bocah itu tertawa-tawa lucu menggodanya.

Dari jauh Diandra memandangku meminta dukungan dengan matanya yang kukenali sejak lama. Pandangan yang sering kulihat sejak aku SD dulu. Aku hanya mengangkat bahu dan pura-pura tidak tahu. Setelah itu Diandra pasti akan melotot dan kembali mengejar bocah itu.

Akhirnya Diandra berhasil menangkap bocah yang terus meronta-ronta minta dilepaskan. Tapi Diandra tidak akan melepaskannya. Kulihat Diandra menunjuk-nunjuk ke arahku yang membuat bocah itu memandangku. Mereka berdua melambai-lambaikan tangan padaku. Bocah itu tersenyum lebar. Kubalas lambaian tangan mereka. Dan tak butuh usaha keras bagi bocah itu untuk melepaskan pegangan Diandra dan berlari ke arahku. Diandra juga berlari mengikutinya sambil berteriak-teriak.

Aku berlutut dan membuka tanganku lebar-lebar, menyambut bocah itu. Mata yang sejernih milik ibunya, bisa kulihat jelas dari sini.

“Papaa!”

Bocah itu berteriak padaku dengan suaranya yang selantang kedua orangtuanya. Senyumnya mengembang selebar senyumku. Ia benar-benar anakku. Dan aku menangkapnya dengan kedua tanganku sebelum memutarnya ke udara. Ia akan berteriak lagi dengan suaranya yang masih cadel.

“Mamaa! Kakak terbang!”

Bisa kutebak apa yang akan dikatakan Diandra berikutnya, “Papa! Hati-hati!”

Aku pun tahu apa yang harus kulakukan berikutnya. Berpandang-pandangan dengan bocah kecilku dan terbahak-bahak. Ini ritual yang terus berulang, tapi rasanya tidak pernah berubah. Sama seperti wanita yang kini ada di hadapanku dengan muka cemberut. Masih bisa kurasakan ia seperti dulu. Cinta yang bersahabat. Cinta yang tak pernah membiarkanku terluka.

Dan kalau sudah begini, wanita ini akan berkata pada perutnya sendiri, “Besok… kalo adek dilempar-lempar sama Papa, jangan mau ya…”

Lalu kami berdua saling berpandangan dan tertawa terbahak-bahak. Ini teka-teki yang selalu terjawab dengan rasa yang sama, seperti baru pertama kali menebaknya.

it can sneak up like a soldier
it can wake you up at night

Ternyata aku salah. Mantanku bahkan lebih dari 20 orang. 21 tepatnya. Diandra adalah mantan pacarku yang ke-21 dan sekarang dia telah menjadi sahabat sekaligus istriku. Cinta memang sering berjalan diam-diam dalam gelap. Dan tiba-tiba, cinta membuat hidup kita terang benderang.

Sementara itu, bocahku sudah berlari lagi dan kini giliranku mengejarnya.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...