Bertahanlah Sampai Esok

image

Dini hari ini (6.12.11), saya nggak sengaja denger sebuah lagu di satu radio. Pernah beberapa kali saya denger lagu yang merupakan soundtrack dari sebuah film Disney ini, tapi sebelumnya saya nggak pernah ngeh itu lagu apa.

Cari punya cari… Ketemulah judulnya. A Day Away (Tomorrow). Tulisannya sih Annie, entah ini nama yang nyanyi atau nama film-nya. Yang jelas, setelah denger liriknya. JLEB! Tertikam gue!

(Belakangan, gue baru tau kalo Annie itu nama sebuah drama Broadway yang pertama kali ditampilin tahun 1977 dengan pemeran Andrea McArdle sebagai Annie. Udah ditampilin puluhan kali di berbagai negara. Pernah juga menang Tony Award. Dan lagu yang gue denger adalah versi Alicia Morton yang dirilis tahun 1999 bareng sama versi filmnya)

Selama ini, saya selalu berpikir, betapa besarnya energi yang saya butuh untuk terus bertahan di jalan panjang ini. Bahwa saya harus sekuat itu. Saya harus sehebat itu untuk menghadapi semua tantangan yang tidak akan pernah berhenti datang.

Sampai…

Saya baca lirik lagu itu…

***

Apa kamu pernah bertanya sama diri sendiri? Kuat nggak, yaaa? Minggu depan gimana? Bulan depan? Bisa nggak, ya, bertahan setahun, dua tahun… Seratus tahun? Seribu tahun lagi? Pernah?

Coba pikir baik-baik. Benarkah kamu butuh energi sebesar itu? Benarkah kamu harus mempersiapkan kekuatan untuk 100 tahun?! Bisa jadi, TIDAK! Kita tidak butuh energi sebesar itu. Kita hanya butuh energi untuk bertahan hari ini dan sedikit lagi energi untuk tetap kuat sampai besok datang! Cuma segitu… No more, no less… Kita cuma butuh energi secukupnya! Tidak berlebihan, karena semua diciptakan pada ukuran dan takarannya masing-masing.

Bayangkan! Berapa jumlah energi yang kamu butuh untuk bertahan setahun, dua tahun, 10 tahun atau 100 tahun lagi? Besar! Sangat Besar!! Kamu perlu jadi Superman untuk punya energi sebesar itu!

Still, we are human. Ordinary person, right? Manusia yang bisa jadi lemah. Bisa sedih. Bisa menyesal. Bisa jatuh. Bisa terluka. Bisa menangis. Bisa takut. Bisa marah. Bisa hancur!

Kita butuh energi untuk bertahan dari semua itu. Kita butuh energi untuk mempertahankan diri. Kita butuh energi untuk terus berjalan. Untuk tetap berlari. Untuk terbang! Bahkan, saat kita melihat kesulitan sebesar gunung atau masalah seluas laut di depan kita. Kita harus tetap bertahan. Tidak ada pilihan lain selain bertahan, karena pilihan lainnya adalah menyerah.

Mengapa menyerah? Karena hari ini terlalu mendung? Terlalu menyedihkan? Terlalu mengecewakan? Terlalu tak berarti? Tak berharga lagi? Atau apapun alasannya, mengapa harus menyerah?

Karena kita lemah? Tidak kuat? Terlalu sedih? Terlalu kecewa? Terlalu tersakiti? Terlalu terluka? Terlalu hancur? Terlalu ingin pergi? Tak mampu berdiri? Apalagi untuk berjalan atau berlari? Itukah alasan mengapa kita menyerah?

Mengapa pula kita harus bertahan? Karena hidup ini masih panjang maka kita harus terus bertahan? Karena sepanjang hidup adalah sejumlah itulah energi yang kita butuhkan? Harus sekuat itukah kita?

***

Benar! Benar sekali bahwa kita membutuhkan energi SANGAT besar untuk bertahan 10 tahun atau bahkan 100 tahun. Tapi, siapa yang bilang bahwa kita harus mendapat energi itu sekaligus?

Bukankah Tuhan menciptakan malam bagi siang? Dingin untuk panas? Hujan untuk kemarau? Pasang naik dan pasang surut? Bumi berputar. Musim berganti-ganti. Mengapa? Karena Tuhan ingin kita beristirahat. Tuhan ingin kita berhenti berlari sejenak. Untuk melihat. Merasakan perubahan. Menarik napas. Tersenyum. Mengambil energi setiap hari.

***

Saya dan anda berbeda. Anda tidak melihat yang saya lihat, sebagaimana saya tidak melihat apa yang anda lihat. Anda tidak menghadapi apa yg saya hadapi, seperti saya yang juga tidak mengalami apa yang anda alami. Mungkin berat. Mungkin sangat berat.

Tapi kita sama sebenarnya. Seperti juga anda, saya bisa takut. Saya bisa ragu. Saya bisa khawatir. Saya gemetar. Saya pernah menangis. Saya pernah merasa tidak kuat. Merasa lemah. Merasa sakit. Terluka. Ingin menyerah. Ingin pergi. Jauh… Sejauh-jauhnya jauh… Sampai tidak ada yang bisa menemui saya lagi! Tidak ada masalah yang bisa mendatangi saya…

Tapi, kemana? Kemana saya bisa lari? Kemana saya bisa kabur? Ujung dunia? Dimana? Dimana ujungnya? Ada? Adakah? Tidak, Sahabatku… Tidak ada… Kita tidak bisa kabur… Cuma alam kubur. Ingat, cuma alam kubur yang bisa memisahkan kita dari masalah! Dan percaya, terlalu cepat kesana adalah SALAH! Terlalu salah!

