Hati Setengah Potong

Suara tangis bayi memecahkan keheningan malam itu.

Benarkah keheningan bisa dipecahkan? Tapi memang benar adanya. Kelahiran itu membuat malam tidak hening lagi. Rumah sakit menjadi begitu genting. Dokter, beberapa perawat dan seorang laki-laki yang begitu gelisah. Namun, tiada sebanding dengan wanita yang tengah menggantungkan nyawanya pada sehelai benang tipis.

Tidak perlu digambarkan bagaimana bayi itu berhasil mendobrak gerbangnya menuju sebuah dunia luar rahim. Cara dokter itu mencontohkan bagaimana seharusnya ibu itu bernapas. Atau bagaimana lelaki itu akhirnya pingsan dan perawat menggotongnya keluar. Banyak film dan sinetron mencoba menggambarkannya dengan sempurna, namun tiada yang berhasil menyampaikan bagaimana rasanya.

Akhirnya. Suara tangis bayi memecahkan keheningan malam itu. Dan bayi itu adalah aku.

***

Kelahiran serupa kematian dengan bentuk yang berbeda. Keduanya adalah pemisah. Sebuah kelahiran memisahkan bayi dari dunia rahimnya dan ketakutan menyambut jika kematian hendak memisahkah dunia ini dari kita. Tidakkah bayi ketakutan akan kelahiran seperti halnya kita pada kematian? Hanya waktu yang tahu.

Dan seperti bahasa para MC, untuk mempersingkat waktu, entah bagaimana caranya, kuceritakan sedikit tentang kejadian setelah kelahiran itu. Salah satu dari dua orang yang telah menjadi jalan bagi keberadaanku dipanggil pulang olehNya. Bukan ibuku. Ternyata, saat itu Ayah bukan hanya pingsan. Ia mengalami serangan jantung dan harus pergi tanpa bisa kulihat wajahnya selain di foto kenangan mereka berdua.

Ibarat sebuah pertandingan sepak bola, skor akhir 1-1 tanpa ada perpanjangan waktu apalagi adu penalti. Tak terbayangkan apa yang dirasakan oleh ibuku saat itu Kebahagiaan dan kesedihan terjadi bersamaan. Hingga ‘life must go on’ akhirnya menjadi semboyan baru baginya.

Jadilah seorang ibu melanjutkan hidup bersama satu-satunya putri yang terlahir dari rahimnya. Itulah mengapa ia menamakan bayi yang telah memecahkan keheningan malamnya dengan nama Putri.

***

Dengan sedikitnya warisan yang ditinggalkan oleh mendiang ayahku, jika tidak mungkin kukatakan bahwa tiada warisan sama sekali selain semangat hidupnya, kami berdua melanjutkan hidup. Ibuku berjuang keras untuk bertahan dan menyekolahkanku. Aku pun harus membantu berjualan kue buatan ibuku setelah pulang sekolah. Sungguh sangat menyenangkan apalagi jika seluruh kue yang kubawa habis ludes tertukar dengan sedikit rupiah.

Ternyata kebahagiaan tidak berhubungan dengan apa yang kita alami melainkan berkaitan dengan apa yang kita pilih untuk dirasakan. Jika seseorang tidak bahagia berarti karena dia memilihnya. Dan kita bisa memilih untuk bahagia sambil berusaha mendapatkan apa yang kita mau. Hidup adalah sebuah perjalanan dan bukan hasil akhir. Hasil akhir akan selalu sama, kematian. Tinggal pilih, mau mati bahagia atau sengsara? Begitu katanya.

Aku mau mati bahagia, ujarku.

Sayang aku tidak tahu caranya. Ketika teman-temanku memilih kampus favorit saat lulus SMA, aku memilih untuk menjadi Polwan. Bayanganku waktu itu, aku akan mengangkat derajat kami tanpa perlu mengeluarkan uang banyak karena saat itu ibuku tidak mampu membayar biaya bangku kuliah. Sialnya aku tidak lulus tes. Aku gagal mendapatkan citaku-citaku sebagai polwan. Akan tetapi, jalan yang aku pilih ternyata membuka sebuah tabir baru dalam hidupku.

