Babi Juga Masuk Surga?

Malam ini begitu sepi. Terlalu sepi. Hingga bisa kudengar detak jantungku sendiri. Suara jangkrik menggema-gema di telinga. Terkadang begitu dekat seperti bernyanyi disampingku. Sepi berkuasa. Hingga gendang telinga terasa seperti tertahan oleh udara yang menyesak di sepenjuru ruang. Namun apalah artinya malam yang sepi, jika tak pernah berbeda malam dan siang. Siang terasa seperti malam dan malam tetaplah malam. Semua tersembunyi dalam kegelapan. Selalu tak jelas, samar-samar. Benda-benda terlihat seperti bayang-bayang. Cahaya adalah semburat kegelapan. Warna-warna tak lebih sebuah gambaran hitam putih. Suara-suara pun terdengar seperti bisikan-bisikan tanpa makna. Seperti desir angin semilir. Hanya getaran gelombang merambat di udara.

Dari dalam kamar sepi ini suara malam bersahut-sahutan. Sepertinya sebuah pasar malam tengah digelar. Ramai musik, tawa bocah, tangis bayi, ibu menawar harga gulali merah jambu dan ayah yang begitu bangga melihat bocah mereka perlahan tumbuh dewasa, semuanya tertangkap bukan sebagai suara, lebih seperti rasa. Aku rasakan semuanya.

Tapi pernahkah kau berpikir ada kehidupan lain, tidak seperti yang kau alami atau bayangkan? Karena aku tidak mengalami apa yang kau alami seperti kau juga tidak mengalami apa yang kualami. Kita lahir dari rahim yang serupa dengan jalan berbeda. Aku bertahan di Neverland. Neverland tanpa kapal bajak laut dan permainan. Aku adalah Peter Pan tanpa Wendy. Tiada teman bicara kecuali benda-benda. Inilah duniaku. Dunia tak pernah dewasa. Dunia di perbatasan kehidupan dan kematian. Maka kau tidak pernah benar-benar bertemu denganku. Karena kita berjalan di benang waktu yang berbeda. Saat kau tumbuh dewasa, aku tidak.

Aku terjebak dalam tubuh ini, mungkin itu yang akan kau lihat tentangku. Mungkin rasa ibamu akan jatuh saat melihatku. Tapi tidak. Jangan lakukan itu. Tidak ada sepotong pun dari aku yang perlu kau kasihani. Aku memiliki segala yang kau punya, tapi aku menggunakannya dengan cara yang berbeda. Aku memiliki dua bola mata yang indah tapi aku tidak melihat seperti caramu melihat. Telingaku tidak mendengar seperti telingamu mendengar. Mungkin aku tak merasa sebagaimana kau merasa. Tapi aku tidak mati. Percayalah. Aku hanya ingin kau mengerti. Aku tidak mati. Aku masih punya hati

Aku tinggal di lantai dua sebuah rumah yang mungkin bagimu tidak pantas disebut rumah. Sebuah bangunan kayu rongsok di lingkungan yang begitu sesaknya. Kumuh, sebagian orang berkata begitu. Namun, inilah istanaku. Dimana waktu berjalan lebih lambat dari tempat-tempat lain di sepenjuru bumi. Aku dapat membangun apapun di sini.

Kubangun menaraku sendiri. Kubangun tempat bermainku sendiri. Inilah duniaku. Aku terbang kemanapun aku mau. Mengembara ke pelosok dunia, ke tempat-tempat di mana manusia belum pernah menjamahnya. Tempat pikiranku mengembara ke dinginnya kutub utara, ujung sahara yang membara atau ke seberang samudera raya hingga angin tak dapat memanggilku dan tiada seorangpun dapat menghentikanku.

Sungguh. Tiada pengalaman seperti yang kau alami karena aku mengalami sesuatu berbeda dengan caramu mengalami. Jika kau mengingat pengalamanmu seperti sebuah kamera video, maka aku mengingat pengalaman seperti retina yang mencoba mengingat mimpi, aku mengalami semuanya seperti sensasi. Sensasi yang terkadang datang begitu jelas namun terkadang seperti kejutan-kejutan listrik. Seperti gumpalan-gumpalan awan yang segera beringsut pergi dan berubah menjadi hujan. Seperti bayangan samar-samar yang perlu diterjemahkan. Aku adalah bahasa tanpa sepotong pun aksara. Aku adalah sebuah kitab suci bagi agamaku sendiri.