Karena Tuhan ingin kita jadi khalifah. Jadi pengembara di atas bumi. Jadi pemimpin minimal untuk diri sendiri. Membawa perubahan pada manusia di balik cermin yang kita pandang setiap pagi. Pada orang-orang yang kita cinta. Pada mereka yang kita berikan hidup kita. Pada masyarakat dimana kita terikat. Bahagia dengan apa yang kita punya. Berusaha sukses semampunya. Amin… Amin… Amin…

Lantas, punyakah kita energi? Punyakah kita kekuatan untuk memperjuangkan semua itu? Seberapa besar kemampuan kita untuk mengumpulkan energi? Seberapa hebatkah kita?

***

Then, saya dengar lagu itu. Dan saya tersadar. Bukan karena saya tidak tahu. Anda juga pasti sudah tahu. Kita hanya lupa saja. Kita bisa khilaf, layaknya manusia biasa. Layaknya manusia lemah adanya.

Bukankah itulah sebab Tuhan menciptakan malam bagi siang? Agar kita bisa merebah sejenak. Berpikir. Agar kita bisa menangis, tanpa ada yang tahu bahwa kita juga bisa bersedih. Bahwa kita berhak merasa lemah. Membutuhkan pegangan. Butuh bahu untuk meletakkan kepala kita yang sudah terlalu lelah untuk tetap berdiri tegak. Menginginkan sepasang mata yang menatap tajam dan belah tangan yang erat memegang kedua tangan kita, lalu berkata, “Ayo! Kamu bisa!”

Lalu menangislah sejadi-jadinya, seakan setelah hujan takkan pernah ada pelangi. Bahwa setelah matahari melewati batas senja hanya akan ada gelap semata karena takkan ada cahaya yang terbit esok pagi. Hingga….

Hingga kita tersadar, bahwa kita sudah terlalu letih menangis. Tenggorokan sudah perih dan dada sudah sesak. Dan… Kita masih di sini… Sendiri… Sama seperti sebelumnya… Tiada yang berubah. Tiada yang berganti. Dan matahari sudah terbit lagi. Malam sudah berlalu. Bisa kita dengar kicau burung dan kokok ayam di kejauhan. Embun sudah datang.

Astaga! Mengapa saya baru tersadar? Saya selalu punya matahari yang bisa saya tunggu. Matahari yang tetap terbit meski saya tak menginginkannya. Meski hari ini mendung semendung-mendungnya hingga siang terasa seperti malam, tetap, matahari tak pernah lelah untuk datang esok pagi. Matahari tak peduli. Matahari tak peduli apakah kita melupakannya atau menginginkannya tak pernah terbit lagi. Ia tetap terbit. Janji tak teringkar hingga saatnya hari kehancuran abadi nanti.

Hingga saat itu… Kita selalu berhak terjatuh, seperti kita juga berhak bangkit lagi. Kita berhak menangis, sebagaimana kita juga berhak untuk menghapus air mata. Kita berhak merasa menderita, pun kita berhak untuk bahagia. Kita berhak untuk gagal, tapi kita juga punya hak untuk berhasil!

Hak mana yang akan kita pakai?

Hak untuk jatuh? Atau hak untuk bangkit dan terus bangkit saat kita terjatuh? Hak untuk menangis? Atau hak untuk terus menegakkan dagu tinggi-tinggi meski airmata rasanya tak terbendung lagi? Hak merasa menderita? Atau hak untuk berbahagia? Hak untuk Gagal? Atau hak untuk Sukses?

Kita punya hak!

Kita punya hak untuk sembunyi di ruang gelap, atau berdiri dengan berani untuk menyambut matahari!

Karena… Segelap-gelapnya malam ini, dalam hitungan jam, matahari PASTI terbit lagi! Dan yang kita perlukan hanyalah energi untuk bertahan dan menunggu 1 hari lagi! 1 hari! Can you believe it?! We only have to survive 1 day! :) No more, no less!!

Jika saat ini kita terjatuh, terluka, hancur dan menangis. Ingatlah, bahwa kita selalu punya malam ini untuk mengingat bahwa esok pagi matahari pasti terbit lagi. Berbahagialah. Karena esok pasti berbeda, tergantung bagaimana kita menggunakan hak kita.

Ada energi luar biasa yang selalu dibawa oleh matahari yang terbit esok pagi. Energi yang selalu tersedia dan baru. Energi yang selalu bisa kita ambil kapan saja… Selama… Kita sadar bahwa ada harapan di sana. Ada mimpi-mimpi terangkai pada setiap terbitnya matahari esok, esoknya, esoknya lagi dan lagi… lagi… lagi… lagi…

Selama kita punya mimpi, selama itulah matahari akan terbit lagi. Maka, jangan takut kehabisan energi. Jangan takut untuk bangun, membuka jendela dan merasakan betapa Tuhan menyebarkan berkahnya lewat matahari yang terbit setiap hari. Kita hanya perlu punya mimpi dan niat untuk mewujudkannya.

Maka, betapapun hancurnya kita saat ini. Bertahanlah Sampai Esok! Bangun! Tunggu terbitnya matahari. Lalu… melangkahlah dengan senyum dan dagu yang terangkat tinggi.

Salam…

Your Bestfriend

24/12/2011

Kelapa Gading

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

Rasanya Jadi Pengusaha

image

Banyak orang yang mendamba jadi pengusaha. Mahasiswa meletakkan ‘pengusaha’ sebagai pilihan pertama ‘pekerjaan’ setelah mereka lulus. Karyawan ingin keluar dari pekerjaan mereka dan merintis jejak pengusaha-pengusaha sukses. Bahkan, cukup banyak juga bocah yang sudah mencantumkan ‘pengusaha’ di kolom cita-cita jika mengisi formulir biodata. Sebegitu menariknyakah jadi ‘pengusaha’? Apa yang mereka lihat? Apa yang mereka bayangkan saat mendengar kata ‘pengusaha’?

