The Secret

Jakarta yang penuh. Jakarta yang sesak. Bahkan perempuan itu berkeringat di dalam sebuah kabin mobil dengan AC yang berhembus dengan kekuatan penuh. Sebentar-sebentar tangannya mengibas-ngibaskan kertas yang penuh dengan tulisan. Sembari tangan kanannya memegang sebuah handphone merek terbaru. Raut wajahnya tampak khawatir, mungkin itulah yang membuatnya berkeringat.

“Halo? Selamat siang. Dengan Reni? Ini Wina. Aduh… Sorry, saya telat. I promise I’ll be there no more than 15 minutes. Ok? Aduh… Thank you… Thank you banget atas pengertiannya…”

Wajah perempuan itu tampak agak lega. Sedikit senyum terukir di wajahnya. Namun sesaat kemudian kembali tegang. Mobil terus dipacunya, klakson jadi senjata utama untuk menyingkirkan mobil-mobil yang ingin bergerak lambat. Sesekali ia memaki, namun hanya dalam hati. Ia sadar, di tengah lalu lintas Jakarta, mobil dengan kapasitas mesin ribuan CC pun akan dibuat tak berkutik.

Akhirnya, tibalah ia di sebuah hotel mewah di kawasan Jakarta Selatan. Setelah memarkir mobil seadanya, ia segera berkelebat menuju restauran yang terletak di lantai dasar gedung ini. Suara langkah sepatu beradu dengan lantai granit memantul-mantul di lobby yang tidak terlalu ramai. Tiba-tiba ia berhenti, memandang dirinya sendiri dari pantulan kaca gedung. Tampak seorang perempuan cantik dengan celana panjang beige, kemeja putih dengan aksen ruffles dan seuntai kalung bebatuan yang sangat serasi. Di tangannya tergenggam sebuah map dan tas laptop. Ia rapihkan rambutnya yang keriting gantung dengan jari-jarinya yang lentik, tersenyum pada pantulannya sendiri lalu segera melangkah penuh percaya diri menuju meja dimana sepasang kekasih telah menunggunya.

“Reni! David! Sorry banget, saya telat. Terjebak macet…Tadi ada kecelakaan di jalan. ”

“Gak papa. Kita juga baru selesai makan. Kamu mau makan dulu? Atau….”

“Gak usah, deh, Ren…,” potongnya, ”Kasihan kalian, udah nunggu lama. Mendingan, kita beresin dulu urusan kita. Baru setelah itu, aku makan. Gimana?”

“You’re the boss. Kita sih ikut kamu, aja…”

“Sekarang, kita lihat dulu kondisi ballroomnya. Pada dasarnya sih, ballroom ini cuma bisa menampung 400 orang, tapi dengan pengaturan jadwal tamu yang baik, kita bisa meng-accommodate sampai 2000 tamu.”

“Are you sure?”

“Off course, I’m sure. Udah berkali-kali aku pake hotel ini untuk pesta pernikahan dan sejauh ini semuanya lancar dan memuaskan. Dan terutama, makanannya enak….”

Wina, usia 27 tahun. Wedding Planner, EO kawinan, kalau kata teman-temannya. Perfeksionis. Ramah. Hobi membaca. Tidak suka dugem. Juga tidak suka memasak. Suka merangkai bunga, sekalipun mungkin akibat paksaan pekerjaan. Sudah lulus dari jurusan disain interior di sebuah universitas swasta di Jakarta. Cinta orangtua dan benci pada kucing karena menyebabkannya alergi. Senang nonton DVD tapi tidak suka ke bioskop, buang duit menurutnya. Dan yang paling ia benci, jika harus mencantumkan status pernikahan seperti di KTP. Belum kawin alias lajang. Dan bukan cuma lajang tapi juga available. Status yang membuatnya harus menjawab “Maaf, saya belum menikah” untuk pertanyaan “Sudah punya anak berapa?”

Seperti biasa, kali ini ia bertemu dengan calon kliennya yang tentu saja calon pengantin sekaligus calon suami istri. Pertemuan awal biasanya hanya dengar pendapat. Memangnya hanya presiden yang bisa dengar pendapat? Wedding planner juga perlu, sangat perlu bahkan. Mengorek sebanyak-banyaknya informasi tentang resepsi pernikahan impian pasangan yang menjadi klien akan sangat berguna. Dengan sifatnya yang sedikit workaholik, Wina sudah terbiasa menangani 4 atau 5 pernikahan dalam sebulan. Pernah suatu ketika ia menangani hingga 9 pernikahan sekaligus dan alhasil hampir saja ia membuat sebuah resepsi pernikahan menjadi sebuah pesta sunatan yang kacau balau. Sejak itu, ia selalu membatasi jumlah perkawinan yang boleh ia tangani dalam 1 bulan. Quality is no.1 priority.