Maka kuceritakan ini semua padamu agar kau mengerti. Agar kau melihat, mendengar, merasakan atau paling tidak membayangkan apa yang aku lihat, dengar dan rasakan. Karena aku juga ingin dimengerti, sama sepertimu. Tapi, janganlah mengerti dengan caramu mengerti, karena kau tidak akan pernah mengerti.

***

Malam ini terlalu dingin. Tapi adakah yang lebih dingin dibandingkan hati yang beku? Sungguh, kebekuan hati akan menutup segalanya. Selayaknya musim gugur yang menjadi penutup bagi musim panas hingga tergantikan oleh salju putih yang beku. Membekukan seluruh dahan dan ranting. Tapi bisakah hati dibekukan ?

Sulit untuk menceritakan ini padamu karena rasanya hanya seperti déjà vu, seperti mimpi singkat yang tak berpola. Menontoni sebuah film dalam gerak lambat hingga seperti beku saja. Maka akan kuceritakan sedikit tentang kebekuan. Kebekuan yang dapat kutangkap secara samar-samar. Kebekuan yang terjadi ketika hujan turun begitu deras laksana badai. Angin bertiup begitu kencangnya. Langit melontarkan jutaan paku yang terus menancap di seluruh permukaan, menembus dinding. Menembus langit. Menembus hati. Menusuk telinga yang dihajar ribuan halilintar.

Seorang wanita dihajar tak berketentuan.

“Jalang!!”

Halilintar menyambar.

“Kau lahirkan anak setan!!”

Petir jatuh menggelegar. Blarr !!!

Lalu aku kembali di sini. Dingin dan Sepi. Sunyi dan mati. Biru dan beku. Seperti bulan di balik awan. Semua kembali samar-samar. Seperti bayang-bayang. Namun ia tidak tahu, bahwa di balik bayang-bayang dan kesamaran kutangkap suara tangisan. Suara kesedihan atau suara penderitaan?

Airmata menetes-netes. Jatuh ke  dipan. Jatuh ke lantai. Tangisan menggenang-genang di penjuru ruang. Jatuh ke pangkuan. Mengalir ke sudut, mengalir ke tengah, mengalir ke sungai, mengalir ke langit. Mengalir dan terus mengalir. Air mata menetes di pipiku. Kutunggu butir berikutnya menetes dari bolamataku. Ingin kurasakan kesedihan ini. Tapi tidak. Ini bukan airmataku. Tetesan kepedihan mencuci kegelapan hingga terang benderang.

Airmata meteor membuat bulan beku berdentang-dentang. Aku mengembara seketika ke alam pegunungan yang sejuk dengan deret pohon pinus, permadani hijau zamrud, aliran sungai gemericik dan taburan bunga-bunga yang kupikir dari surga. Untuk pertama kalinya semua tampak begitu jelas, seperti layar besar dengan aku di dalamnya. Jiwaku melesat-lesat jauh meninggalkan tubuhku.

Encke1, komet dengan lintasan terpendek menggendongku, melontarkan aku ke luar angkasa, membiarkanku menembus kabut Oort2 di luar sana.  Kurasakan matahari gilang gemilang dan kabut tersenyum perlahan. Sebelah tangan sehangat fajar malu-malu memelukku, memberikan rasa aman yang tak pernah kurasakan. Dan sebelah tangan seperti bulan menghapus air mata yang entah milik siapa. Maka kutahu airmata itu milik siapa. Seorang wanita dengan mata segemilang matahari dengan air menggenang-genang di bolamatanya menggenangi bolamataku.

“Jangan takut, nak. Ini Ibu”.

Sebutir air asin kembali membasahi pipiku. Maka kembali sunyi seperti bulan biru beku.

***

Sejak itu ada sesuatu yang berbeda dari kesunyian ini. Halilintar itu hilang dan petir tak lagi menyambar. Terganti dengan sedikit keramaian yang kutangkap secara samar-samar, bayang-bayang temaram di balik redupnya cahaya yang perlahan jadi kelam. Seperti pernah kukatakan, semua selalu samar-samar. Selalu tertulis di balik kelambu yang tak pernah dapat kusibakkan. Jadi apalah yang berbeda jika toh aku tetap saja tak melihat apa-apa.

