Sumur

Ini siang paling terik. Matahari telah sampai di puncaknya. Tiada awan menutupi langit dari memantulkan panasnya ke kulit manusia di bawahnya. Namun ada mendung menggantung di langit-langit rumah ini. Ada kesedihan mengkabut di sini. Tiada orang yang mencoba untuk bicara, semua begitu sibuk dengan benak dan pikirnya sendiri. Menangis dengan caranya masing-masing. Nenekku meninggal tadi malam. Meninggalkan suami, anak-anak dan cucu-cucunya.

Ibuku mencoba untuk tegar. Tiada setetespun airmata mengalir dari matanya.

“Kamu dan Rus harus ke rumah sakit sekarang. Jemput jenazahnya. Aku dan yang lain akan mempersiapkan segala sesuatu di sini. Mas Bram, temani Bapak. Jangan menangis. Ini sudah terlalu sedih untuk kita semua. Apalagi untuknya.” Suara ibu terdengar tegar.

Aku tahu ini sama sedihnya bagi ibuku. Tapi, seseorang harus berdiri di antara banyak orang yang tak mampu lagi bertahan. Kematian Eyang sungguh memukul kami semua. Mereka berdua, kakek dan nenekku, adalah adalah dua jiwa yang telah mempersatukan kami semua. Kekuatan mereka untuk bertahan mengikat kami semua dalam sebuah ikatan imajiner. Dan kini satu dari dua tiang itu runtuh. Mampukan satu tiang yang tersisa bertahan? Ini terlalu sedih.

Aku sendiri tak dapat menahan airmataku dari berjatuhan. Tak bisa kupungkiri bahwa kematian ini begitu menyedihkan. Maka aku berlari keluar. Kakek tidak boleh merasakan airmata lagi. Terlalu banyak air mata yang telah dilihatnya dalam beberapa jam ini, terutama air matanya sendiri. Aku menuju kebun belakang dimana terdapat sebuah sumur di sana.

Entah mengapa, sumur ini begitu terpatri dalam ingatanku. Melihat sumur di mana pun akan mengingatkanku pada Eyang. Mungkin, karena banyak kenangan yang terjadi di sini, bersamanya dan sumur ini.

‘Kamu harus rajin belajar ya , Mahesa. Kamu harus jadi priyayi.

Begitu yang dikatakannya sambil mencuci piring kotor. Sesekali ia berdiri dan menimba air dari dalam sumur. Aku bermain dengan ulat gendut di pohon jeruk yang ditanam di sampingnya. Aku masih kecil ketika itu. Tidak mengerti apa arti kata ‘priyayi’.

‘Priyayi itu orang yang berpendidikan dan bisa membanggakan keluarga. Eyang tidak bisa menyekolahkan ibumu hingga tinggi. Namun ibumu adalah priyayi sesungguhnya. Karena Ibumu sadar bahwa kita adalah manusia bermartabat yang tidak boleh diinjak oleh siapapun.’

Apalah arti martabat atau apalah arti priyayi untuk seorang anak yang hanya mengetahui bagaimana caranya menghabiskan hari ini dan seterusnya dengan bermain-main.

Terdengar suara ribut di depan. Ternyata salah satu adik perempuan ibuku baru saja datang membawa berjuta tangisan. Memecahkan mendung yang sedari tadi hanya menggantung-gantung. Histeris. Semua orang memandangnya. Kakek, Pakde Bram, Ibuku dan seluruh tetangga yang datang membantu kami.

“Ibu!! Mana ibu?!” Ia meradang seperti seekor harimau betina yang kehilangan anaknya. Ibuku mencoba mengenggam tangannya.

“Ira ! Dengar aku! Rus dan Zainal sedang menjemput ibu. Jenazahnya masih di rumah sakit. Sebentar lagi tiba. Kau duduk dan tenanglah dulu,” ibuku mencoba menenangkan.

Betapa sebenarnya hatinya sendiri yang perlu ditenangkan. Hati yang terlalu pedih akibat kehilangan ini. Namun, tiada yang bisa menenangkan badai hanya dengan kata-kata. Tiada halilintar dapat dihentikan dari menyambar.

“Bohong!! Kau bohong!!.

Tante Ira terus merangsak ke dalam rumah. Mencoba untuk mencari Eyang di rumah ini. Digedornya seluruh pintu sambill terus berteriak-teriak memanggil nenekku. Sebuah reaksi keputusasaan saat kehidupan harus direnggut paksa oleh sebuah kematian.

“Kalian semua pembohong!! Baru kemarin sore aku bicara dengannya! Dan ia berjanji akan menunggu saat pernikahanku!!”

Plak!! Ibu menamparnya hingga jatuh. Pakde Bram seakan ingin bergerak namun urung dilakukannya. Tante Ira berhenti menangis dan menatap ibu dengan pandangan kosong. Semua orang terdiam. Menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Sontak tanteku memeluk ibuku dan membenturkan tangisnya ke seluruh dinding ruang. Ibuku mendekapnya, mencoba mengutuhkanya dan dirinya sendiri.