“Di lorong ini, nanti akan diletakkan meja penerima tamu dan welcome drink. Kita akan menghiasnya dengan pergola tanaman rambat,” Wina menunjuk sebuah areal kecil di selasar.

“Tunggu sampai kalian melihat ballroomnya,” lanjut Wina dengan senyum lebar. Senyum yang telah membuatnya mendapatkan banyak kontrak senilai ratusan hingga miliaran rupiah.

“Ok kan?” Wina mempertegas pada mereka, “Pelaminan akan ditaruh di areal panggung.” Wina menunjuk.

Reni mengangguk-angguk dan berkata pada David dengan berbinar-binar, “Yang, lihat karpetnya. Burgundy! Pas banget ya sama konsep kita… Ren, jadi kita sempet ngebayangin kalau ruang resepsi bakal didekor dengan konsep kebun anggur. Secara keseluruhan sih kita bener-bener pasrah sama kamu, tapi kita pengen ada sebuah gazebo kayu yang dirambatin tanaman anggur, jadi kita berdua bisa slow dance di bawahnya diiringin lagunya Clarissa Monteiro – The Way You Look Tonight. Pernah denger kan? Kayaknya gazebonya di taruh di sebelah sana, ok juga ya…?”

Reni terus bercerita tentang the wedding of her dream sementara Wina mencatat segala sesuatu yang sekiranya akan menjadi informasi penting, kebun anggur, Clarissa Monteiro, Gazebo, ada lagi? Ia hendak bertanya pada kedua mempelai. Tapi mereka berdua hilang. Entah bagaimana caranya, tapi mereka telah berada di areal yang mereka tunjuk dan… slow dance.

Dengan nanar Wina memandangi mereka. Ah, romantisnya. Tangan mereka saling menggenggam. David memeluk Wina seakan tak mau melepaskannya. Mereka berdua seperti akan terbang ke awang-awang. Sesekali mereka tertawa kecil, saling memandang dan mempertukarkan cinta lewat kedua bola mata.
Wina menghela napas dan berpikir. Sungguh ini pekerjaan yang menyakitkan. Seringkali rasa sentimentilnya bergejolak, mewujudkan impian negeri dongeng para pengantin, sementara Wina sendiri termangu-mangu dalam kisah cinta yang berakhir menyesakkan.

Ah, seandainya aku yang berdansa di sana dengan Yudi. Terbayang pelukan mesra yang pernah menghangatkan hatinya saat merayakan pergantian tahun di Bali. Terbayang pula kecupan hangat yang pernah jatuh di keningnya. Sayang, kisah cinta itu telah berakhir. Tidak ada lagi tawa terbahak-bahak yang sering didengarnya dari mulut Yudi. Tidak ada lagi martabak bangka yang sering jadi sebuah kejutan kecil yang menyenangkan. Tiada lagi lagu For Once In My Life yang disenandungkan dengan suara fals untuk membujuk Wina yang sedang ngambek. Ah, seandainya saja…

“Win! We love this place!” teriak Reni yang masih berangkulan dengan David memecahkan lamunan Wina.

“Ok, kalau begitu kita sekarang balik dulu ke restauran. Sepertinya aku punya beberapa foto perkawinan yang sesuai dengan keinginan kalian.”

“Ok,” Reni menjawab.

Tiba-tiba David menarik tangan Reni memandangi matanya. Dengan jarinya ia mengusap bagian bawah kelopak matanya.

“Ada bulu mata kamu yang jatuh,” David berkata sambil menunjukkan sehelai bulu mata, “Nah ya… Kamu kangen sama siapa?” godanya.

“iih.. kamu… ,” Wina merajuk manja sambil mencubit pinggang David yang tertawa terkekeh-kekeh.

Hentikan adegan itu ! Teriak Wina dalam hati.

Dadanya jadi sesak. Seperti inilah rasanya setiap kali ia harus mengatur sebuah acara resepsi pernikahan. Selalu saja ada sesuatu yang membuatnya teringat pada masa lalu yang kini telah menguap entah kemana. Hubungan dengan Yudi yang telah terjalin 3 tahun ternyata harus karam di tengah lautan gelombang. Selain sisa-sisa kenangan indah yang masih bisa diingatnya, Wina sangat menyesal menjalin sebuah hubungan yang akhirnya hanya untuk dihancurkan. Jika saja waktu berjalan seperti jam weker yang dapat disetel, Wina pasti akan memundurkan waktu.