Alhamdulillah, saat tulisan ini dibuat, usaha kami, Rumah Sushi, sedang dalam proses pembukaan cabang ke-4. Hal ini tidak lepas dari bantuan dan kerja keras banyak pihak. Karyawan, supplier, pelanggan, media, kawan-kawan, orang tua dan orang-orang yang tidak mungkin kami sebut satu persatu.
Tapi, apakah kami (saya) merasa sebagai ‘pengusaha’? TIDAK. Teman-teman dan orang-oranglah yang menyebut kami sebagai ‘pengusaha’.

Komentar yang sering terdengar dari orang-orang yang kami temui adalah, “Enak ya jadi pengusaha…

Enak? Apa enaknya? Kok, tahu kalau jadi pengusaha itu enak? ;)
Menurut saya, kita perlu paham terlebih dulu apa yang pantas disebut ‘enak’ dan bagaimana akhirnya sesuatu bisa disebut ‘enak’. Baiklah, supaya sedikit lebih jelas, saya ingin memberikan ilustrasi.

Pernah makan Bebek Kaleyo? Banyak yang akan bilang ‘pernah‘. Bagaimana rasanya? Enak? Jika Bebek Kaleyo bisa selaris itu, berarti rasanya memang enak. Ini asumsi saya berdasarkan cerita teman-teman saya yang sudah pernah atau sering makan di sana.

Untuk yang menjawab ‘enak’, saya ingin bertanya lagi. Kok, bisa bilang Bebek Kaleyo enak? Saya yakin, sebagian besar jawabannya adalah “Karena sudah mencicipi”.

Jika pertanyaan yang sama diajukan pada saya, ‘enak nggak Bebek Kaleyo?’ Jujur, saya akan menjawab ‘TIDAK TAHU’. Kok, bisa tidak tahu? Karena, saya vegetarian. Vegetarian tidak makan daging. Bebek goreng atau bakar termasuk daging. Jelas, saya tidak pernah mencicipi seperti apa rasanya Bebek Kaleyo. Jadi jawaban saya adalah ‘tidak tahu’.

Kesimpulan pertama. Orang mengatakan sesuatu ‘enak’ karena SUDAH mencoba. Sampai di sini, sederhana, bukan?

Kita kembali ke kalimat “Enak ya jadi pengusaha…”

Pertanyaan saya, apakah orang yang mengatakan ‘enak ya jadi pengusaha‘ SUDAH pernah mencicipi apa rasanya jadi pengusaha? Bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa jadi pengusaha itu ‘enak’? Darimana mereka tahu bahwa jadi pengusaha itu memang ‘enak’?

Jika yang mengatakan ‘enak jadi pengusaha’ adalah seorang pengusaha, WAJAR. Karena mereka memang sedang merasakan alias sudah jadi pengusaha. Nah, sekarang bagaimana dengan orang-orang yang belum pernah jadi pengusaha? Bagaimana mereka bisa mengatakan bahwa jadi pengusaha memang enak?

Kemudian saya sering bertanya lagi. Kok, elu bisa bilang jadi pengusaha itu enak? Berikut, saya resume beberapa jawaban yang sering saya dengar.

Jadi pengusaha itu enak, karena:

Banyak duit” (kok, tahu? Pernah ngecek rekening mereka? Catatan keuangan mereka?)

Banyak waktu” (sudah pernah bareng mereka 24 jam penuh selama seminggu dan melihat bagaimana mereka menghabiskan waktunya?)

Punya karyawan banyak. Orang lain yang bekerja untuk kita” (Hah? Karyawan itu nggak gratis, lho… Harus bayar gaji, tunjangan, bonus, THR, dsb.)

Nggak perlu masuk kantor jam 8 pagi, jadi bisa bangun lebih siang” (yeeeee…. Emang nggak shalat Subuh? :p)

Dipuji-puji banyak orang. Semua kagum” (hmmm…. Sudah pernah dengar ungkapan ‘sombong dan berbangga-bangga adalah pangkal kehancuran?’)

Dan macam-macam lagi…

Kami berempat (founder of @RumahSushi) masih mahasiswa dan duluuuu kami juga sempat membayangkan bahwa jadi pengusaha itu : banyak duit, banyak waktu, punya banyak karyawan, bangun siang, dsb. Kalo poin ‘dipuji-puji’ saya (dan saya yakin partner saya juga) tidak pernah membayangkannya. Yah, mungkin karena tidak terbayang saja… (Ada, ya, orang yang ingin jadi pengusaha supaya dipuji-puji? :p)

Darimanakah kami (dan saya yakin, banyak orang juga) membayangkan bahwa jadi pengusaha memang ‘enak’ seperti itu?