Begini ceritanya. Setelah berhasil melewati tes tertulis, kami semua calon pengabdi masyarakat harus melewati tes berikutnya. Tes kesehatan. Aku gagal.

Bukan karena aku tidak sehat. Aku sehat fisik dan mental. Gigiku tidak berlubang dan tulang-tulangku kuat, namun dokter-dokter cerdas itu menemukan sebuah kejanggalan yang aku sendiri tidak pernah menyadarinya. Mereka menyuruh aku untuk melakukan tes radiologi untuk mengintipi bagian dalam tubuhku. Hasilnya seluruh bagian dalam tubuhku lengkap. Ada jantung, 2 belah paru-paru, segala macam usus, lambung, 1 buah hati dan sebagainya. Disinilah letak masalahnya. Dokter-dokter itu mencoba menjelaskan gambar transparan hitam putih itu sambil menunjuk-nunjuk.

“Putri, hati kamu cuma setengah,” pelan mereka berkata.

“Hah?!”

Setelah penjelasan panjang lebar bisa kusimpulkan. Ibarat makanan, aku hanya mendapatkan jatah setengah porsi. Agar kau tidak bingung biar kujelaskan. Pergilah ke los daging di pasar. Belilah hati sapi utuh. Lalu mintalah tukang daging untuk memotongnya tepat di tengah secara vertikal. Seperti itulah bentuk hatiku. Entah belahan kiri atau belahan kanan, tapi benar-benar setengah!!

Jangan tanyakan padaku bagaimana hal itu bisa terjadi. Dokter-dokter itu pun tidak dapat menjelaskan fenomena ini. Apalagi ibuku. Dia bahkan tidak tahu bahwa hatiku cuma setengah. Dia hanya pasrah seperti saat kematian ayahku dan berkata,”Life must go on.”

Dan itulah yang harus terjadi. Dengan hati yang hanya setengah potong kulanjutkan hidupku. Jika sampai detik ini aku bisa bertahan hidup dengan hati cuma setengah potong, artinya aku bisa bertahan minimal sampai detik berikutnya tanpa setengah potong lainnya.

Tapi apalah yang bisa dilakukan seorang gadis lulusan SMA bersama ibunya yang terus beranjak tua. Melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi tanpa uang sepeser pun nyaris tidak memiliki kemungkinan. Melamar pekerjaan di Jakarta dengan selembar ijazah SMA hanya akan memindahkanku secara horisontal. Life must go on. Dan apalagi yang bisa dilanjutkan kecuali kembali berjualan kue dari kampung ke kampung.

Oh ya, ada perkataan dokter itu yang memberiku sedikit harapan bahwa suatu saat mungkin sebuah keajaiban bisa saja terjadi.

“Mungkin hatimu mengalami kelambatan pertumbuhan. Bisa saja hati kamu akan utuh dengan sendirinya seiring dengan waktu. Atau kamu bisa mendapatkan setengahnya dengan mengganti hatimu dengan hati yang baru melalui sebuah proses tranplantasi.”

Transplantasi?

Istilah ini pernah kudengar dalam pelajaran biologi namun bagaimana mungkin proses mahal itu dapat kutanggung? Tidak mungkin, sekalipun dengan menabung sisa hasil berjualan kue sepanjang hidupku. Tapi dengan segala bentuknya harapan akan selalu ada. Itulah kata-kata ibuku yang selalu aku camkan di setengah potong hatiku.