Wina akan kembali ke masa lalu untuk mencegah dirinya pergi ke Bali. Kalau saja ia tidak ke Bali, ia tidak akan kebetulan berkenalan dengan Yudi di Bandara. Atau, kalau saja ia memilih maskapai penerbangan lain, Yudi tidak akan secara kebetulan duduk di sampingnya. Kalau saja Astrid tidak terlambat menjemputnya, ia tidak akan kebetulan ngobrol di Bandara Ngurah Rai dengan Yudi yang berbaik hati mau menemaninya. Atau, kebetulan lain yang menyebabkan mereka berdua menginap di 1 hotel yang sama. Inilah yang membuat Bali mempunyai kenangan indah yang sekaligus buruk bagi Wina.

“Bulan madu di mana, Ren?” ucap Wina sambil membuka data foto-foto dekorasi resepsi di laptopnya.

“Bali. ”

Damn you, rutuk Wina dalam hati. Tetap dengan senyum ratusan juta miliknya.

Sekarang, musim kawin tidak terlalu ramai, hanya 2 perkawinan yang ia tangani bulan ini. Salah satunya adalah resepsi pernikahan Reni – David yang harus dikerjakan dengan sistem kejar tayang. Resepsi yang sebenarnya direncanakan kecil-kecilan di rumah, antar keluarga, ternyata berubah haluan dan akan dilaksanakan di gedung dengan 2000 undangan. Drastis? Ya, sangat drastis mengingat Wina hanya memiliki waktu 3 minggu untuk mempersiapkannya. Untung saja dilaksanakan saat low-season, jika tidak, bisa dipastikan tidak akan ada wedding-hall yang tersedia.

Maka jangan ditanyakan seperti apa rasanya ketika seluruh kegiatan hari ini dapat diselesaikan dan berakhir di sebuah sofa empuk di mana Wina bisa beristirahat sambil menonton DVD, sekalipun ia lebih sering ketiduran. Tulang rasanya seperti dibelah-belah, sendi-sendi seperti hancur dan mata bengkak terasa habis ditonjok waria.
Alangkah nikmatnya duduk santai sambil menikmati secangkir hot chocolate dan DVD “The Secret”. Sudah 4 kali Wina menonton The Secret, ia tidak pernah bosan. Menonton The Secret rasanya seperti di-recharge saja, mengembalikan semangat dan ambisi yang terkadang redup apalagi setelah perpisahannya dengan Yudi yang sangat memukulnya.

Beberapa kali ia telah membuktikan kebenaran The Secret. Salah satunya adalah kejadian kebetulan yang membuatnya mendapatkan gedung untuk resepsi perkawinan Reni-David. Atau saat mendapatkan tukang yang bersedia membuat pesanan Reni yaitu gazebo “Ingat, harus ada anggur merah yang bergelantungan”. Hingga kebetulan-kebetulan kecil seperti seorang pria yang membiarkannya menyelak di antrean mesin ATM saat terburu-buru tadi siang atau begitu mudahnya ia mendapat parkir dekat restauran tempat ia membuat appointment dengan Reni. Namun, seperti kata The Secret, Wina percaya bahwa tidak ada kebetulan. Semua kejadian, baik atau buruk, adalah hasil dari apa yang kita pikirkan.

Mungkin, kegagalan hubungannya dengan Yudi juga adalah hasil dari The Secret. Dulu, Wina selalu berpikir “apapun kesulitan yang muncul, aku akan mempertahankan hubunganku dengan Yudi” atau “aku akan memperjuangkannya, apapun kesulitannya”. Dan benar saja, karena selalu berpikir tentang “kesulitan” maka kesulitanlah yang datang. Hingga akhirnya Wina berpikir “mengapa kesulitan terus menghadang hubungan kami?”.

Wina jadi menyesal, bukan saja tentang apa yang telah ia lakukan, tetapi juga apa yang ia pikirkan. Kalau saja dulu ia berpikir yang baik-baik saja. Mungkin hubungannya dengan Yudi akan baik-baik saja. Bukankah begitu?

Dulu, Wina selalu berpikir “aku tidak ingin hubungan ini gagal”. Akibatnya? Wina selalu berpikir tentang kegagalan. Karena ketakutannya pada kegagalan, maka kegagalanlah yang terjadi. Coba saja dulu ia berpikir “aku ingin hubungan yang langgeng dan berhasil”, mungkin saat ini ia masih bersama dengan Yudi.

Eit ! Tunggu dulu! Tiba-tiba Wina terpikir. Jika dulu The Secret dapat membuat sebuah hubungan gagal, berarti The Secret juga dapat membuat sebuah hubungan berhasil. Sekarang. Iya. Sekarang.

Dulu, ia selalu berpikir “aku tidak ingin berpisah dengan Yudi”. Yang terjadi? Ia berpisah dengan Yudi. Jadi, jika sekarang ia berpikir hal yang sama dengan kalimat yang berbeda yaitu “aku ingin terus bersama dengan Yudi”, maka ia akan bersama dengan Yudi. Bukankah “aku tidak ingin berpisah dengan Yudi” sama dengan “aku ingin terus bersama dengan Yudi” ?