Suara tawa kecil seorang wanita dan lelaki datang silih berganti. Suara-suara berupa bisikan dan kelebatan-kelebatan serupa mimpi. Namun entah bagaimana aku mengetahui, suara-suara tawa itu bukan berasal dari satu lelaki, mungkin dua, mungkin tiga atau bahkan lebih yang terus bergilir-gilir. Terdengar suara tawa lagi, wanita lalu pria. Berganti-ganti seperti angin semilir. Hilang dan kembali, pergi hanya untuk terdengar lagi. Berganti dengan lenguhan-lenguhan yang tak pernah kumengerti. Ramai. Lebih ramai dari pasar malam tempo hari. Tertawa. Melenguh. Tertawa. Teriak. Merintih. Tertawa. Melenguh. Suara bibir beradu bibir, basah. Anak-anak bermain setelah hujan, suara air bercipratan. Berganti dengan suara kertas bergesek-gesek, berpindah tangan. Sepasang sepatu beradu dengan lantai kayu. Pintu berderit. Mobil menderu pergi lalu kembali sepi.

Tidak. Ternyata aku salah. Ini tidak benar-benar sepi. Suara langkah berdecit-decit menginjak tangga kayu. Kriet. Kriet. Dan sebuah pintu kayu terbuka.

Kali ini bukan suara. Tapi udara. Udara terasa bergerak di sekelilingku. Partikel-partikel berhamburan dan bertabrakan dengan kulitku. Meteor-meteor menabrak atmosfer lalu semua seperti jelas. Mataku yang diselimuti kabut menyilaukan terbuka perlahan, bayang-bayang yang menyaputinya beringsut sedikit demi sedikit. Sekilas terang benderang. Lalu gelap. Namun bisa kutangkap suara serupa gema memantul dalam gua tanpa cahaya di ujung sana.

“Sayangku. Entahlah kau mendengarku atau tidak.

Aku mendengar. Aku mendengar !

“Sekalipun kau mendengarnya mungkin kau takkan mengerti.

Cobalah! Kau takkan tahu jika kau tak pernah mencobanya.

“Biarkanku bercerita tentang kepedihan. Kepedihan yang datang seiring hadirnya dirimu dalam hidupku. Namun tak pernah kusesali itu. Karena kau adalah nyala api membakar lilin yang meneteskan airmata dengan bahagia. Kau adalah air yang menguap dari oase di padang pasir dan aku adalah musafir yang dengan bodohnya mencoba menghalangi air itu jadi awan. Karena kutahu kau akan menjadi hujan di belahan lain bumi dan tidak bersamaku lagi.

Namun airmu telah mendinginkan oaseku. Dan aku bahagia. Layakkah aku menangisi kebahagiaan, bolehkah kuteteskan airmata untuk sebuah kemuliaan? Karena kemuliaanmu hadir dari kenistaanku. Tapi nista adalah nista. Nista takkan pernah jadi mulia, debu takkan pernah jadi permata3. Babi takkan pernah jadi raja rimba. Aku adalah seekor babi yang memimpikan singgasana dan terdampar ke sebuah lumpur nista, karena di sanalah tempat seharusnya.”

Gelap. Kudengar napas terhela.

“Namun tak pernah kusesali dirimu. Kau selalu babi kecilku. Karena kau adalah darah yang mengalir dalam aorta dan kembali lewat vena. Maka jika detakku dapat memberikan hidup padamu, akan kuberikan jantungku. Jika dengan nerakaku kau dapatkan surgamu, maka aku akan melompat dalam baranya. Maka ingatlah itu selalu, anakku. Tiada dosa yang pernah diukirkan di dahimu. Tiada pula noda yang dicecerkan ke atas jubah cintamu. Tapi babi tetaplah babi. Babi nista yang sebentar lagi terbakar dalam genangan lumpurnya. Biarlah kuterbakar dalam neraka ini jika panasnya nyala dapat menciptakan sebuah surga untukmu. Percayalah. Kau selalu babi kecilku.”

Hujan. Airmata berderai-derai. Semua bergerak lambat. Hingga kurasakan tubuhku meringan. Aku terbang.

Terbang!!