Mulai saat itu kulanjutkan hidupku dengan sebuah tekad baja. Tekad untuk mendapatkan setengah potongan lain dari hatiku. Aku yakin, suatu saat aku akan menemukan setengah potong lainnya dan membuat hatiku menjadi 1 potongan utuh. Utuh. Tidak seperti hati sapi di tukang daging. Aku percaya, jika Tuhan memberikan 1 potong hati pada orang lain berarti Tuhan juga akan memberikannya untukku. Dan jika ternyata aku baru mendapatkan setengah potong artinya Tuhan sedang menundanya untuk kudapatkan kemudian.

***

Sahabat, biar kuteruskan cerita ini. Syahdan, kulanjutkan apa yang sudah kulakukan sejak kecil. Berjualan kue dengan berjalan kaki dari kampung ke kampung. Dalam 1 hari bisa kulalui lebih dari 5 kampung. Menawarkan berbagai jajanan dari rumah ke rumah. Berteriak dari satu pintu ke pintu. Mencoba meraih uang untuk memenuhi tekadku mendapatkan setengah potong hati yang aku yakin adalah hakku.

Tidak banyak. Namun setelah dipotong modal dan biaya hidup kami berdua masih ada sedikit uang tersisa. Aku tahu, uang yang aku kumpulkan ini tidak akan pernah cukup untuk membiayai sebuah operasi transplantasi hati. Tapi aku juga tahu ada harapan yang bisa aku buat dengan sedikit uang yang aku kumpulkan ini.

Di sela kegiatan berjualan, kusempatkan untuk menyalurkan hobi membacaku. Aku tidak berlangganan koran atau membeli buku, tidak ada cukup uang untuk itu. Tapi, aku kerap membaca potongan-potongan koran bekas yang kugunakan sebagai alas menaruh kue di dalam kotaknya. Sekalipun aku selalu ketinggalan berita, namun aku cukup menikmati mengetahui hal-hal baru.

Aku juga selalu menyisihkan sedikit uang untuk membeli hati sapi yang akan kumasak sebagai lauk. Siapa tahu dengan banyak memakan hati sapi setengah potong hatiku yang lain bisa muncul tiba-tiba. Namun dengan mahalnya harga hati sapi di pasar aku hanya membelinya sepotong kecil. Aku tahu, Ibuku mulai bosan dengan rasa hati sapi namun ia mengerti keinginan keras putrinya untuk memiliki sepotong hati yang utuh. Untunglah suatu ketika tukang daging langgananku menjadi iba dan mau memberikan harga murah untukku. Aku bersyukur, Tuhan memang baik.

Setelah sekian lama memakan hati sapi, ternyata tidak ada perbaikan yang terjadi. Tidak dengan hatiku atau bagian tubuhku yang lain. Aku mulai merasa putus asa. Mungkinkah aku harus menerima hatiku yang cuma setengah potong ini sepanjang hidupku? Mungkinkah aku mendapatkan setengah bagian lainnya?

Lagi-lagi harapan memang tidak pernah berhenti datang asal kita membuka mata cukup lebar untuk melihatnya. Pada sepotong koran bekas, kubaca sebuah berita dari lembaga sosial yang bernama Dompet Kemiskinan. Dengan mendaftarkan diri, lembaga itu dapat membantu biaya pengobatan bagi mereka yang membutuhkan. Secercah harapan sedikit terlihat. Bukankah aku membutuhkannya?

Keesokan harinya segera aku datang ke kantor Dompet Kemiskinan dengan membawa potongan koran yang kubaca kemarin. Ada beberapa formulir yang harus kuisi dibantu oleh seorang staff di sana. Dia menanyakan siapa yang membutuhkan bantuan, kondisinya dan berbagai hal lain. Namun dia terkejut.

“Lho? Mbak sendiri yang butuh operasi? Mbak keliatan sehat-sehat saja.”

Segera kutunjukkan hasil rontgen saat dulu mengikuti tes Polwan. Dia menggeleng keheranan dan akhirnya ia meloloskan aplikasiku sambil mengatakan bahwa ia tidak dapat memberikan janji apa-apa. Semua orang harus mengantri. Menunggu orang yang bersedia mendonorkan hatinya bukan perkara mudah dan cepat. Banyak orang yang berada dalam kondisi lebih parah. Baiklah, paling tidak ada harapan. Itu sudah cukup bagiku. Sambil menunggu kabar dari Dompet Kemiskinan kuteruskan berjualan kue dari kampung ke kampung.