Pertama sih, jelas, dari media. Lihat berita, sinetron, dan berbagai tayangan TV. Sering sosok pengusaha digambarkan, seperti:
- Kemana2 pakai Jas dan dasi. Atau, justru sebaliknya. Pakai baju yang super nyantai kayak Pak Bob Sadino.
- Naik mobil berkaca gelap dengan supir. Terus, duduk di bangku belakang sambil terus telpon-telponan atau otak-atik laptop.
- Sibuk meeting dengan klien atau kolega. Ketemuan di lobby gedung terus berjabat tangan erat-erat sambil tepuk-tepuk pundak temannya.
- Punya sekretaris yang kemana-mana bawa notebook. Semua omongan si bos dicatet. Sebentar-sebentar ngecek jadwal. Terus kalau menerima telpon, ngomong, “Pak, ada telpon dari Pak Anu. Mau diterima?”
- Makan siang di restoran mewah atau hotel. Ketawa-ketawa dengan teman-temannya. Dan buntut-buntutnya ngomongin tender.
- Liburan di luar negeri, minimal ke Paris. Naik jet pribadi, yacht atau kapal pesiar. Duduk di kursi malas, berjemur pakai kaca mata hitam.
- Sering pusing. Bukan karena nggak punya duit, melainkan karena ngurus duit M-M-an. Tapi, kalo anak minta duit, dikasih nggak pake mikir.
- Punya istri yang menyambut di rumah dengan senyum bijak dan secangkir kopi lalu bertanya manis, “Papa kenapa? Kok, kelihatan capek sekali? Tadi sibuk ya di kantor?” Terus sang suami menjawab dengan muka manja sambil copot sepatu tentu saja, “Iya, Ma… Tadi Papa meeting dengan klien untuk proyek di… bla… bla… bla…”

Hahaha…. Kebanyakan nonton sinetron! :D

Tapi, tidak salah, kok, untuk membayangkan hal-hal di atas jika itu adalah MOTIVASI, ‘kelak saya akan jadi pengusaha seperti.itu’.

Masalahnya adalah TERNYATA (!) banyak yang menyangka gaya hidup pengusaha memang seperti itu SEJAK AWAL! Kalau mau jadi pengusaha berperilakulah seperti itu! Ckckck… :(

Akibatnya, bukan KERJA KERASnya yang ditiru, tapi cuma sebatas gaya hidupnya!

Ingat, sebelum mereka menjalani gaya hidup, yang bisa jadi seperti yang tampak di sinetron itu, mereka telah melampaui suatu jalan yang mungkin tidak bisa kita bayangkan.

Saya tidak akan membicarakan pengusaha yang jadi pengusaha karena warisan bapaknya. Kalau toh dia dapet warisan itu adalah keberuntungan yang dia dapat dan, tetap, dia butuh keahlian untuk mengelola itu. Dia menghadapi kendala juga, meski berbeda dengan kendala orang yang merintis bisnis dari nol. Tapi, kendala tetaplah kendala. Butuh ilmu, keahlian dan mental. Kita, yang merintis bisnis dari nol, tidak boleh memandang ini secara dangkal dan picik. (Dan lucunya, yg sering memandang dangkal dan picik justru orang-orang yang tidak pernah memulai usahanya #nomention).

Well, Apapun yang kita lihat dari TV atau sumber lain, itu hanya sepotong dari perjalanan hidup yang harus dilalui seorang pengusaha. Kalau ibarat toko, itu cuma etalase. Di belakangnya ada gudang stok, kantor, dapur, ruang karyawan, dan sebagainya yang tidak bisa kita lihat hanya dengan sekilas pandang seperti itu.

Di era teknologi informasi dengan perkembangan SNM (social network media) yang begitu pesatnya ini, KITA BERUNTUNG! Banyak pengusaha-pengusaha sukses yang dengan ikhlas membagi ilmunya lewat twitter, FB, blog, dan sebagainya, langsung dari tangan pertama. Langsung dari sumbernya. Membuat kita bisa mendapat cipratan ilmu gratis dari mereka.

Well, saya tidak bermaksud meremehkan ilmu-ilmu teknis yang sering mereka bagi-bagi. Saking baiknya, mereka sering berbagi rahasia produk, marketing, SDM, branding, manajemen keuangan, dsb. Itu sangat berharga!

Tapi, ada hal yang jauuuuuuh lebih berharga dari itu. Semua ilmu teknis selalu bisa dicari di Toko Buku atau tanya Mbah Google. Belajar sendiri. Tapi, dimana kita bisa dapat….

ILMU IKHLAS dan PANTANG MENYERAH. Ilmu untuk tidak mengeluh. Ilmu untuk tetap optimis dalam keadaan seburuk apapun. Ilmu Berbagi. Ilmu Kekuatan Mental. Dan sebagainya… Dan sebagainya…

Ada cukup banyak pengusaha yang saya kagumi. Ibu Lita Mucharom adalah salah satunya. Perusahaan Konsultan SDM milik beliau, PT. Langkah Mitra Selaras, terbilang sukses. Tapi tahukah anda bahwa beliau pernah mengalami kebangkrutan? Bisnisnya habis ditipu? Tidak mampu beli buku yang cuma 11 ribu? Tidak bisa bayar tukang hingga harus mengecat sendiri rumahnya? Tahukah anda? Seharusnya anda tahu, karena beliau membagi ini GRATIS lewat twitter. Subhanallah…

Tahukah anda bahwa Rangga Umara, brand-owner Lele Lela pernah mengalami jatuh bangun yang bagi sebagian orang ‘mengerikan’? Bingung saat harus beli susu n popok untuk anak? Tunggakan banyak? Siang-malam ada di outlet?  Tahukah anda? Harusnya tahu, karena beliau juga membagi tentang ini di twitter secara GRATIS! Subhanallah…

Saya beruntung pernah bertemu salah satunya, Ibu Lita Mucharom. Jujur, tidak ada tuh saya lihat bekas-bekas bahwa beliau pernah rugi ratusan juta rupiah. (Saya nggak bisa membayangkan apa rasanya rugi ratusan juta!). Bahkan, beliau menyempatkan diri untuk mengevaluasi usaha saya, terutama dari sisi SDM-nya (iri, yaaaa? Hehehe *wink).