“Ra, dengarkan aku. Aku tahu ini berat. Bukan hanya untukmu, tapi untuk kita semua. Jadi, aku mohon sekali ini. Tolong, tahan air matamu. Jangan buat Bapak semakin runtuh. Ia sudah tua.”

“Mbak… Aku nggak terima…”

Kakek sudah menangis dari tadi. Pakde Bram mencoba menenangkan. Airmata mungkin bisa dihentikan tapi hanya waktu yang bisa menyembuhkan sebuah kesedihan. Tiada obat paling mujarab bagi luka kematian kecuali kepasrahan, yang detik ini belum bisa kami rasakan.

Wanita itu begitu kuatnya hingga kami semua tidak menyadari bahwa kekuatan itulah yang telah membuat kami semua berdiri di sini untuk menyaksikan kematiannya. Aku menangis di pinggir sumur.

‘Mahesa, jangan pernah menangis. Airmata laki-laki pantang dijatuhkan untuk sebuah kesedihan. Seka airmatamu sejenak. Ketika tanganmu telah mendapatkan apa yang kau mau, menangislah dengan bahagia,’ ia berkata sambil terus menimba air dan memasukkannya ke dalam bejana yang biasa kami gunakan untuk berwudhu.

Beberapa tetua kampung kelihatan mencari ibuku. Hanya ibu yang kelihatan masih dapat menjaga jaraknya dari kesedihan dan airmata. Yang lain telah tenggelam dan mencoba meraih sisa-sisa kesadaran dari udara yang mereka hirup. Tak berapa lama setelah tetua-tetua itu berbicara dengan ibuku, terlihat Paklik Zainal dan Om Rus membuka pintu pagar. Ambulan seputih tulang bergerak mundur memasuki halaman. Beberapa tetangga segera mengerumuni. Tante Ira kembali meradang, tetangga-tetangga mencoba menahan. Kakek menangis lalu pingsan.

Aku hanya berdiri di pinggir sumur. Kakiku seperti kehilangan sendi-sendinya untuk bisa melangkah ke sana. Lumut yang menempel di sumur ini mengikatku pada sebuah kesedihan. Menyaksikan drama tragedi dengan aku sebagai salah satu pemerannya, sungguh tiada sutradara sehebat kematian. Tiada paksaan untuk membanjiri hati dengan airmata. Maka, jangan salahkan aku jika airmata ini jatuh sendiri. Kubiarkan sumur ini menampungnya. Seperti ia pernah menampung kenangan-kenangan masa lalu hingga masih bisa kudengar gemanya memantul-mantul dari dasarnya.

Seekor kupu-kupu putih kecil hinggap di bibir sumur. Aku menatapnya.

‘Jangan kau permainkan kupu-kupu putih kecil. Apalagi membunuhnya.’

‘Mengapa? Hes hanya ingin bermain-main dengannya.’

‘Ia membawa jiwa orang-orang yang kita cintai kembali ke surga. Itu kendaraan mereka menuju ke sana.’

‘Nanti Eyang juga akan naik kupu-kupu putih kecil ke surga?”

Ia tersenyum dan mengangguk.

‘Eyang naik pesawat aja. Nanti Hes yang bayar…”

Eyang tertawa sambil menggelengkan kepala, melihat aku berlari mengejar kupu-kupu kecil berwarna putih yang hinggap di helai daun anak pohon pisang.

‘Pesawat tidak bisa sampai ke surga.’

‘Kalo Eyang ke surga, ajak Hes ya… Hes mau foto surga dan akan Hes tunjukkin ke Mama.’

‘Kalau kau sudah sampai di surga, kau tidak bisa kembali. Kupu-kupu putih itu akan segera mati dan berubah menjadi sebuah cerita di hati orang yang ditinggalkan.’

‘Jadi kalau nanti Eyang ke surga, Hes nggak ketemu Eyang lagi?’

‘Tidak. Tapi kupu-kupu putih kecil itu akan datang ke hatimu dan menjadi sebuah cerita tentang Eyang. Dengan cara itu Eyang akan terus hidup di hati kamu.’

Kupu-kupu putih kecil hinggap di bibir sumur. Aku tidak ingin mengejarnya. Kubiarkan ia terbang. Mungkin ia membawa cerita tentang Eyang dan akan menaruhnya di hatiku. Kupu-kupu putih terbang dari bibir sumur.

Sungguh sumur ini mengingatkanku pada Eyang. Setiap tetes air yang merembes keluar dari dasarnya adalah jiwa. Jiwa perempuan tua yang kini hanya diam menyimpan berjuta cerita tentang hidup dan satu cerita tentang kematian sebagai sebuah penutup. Eyang adalah sumur yang telah memberikan makna pada jiwa-jiwa yang kosong. Sumur yang sama kini ditimba airnya untuk membasuh jenazah. Sumur yang telah mendampingi sepanjang hidupnya dan kini turut menangis atas kematiannya. Sumur yang menjadi saksi bisu atas sebuah perjalanan yang sebentar lagi akan tiba di akhirnya.