Pukulan kedua datang. Ibu sakit parah. Berpuluh tahun dia bekerja, nyaris tanpa istirahat siang malam. Betapapun semangatnya berkobar tubuhnya tak sanggup lagi menahan. Maka kuputuskan untuk melakukan semuanya sendiri. Mulai dari berbelanja bahan, membuat adonan hingga menjualnya, semua kulakukan sendiri.

Perubahan ini sungguh tidak mudah. Sekalipun setiap hari aku melihat ibuku membuat kue, namun aku tidak pernah terjun langsung di dalamnya. Aku hanya mengaduk, menguleni, mengadon dan perkerjaan campur-mencampur. Masalah takaran, rasa dan proses ibuku yang paham semuanya. Hasilnya? Aku sukses mendapatkan banyak komentar buruk.

“Bentunya sih donat, tapi rasanya kok….” Atau, “Ini nagasari? Lebih mirip bubur sum-sum…”

Itu hanya sebagian komentar mereka. Semuanya kuingat-ingat dan kutulis. Kucoba memperbaikinya. Lalu kudatangi pelanggan yang memberi komentar, kuminta ia mencobanya. Kalau kurang pas kuperbaiki lagi dan aku kembali lagi. Begitu seterusnya. Lama kelamaan, pelanggan-pelanggan itu seperti konsultan pribadiku. Mereka dapat mengeluhkan apa saja tentang kue yang kutawarkan. Bahkan mereka dapat memesan kue apa yang akan aku jual, asal mereka mengatakan resepnya. Seiring dengan itu keahlianku membuat kue meningkat. Komentar positif mulai kuterima dan mereka mulai memesan kue dalam jumlah besar. Untuk arisan, acara keluarga dan sebagainya.

Sekarang aku tidak perlu berjualan keliling. Alhamdulillah, aku bisa menutup biaya pengobatan ibuku.

Waktu terus berlalu. Keadaan perlahan membaik. Entah apa yang terjadi dengan setengah potong hatiku. Aku tidak peduli. Bertahan dengan apa yang ada jauh lebih penting. Diantara banyaknya pelangganku, ada satu orang yang begitu kuingat. Pria itu selalu datang membeli 2 potong lapis ketan dan 2 buah onde-onde. Hanya itu dan tidak pernah berubah, setiap hari selama 3 bulan. Karena rasa penasaranku, akhirnya aku bertanya padanya.

“Suka sekali ya dengan kedua kue itu?”

Ia tersenyum dan menjawab, ”Sebenarnya tidak. Dulu pernah secara tidak sengaja aku meninggalkan setengah hatiku entah dimana. Kemudian seseorang mengatakan padaku bahwa jika aku ingin mendapatkannya kembali aku harus mencari kedua kue ini. Di tempat di mana kuenya paling kusukai, disanalah setengah hatiku tertinggal. Dan disinilah tempatnya.”

Ternyata kami berdua sama-sama hanya punya setengah potong hati. Betapa kebetulannya. Tak terasa waktu berlalu dalam sebuah obrolan. Mata kami terus bertatapan dan hati kami berbenturan. Hingga terdengar suara dering telpon yang ternyata dari Dompet Kemiskinan. Mereka memanggilku untuk tes kesehatan guna mencari donor hati yang pas untukku.

Aku menjawabnya singkat, ”Maaf, mbak. Mungkin sebaiknya dana itu digunakan untuk mereka yang lebih membutuhkan. Saya baru menyadari bahwa setiap orang memang dilahirkan dengan hati hanya setengah potong dan mereka harus mencari setengah potong lainnya. Saya sudah menemukannya.”

Perempuan itu menutup telpon dengan terbingung-bingung.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...