Atau Rangga Umara yg sekarang sibuk ‘jalan2′ sebagai motivator ke seluruh Indonesia. Kalo baca twit-twitnya selalu SERUUU!!! Semua orang yang liat Rangga Umara yang sekarang kemungkinan besar akan bilang “Enak ya jadi pengusaha…”.

Nggak bisa dipungkiri, keberhasilan mereka adalah motivasi untuk kita-kita yang masih merintis bisnis dan dorongan bagi yang baru akan memulai bisnisnya. Yang membuat kita berkata “Enak ya jadi pengusaha…”. Tapi, jangan lupa, mereka mencapai titik itu tidak secara instan! Mereka menempuh perjuangan yang panjang. Nggak pake bosen, ngeluh, apalagi galau!

So, Ada pelajaran yang bisa kita ambil. Bahwa pengusaha itu BUKAN gaya hidup. BUKAN pekerjaan. Lebih dari sekadar apa yang bisa kita lihat. Lebih dari mobil yang mereka pakai. Lebih dari sekadar uang mereka. Lebih dari sekadar aktifitas harian mereka.

Pengusaha adalah apa yang ada di dalam pikiran, hati dan mental mereka. Pola pikir mereka memandang dunia. Visi hidup mereka. Kebermaknaan mereka. Apa yang tidak bisa kita lihat begitu saja di TV atau media. Lebih dari itu, Pengusaha adalah KARAKTER.

Jakarta, 16/11/11
Kelapa Gading

Http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

@wisnusumarwan

Aku Ingin Buat Pesta

image

Aku ingin buat pesta
Bingar nian oleh tawa
Kau, dia dan mereka bisa bicara
Bertukar mata
Bertukar kata
Berbagi bahagia
Berbagi cerita
Tertawa
Kita bersama
Seakan aku ada

Aku ingin buat pesta
Bergelas kopi, teh, limun atau soda
Salad, ayam, ikan, daging atau apapun yang kau suka
Balon, badut, mercon dan bunga
Peluk dan senda
Itu waktu bercanda
Layaknya aku ada di sana

Aku ingin buat pesta
Di tanah lapang dengan tenda
Kau, pakaian dan senyum terbaik yang kau punya
Kau di sana
Naik mobil, motor, sepeda atau jalan kaki saja
Karena kau akan mendengar
Musik, lagu, puisi dan atau prosa
Kau mendengarnya dengan gembira
Seakan aku mendengarnya

Aku ingin buat pesta
Bukan karena perpisahan
Itu perayaan atas pertemuan
Tangan terangkat ke udara
Lalu seseorang berkata
Salut!
Salutlah tulus pada waktu
Berdoa kita lewat sang bayu
Wahai, kawan…
Tersulang gelas persahabatan
Rasakan tanganku di pundakmu
Rangkul eratku di punggungmu
Seakan aku menyentuhmu

Aku ingin buat pesta
Saat aku tak lagi bicara
Karena itu giliranmu berkata
Saat tanah menutup aura
Mawar dan tulip ditebar ke udara
Tiada sedih dan air mata
Kau melangkah dengan bangga
Melangkah dengan syukur
Bahwa kita,
kau dan aku adanya
Pernah ada di jalan yang sama
Bahwa aku pernah menyelinap masuk dalam hidupmu
Seperti lagu-lagu yang saat itu mengingatkanmu padaku
Aku menyanyikannya untukmu

Aku ingin kau tetap berpesta
Saat aku telah pergi
Saat aku tak lagi bisa di sini
Saat tiada tempat berdiri
Aku ingin kau bahagia kala itu
Kau tersenyum menatap ukiran namaku
Bersyukur bahwa aku pernah ada
Aku pernah punya arti
Kita pernah berbagi makna
Meski kali itu aku tak lagi ada

Jakarta, 19/9/11
Subuh

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

Gambar diambil dari : http://www.karenwinters.com/blogimages/garden-party-2009-b.jpg

Perubahan itu Wajib :)

image

Kalau saya ditanya apa perubahan paling signifikan yang terjadi dalam hidup saya saat ini, saya akan menjawab (sambil berteriak girang), “RUMAH SUSHI!” :D

Bukan rumah Wati, rumah Budi, apalagi rumahnya Ningsih. Cuma ada Rumah Sushi, bukan yang lain. Buat yang ingin tahu Rumah Sushi itu apa, anda bisa klik link ini.

Di rumah yang satu ini, saya rasanya seperti sedang ada di sebuah perjalanan sebagai backpacker (busyet! Apa rasanya backpacking-an di dalam rumah?). Tapi, memang begitu rasanya. Paling tidak, itulah yang saya bayangkan karena saya belum pernah melakukan perjalanan backpacking.

Kalau di rumah beneran saya bisa tidur atau sekadar leyeh-leyeh, di Rumah (dengan huruf R besar) yang ini tidak. Kalau di rumah saya bisa bengong-bengong kayak sapi ompong, di Rumah yang ini tidak. Di rumah, kalau lapar tinggal buka kulkas. Di Rumah, kalau lapar harus buka buku kas. Well, intinya berubah.

Kalau sekarang saya ngomong, “Tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri”, kok rasanya basi, ya? Kita semua rasanya udah pernah denger ungkapan yang satu itu. Dan, kayaknya kita nggak mungkin menyangkal pernyataan itu.

Setiap hari, kita melakukan hal2 yang, sadar nggak sadar, bikin kita berubah. Contoh kecilnya, Makan. Makan adalah proses yang bikin kita berubah, dari lapar jadi kenyang. Plus perubahan-perubahan lain yang terjadi secara tidak disadari, seperti penambahan energi, perbaikan sel tubuh, reaksi pembentukan lemak (apalagi kalo makan kebanyakan), dsb. Mandi juga proses perubahan, dari bau asem jadi wangi. Sebut lagi… Hampir semua yang kita lakukan punya implikasi terhadap perubahan.