Jenazah telah ditempatkan di atas sebuah dipan kayu. Sehelai kain batik menutupi. Tak lama kemudian beberapa orang yang tidak terlalu kukenal datang membawa beberapa ember berisi air bunga dan campuran kapur barus. Ibuku dan beberapa wanita membasuh perlahan, menyucikan tubuh itu untuk terakhir kalinya. Kudengar beberapa wanita berbisik pada ibuku.

“Dia wanita yang baik.”

“Terima kasih. Maafkan kesalahan almarhumah.”

Dengan petunjuk seorang ustad, sehelai kain putih menjadi pakaian terakhirnya. Doa-doa terus berkumandang bercampur dengan isak tangis. Tubuh Eyang yang kurus kini hanya tubuh tak berarti tanpa jiwa. Sebentar lagi tubuh itu membawa pergi seluruh daya hidupnya ke dalam kubur yang pekat.

“Apakah rencananya tetap seperti semula?” Ustad itu bertanya pada ibuku.

“Ya. Ba’da ashar kita akan memakamkan jenazahnya di kuburan umum.”

“Tidak ingin menguburkannya di pemakaman keluarga?”

“Tidak. Jiwanya telah pergi. Namun ia ingin tubuhnya tetap berada tak jauh dari rumah. Ini rumahnya.”

Tubuh kosong itu dibawa dalam sebuah keranda diiringi oleh orang-orang yang mencintainya. Seekor kupu-kupu putih kecil hinggap di atasnya bersama rangkaian bunga-bunga dan doa-doa yang dinyanyikan kepada Penguasa Langit.

Keletihan mulai tergambar di wajah ibuku. Keletihan yang bercampur dengan kesedihan. Aku berjalan di sampingnya. Ia hanya diam. Kulihat airmata mulai menggenang. Inilah perpisahan yang sesungguhnya. Ia sadar bahwa kupu-kupu putih itu akan membawa Eyang pergi tanpa pernah kembali.

Tapi aku ingat cerita Eyang. Kupu-kupu putih kecil akan kembali ke hati kita dan menjadi sebuah cerita, Maka kutunjuk kupu-kupu putih kecil yang masih saja hinggap di tepi kain hijau penutup keranda. Berharap ibuku melihatnya. Namun ia tetap diam dan membenturkan pandangannya ke jalan tanah yang kini mulai basah oleh airmata dan gerimis yang mendadak turun.

Kubisikkan di telinganya,”Kupu-kupu putih itu akan kembali dengan sebuah cerita.”

Seperti tersadar ia mengangkat kepalanya dan menatap keranda dengan pandangan kosong. Ia tetap diam dan tidak melihatku atau kupu-kupu putih kecil itu. Meneruskan langkah yang ia tahu adalah langkah terakhirnya untuk bisa berjalan berdampingan dengan Eyang yang kini tergolek dalam keranda.

Sebuah lubang telah tergali. Segundukan tanah telah siap menimbun apapun yang masuk ke dalamnya. Menghancurkan jasad manusia tanpa meninggalkan apapun tersisa kecuali sebuah cerita yang akan dibawa kupu-kupu putih kecil dari surga. Perlahan jenazah diturunkan bersama tanah yang telah dicampur dengan bunga-bunga. Ibuku tidak berkedip sekali pun, takut kehilangan saat terakhir melihat sosok Eyang yang kini hanya terbungkus kain kafan. Wanita yang menjadi sumur bagi keluarga kami tengah menuju tempat terakhirnya. Sayup-sayup adzan berkumandang.

Jenazah Eyang telah dimakamkan. Tanah merah menutupi kuburnya. Satu-persatu orang pergi. Meninggalkan jasad itu sambil membawa kenangan yang tersisa darinya. Tante Ira terus menangis, kakek digendong oleh beberapa orang karena pingsan dan tetangga-tetangga kembali ke rumah mereka. Semua pergi, karena sekarang ini hanya perjalanannya sendiri. Percuma menangis. Betapapun kesedihan meratap dan memohon, kematian akan tetap menjadi sebuah persimpangan yang memisahkan.

Alam menjadi semakin sepi. Angin berhembus perlahan. Matahari tidak segarang tadi. Ibuku masih bertahan di sini. Menangis sendiri di sisi sebuah makam kecil di samping makam yang baru saja ditimbun. Berdoa. Aku dan Eyang bergandengan tangan, berjalan bersama doa yang dipanjatkannya. 2 kupu-kupu putih kecil terbang terbawa angin. Ibuku tidak melihatnya.

3 Comments

  1. bikin cerita yang happy happy aja napa… hehehe🙂

    gw jadi inget lagunya KAVANA, will you wait for me🙂

  2. Cerita yang bagus…
    Cukup menyentuh…

    Link: http://www.matakala.wordpress.com

    • Makasih ya…🙂 Sebenernya masih banyak yang harus saya perbaiki…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...