Tunggu dulu. Akan kuceritakan tentang sebuah bayangan yang terlintas berdetik-detik sebelum air mata itu menerbangkanku ke angkasa. Sebuah kisah yang terjadi saat bulan bulat purnama penuh berpendar-pendar di langit kelam.

Seorang pria masuk ke dalam rumah kayu berlantai 2, bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki anak autis di dalamnya.

“Serahkan foto-foto itu !!”

“Serahkan uang yang kuminta. Atau istri dan anak-anakmu akan melihat semua.”

“Bangsat !! Jalang !! Jangan main-main denganku !!”

“Anakku butuh uang. Dan aku tidak sedang bermain-main !!”

“Baik, jika itu yang kau minta !”

Blarr!!

Sekali lagi kudengar halilintar menyambar. Wanita itu terpental.

“Sundal!! Kematian adalah takdirmu.”

Blarr !! Petirpun jatuh menggelegar. Blarr !!

Dua pria merangsak masuk. Menarik ibuku dengan kasar, membantingnya ke lantai dan menendangnya.

Blarr !! Halilintar lagi. Petir Lagi!! Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku takut…

“Bakar tempat ini!!”

Maka api menjalar tanpa ampun. Berlompatan kesana-kemari. Dari lantai ke meja, lompat ke jendela, bergantung-gantung di tirai, lanjut ke atap, memenuhinya dengan asap. Tak punya kasihan. Api itu bermain-main ke sepenjuru ruang. Aku ingin teriak. Berhenti !! Tapi aku bukan orang sakti.

Sungguh aku tak mengertii apa yang sedang terjadi. Hingga kedua tangan ibuku mengangkatku tinggi ke jendela. Kulihat air mata berlinang-linang tapi api terlalu perkasa untuk bisa ditenangkan. Dan kami… apalah kami ?!
Tampak orang-orang di bawah berteriak-teriak. Tapi api tak bisa dimarahi. Dia buta pun dia tuli. Tak mau berhenti. Api belum puas bermain dengan kayu rongsok berderak-derak. Air yang coba disiramkan orang-orang itu tak sedikitpun membuat kepalanya dingin. Api terus merangsak tak tentu arah. Membakar apa yang dia ingin, menghancurkan apa yang dia mau. Api sudah terlalu dekat. Dan aku…

Terbang !!!

Kedua tangan ibuku melontarkanku ke udara. Sungguh ini sungguh-sungguh gerak lambat. Bisa kulihat kedua bola mata wanita yang kini terlihat seperti bidadari. Kutinggalkan api bercengkrama dengannya. Ia diam. Memandangku dalam senyum. Ia diam. Ia diam saat api mulai menggerayanginya. Bangunan kayu hancur roboh dengan bidadari itu di dalamnya. Aku melayang. Kulihat bulan keperakan berpendar-pendar di langit hitam kelam. Seekor babi melambai-lambaikan tangannya. Sekarang bulan purnama. Dan adakah babi masuk surga?

1) Komet dengan nama resmi 2P/Encke. Komet biasanya diberi nama sesuai dengan nama penemunya, namun nama komet ini diambil dari nama Johann Franz Encke, ilmuwan yang merilis perhitungannya tentang Komet Encke pada 1819. Penemunya sendiri adalah Pierre Méchain pada tahun 1786. Komet ini dipercaya sebagai penyebab beberapa kali hujan meteor di bumi, termasuk kawah meteor di Irak yang dikenal dengan nama Umm al Biinni. Bahkan komet ini dianggap sebagai asal terbentuknya lambang Swastika.

2) Kabut Oort adalah kabut yang tersusun dari triliunan komet. Berjarak 3 tahun cahaya dari matahari kita atau sekitar 1000 kali jarak Matahari ke Planet Pluto. Diduga kabut ini adalah asal dari komet-komet yang melintas di tata surya kita termasuk Komet Halley dan Komet Encke.

3) Terinspirasi dari sepotong lirik dari lagu milik Iklim, sebuah band dari malaysia, yang berjudul Suci Dalam Debu. Sepotong refrain sebenarnya : “Di situ kita lihat. Bersinarlah hakikat. Debu jadi permata. Hina jadi mulia.”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 9 other followers

  • Today’s Quote

    When you dance, your purpose is not to get to a certain place on the floor. It’s to enjoy each step along the way (Wayne Dyer)

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...