Yang jadi masalah adalah: Apakah kita melakukan perubahan itu dengan sengaja atau dipaksa keadaan? Memulai dan menjalani bisnis Rumah Sushi bersama karib-karib saya juga membawa perubahan. Dan jelas, ini perubahan yang disengaja, sekalipun apa perubahannya seringkali nggak bisa saya duga.

Awalnya sih, saya sadar bahwa akan ada perubahan dalam hidup saya. Minimal, dari yang sebelumnya kuliah doang, sekarang ada bisnis yang harus setiap hari diurusin. Yang saya nggak sadar adalah ternyata perubahan yang terjadi sejauh ini. 
Sungguh, perubahan yang terjadi lebih jauh dari apa yang saya duga sebelumnya. Saya ‘dipaksa’ untuk berubah jauh, lebih jauh dan lebih jauh lagi.

Kalau dulu saya duga, kami (saya dan teman-teman) akan memasak, ternyata kami juga membuat resep. Jika dulu saya sangka kami harus belanja, ternyata kami sekarang juga harus melakukan manajemen stok yang rumit. Jika dulu saya kira kami harus belanja, ternyata sekarang kami harus buat financial statement (neraca, laporan laba/rugi, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas). Istilah-istilah yang bahkan baru-baru ini saja saya dengar.

Saya adalah orang dengan latarbelakang Komunikasi, tidak pernah sedikitpun terbersit dalam benak saya bahwa saya harus berurusan dengan angka-angka apalagi tabel yang berlapis-lapis. Masalahnya, apakah karena saya tidak menduganya maka masalah itu akan hilang atau kami bisa menghindar? TIDAK.

Satu perubahan akan memicu perubahan berikutnya.

Minimal, sebuah perubahan yang kita lakukan saat ini akan ‘memaksa’ kita untuk melakukan perubahan selanjutnya.

Bagaimana jika kita takut melakukan perubahan itu? Apakah diam bisa jadi solusi untuk memecahkan ketakutan? Jika perubahan akan memicu perubahan berikutnya, apakah diam membuat tidak ada yang berubah? SALAH

Dunia tetap berubah, meskipun anda diam.

Bayangkan anda menjadi batu di pinggir sebuah sungai. Anda diam saja, sementara arus sungai mengalir dengan derasnya. Berdebur-debur di sekitar anda. Anda masih diam saja. Apa yang akan terjadi berikutnya? Anda akan digerus oleh arus! Apakah diam membuat batu tidak berubah? Tidak! Batu itu menjadi makin kecil karena erosi. Batu yang diam itu berubah! Jadi makin kecil hingga akhirnya cuma akan jadi pasir. Itulah yang akan terjadi pada kita yang menolak perubahan.

Mustahil tidak berubah meskipun kita memilih diam saja.

Jadi, kita tidak mungkin menolak perubahan. Yang bisa kita lakukan adalah mengarahkan kemana perubahan itu akan terjadi dengan cara melihat potensi diri sendiri dan kesempatan yang ada.

Tidak ada kesempatan? Tidak mungkin! Karena kesempatan selalu bisa dibuat. Kesempatan akan muncul seiring dengan perubahan-perubahan positif yang kita buat.

I will prepare and some day my chance will come – Abraham Lincoln.

Yang penting bukan kesempatannya. Tapi, mempersiapkan diri untuk kesempatan yang akan datang.

I feel that luck is preparation meeting opportunity – Oprah Winfrey

Beruntunglah orang-orang yang mau berubah, belajar dan mempersiapkan diri karena di sanalah letak keberuntungan. Jadi, nggak salah dong kalau saya bilang perubahan itu WAJIB?

Sukses… :)

3/7/11

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

Saat Subuh Menjemput

image

Saat subuh menjemput.
Kau sudah harus disini.
Aduk kopimu lekas.
Ini saat bergegas.
Jangan terpana atau merana.
Waktu sudah di ambang batas.
Saat subuh menjemput.
Kau sudah harus berdiri.
Bukan saatnya di peraduan.
Waktu hampir habis, teman.
Kau di tanah tak bertuan.
Tak bisa lagi berjalan pelan.
Saat subuh menjemput.
Kau sudah harus bangun.
Jangan lagi tertidur.
Jangan lagi pulas.
Kau takkan bisa memelas.
Subuh takkan menunggu.
Tak ada waktu lagi untukmu.
Kau harus mulai bergerak.
Karena saat subuh menjemput.
Mungkin itu saatnya maut.

14/2/11
Subuh

*gambar diambil dari http://upload.wikimedia.org/wikipedia/

Cemara Angin Dibuai Badai

image

Cemara angin dibuai badai.
Dinyanyi hujan berderai
Apakah gerangan?
Anak perawan tangis mengerang.
Akulah rumput dalam buaian.
Temani anak perawan.
Mendung kebas tak kesudahan.
Menangis lagi.
Menangis lagi.
Tak juga mau berhenti.
Ini sakit tiada terperi.
Badai membuai cemara angin.
Derai hujan membawa dingin.
Apakah gerangan?
Dalam sedih takkan terlawan.
Mati badan anak perawan
Takkan habis langit dipandang
Sudah saatnya tinggalkan padang.