Wina adalah gadis yang cerdas. Ia dapat dengan cepat menyimpulkan. Pikirannya untuk bersama dengan Yudi akan mempertemukannya dengan Yudi. Sebelum bersama-sama seseorang harus bertemu terlebih dahulu. Begitu logikanya. Benar kan?

Wina tersenyum. Terbayang di matanya, ia bertemu dengan Yudi dan mengatakan bahwa ia bersedia untuk menikah dan mendampingi seumur hidupnya. Ia akan meralat seluruh ucapannya. Wina menyesal menolak ajakan Yudi untuk menikah dan mendampingi kuliah S2-nya di luar negeri. Wina terlalu egois waktu itu. Wina merasa masih terlalu muda dan banyak mimpi yang harus diraihnya. Parahnya, setelah insiden penolakan, Yudi tidak memberinya kesempatan bertemu bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal. Bukan apa-apa, ia memang harus segera berangkat. Dan saat ini, Wina merasa waktu telah mengejarnya.

Senyum terukir di wajah Wina. Berkat The Secret ia akan bertemu kembali dengan Yudi. Ia membayangkan wajah Yudi yang tampan dengan cambang halus yang tumbuh di pipi dan dagunya. Terasa di tangannya, perut Yudi yang sedikit buncit yang sering jadi sasaran cubitan mesra. Terngiang-ngiang dalam telinga Wina “aku  akan bertemu dengan Yudi”. Pertemuan yang masih terjadi di dalam benak Wina ini terus tergambar hingga ke dalam mimpi yang menemani Wina hingga pagi.

***

3 minggu kemudian.

Berkat The Secret, resepsi pernikahan Reni-David berjalan dengan lancar dan sukses. Seluruh keinginan dan bayangan kedua mempelai tentang pernikahan impian dapat diwujudkan. Mulai dari slow dance dengan iringan Clarissa Monteiro hingga gazebo “Ingat, harus ada anggur merah yang bergelantungan”. Semua orang puas. Bukan hanya mempelai dan orang tua mereka, tapi juga para tamu dan dirinya sendiri. Bahkan di akhir acara sebaris sms dari Reni tiba di HP-nya. Bunyinya begini : “Resepsinya luar biasa. This is the wedding of my dream. Ada teman saya yang ingin kamu jadi Wedding planner-nya. Besok janjian di Grand Indonesia. Bisa?”

Dengan hati senang dan berbunga-bunga Wina segera mengirim jawaban. Begini bunyinya : “I’m flattered. Tentu aja bisa. Besok ketemu di Grand Indonesia”.

Oh, betapa hebatnya The Secret. DVD itu telah membuat segalanya lancar dan lebih mudah. Ini membuktikan bahwa apa yang disampaikan oleh The Secret adalah kebenaran. Maka, perasaan Wina semakin yakin. Detak-detak jantungnya merasakan bahwa pikiran “aku akan bertemu dengan Yudi” akan membawanya bertemu dengan Yudi. Bukan cuma “akan” tetapi dalam waktu dekat. Instingnya mengatakan ia akan segera bertemu dengan Yudi, Sang Penawan Hati.

Malam ini Wina bermimpi bertemu dengan Yudi.

***

2 hari kemudian.

Wina datang bahkan lebih cepat dari waktu yang telah dijanjikan. Reni dan David datang datang tak lama kemudian. Pasangan baru itu tampak berbahagia. Senyum terus mengembang di wajah mereka. Cocok sekali dengan suasana hati Wina yang juga sedang gembira. Seorang teman yang dikatakan akan menggunakan jasa Wedding Planner milik Wina belum datang. Mereka terlambat, begitu kata Reni. Tapi, Wina tidak keberatan.

Sambil mengisi waktu, mereka bertiga mengobrol kesana-kemari. Membicarakan resepsi pernikahan mereka dan pengalaman setelah menjadi suami istri.

“Nah, ini dia mereka datang”, seru Reni, “Perkenalkan. Ini Asti, temanku. Dan ini calon suaminya”.

Hah?! Bumi bergetar… Bukan… Kakinya yang bergetar

Mata Wina tertumbuk pada cambang halus yang tumbuh di pipi dan dagu. Kemudian, pada perut sedikit buncit yang sering jadi sasaran cubitan mesra. Kali ini matanya berkunang-kunang. Perut terasa mual. Wina seperti berenang dalam mesin pembuat cappucino.

The Secret memang benar!

Oh Tuhan, aku memang ingin bertemu dengan Yudi, tapi bukan ini caranya…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...