Jakarta, 10/2/11

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

*gambar diambil dari http://www.wallpaperweb.org

Puisi untuk Matahari

image

Puisi ini kupersembahkan untukmu, Matahari.
Untuk segala waktu di sini.
Hingga kubisa menunggu.
Jingga menelan langit biru.
Hingga kau pergi nanti.
Hingga kau hilang sungguh.
Ketika aku merapuh.
Saat tiada lagi janji,
Bahwa kelak kau terbit lagi.
Kuhanya menantimu pergi.
Tapi aku bahagia di sini.

Jakarta, tanggalnya lupa

Http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

*gambar diambil dari http://farm3.static.flickr.com/

Isu Publik : Kita Harus Memilih Apa yang Boleh Masuk ke dalam Telinga Kita

Pada dasarnya, saya bukan orang yang tertarik untuk memperhatikan isu publik. Saya sangat memilih isu mana yang perlu saya perhatikan. Kategorinya untuk saya sangat jelas : Apa kaitan isu tersebut terhadap hidup saya? Jika saya tidak melihat kaitan langsungnya, isu tersebut akan cenderung lewat begitu saja atau maksimal hanya saya pernah dengar.

Mengapa saya bersikap begitu? Karena menurut saya, terlalu memperhatikan isu-isu di masyarakat yang cenderung bergerak negatif, akan membuat kita juga bersikap negatif. Kita menjadi ketakutan terhadap kondisi dan situasi yang tengah kita hadapi, membuat kita jadi iri melihat tingkah polah para pejabat (bahkan ada yang iri pada Gayus!), membuat kita terjebak dalam berita-berita yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan hidup kita dan membuat kita terpisah dari realita.

Saya merasa bahwa saya (bahkan kita semua) harus mengkonstruksi realitas kita masing-masing dan memisahkannya dari apa yang dianggap benar atau salah oleh publik (yang hampir selalu diwakili oleh media). Hal ini karena, cara kita memandang realitas tersebut akan mempengaruhi cara kita bersikap terhadap realitas tersebut. Berita adalah berita dan realitas adalah realitas. Benar, Gayus adalah berita. Benar bahwa Gayus telah menyinggung perasaan sebagian besar rakyat kecil. Namun, tidak benar bahwa Gayus ada kaitan langsungnya dengan hidup saya. Pengadilan Gayus memiliki sistematikanya sendiri yang akan terus berjalan entah saya perhatikan atau sebaliknya tidak saya perhatikan, tidak ada peran saya sedikitpun dalam kasus tersebut. Permasalahannya adalah : Media terlalu perkasa hingga mampu membuat semua orang merasa terlibat dengan suatu kasus yang diangkat media.

Media telah membuat semua orang panik saat harga cabai merangkak naik, bahkan pada orang yang tidak suka pedas sekalipun. Yang justru membuat suasana bertambah kacau. Bukan cuma cabai saja yang merangkak naik. Beras, ikan asin, daging, semua ikut merangkak naik. Mengapa? Karena media telah berhasil membentuk sebuah kepanikan massal. Penyebabnya sederhana : CABAI. Tidakkah ini menggelikan?

Contoh lainnya, Kasus Nurdin Halid. Ini adalah kasus yang paling TIDAK saya perhatikan. Untuk apa pula saya memperhatikan kasus yang makin lama menjadi makin mirip lawakan? Bahkan sejak awal saya tidak memperhatikan kasus itu. Pertama, saya bukan penggemar bola. Kedua, saya tidak kenal siapa Nurdin Halid. Ketiga, siapapun ketua PSSI, apa pengaruhnya terhadap hidup saya? Apakah jika Nurdin Halid batal menjadi ketua PSSI, semua rakyat Indonesia bisa makan nasi 3 kali sehari? Apakah Indonesia menjadi lebih sejahtera jika Nurdin Halid berhasil digulingkan? Yang saya heran adalah : Media mengkondisikan seakan-akan SELURUH rakyat Indonesia menginginkan Nurdin Halid turun, atau peduli pada kasus tersebut.

Jujur, saat ini saya ingin menantang. Adakan Sensus (atau riset dengan sampling yang cukup mewakili seluruh rakyat Indonesia). Berapa persen dari rakyat Indonesia yang 236,7 juta jiwa (data BKKBN bulan Februari 2011) itu yang sebenarnya peduli pada kasus itu?

Saya hampir yakin, saya yang benar. Bahwa, sebagian besar orang Indonesia tidak peduli pada kasus itu. Mereka lebih peduli pada bagaimana cara mereka mengisi perut mereka esok harinya, bagaimana membiayai anak sekolah, mencukup-cukupkan uang belanja, dan sebagainya. Hal yang jarang menjadi sorotan media atau pemerintah. Mengapa? Karena publik tidak lain adalah komoditas, sarana media untuk mencari iklan. Semakin banyak yang menonton, semakin tinggi rating dan sharingnya, semakin tinggi pula pendapatan iklannya. Saya juga hampir yakin, bahwa media juga berhasil menempatkan program berita sebagai alat penghasil pendapatan iklan selain sinetron dan acara musik tidak bermutu itu.  Jadi, mohon, karena kasus itu tidak membuat rakyat miskin Indonesia bisa makan, segera selesaikan kasus itu secepatnya.

Bagaimana dengan saya? Kebetulan sekali, saya memiliki usaha rumah makan bersama teman-teman saya. Seperti yang saya telah katakan tadi, saya tidak peduli dengan isu publik selama tidak terkait dengan diri saya sendiri, teman-teman saya dan atau usaha saya. Ada beberapa berita yang akhirnya menjadi pusat perhatian saya :

1.    Bencana Tsunami di Jepang : Selain karena faktor kemanusiaan, bencana Tsunami berpotensi mengganggu pasokan stok bahan kami yang memang banyak diimpor dari jepang.
2.    Bocornya Reaktor Nuklir di Fukushima : Hal ini memungkinkan terjadinya embargo terhadap produk-produk jepang di berbagai negara.
3.    Penyegelan Impor Ikan di Bandara Sukarno Hatta oleh Departemen Perikanan dan Kelautan  pada bulan Februari lalu : Beberapa Importir Nakal melakukan impor terhadap ikan kembung dan ikan asin yang membuat Depertemen Perikanan dan Kelautan menyegel seluruh impor ikan termasuk Salmon yang sebenarnya Legal untuk diimpor.
4.    Kebijakan Pemerintah soal Pajak
5.    dsb

Mengapa saya memilih hanya memperhatikan isu-isu tertentu saja ? Karena saya merasa terlalu banyak hal lain yang perlu menjadi pusat perhatian saya : kesejahteraan karyawan, ketersediaan stok bahan, strategi promosi yang kami gunakan, target-target usaha, dan hal-hal lain yang lebih nyata seperti hubungan sosial saya dengan orang-orang di sekitar saya atau isu-isu pribadi lainnya.

Saat ini, berita yang banyak muncul dan menjadi polemik adalah :
a.    Pembangunan Gedung DPR/MPR yang tidak selesai-selesai didebatkan (karena mungkin hobi orang Indonesia, salah satunya adalah berdebat, yang sering berujung pada kekerasan)
b.    (lagi-lagi) Nurdin Halid dan Revolusi PSSI
c.    Korupsi di tubuh PKS
d.    dsb

Mohon maaf, tidak satu pun dari isu-isu tersebut yang saya perhatikan. Mengapa? Karena saya tidak ingin hidup di dalam Simulakra. Dalam teori Postmodernisme : media dan teknologi telah membuat banyak orang hidup di dalam simulasi-simulasi yang tidak nyata. Dan hidup di jaman posmodernisme ini kita hanya hidup berpindah-pindah dari satu simulasi ke simulasi lainnya atau Simulakrum. Mewakili diri mereka pada media. Merasa sudah ikut terlibat dengan cara “nge-tweet” saja tanpa perlu bertindak nyata. Sementara, perlahan-lahan, otak mereka digerogoti oleh konsumerisme. Menggunakan apapun yang dikatakan oleh media cocok untuk mereka. Merasa berkuasa karena penguasaan (lebih tepatnya kepemilikan alat) teknologi komunikasi, padahal sebenarnya juga adalah korban.

Tapi saya berjanji, jika kelak ada salah satu isu tersebut yang menyinggung, karyawan, teman atau keluarga saya, saya tidak akan tinggal diam. Jadi, salahkah jika pandangan saya tentang isu publik di media tidak lebih dari angin yang lewat begitu saja? Sederhana saja, saya tidak mau jadi korban.

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

Sebelum Terakhir

Aku tak bisa lagi di sini
Harus cepat pergi
Sebelum embun mengering
Sebelum rumput menguning
Sebelum fajar menyingsing
Sebelum rambut memutih
Sebelum bertambah perih
Sebelum hilang lembayung
Dari senja terhuyung
Dari kaki yang tak mampu berdiri
Selagi ada daya untuk pergi

Untuk apa lagi di sini
Jika hanya menunggu mati
Kereta telah berderak
Takkan menunggu untuk bergerak
Kumpulkan asa terserak
Mungkin serpih
Tapi bisa jadi pegangan
Untuk berhenti merintih
Untuk jadi harapan
Akan malam penuh bintang
Ombak berdebur tenang
Di sela karang terjal

Sebelum tiba ajal
Sebelum dada tersengal
Sebelum doa tak bermakna
Takkan ada apa setelahnya
Hanya kosong
Hanya lengang
Tak lagi ada senang
Hanya sedih jadi teman
Dan sesal
Bahwa semua terlambat
Jangan sampai tersesat
Oleh takdir dan sepi
Oleh suratan dan galau hati
Pergi
Jangan lagi di sini

Sebelum senja tenggelam
Dalam lautan malam
Sebelum langkah tertinggal
Sebelum tersisa getir
Sebelum datang maut
Sebelum napas terakhir
Datang menjemput.

17/2/11
9.30pagi

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

*gambar diambil di http://2.bp.blogspot.com

Di Bawah Matahari Jakarta

Matahari nyalang di Jakarta
Di atas segelas kopi yang mendidih
Asap mengepul dari gelas
Asap mengepul dari knalpot
Asap mengepul dari sebatang rokok
Hujan deras
Rumput bau basah
Cahaya membelok tegas
Cahaya membias
Dari kaca gedung-gedung
Dari aspal yang keras
Dari senja terpojok
Dari balik tembok
Dari sisa mendung
Ada rasa tak terbendung
Matahari garang di Jakarta
Menyimak lalu lalang dan berita-berita
Tentang cinta yang tak lagi ada
Tentang kamu yang kucinta
Kamu kucinta di bawah nyalang matahari Jakarta
Aku terbakar
Aku terbakar cinta
Dalam nyalang jakarta aku berdoa
Semoga mati bara

Jakarta 29/01/11
Dini Hari

http://www.wisnusumarwan.wordpress.com

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 4 other followers

  • Today’s Quote

    Amateurs practice until they get it right, but Master's practice until they can't get it wrong (Dr. Dalmas).

  • Categories

  • Soundless Voices by Wisnu Sumarwan

    Inilah blog saya yang sederhana. Lewat blog ini saya hanya mencoba untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan. Tentu saja saya hanya manusia biasa yang memungkinkan banyak terjadi kesalahan. Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Welcome to the journey of soundless voices. Thank you...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.